Kisah Sabina
Sabina adalah gadis cantik yang cerdas dan rajin, ia selalu mendapat nilai tinggi di akademik maupun non-akademik tapi meskipun ia mendapatkan semua itu, ia tidak pernah diakui oleh Ayahnya, ia selalu dibanding-bandingkan dengan kakak kembarnya yaitu Satya.
Pada suatu hari Sabina mendapat nilai 88 lalu ayahnya langsung menarik tangan Sabina menuju ke gudang karna peraturannya harus mendapat nilai minimal 90 kalo kurang dari itu maka Ayahnya tidak segan segan untuk menghukum nya, lalu Ayahnya menguncinya, sementara disisi lain Satya, kakak kembar Sabina ingin menolongnya tapi ayahnya terlalu kuat lalu ia memutuskan untuk menolong adiknya itu secara diam-diam, Satya berfikir keras untuk mencari cara menolong Sabina tanpa diketahui Ayahnya. Ia memutuskan untuk menunggu sampai malam hari, ketika Ayahnya sudah tidur.
Saat malam hari tiba, Satya bergerak dengan hati-hati agar tidak membangunkan Ayahnya, ia berjalan ke arah gudang, membawa kunci cadangan yang ia temukan.
Satya membuka kunci gudang dan memasuki ruangan yang gelap. Ia melihat Sabina duduk dipojok ruangan, dengan mata yang merah dan basah.
" Sabina, aku datang untuk menolongmu" kata Satya dengan suara yang lembut.
Sabina memandang Satya dengan mata yang penuh air mata " kak Satya, aku....aku tidak bisa" katanya dengan suara yang terputus - putus.
Satya berlari ke arah Sabina dan memeluknya erat " Sabina, jangan begitu, kakak akan selalu ada untukmu. Kita akan menghadapi ini bersama - Sama" kata Satya dengan suara yang penuh cinta dan kepedulian.
Satya memeluk erat dan mencoba menenangkan adiknya yang sedang menangis "Sabina, jangan menangis, kakak ada disini. Kakak akan selalu menjaga mu" kata Satya dengan suara yang lembut dan penuh cinta.
Sabina terus menangis dan memeluk Satya erat. Satya dapat merasakan kesedihan dan keputusasaan adiknya, dan itu membuatnya merasa sedih dan marah kepada orang tuanya yang tidak adil.
" Kakak, aku tidak bisa, aku tidak bisa membuat Ayah dan Ibu bangga. Aku selalu gagal" kata Sabina dengan suara yang terputus - putus
Satya memandang Sabina dengan mata yang penuh cinta dan kepedulian " Sabina, kamu tidak gagal, kamu hanya berbeda dariku, tapi itu bukan berarti kamu tidak berharga, kamu berharga sangat berharga dari yang kamu kira " kata Satya dengan suara yang lembut dan penuh cinta.
Mereka saudara kembar, sehingga ikatan mereka sangat kuat dan unik. Mereka dapat merasakan perasaan satu sama lain dengan sangat intens, sehingga jika Sabina sedih, Satya pasti akan merasa sedih juga.
Satya memeluk Sabina erat, merasakan kesedihan dan keputusasaan adiknya. Ia dapat merasakan perasaan Sabina seolah olah itu adalah perasaannya sendiri.
Sabina terus menangis tapi perlahan mulai tenang. Satya terus memeluknya erat, memberikan kehangatan dan kenyamanan. Setelah beberapa saat, Sabina mulai berhenti menangis dan memandang Satya dengan mata yang merah.
Sabina tersenyum lembut dan memeluk Satya erat " terima kasih, kakak" kata Sabina dengan suara yang lembut.
Satya memeluk Sabina erat, merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam pelukan mereka. Mereka berdua terus memeluk erat, tidak ingin melepaskan satu sama lain.
Keesokan harinya, Satya dan Sabina bangun pagi-pagi untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah. Mereka berdua berpakaian seragam sekolah yang berwarna putih -abu.
