Bab I: Mawar Pertama - Siti Oetari (1921)
Surabaya, 1921. Di sebuah rumah sederhana di kampung Arab, seorang gadis berusia 16 tahun bernama Siti Oetari Tjokroaminoto duduk di teras sambil menyulam. Matanya yang teduh sesekali melirik ke arah jalan, menunggu kedatangan seorang pemuda yang telah mencuri hatinya.
"Oetari, ayo masuk. Mas Karno sudah datang," panggil ibunya dari dalam rumah.
Soekarno, pemuda berusia 20 tahun dengan mata yang berbinar penuh semangat, duduk sopan di ruang tamu bersama H.O.S. Tjokroaminoto, guru sekaligus calon mertuanya.
"Mas Karno," kata H.O.S. Tjokroaminoto dengan nada serius, "Oetari adalah putri saya yang paling berharga. Saya percayakan dia kepadamu."
"Saya berjanji akan menjaganya dengan sepenuh hati, Pak Guru," jawab Soekarno dengan mata penuh tekad.
Ketika Oetari masuk membawa teh, pipinya merona merah. Soekarno bangkit dan tersenyum hangat.
Saat itu Soekarno sedang menumpang di kediaman H.O.S Tjokroaminoto karena sedang menempuh pendidikan di Sekolah Lanjut Atas (SLTA). Soekarno muda yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi, merasa kasihan kepada Suharsikin Ibu Oetari yang sedang sakit parah selain itu Soekarno sangat menghormati H.O.S.Tjokroaminoto. Oetari sendiri adalah seorang janda muda, suami sebelumnya yang merupakan murid dari sang Ayah telah meninggal dunia. Dan Soekarno pun memberanikan diri meminang Siti Oetari pada sang guru H.O.S Cokroaminoto.
"Oetari, apakah kamu bersedia menjadi pendamping hidupku dalam perjuangan membangun Indonesia merdeka?"
"Ya, Mas Karno. Saya akan mendampingi perjuangan Mas," jawab Oetari dengan suara lembut namun penuh keyakinan.
Pernikahan Oetari dan Soekarno berlangsung di rumah Tjokroaminoto dengan sederhana dan persiapan seadanya. Sempat terjadi ketegangan saat akad nikah. Pasalnya, penghulu meminta Soekarno mengganti bajunya, yaitu jas dan dasi, karena tidak sesuai dengan adat dan kebiasaan Islam pada masa itu. Soekarno marah dan membentak penghulu hingga mengancam membatalkan pernikahan. Namun, kemudian ia meredakan amarahnya dengan merokok, jarinya terbakar saat ia menyalakan rokok, Soekarno dan yang lainnya menganggap hal itu pertanda buruk pernikahannya.
Tak lama setelah pernikahan mereka, Suharsikin meninggal dunia. Setelah itu, Soekarno mulai merasa tidak cocok dengan Oetari yang masih kekanak-kanakan. Mereka bahkan tidak menikmati bulan madu. Soekarno lebih sibuk dengan aktivitas politiknya dan mengikuti Tjokroaminoto kemana-mana. Bahkan Soekarno tidak pernah menyentuh Oetari yang notabene memiliki status sebagai istri sahnya.
Soekarno yang akan meninggalkan Surabaya karena memang akan melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi di THS (Technische Hoogeschool te Bandoeng,) yang sekarang dikenal dengan ITB ( Institut Teknik Bandung) mengutarakan isi hatinya pada Oetari.
“Oetari, maafkan saya. Saya menikahimu atas dasar saya menghormati Bapakmu bukan karena saya mencintaimu. Oetari saya akan melanjutkan pendidikan saya di Bandung, dan saya rasa seoertinya pernikahan ini harus berakhir,”
Oetari yang kala itu memang belum cukup umur, hanya bisa meneteskan air mata mendengar ucapan suaminya. Pernikahan mereka baru terhitung beberapa bulan, dan Oetari harus kembali menyandang status janda.
“Oetari, bukan saya tidak ingin mempertahankanmu. Kamu masih terlalu muda Oetari, sedangkan saya adalah laki-laki yang memiliki jiwa perjuangan yang menggebu-gebu. Saya ingin membangun bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas dan mengusir para penjajah dari tanah air ini. Kamu belum cukup mumpuni untuk hal itu,” lanjut Soekarno.
Mendengar alasan Soekarno, Oetari pun sedikit mengerti. Setidaknya ia tahu Soekarno, suaminya itu memiliki impian yang besar, Oetari tidak ingin egois.
“Saya mengerti, Mas. Kekuranganku mungkin masih banyak dimatamu, aku mendukungmu untuk kemerdekaan tanah air ini. Mungkin perceraian kita hanyalah sebuah pengorbanan yg kecil untuk negara ini.”
Pada tahun 1923, Soekarno pun kembali ke Surabaya untuk menemui Oetari dan H.O.S Tjokroaminoto, ia menceraikan Oetari secara baik-baik.
