Dentuman itu tidak melahirkan gema, melainkan menghisap seluruh suara hingga menyisakan kehampaan yang berdenging tajam di telinga. Tidak ada suara kaca pecah. Tidak ada jeritan logam yang terpelintir. Hantaman Bus Laju Sanjaya terhadap palang tulang raksasa itu terasa seperti menabrak dinding daging yang padat dan basah.
Dunia berputar. Gravitasi kehilangan cengkeramannya.
Bram terlempar ke depan. Tubuhnya menghantam sandaran kursi di depannya dengan suara bugh yang menjijikkan. Rasa sakit meledak di dadanya, namun itu tidak sebanding dengan lubang menganga di perutnya, tempat ia baru saja merobek gumpalan uang haram yang telah bermutasi menjadi tumor.
Gelap. Lalu samar-samar, cahaya kuning keruh dari lampu kabin kembali berkedip. Bzzzt. Bzzzt.
Bram terengah-engah di lantai bus yang lengket. Cairan hitam kental merembes dari sela-sela sambungan lantai, bercampur dengan darah segarnya sendiri. Baunya seperti selokan yang mampet dicampur amonia tajam. Ia mencoba bangun, tetapi tulang rusuknya menjerit protes. Matanya nanar menyapu sekeliling.
Bus itu tidak hancur. Tidak ada kap penyok atau kaca depan yang bolong. Bus itu justru tampak... membengkak. Dinding-dinding logam di interior kini berdenyut pelan, seolah-olah rangka kendaraan tua itu sedang bernapas, memompa oksigen busuk ke dalam kabin.
Di sudut dekat pintu belakang, gumpalan uang yang ia robek tadi tergeletak. Benda itu—yang dulunya adalah ratusan lembar rupiah hasil korupsi—kini berkedut-kedut seperti jantung yang dikuliti. Uang itu basah, berlendir, dan mengeluarkan suara ck-ck-ck basah setiap kali berdenyut.
"Belum cukup," sebuah suara serak memecah keheningan.
Jaka.
Kondektur itu berdiri tegak di lorong bus, sama sekali tidak terpengaruh oleh tabrakan barusan. Seragamnya yang kusam tampak lebih kaku, seakan kain itu terbuat dari semen kering. Ia menunduk, menatap gumpalan uang-daging milik Bram dengan tatapan kosong, nyaris bosan. Sepatu bot militernya menginjak genangan darah Bram tanpa keraguan.
"Kau pikir..." Bram terbatuk, meludahkan gumpalan darah kental ke lantai. Tenggorokannya terasa seperti diparut. "Kau pikir aku... akan mati di sini?"
Jaka tidak menjawab. Ia berjongkok. Tangan kanannya, yang memiliki kuku-kuku hitam panjang dan melengkung, memungut gumpalan uang itu. Benda itu menggeliat di tangannya, mencoba menyatu dengan kulit telapak tangan Jaka, namun sang kondektur meremasnya kuat-kuat hingga cairan hijau kekuningan muncrat keluar.
"Pembayaran diterima," gumam Jaka datar. "Untuk bunga pinjaman."
Bunga. Hanya bunga.
Bram ingin berteriak, memaki ketidakadilan ini, tapi tenaganya habis tersedot oleh luka di perutnya. Ia menoleh ke arah penumpang lain, mencari sekutu, mencari kewarasan.
Siti masih di sana. Duduk di kursi dekat jendela kiri. Anehnya, posisinya tidak berubah sedikitpun pasca tabrakan. Kebayanya yang lusuh tidak kusut. Namun, ada yang salah dengan "bayi" dalam gendongannya. Kain batik yang membungkus buntalan itu kini basah kuyup oleh cairan merah gelap. Bukan darah Bram. Cairan itu merembes dari dalam buntalan.
Siti menoleh perlahan ke arah Bram. Lehernya berputar dengan kaku, disertai bunyi krek tulang yang bergesekan tanpa pelumas. Wajahnya pucat pasi, matanya hanya berupa rongga hitam tanpa bola mata.