Satya membantu Sabina mengikat rambutnya, dan memastikan bahwa semua barang mereka sudah siap " Sabina, jangan lupa membawa buku dan alat tulis ya" kata Satya dengan suara yang lembut.
Sabina tersenyum dan mengangguk " sudah kak, aku tidak lupa" kata Sabina
Lalu mereka berdua turun ke bawah untuk sarapan
Ibu mereka, Asfi memang tidak pernah ikut campur untuk menghukum Sabina secara fisik, tapi ia punya cara lain untuk menunjukkan ketidaksetujuan nya, ia bersikap dingin dan tidak peduli dengan Sabina, tidak seperti cara ia memperlakukan Satya yang selalu dipuji dan diberikan perhatian.
Sabina dapat merasakan perbedaan perlakuan ibunya terhadap dirinya dan Satya, ia merasa bahwa ibunya tidak pernah memahami atau menerima dirinya apa adanya. Hal ini membuat Sabina merasa sedih atau tidak berharga.
Satya yang memperhatikan perlakuan ibunya terhadap Sabina, merasa sedih dan tidak setuju. Ia ingin membantu Sabina dan membuatnya merasa lebih baik tapi ia tidak tahu cara yang tepat untuk melakukannya.
Asfi tidak menyadari bahwa perlakuan dinginnya terhadap Sabina dapat menyebabkan dampak negatif pada mental dan emosi Sabina. Ia hanya ingin Sabina menjadi lebih baik dan sukses seperti Satya, tapi ia tidak memahami bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda.
Sabina memutuskan untuk berangkat lebih dulu tanpa sarapan " Sabina berangkat dulu, permisi" katanya menundukkan kepalanya lalu berjalan menuju pintu keluar rumah.
Asfi memandang Sabina dengan mata yang dingin dan tidak berbicara. Ia hanya mengangguk dan membalikkan wajahnya tidak menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap Sabina.
Lalu Asfi beralih memandang Satya dengan mata yang lembut tapi masih terlihat dingin " Satya, sarapan dulu, sebelum berangkat" kata Asfi dengan suara lembut.
Satya mengangguk dan mulai sarapan, tapi tidak berhenti memikirkan Sabina yang diperlakukan tidak adil.
Disini lain Sabina berjalan kaki ke sekolah, merasa sedih dan sendirian. Ia tidak terlalu bersemangat untuk berangkat ke sekolah karena ia merasa bahwa tidak ada yang peduli pada dirinya.
Sabina berhenti sejenak ditengah perjalanan, merasa lelah. Ia memandang sekeliling, melihat anak- anak lain yang berangkat ke sekolah dengan senyum dan semangat. Sabina merasa bahwa ia tidak seperti mereka yang memiliki kebahagiaan dan kesenangan dalam hidupnya.
Tiba tiba, Sabina mendengar suara langkah kaki dibelakang, ia berpaling dan melihat Satya yang berlari menuju ke arahnya dengan senyum diwajahnya.
Lalu Satya berhenti tepat disebelah Sabina " Sabina apa yang terjadi? Kamu berangkat lebih dulu" tanya Satya dengan suara yang lembut dan peduli.
Sabina memandang Satya " aku...aku hanya tidak ingin sarapan pagi ini, jadi aku berangkat lebih dulu" kata Sabina dengan suara yang pelan.
Satya memandang Sabina dengan mata yang penuh cinta dan kepedulian" Sabina, kamu jangan berangkat sekolah tanpa sarapan lebih dulu, lain kali sarapan dulu sebelum berangkat" kata Satya dengan suara yang lembut
Sabina tersenyum lembut" iya kak, nanti aku usahakan sarapan dulu sebelum berangkat " ujar Sabina dengan suara yang pelan.
Kemudian mereka berdua melanjutkan berjalan menuju ke sekolah.