Bab II: Mawar Kedua - Inggit Garnasih (1923-1943)
Bandung, 24 Maret 1923. Inggit Garnasih, seorang janda berusia 32 tahun resmi menjadi istri kedua dari Soekarno. Mereka menikah dikediaman rumah orangtua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung. Inggit Garnasih adalah Ibu kos Soekarno. Soekarno jatuh cinta pada Inggit Garnasih, karena ia adalah wanita yang cantik dan juga pemberani. Saat itu Inggit masih berstatus istri sah dari Haji Sanusi, seorang pengusaha yang juga aktif dalam Sarekat Islam. Hubungan rumah tangga Inggit Garnasih dan Haji Sanusi kala itu memang sedang tidak baik-baik saja, hingga Inggit memutuskan bercerai dengan Haji Sanusi dan memilih menikah dengan Soekarno.
Di sebuah rumah kos sederhana, Inggit Garnasih, sedang menyiapkan makan malam ketika Soekarno pulang dengan wajah lelah setelah berpidato di hadapan rakyat.
"Karno, kamu kelihatan lelah sekali. Ayo makan dulu," kata Inggit sambil menyodorkan piring nasi gudeg hangat.
"Terima kasih, Inggit. Tanpa kamu, saya tidak tahu bagaimana bisa bertahan dalam perjuangan ini," Soekarno memeluk istrinya dengan lembut.
Inggit tersenyum. Di usianya yang lebih matang, ia memahami beban yang dipikul suaminya. Dalam catatan sejarah, Inggit dijelaskan sebagai istri yang mampu memandu suaminya menuju masa kejayaan bangsa. Selain itu, dia juga berperan sebagai seorang ibu, kekasih, dan sahabat yang setia mendampingi Soekarno tanpa mengharapkan imbalan.
Selama 20 tahun, Inggit setia mendampingi Soekarno dalam suka dan duka. Ia merawat Soekarno ketika sakit, memberikan semangat ketika putus asa, dan menjadi tempat berlabuh ketika dunia terasa begitu berat. Beliau adalah istri kedua Soekarno yang membiayai perjuangan Soekarno mulai dari biaya kuliahnya hingga aktivitas politiknya. Bahkan saat Soekarno dipenjara karena aktivitas politik menentang Belanda, Beliaulah yg membawakan makanan dan buku sebagai penghibur Soekarno.
Namun cobaan terberat datang pada 1942. Soekarno pulang ke rumah dengan wajah yang sulit ditebak.
"Inggit, ada yang ingin saya bicarakan," kata Soekarno dengan suara berat.
"Ada apa, Karno?" tanya Inggit sambil duduk di sampingnya.
"Saya... saya ingin menikah lagi. Dengan Fatmawati."
Hening. Dunia Inggit seolah runtuh dalam sekejap. Air matanya jatuh perlahan.
"Kenapa, Karno? Apa saya kurang baik untukmu?"
"Bukan begitu, Inggit. Kamu adalah istri terbaik yang pernah saya miliki. Tapi... saya ingin mempunyai keturunan. Dan Fatmawati..."
"Saya tidak mau dimadu, Karno," potong Inggit dengan suara bergetar. "Kalau kamu ingin menikah lagi, lebih baik kita bercerai."
"Inggit..."
"Tidak apa-apa, Karno. Saya mengerti. Mungkin ini memang takdir kita."
Dengan hati yang hancur namun tetap tegar, Inggit memilih untuk melepaskan Soekarno. Inggit yang tidak ingin hidup dalam poligami, akhirnya menceraikan Soekarno dan kembali ke Bandung.
Bab III: Mawar Ketiga - Fatmawati (1943-1956)
Bengkulu, 1 Juni 1943. Soekarno resmi mempersunting Fatmawati gadis dari Suku MinangKabau, putri dari Hasan Din dan Siti Chadijah. Saat itu Soekarno telah menjadi Presiden Pertama Indonesia dan Fatmawati pun menjadi Ibu Negara Indonesia yang pertama.
Setahun setelah pernikahannya, Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia. Bendera Merah Putih juga boleh dikibarkan dan lagu Kebangsaan Indonesia Raya diizinkan berkumandang. Fatmawati pun berpikir jika Indonesia memerlukan sebuah bendera untuk dikibarkan di Pegangsaan 56.
Berkat bantuan Shimizu, yang merupakan orang ditunjuk oleh Pemerintah Jepang sebagai perantara dalam perundingan Jepang-Indonesia. Ibu Fatmawati akhirnya mendapatkan kain merah putih.
Di sebuah rumah tradisional, Fatmawati, wanita cantik berusia 21 tahun, sedang menjahit bendera merah putih dengan hati-hati. Tangannya yang lentik bergerak lincah, seolah sedang menenun masa depan bangsa. Kala itu Fatmawati tengah hamil besar anak pertamanya (Guntur Soekarno Putra)
"Fatmawati," panggil Soekarno dari ambang pintu. "Bendera itu akan menjadi saksi sejarah kemerdekaan Indonesia."