"Dia lapar, Mas," bisik Siti. Suaranya tidak keluar dari mulut, melainkan bergema langsung di dalam kepala Bram. "Tabrakan tadi membangunkan laparnya."
Bram merangkak mundur, menyeret kakinya yang mati rasa. Punggungnya menabrak kaki seseorang.
Tono.
Penumpang pria yang naik secara misterius beberapa waktu lalu itu kini berdiri mematung. Matanya melotot lebar, menatap lurus ke depan, ke arah kaca pengemudi yang gelap gulita. Mulut Tono komat-kamit, mendaraskan angka-angka acak dengan kecepatan tinggi.
"30 juta. 45 juta. 10 persen. Potong pajak. Rugi fiskal. Neraca tidak seimbang. Aset terdepresiasi..."
Tono tidak sedang berdoa. Dia sedang mengaudit. Mengaudit dosa-dosanya sendiri dalam kegilaan. Kulit wajah Tono mulai terlihat transparan, memperlihatkan jaringan otot dan pembuluh darah di bawahnya yang berwarna abu-abu. Ia bukan lagi manusia; ia adalah arsip berjalan yang sedang membusuk.
Sementara itu, Maya, wanita yang duduk di seberang Tono, sibuk dengan cermin kecilnya. Ia memulas lipstik merah menyala ke bibirnya. Terus memulas. Melewati garis bibir. Mencoret pipi. Mencoret dagu. Ia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang kini runcing dan berkarat seperti paku tua.
"Cantik itu sakit, kan?" tanyanya pada udara kosong.
Realitas di dalam bus Laju Sanjaya telah retak sepenuhnya. Tabrakan dengan gerbang tulang itu bukan menghancurkan bus, melainkan menghancurkan batasan antara dunia fisik dan dimensi mimpi buruk yang mereka lalui.
Bram merasakan lantai di bawahnya bergetar hebat. Mesin bus kembali menderu. Bukan suara piston dan solar, melainkan suara geraman perut raksasa yang sedang mencerna mangsanya.
Pak Tua di kursi kemudi memutar setir besar itu dengan gerakan patah-patah. Asap rokok klembak menyan mengepul tebal dari balik topi pet-nya, memenuhi kabin dengan aroma kematian yang manis dan memuakkan. Asap itu tidak menyebar, melainkan membentuk tangan-tangan kecil yang meraba-raba langit-langit bus.
"Kita... kita mau ke mana?" tanya Bram lirih. Tangannya menekan perutnya yang robek, mencoba menahan ususnya agar tidak terburai keluar. Kain kemejanya sudah basah total.
Jaka menoleh pelan. Wajahnya yang kaku menyeringai, sebuah ekspresi yang tampak menyakitkan karena kulit wajahnya seolah tidak didesain untuk tersenyum.
"Pos Pembayaran Ketiga," kata Jaka. "Terminal Penyesalan."
Bus mulai bergerak maju. Namun, pemandangan di luar jendela bukan lagi jalan aspal Pantura yang gelap atau hutan jati yang angker.
Kaca jendela bus kini menampilkan dinding-dinding beton kusam yang menjulang tinggi tanpa ujung. Lorong. Mereka sedang melaju di dalam sebuah lorong gedung yang sempit. Lampu neon panjang berkedip-kedip di luar sana, menerangi deretan pintu kayu yang identik.
Bram menyipitkan mata. Ia mengenali pintu-pintu itu.
Itu adalah pintu ruangannya di kantor. Kantor lamanya di Jakarta. Tempat ia menandatangani dokumen palsu itu. Tempat ia menerima tas berisi uang suap pertamanya.
Tapi ada yang salah. Pintu-pintu itu tidak terbuat dari kayu mahoni. Saat bus melaju perlahan melewati "koridor" itu, Bram melihat teksturnya lebih jelas. Pintu-pintu itu terbuat dari kulit manusia yang dijahit kasar. Gagang pintunya adalah tulang jari yang ditekuk.
"Tunjukkan," desak Jaka, kini berdiri tepat di atas Bram. "Tunjukkan kalau kau pantas duduk di kursi, bukan menjadi bagian dari aspal."