Setelah sampai disekolah, mereka berdua berjalan melewati gerbang sekolah dan memasuki halaman yang luas. Suara anak anak lain yang sedang bermain dan berbicara terdengar di sekeliling mereka.
Sabina memandang sekeliling dan melihat teman- temannya yang sedang bermain. Ia tersenyum dan merasa sedikit lebih baik.
Satya memandang Sabina dan melihat bahwa adiknya sudah mulai tersenyum, ia merasa lega dan senang karena dapat membantu Sabina merasa lebih baik.
" Kamu ingin bermain dengan teman - temanmu dulu, atau langsung ke kelas?" Tanya Satya kepada Sabina.
Sabina memandang Satya dan tersenyum " aku ingin bermain dulu" kata Sabina dengan suara yang lebih ceria.
Satya tersenyum dan mengangguk " baiklah, aku akan menunggu dikelas. Bermainlah tapi jangan lupa waktu pelajaran, ya" kata Satya dengan suara yang lembut.
Sabina mengangguk dan tersenyum, kemudian berlari ke arah teman - temannya yang sedang bermain. Satya memandang Sabina dengan mata yang penuh cinta dan kepedulian, lalu berjalan menuju ke kelas.
Saat Satya berjalan, ia tidak sengaja mendengar beberapa anak lain yang sedang berbicara tentang Sabina " Sabina selalu mendapat nilai yang rendah" kata salah satu anak. " Iya, selalu kalah dengan Satya" tambah anak lain.
Satya merasa sedih dan marah mendengar komentar - komentar itu. Ia ingin membela Sabina dan membuat mereka memahami bahwa Sabina tidak kalah hanya karna nilai - nilai ulangannya yang rendah.
Satya berjalan ke arah anak -anak yang sedang membicarakan Sabina, ia memandang mereka dengan mata yang serius " hey, apa yang kalian bicarakan?" Tanya Satya dengan suara yang lembut tapi tegas.
Lalu mereka terkejut dan tidak berani menjawab. Mereka hanya memandang Satya dengan mata yang takut dan tidak berani berbicara lagi.
Satya memandang mereka dengan mata yang serius lalu melanjutkan " Sabina adalah adikku, aku tidak ingin kalian berbicara tentang dia yang tidak baik, paham!"
Setelah Satya memberikan peringatan kepada mereka, mereka langsung berpaling dan pergi, mereka terlihat takut dan tidak nyaman karena mereka tahu bahwa Satya tidak mentolerir perilaku mereka yang tidak baik terhadap Sabina.
Satya memandang mereka pergi dengan mata yang serius kemudian menghela nafas lega. Ia merasa bahwa ia telah berhasil melindungi Sabina dari komentar-komentar yang tidak baik.
Setelah itu, Satya berjalan ke arah kelas ia melihat Sabina yang sedang mengobrol bersama teman - temannya. Ia ingin memastikan bahwa Sabina tidak mendengar komentar-komentar yang tidak baik.
Disisi lain Sabina sedang berbicara dengan Ava " Sabina, kamu sama Satya beda berapa menit sih?" Tanya Ava kepada Sabina.
Sabina tersenyum dan memandang Ava dengan mata yang ceria " aku dan kak Satya beda lima menit lahirnya" jawab Sabina dengan suara yang lembut.
Kemudian Ava mengangguk " kalo segender pasti kalian sulit dibedakan, wajahnya" kata Ava lalu melanjutkan " untung kalian beda gender jadi tidak sulit membedakannya"
" Iya benar, kalo kita sama sama laki laki atau perempuan mungkin kita akan sulit dibedakan" kata Sabina suara yang ceria.
Satya yang berdiri dibelakang Sabina mengangguk " tapi aku rasa itu juga bagian dari keunikan kami sebagai saudara kembar" kata Satya dengan suara yang lembut. " Kami memiliki kesamaan tapi juga memiliki perbedaan ".