"Benar, Bung Karno. Aku sangat bangga bisa menjadi bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia," mata Fatmawati berbinar.
"Ya. Dan kamu akan menjadi Ibu Negara yang mendampingi saya memimpin bangsa ini."
Fatmawati sangat setia mendampingi Soekarno dalam momen-momen bersejarah. Ketika Proklamasi Kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945, Fatmawati berdiri dengan bangga di samping suaminya, mengibarkan bendera merah putih hasil jahitannya sendiri.
"Kita berhasil, Fatma. Indonesia merdeka!" bisik Soekarno dengan mata berkaca-kaca.
"Alhamdulillah, Bung. Ini semua berkat perjuangan Bung dan seluruh rakyat Indonesia," jawab Fatmawati sambil menggengam tangan suaminya.
Selama 11 tahun, Fatmawati melahirkan lima orang anak: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Mereka hidup bahagia sebagai keluarga presiden yang sederhana namun penuh cinta.
Namun kebahagiaan itu terusik ketika pada 1953, Soekarno kembali dengan keputusan yang mengejutkan.
"Fatma, saya ingin menikah lagi," kata Soekarno suatu malam di kamar mereka.
Fatmawati terdiam, tangannya yang sedang menyusui Guruh bergetar.
"Dengan siapa, Bung?"
"Hartini. Seorang janda dari Solo."
"Saya pernah bilang kepada Bung, saya tidak mau dimadu. Saya tidak sanggup, Bung."
"Fatma, cobalah mengerti. Sebagai pemimpin bangsa, saya..."
"Tidak ada alasan yang bisa saya terima, Bung. Kalau Bung tetap ingin menikah lagi, saya akan keluar dari istana."
Perannya sebagai first lady berakhir saat ia memutuskan keluar dari istana karena pada pertengahan 1954 Soekarno menikah lagi dengan perempuan lain bernama Hartini. Tentu saja hati Fatmawati terluka. Sebagaimana diutarakan kepada Soekarno kala pertama menyatakan cinta, Fatmawati pantang dipoligami.
Dengan hati yang hancur, Fatmawati meninggalkan istana bersama anak-anaknya. Perceraian mereka pada 1956 menjadi luka yang tak pernah sembuh bagi keduanya.
Bab IV: Mawar Keempat - Hartini (1953-1970)
Solo, 1952. Di sebuah acara pernikahan, Soekarno bertemu dengan Hartini, seorang janda cantik berusia 37 tahun. Mata mereka bertemu, dan seketika ada chemistry yang tak terbantahkan.
"Siapa wanita cantik itu?" tanya Soekarno kepada ajudannya.
"Itu Hartini, Bapak Presiden. Seorang janda dari keluarga priyayi Solo."
Setahun kemudian, Hartini dan Soekarno bertemu saat peresmian teater terbuka Ramayan di Candi Prambanan. Malam itu, Soekarno mengirimkan sepucuk surat cinta melalui seorang perantara dengan nama samaran Srihana.
"Ketika aku melihatmu untuk pertama kali, hatiku bergetar."
Hartini membaca surat itu dengan tangan bergetar. Ia tidak menyangka seorang presiden akan tertarik padanya.
"Apakah saya pantas untuk beliau?" gumamnya pada diri sendiri.
Dua hari setelah Guruh Soekarno Putra lahir, tanggal 15 Januari 1953, Soekarno meminta izin Fatmawati untuk menikahi Hartini. Fatmawati mengizinkan, tetapi kemudian menyebabkannya menuai protes dari berbagai organisasi wanita yang dimotori Perwari yang anti poligami.
Keduanya pun menikah di Istana Cipanas pada tahun 1953 dan Hartini menjadi istri keempat dari Presiden RI pertama tersebut, juga Ibu Negara kedua di Republik Indonesia.
Berbeda dengan istri-istri sebelumnya, Hartini memilih untuk menerima kenyataan bahwa Soekarno akan terus menikah dengan wanita lain. Ia memilih untuk setia mendampingi suaminya tanpa protes.
"Saya mencintai Bung Karno apa adanya. Kalau memang takdirnya begini, saya terima," kata Hartini kepada sahabatnya.
Kehadiran Hartini sangat berpengaruh dalam kehidupan sang Presiden RI, sebab beliau lah yang mendampingi Soekarno dalam kondisi kritis. Ia juga dikenal sebagai istri Soekarno yang paling setia hingga akhir hayat.
Ketika kesehatan Soekarno mulai menurun di akhir 1960-an, Hartini yang paling setia merawatnya. Saat yang lain mulai menjauh karena situasi politik yang sulit, Hartini tetap bertahan.
"Hartini, terima kasih sudah setia menemani saya," bisik Soekarno dengan suara lemah di ranjang sakitnya.
"Saya akan selalu di sini, Bung. Sampai napas terakhir saya," jawab Hartini sambil menggenggam tangan suaminya.
Hal ini terbukti dari Soekarno yang meninggal dunia di pangkuan Hartini pada 21 Juni 1970 akibat penyakit yang dideritanya.