Bus Laju Sanjaya tidak melaju di atas jalan. Bus itu melaju di atas memori Bram yang paling busuk.
Lantai bus mulai berubah. Karet pelapis lantai meleleh, berubah menjadi karpet kantor berwarna biru tua yang kotor. Kursi-kursi bus perlahan bermetamorfosis menjadi kursi kerja beroda yang kulitnya sobek-sobek.
Rasa sakit di perut Bram semakin menjadi-jadi. Bukan hanya perih luka robek, tapi rasa penuh yang mengerikan. Seolah-olah uang yang tadi ia keluarkan... tumbuh kembali.
Bram meraba perutnya. Di bawah kulit yang berlumuran darah, ia merasakan benjolan-benjolan keras kembali terbentuk. Koin. Ribuan koin logam dingin kini mendesak di dalam lambungnya, menggantikan uang kertas yang busuk tadi. Logam itu beradu satu sama lain setiap kali bus berguncang. Kling. Kling. Kling.
Berat. Tubuhnya terasa sangat berat.
"Kau tidak bisa membuang nafsu semudah membuang sampah, Bram," suara Maya terdengar melengking, disusul tawa cekikikan yang terdengar seperti gesekan kaca. Ia kini telah meletakkan cerminnya. Wajahnya rata. Hidung dan matanya hilang tertutup lapisan bedak tebal yang mengeras seperti semen, menyisakan hanya mulut bergigi paku yang terus tertawa.
Tono tiba-tiba berteriak.
"AUDIT GAGAL! AUDIT GAGAL!"
Pria itu berdiri, lalu dengan gerakan mekanis membenturkan kepalanya sendiri ke kaca jendela di sampingnya. Duk. Duk. Duk. Kaca itu tidak pecah, tapi retak membentuk pola jaring laba-laba. Darah Tono muncrat ke kaca, tapi tidak mengalir ke bawah. Darah itu terserap ke dalam retakan kaca, membuat kaca itu berwarna merah menyala.
Bus semakin kencang. Lorong kantor di luar jendela melesat cepat hingga menjadi buram. Suara mesin menderu semakin tinggi, menyerupai jeritan ribuan orang yang meminta tolong.
Bram tahu ia harus melakukan sesuatu. Jika ia diam, ia akan berakhir seperti Tono, menjadi statistik gila di dalam bus hantu ini. Atau seperti Maya yang kehilangan wajah dan identitas.
Ia memaksakan diri untuk duduk. Koin-koin di dalam perutnya bergemerincing menyakitkan, menarik isi perutnya ke bawah seolah ingin merobek dia dari dalam sekali lagi.
"Pak Tua!" teriak Bram parau ke arah depan. "Hentikan bus ini!"
Sopir itu tidak bergeming. Hanya kepulan asap rokoknya yang semakin tebal, kini membentuk sosok-sosok wajah yang menjerit dalam penderitaan di udara kabin yang pengap.
Jaka melangkah mendekati Bram lagi. Ia mengeluarkan alat pembolong tiket dari saku celananya. Alat itu berkarat, hitam, dan meneteskan minyak gemuk yang baunya anyir.
"Tiketmu sudah kadaluwarsa saat kau mencoba menipu kami dengan 'uang' tadi," kata Jaka dingin. Ia mengarahkan alat pembolong itu bukan ke secarik kertas, tapi ke arah dahi Bram.
"Perpanjangan kontrak diperlukan."
Di luar, lorong kantor itu berakhir tiba-tiba, berganti menjadi jurang gelap tanpa dasar. Bus Laju Sanjaya meluncur keluar dari tepian "realitas", terjun bebas ke dalam kegelapan yang absolut.
Bram merasakan sensasi jatuh yang memualkan. Perutnya yang penuh logam terasa naik ke tenggorokan.
Mereka tidak lagi di Jawa Tengah. Mereka tidak lagi di Bumi.
Mereka ada di dalam perut Leviathan. Dan Bram baru saja menyadari bahwa ia bukan penumpang.
Ia adalah makanan.