Ava tersenyum dan mengangguk setuju" iya, itu benar!" Katanya dengan suara yang ceria.
Kemudian Sabina menoleh ke Satya" kakak kok disini, tidak kumpul sama temen temen kakak " kata Sabina.
Satya tersenyum memandang Sabina dengan mata yang lembut " aku ingin menemanimu Sabina, aku khawatir kamu sedang tidak baik baik saja" katanya dengan suara yang lembut.
Sabina memandang Satya dengan mata yang ceria " aku baik baik saja kak, tapi aku senang kakak menemani ku" kata Sabina dengan suara yang lembut.
Ava yang melihat itu ikut tersenyum " pasti ikatan batin kalian kuat, kalo Sabina sedih pasti Satya ikutan sedih begitu pula sebaliknya, iya kan" kata Ava dengan suara yang ceria.
Sabina dan Satya saling memandang dan tersenyum " iya benar" kata Sabina dengan suara yang lembut " kami memiliki ikatan batin yang kuat sehingga kami bisa merasakan dan memahami satu sama lain"
Satya mengangguk setuju " kami dapat merasakan kesedihan, kegembiraan dan perasaan lainnya bersama " kata Satya dengan suara yang lembut.
Ava tersenyum dan mengangguk" wah! Benar benar unik! Ikatan batin kalian sangat kuat" kata Ava dengan suara yang ceria.
Kemudian salah satu teman Satya yang bernama Sakha datang " Satya, aku cariin dari tadi ternyata kamu disini"
Satya tersenyum dan memandang Sakha dengan mata yang lembut " aku sedang menemani Sabina disini" katanya dengan suara yang lembut.
Sakha memandang Satya dengan mata yang penuh pemahaman " oh aku paham, kamu selalu memprioritaskan Sabina, itu yang membuatmu menjadi kakak yang baik untuknya" kata Sakha dengan suara yang ceria.
Satya dan Sabina tertawa mendengar komentar Sakha" iya aku jagain adikku ini" kata Satya dengan suara yang ceria sambil merangkul pundak Sabina.
Ava dan Sakha mengangguk, mereka memahami betapa kuatnya ikatan batin antara Satya dan Sabina.
Kemudian setelah itu bell masuk berbunyi mereka segera menuju ke tempat duduk mereka masing-masing.
Lalu guru mereka, ibu Rahayu memasuki kelas dan menyapa semua muridnya " selamat pagi, anak - anak! Hari ini kita akan mempelajari materi baru di pelajaran matematika, buka buku kalian dan dengarkan penjelasan saya "
Satya dan Sabina saling memandang dan tersenyum, mereka berdua suka pelajaran matematika dan siap untuk mempelajari materi baru. Mereka mendengarkan penjelasan materi itu dengan seksama.
Kemudian setelah itu Bu Rahayu mengumumkan hasil ulangan dan Sabina mendapat nilai dibawah 90.
Sabina terlihat sedikit kecewa ketika mendengar hasil ulangan nya, ia memandang nilai yang tercantum di kertas dengan mata yang sedikit murung.
Satya yang duduk disebelah Sabina, memperhatikan reaksi adiknya dan langsung memeluknya " Sabina, jangan sedih, kamu masih bisa memperbaiki nilai kamu di ulangan berikutnya" kata Satya dengan suara lembut dan penuh dukungan.
Sabina memandang Satya dengan mata yang sedikit basah " tapi, aku ingin mendapat nilai yang lebih tinggi lagi" katanya dengan suara yang lembut kemudian melanjutkan ' agar bisa membuat Ayah bangga' batinnya
" dan seperti biasa nilai tertinggi pertama didapatkan oleh Satya dan kedua Sabina" ujar Bu Rahayu
Satya tersenyum dan memandang Sabina dengan bangga " kamu masih bisa dapat nilai yang bagus, Sabina! Kakak bangga sama kamu " kata Satya dengan suara yang lembut.