Bab VII: Mawar Kelima- Kartini Manoppo (1959-1970)
Tahun 1959. Di sebuah pameran lukisan, Kartini Manopo yang saat itu sedang menghadiri pameran tersebut karena ia merupakan salah satu model dilukisan karya Basuki Abdullah dengan judul *Lady With Kebaya, * tidak sengaja bertemu dengan Soekarno. Dari pertemuan tersebut Soekarno merasa jatuh hati pada Kartini.
“Nona cantik, apa kamu model dilukisan ini?”
Kartini mengangguk, “Iya Bapak Presiden, lukisan tersebut adalah saya.”
“Jika berkenan, bolehkah saya mengetahui namamu?”
“Nama saya Kartini Manopo, Bapak.”
“Nama yang bagus, apa pekerjaanmu?”
“Saya seorang Pramugari Garuda Indonesia,”
“Wah, senang bertemu denganmu Nona. Di lain waktu kita akan bertemu kembali Nona,”
Setelah pertemuan tersebut, Soekarno yang memang sudah jatuh hati pada Kartini Manopo meminta Sekertaris Negara untuk menyurati pihak Garuda Indonesia, untuk menjadikan Kartini sebagai Pramugarinya, jika ia terbang ke luar negeri untuk urusan negara.
Di tahun yang sama 1959, Soekarno menikahi Kartini Manopo secara diam-diam. Hal itu lantaran dirinya berasal dari keluarga terhormat di Sulawesi Utara dimana keberadaan istri kedua atau ketiga adalah hal yang tabu. Kartini Manopo adalah wanita asal Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Dia terlahir dari keluarga terhormat.
Pernikahan Soekarno dan Kartini Manopo sangat tertutup, bahkan Kartini sendiri tidak tinggal di Istana bersama istri-istri Soekarno lainnya.
Bab V: Mawar Keenam - Ratna Sari Dewi (1962-1970)
Malam itu, lampu-lampu neon Tokyo berkilauan seperti permata yang tersebar di kegelapan. Di sebuah klub malam mewah bernama "Copacabana" di distrik Akasaka, tahun 1959, aroma parfum mahal dan asap rokok bercampur dengan dentuman musik jazz yang lembut. Ruangan itu dipenuhi oleh para diplomat, pengusaha kaya, dan tamu-tamu terhormat dari berbagai negara.
Di atas panggung yang diterangi lampu sorot keemasan, seorang gadis berusia sembilan belas tahun bernama Naoko Nemoto berdiri dengan anggun. Kimono putih bergradasi pink yang dikenakannya berkilau laksana mutiara di bawah cahaya lampu. Obi berwarna emas melilit pinggangnya yang ramping, sementara rambut hitam legamnya disanggul rapi dengan hiasan bunga sakura dari sutra.
Matanya yang besar dan ekspresif—warisan dari neneknya yang berdarah campuran—menatap ke seluruh ruangan dengan kepercayaan diri seorang penari profesional. Namun ketika pandangannya jatuh pada seorang pria paruh baya yang duduk di meja VIP nomor tiga, sesuatu dalam dadanya berdetak lebih kencang.
Pria itu mengenakan jas hitam yang elegan dengan kemeja putih dan dasi sutra merah. Wajahnya berwibawa dengan kumis tipis yang rapi, matanya tajam namun hangat. Ada aura kekuasaan yang memancar darinya, namun juga kelembutan yang tersembunyi. Ia tak lain adalah Presiden Indonesia, Soekarno—atau Bung Karno sebagaimana rakyatnya memanggilnya dengan penuh kasih.
"Konbanwa, mina-sama," sapa Naoko dengan suara lembut namun jelas terdengar hingga ke seluruh ruangan. "Malam ini saya akan mempersembahkan tarian tradisional dari daerah Kyoto."
Bung Karno, yang sedang dalam kunjungan kenegaraan resmi ke Jepang, merasakan sesuatu yang aneh terjadi dalam dadanya. Di usianya yang ke-58, ia sudah melihat banyak penari dan wanita cantik dari berbagai penjuru dunia. Namun ada sesuatu yang berbeda tentang gadis ini. Ketika Naoko mulai bergerak, setiap langkahnya begitu anggun dan penuh makna, seperti puisi yang ditulis dengan gerakan tubuh.
Kipas sutra merah di tangannya bergerak lincah, mengikuti irama shamisen yang dipetik dengan halus. Setiap putaran tubuhnya menceritakan kisah cinta yang tragis dari zaman kuno, setiap gerak tangannya menggambarkan kerinduan yang mendalam.
"Luar biasa," gumam Soekarno dalam hati, tangannya yang sedang memegang gelas wiski terhenti di udara.
Seorang pria berjas abu-abu yang duduk di sebelahnya—Kolonel Sabur, ajudan pribadinya—memperhatikan perubahan ekspresi atasannya.
"Bapak Presiden tampak terkesan," bisik Kolonel Sabur hati-hati.
Soekarno tidak menjawab. Matanya tidak bisa lepas dari sosok Naoko yang sedang melakukan gerakan terakhir tariannya. Gadis itu berlutut dengan anggun, kipasnya tertutup, kepalanya menunduk dalam. Tepuk tangan meriah bergema di seluruh ruangan.
"Sankyu beri matchi," kata Naoko dengan sedikit membungkuk, menggunakan bahasa Inggris yang masih terbata-bata namun menggemaskan.
Ketika ia bangkit dan pandangannya sekali lagi bertemu dengan mata Soekarno, waktu seolah berhenti. Ada percikan listrik yang tidak bisa dijelaskan, sebuah koneksi jiwa yang melampaui kata-kata.
"Tanaka-san," panggil Soekarno kepada penerjemah pribadinya, seorang pria Jepang berusia empat puluhan yang sudah lama mengabdi pada kedutaan Indonesia. "Siapa gadis itu?"
Tanaka-san mengikuti arah pandangan Soekarno dan tersenyum halus. "Ah, itu Naoko Nemoto, Kakka. Ia salah satu penari dan hostess terbaik di klub ini. Usianya masih sangat muda, baru sembilan belas tahun. Mereka bilang ia berasal dari keluarga sederhana di Nemoto, namun memiliki bakat alami dalam seni tari."
"Nemoto?" Soekarno mengulangi nama itu perlahan, seolah merasakan setiap suku katanya. "Apakah artinya sesuatu dalam bahasa Jepang?"
"Akar pohon, Kakka. Nemoto berarti akar pohon. Nama yang sederhana namun kuat."
Soekarno mengangguk perlahan. Ada sesuatu tentang nama itu yang membuatnya tersentuh. Seorang gadis bernama 'akar pohon' yang menari dengan keanggunan bunga sakura.
Sementara itu, Naoko sudah turun dari panggung dan mulai berkeliling meja, menyapa para tamu sesuai tradisi klub malam kelas atas di Tokyo. Ia berbincang sebentar dengan beberapa pengusaha Jepang, tertawa sopan pada lelucon seorang diplomat Amerika, dan memberikan senyum profesionalnya kepada para tamu lainnya.
"Apakah Bapak Presiden ingin saya mengundangnya ke meja kita?" tanya Tanaka-san dengan hati-hati.
Soekarno terdiam sejenak, jarinya mengetuk-ngetuk meja marmer putih dengan ritme yang tidak beraturan. Sebagai seorang pemimpin negara, ia harus berhati-hati dengan setiap tindakannya. Namun sebagai seorang pria, ia merasa tertarik dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ya," katanya akhirnya dengan suara yang hampir berbisik. "Tapi lakukan dengan sopan. Katakan padanya bahwa Presiden Indonesia ingin memberikan apresiasi atas penampilannya yang luar biasa."
Tanaka-san membungkuk hormat. "Baik, Kakka. Saya akan mengaturnya."
Ketika Tanaka-san mendekati Naoko yang sedang berbincang dengan seorang tamu di meja nomor lima, jantung Soekarno berdetak lebih cepat. Ia melihat penerjemahnya berbisik kepada gadis itu, melihat mata Naoko membulat terkejut, kemudian pandangannya kembali tertuju ke arah meja VIP tempat Soekarno duduk.
Untuk sesaat, mereka saling menatap dari kejauhan. Soekarno memberikan senyum tipis yang hangat, sementara Naoko merona merah muda seperti bunga sakura di musim semi.
"Hai, wakarimashita," jawab Naoko kepada Tanaka-san dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup.
Beberapa menit kemudian, Naoko berjalan perlahan menuju meja VIP dengan langkah-langkah kecil yang elegan, sesuai cara berjalan wanita Jepang tradisional. Hatinya berdegup kencang. Ia sudah sering melayani tamu-tamu penting, namun belum pernah seorang presiden.
"Konbanwa, Kakka," sapa Naoko dengan membungkuk dalam ketika sampai di meja Soekarno. Suaranya lembut namun sedikit bergetar.
Soekarno bangkit dari kursinya dengan sopan, sesuatu yang jarang dilakukannya untuk orang lain. "Konbanwa, Naoko-san. Silakan duduk. Penampilan Anda malam ini benar-benar memukau."
Tanaka-san menerjemahkan dengan cepat, dan wajah Naoko semakin merona. "Arigato gozaimasu, Kakka. Saya sangat tersanjung."
"Bolehkah saya menawarkan Anda minum sesuatu?" tanya Soekarno dengan ramah, tangannya mengisyaratkan ke arah kursi kosong di sampingnya.
"Ocha wo onegaishimasu," jawab Naoko sambil duduk dengan hati-hati, memastikan kimononya tersusun rapi. "Teh hijau, jika boleh."
Soekarno tersenyum, terkesan dengan kesopanan gadis itu. "Tentu saja. Tanaka-san, tolong pesankan ocha untuk Naoko-san."