Sabina tersenyum memandang Satya dengan mata yang sedikit iri " kamu yang selalu dapat nilai tertinggi kak, aku selalu ingin sepertimu " kata Sabina
Guru mereka, Bu Rahayu tersenyum dan memandang Satya dan Sabina dengan bangga " kalian berdua memang siswa yang pintar, saya percaya bahwa kalian akan terus berprestasi dan menjadi kebanggaan sekolah "
' Tapi itu tetap tidak cukup meskipun aku mendapat nilai tertinggi juga ' Batin Sabina
Sabina memandang Satya dengan mata yang sedikit kompleks. Ia merasa bahwa meskipun mendapat nilai yang bagus, ia tidak bisa menyaingi Satya, ia merasa bahwa Satya selalu satu langkah didepannya dan itu membuatnya merasa frustasi.
' aku ingin bisa seperti kakak tapi tidak tahu bagaimana caranya ' batin Sabina dengan nada sedikit kesal. Ia merasa bahwa ia telah berusaha sebaik mungkin, tapi tidak bisa mencapai tingkat yang sama dengan Satya.
Kemudian jam istirahat pun tiba, Sabina memutuskan untuk tetap dikelas saja. Ia memilih duduk dibangkunya dan membaca buku yang ia bawa dari rumah.
Sementara itu Satya memutuskan untuk keluar, ia berjalan ke arah lapangan sekolah dan duduk dibangku yang ada disana.
Ava, teman Sabina datang menghampiri Sabina dikelas " hey, Sabina! Kenapa kamu tidak keluar kelas?" Tanya Ava lalu duduk disebelah Sabina.
Sabina memandang Ava " aku hanya ingin membaca buku aja" jawab Sabina dengan suara yang lembut.
Kemudian disisi lain Satya duduk dibangku dekat lapangan sekolah, menikmati udara segar dan pemandangan sekitar.
Tiba-tiba, Sakha datang menghampiri Satya " hey, Satya! Kamu sendirian aja" Kata Sakha.
Satya memandang Sakha" iya, aku ingin menikmati udara segar diluar kelas " jawab Satya.
Sakha mengangguk paham lalu duduk disebelah menikmati Udara segar bersama.
Kemudian disisi lain Ava masih bersama Sabina dikelas.
Ava duduk disebelah Sabina, menonton Sabina yang sedang membaca buku " Sabina, kamu benar-benar suka membaca, ya?" Tanya Ava.
Sabina memandang Ava, menutup bukunya" iya, aku suka membaca " jawab Sabina, lalu membuka bukunya melanjutkan membaca.
Lalu setelah itu Ava bertanya " Sa, Kamu sama Satya pernah berantem tidak sih, secara kan kalian twins, twins biasanya berantem" kata Ava.
Sabina tersenyum lalu menutup bukunya lagi, memandang Ava " iya, aku sama kak Satya pernah berantem, tapi tidak terlalu sering " jawab Sabina
Ava mengangguk " apa yang membuat kalian berantem?" Tanya Ava .
Sabina memikirkan sejenak sebelum menjawab "biasanya karna perbedaan pendapat" jawab Sabina.
" Oh ya, kamu pernah dengar Satya punya seseorang yang disukai gak?" Tanya Ava.
" Tidak, aku tidak pernah dengar karna kak Satya pernah bilang kalo diantara kita punya seseorang yang disukai l, Kita harus saling memberitahu, gitu " kata Sabina.
Ava tersenyum dengan misterius" tapi aku pernah melihat Satya memandang seseorang dengan tatapan yang berbeda " kata Ava dengan suara yang pelan.
Sabina memandang Ava dengan mata yang penasaran " siapa orang itu, Ava?" Kata Sabina dengan suara yang ceria.
Ava tersenyum dan memandang Sabina dengan mata yang berkilau " aku tidak bisa bilang Sabina, itu rahasia" kata Ava dengan suara yang misterius.