Saat menunggu teh datang, Soekarno memperhatikan Naoko lebih dekat. Ada kecantikan alami pada wajahnya yang tidak bisa disembunyikan oleh bedak dan lipstik. Namun yang paling menarik perhatiannya adalah mata gadis itu—besar, ekspresif, dan penuh dengan rasa ingin tahu yang polos.
"Apakah Anda sudah lama menjadi penari, Naoko-san?" tanya Soekarno setelah Tanaka-san menerjemahkan.
"Sejak saya berusia lima tahun, Kakka," jawab Naoko setelah teh hijaunya tiba. "Okaasan—ibu saya—mengatakan bahwa menari adalah cara untuk mengekspresikan jiwa tanpa kata-kata."
Soekarno mengangguk dengan antusias. "Filosofi yang indah. Di Indonesia, kami juga memiliki tarian tradisional yang menceritakan kisah jiwa. Tari Kecak dari Bali, Saman dari Aceh... semuanya adalah bahasa universal yang melampaui kata-kata."
Mata Naoko berbinar mendengar penjelasan itu. "Indonesia... negeri yang jauh di selatan, bukan? Saya pernah mendengar tentang keindahan alamnya. Pulau-pulau tropis dengan pantai putih dan gunung berapi."
"Anda tahu tentang Indonesia?" Soekarno terkesan.
"Sedikit," Naoko tersenyum malu. "Saya suka membaca tentang negara-negara lain. Otousan—ayah saya—selalu berkata bahwa dunia ini sangat luas, dan kita harus tahu tentang orang-orang di tempat lain."
Percakapan mereka mengalir dengan natural, meskipun harus melalui penerjemah. Soekarno menceritakan tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia, tentang keragaman budaya bangsanya, dan tentang mimpinya untuk Indonesia yang besar. Naoko mendengarkan dengan penuh perhatian, kadang-kadang mengajukan pertanyaan yang menunjukkan ketertarikannya yang tulus.
"Kakka pasti seorang pemimpin yang sangat dicintai rakyatnya," kata Naoko setelah mendengar cerita tentang proklamasi kemerdekaan.
"Saya berusaha melayani rakyat dengan sepenuh hati," jawab Soekarno dengan rendah hati. "Namun menjadi pemimpin sebuah negara muda tidaklah mudah. Kadang-kadang saya merasa sangat lelah dan kesepian."
Ada nada melankolis dalam suara Soekarno yang membuat Naoko tersentuh. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi manusiawi dari seorang yang biasanya tampak begitu kuat dan berwibawa.
"Demo, Kakka wa hitori janai yo," kata Naoko dengan lembut, kemudian menyadari ia berbicara dalam bahasa Jepang. "Ah, sumimasen. Maksud saya... Kakka tidak sendirian. Kakka memiliki seluruh rakyat Indonesia yang mencintai Kakka."
Soekarno tersenyum hangat. "Arigato, Naoko-san. Kata-kata Anda sangat menghibur."
Waktu berlalu tanpa mereka sadari. Klub yang tadi ramai mulai sepi, beberapa tamu sudah pulang. Naoko menyadari ia sudah mengobrol terlalu lama dengan satu tamu, padahal tugasnya adalah berkeliling melayani semua tamu.
"Sumimasen, Kakka," kata Naoko sambil bangkit dari kursinya. "Saya harus kembali bekerja."
"Tentu saja," Soekarno juga ikut berdiri. "Terima kasih untuk percakapan malam ini, Naoko-san. Ini adalah malam yang sangat berkesan bagi saya."
Naoko membungkuk dalam. "Watashi mo onaji kimochi desu, Kakka. Saya juga merasakan hal yang sama."
Ketika Naoko berjalan menjauh, Soekarno duduk kembali dengan perasaan yang campur aduk. Ada sesuatu tentang gadis itu yang membuatnya tidak ingin malam ini berakhir.
Dalam minggu-minggu berikutnya, Soekarno sering kembali ke Tokyo dengan berbagai alasan diplomatik. Setiap kali, ia selalu menyempatkan waktu untuk bertemu Naoko. Mereka berjalan-jalan di taman-taman Tokyo, menikmati bunga sakura yang sedang mekar, dan berbincang tentang mimpi-mimpi mereka.
"Aku ingin melihat Indonesia," kata Naoko suatu hari ketika mereka duduk di tepi danau di Taman Ueno.
"Dan aku ingin menunjukkan kepadamu betapa indahnya tanah airku," jawab Soekarno, matanya berbinar.
Cinta mereka tumbuh dengan cepat. Soekarno, yang dikenal sebagai pria yang fasih berbicara, sering kali kehilangan kata-kata ketika berhadapan dengan Naoko. Gadis Jepang itu memiliki kekuatan untuk menenangkan jiwa yang gelisah dari seorang pemimpin besar.
Pada tahun 1962, setelah melalui berbagai pertimbangan dan negosiasi diplomatik yang rumit, Naoko akhirnya datang ke Indonesia. Ia disambut oleh Soekarno di Istana Merdeka dengan penuh kehangatan.
"Selamat datang di rumahmu yang baru," kata Soekarno sambil memeluknya.
Pernikahan mereka pada tahun 1962 menjadi peristiwa yang menggemparkan. Naoko, yang kemudian mengambil nama Ratna Sari Dewi Soekarno, harus belajar beradaptasi dengan budaya Indonesia, bahasa, dan perannya sebagai ibu negara.
"Aku akan belajar menjadi istri yang baik untuk seorang pemimpin besar seperti dirimu," kata Dewi pada malam pernikahan mereka.
Soekarno menggenggam tangannya dengan lembut. "Yang aku butuhkan hanyalah cintamu, Dewi. Sisanya akan kita hadapi bersama."
Tahun-tahun berikutnya tidaklah mudah. Situasi politik Indonesia yang bergejolak, tekanan internasional, dan konflik internal membuat kehidupan mereka penuh tantangan. Namun, di tengah semua itu, cinta mereka tetap menjadi oasis ketenangan.
Dewi melahirkan putri mereka, Kartika Sari Dewi Soekarno, pada tahun 1967. Soekarno, yang sudah menjadi ayah berkali-kali, kembali merasakan kebahagiaan yang luar biasa melihat putrinya yang cantik.
"Dia cantik seperti ibunya," kata Soekarno sambil menggendong bayinya.
Bab VI: Mawar Ketujuh - Haryati (1963-1970)
Salatiga, 1963. Haryati, seorang gadis muda berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis ketika bertemu dengan Soekarno dalam sebuah acara kampanye. Haryati adalah seorang penari istana sekaligus Staf Sekretaris Negara Bidang Kesenian. Haryati merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara, putri Kanjeng Pangeran Koesoemajoedho, Bupati Ponorogo periode 1916–1926.
"Anda gadis yang cantik. Siapa nama Anda?" tanya Soekarno setelah acara selesai.
"Haryati, Bapak Presiden," jawab gadis itu dengan gugup.
"Haryati... nama yang indah. Apakah Anda bersedia menjadi bagian dari keluarga saya?"
Haryati terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Haryati yang saat itu memang juga memiliki rasa ketertarikan dengan Presiden Soekarno pun menerima pinangannya.
Pernikahan mereka yang sederhana namun penuh kontroversi menambah daftar panjang istri Soekarno. Namun pada tahun 1966 Pernikahan Haryati dan Soekarno kandas, Soekarno pun menceraikan Haryati.
“Haryati, maaf. Sepertinya aku sudah merasa tidak cocok lagi denganmu. Maka dengan alasan ini aku ingin kita bercerai.”
Haryati tersenyum mendengar alasan klise yang diberikan suaminya. “Baiklah Pak, jika memang dirimu sudah tidak ada lagi kecocokan denganku. Ceraikan saja aku.”
Bab VII: Mawar Kedelapan - Yurike Sanger (1964-1970)
Tahun 1963. Saat itu Yurike gadis berusia 18 tahun diminta untuk menyambut tamu-tamu negara dalam Barisan Bhineka Tunggal Ika, karena postur tubuhnya yang tinggi semampai dan berparas cantik membuat Soekarno yang melihatnya pun jatuh hati. Dan hal itulah yang menjadikan Yurike salah satu wanita persinggahan hati Bung karno.
“Gadis manis, siapa namamu?”
“Yurike sanger, Bapak Presiden,” jawab Yurike dengan tersenyum.
Senyuman Yurike yang sangat menawan membuat hati Soekarno semakin yakin ingin mempersunting gadis dihadapannya ini.
“Sanger? Kamu dari Manado?”
Yurike kembali tesenyum, “Betul, Bapak Presiden. Saya gadis daerah yang berasal dari Sanger.”
“Kamu dari Universitas mana, Nona?”
“Saya masih kelas 3 Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, Bapak,”
“Benarkah?! Tetapi postur tubuhmu layaknya seorang gadis dewasa,”
Yurike tersipu malu, saat Bung Karno memujinya. Dan dari perkenalan tersebut, di tahun 1964 Bung Karno melamar Yurike Sanger kepada keluarganya. Yurike sendiri adalah seorang umat kristiani, meski berbeda keyakinan mereka tetap melangsungkan pernikahan secara islam di rumah Yurike pada tanggal 6 Agustus 1964.
Setelah menikah dengan Bung Karno, Yurike Sanger pun lebih memilih mengikuti keyakinan Bung Karno dan beliau resmi menjadi seorang mualaf. Pernikahan Yurike Sanger dengan Bapak Presiden Republik Indonesia hanya bertahan selama empat (4) tahun. Pada 1967, Bung karno dimakzulkan sebagai presiden lalu menjadi tahanan rumah. Di tengah kondisi yang tidak menentu, ia meminta Yurike untuk mengajukan cerai. Dan Yurike pun menuruti permintaan Bung Karno.
Bab XI: Mawar Kesembilan - Heldy Djafar (1966-1970)
Jakarta, 1964 Dalam rangka penyambutan tim Piala Thomas. Heldy terpilih sebagai bagian dari barisan Bhineka Tunggal Ika sebagai wakil dari Kalimantan. Begitu juga sepupu dan keponakannya.
Saat itu Presiden Soekarno menaiki anak tangga Istana melalui barisan Bhineka Tunggal Ika yang sudah rapi berbaris dan berdiri di setiap anak tangga. Bung Karno menaiki anak tangga satu persatu sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Tepat saat mendekati barisan di belakang Heldy, ia menyapa dengan caranya yang khas.
“Senang bertemu dengan anda, Bapak Presiden.”
“Terima kasih. Kau terlihat sangat cantik hari ini, Nona. Siapa namamu?”
“Heldy Djafar, nama saya Heldy Djafar.”
“Nama yang cantik, sesuai dengan wajahmu.”
Dari pertemuan pertama Soekarno dengan Heldy Djafar sangat membekas di hati Soekarno. Hingga pada tahun 1966 mereka kembali dipertemukan di Istana Bogor, ketika kepala sekolahnya, mengajak murid-muridnya, termasuk Heldy, ke Istana Bogor untuk masuk ke dalam barisan Bhineka Tunggal Ika. Mereka berangkat menumpang bus khusus. Sesampainya di Istana Bogor, para pagar ayu diminta berbaris dan menempati posisinya masing-masing untuk siap-siap menerima tamu. Saat itu, Heldy memilih berdiri di pojok, takut dilihat Soekarno. Ketika Presiden Sukarno memasuki ruangan untuk melihat barisan Bhineka Tunggal Ika, matanya mendadak menatap Heldy. Melalui ajudannya, Heldy lalu dipanggil Soekarno.
“Kita bertemu kembali Nona cantik,”
“Iya Bapak, tidak saya sangka akan bisa kembali bertemu dengan Bapak Presiden Indonesia.”
“Mungkinkah kita berjodoh, Nona?”
Dari percakapan terakhir mereka tersebut, seakan takdir membawa Heldy gadis berusia 18 tahun itu terus bertemu dengan Soekarno yang saat itu sudah berusia 65 tahun. Hingga merekapun menikah dengan saksinya Ketua DPA Idham Chalid dan Menteri Agama Saifuddin Zuhri.
Pernikahan keduanya hanya bertahan dua tahun. Kala itu situasi politik sudah semakin tidak menentu. Komunikasi tak berjalan lancar setelah Soekarno menjadi tahanan di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto. Heldy sempat mengucap ingin berpisah, tetapi Soekarno bertahan. Soekarno hanya ingin dipisahkan oleh maut.
“Bapak, maaf saya ingin berpisah darimu. Mengingat kondisi dan situasi yang saat ini tengah kacau, saya tidak bisa terus berada disisimu,”
“Saya tidak ingin melepaskanmu, Heldy. Biarkan kita dipisahkan oleh maut.”
Heldy yang putus asa karena Soekarno tidak ingin berpisah, akhirnya 19 Juni 1968 Heldy yang saai itu berusia 21 tahun menikah lagi dengan Gusti Suriansyah Noor, putra dari Pangeran Mohammad Noor, Pahlawan Nasional keturunan dari Kerajaan Banjar. Kala itu Heldy yang sedang hamil tua mendapat kabar Soekarno wafat. Soekarno tutup usia pada tanggal 21 Juni 1970, dalam usia 69 tahun.
Epilog: Taman Cinta yang Kompleks
Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta, Juni 1970. Soekarno terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Di sekelilingnya, beberapa dari istri-istrinya berkumpul, meski tidak semuanya.
Hartini duduk paling dekat, memegang tangan Soekarno dengan erat. Dewi berdiri di samping tempat tidur, matanya berkaca-kaca. Haryati, Yurike, Heldy, dan Kartini berkumpul di sudut ruangan, berbisik-bisik dengan wajah sedih.
"Maafkan saya," bisik Soekarno dengan suara serak. "Saya tahu saya telah menyakiti kalian semua dengan cara saya mencintai."
"Jangan bicara begitu, Bung," kata Hartini sambil mengelus tangan suaminya. "Kami semua mencintai Bung dengan tulus."
"Ya, Bapak," tambah Dewi. "Meskipun cara Bapak mencintai tidak konvensional, tapi cinta Bapak kepada kami semua tulus."
Soekarno tersenyum lemah. "Kalian semua adalah mawar-mawar indah dalam taman hidup saya. Masing-masing memiliki keharuman dan keindahan yang berbeda."
"Bung," bisik Hartini, "kami akan selalu mencintai Bung, meskipun Bung sudah tidak ada."
Pada 21 Juni 1970, Soekarno menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan Hartini, dikelilingi oleh cinta dari para wanita yang pernah mengisi hatinya.
__
Sumber Riset :
- http://id.wikipedia.org
- http://www.hops.id
- http://idn.times.com
- Biografi Inggit Garnasih