" Mungkin kak Satya masih belum yakin dengan perasaannya sendiri " kata Sabina.
Ava mengangguk setuju " iya, Satya orang yang teliti dan perfeksionis, mungkin dia ingin memastikan perasaannya sendiri dulu sebelum mengungkapkan nya "
Kemudian setelah itu jam pulang pun tiba
Sabina dan Ava langsung mengemas barang - barang mereka dan bersiap siap untuk pulang, mereka berdua berjalan keluar dari kelas dan bergabung dengan Satya yang sudah menunggu di luar.
" Siap pulang?" Tanya Satya dengan senyum.
Sabina dan Ava mengangguk bersamaan " siap!" Jawab mereka berdua.
Mereka bertiga kemudian berjalan bersama menuju keluar gerbang sekolah.
Kemudian setelah beberapa menit, Satya dan Sabina sampai dirumah, mereka langsung menuju ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian.
Lalu setelah itu mereka berdua keluar dari kamar untuk makan malam
dimeja makan Sabina memperhatikan percakapan Satya dengan ibunya, suaranya lembut dan hangat dengan senyum manis, namun ketika dengan dirinya suaranya terdengar lebih dingin tanpa senyum diwajahnya.
Sabina merasa sedikit tersinggung dengan sikap ibunya, tapi dia tidak ingin menunjukkan perasaannya. dia hanya memandang ke bawah dan mengangguk pelan ketika ibunya berbicara dengan nya.
Lalu setelah itu Sabina memutuskan untuk pergi ke kamar tanpa menghabiskan makanannya, Sabina menutup pintunya lalu duduk ditepi ranjang, kemudian Satya membuka pintu, ia melihat Sabina yang duduk di tepi ranjang sambil menundukkan kepalanya lalu ia duduk disebelah Sabina
" dek, kenapa makanannya tidak dihabiskan tadi?" Tanya Satya dengan suara yang lembut
" Aku sudah kenyang kak" jawab Sabina
Satya memandang Sabina dengan sedikit khawatir " apa kamu tidak enak badan, dek?" Tanya Satya dengan suara yang lembut.
Sabina menggelengkan kepalanya "tidak, aku baik baik saja kok, tadi Sabina memang sudah kenyang" jawabnya dengan nada pelan
Tiba-tiba ayahnya datang lalu memanggil Satya dan Sabina " Satya! Sabina! " Panggil Arkan dari ruang tamu.
Satya dan Sabina langsung keluar dari kamar menuju ke ruang tamu.
" Bagaimana hasil ulangan kalian?" Tanya Arkan dengan suara yang sedikit keras.
Satya menjawab dengan percaya diri " aku dapat nilai 92 Ayah"
Arkan mengangguk puas " Bagus, Kamu memang tidak pernah mengecewakan ku"
Lalu, memandang Sabina dengan mata yang tajam " dan kamu Sabina, kamu dapat nilai berapa?"
Sabina menarik nafas dalam-dalam lalu menjawab dengan pelan " aku dapat 88, Ayah"
Arkan wajahnya langsung berubah menjadi merah dan marah " 88! apa kamu tidak belajar dengan baik!" Teriaknya dengan suara yang keras.
Sabina merasa takut dan sedih, dia tidak berani menatap wajah Ayahnya. dia hanya memandang kebawah dan berusaha untuk tidak menangis.
Satya melihat itu merasa khawatir dan sedih, dia ingin membantu Sabina tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.
" Udah Ayah, Sabina juga udah berusaha" kata Satya berusaha menenangkannya Ayahnya.
Arkan marah dan tidak mau mendengar kata-kata Satya " Berusaha! Kamu pikir nilai 88 itu sudah cukup? Pokoknya Ayah ingin Sabina mendapat nilai yang setara denganmu" katanya kepada Satya dengan suara yang keras.
Sabina semakin sedih dan takut, dia merasa seperti tidak tahu lagi bagaimana membuat ayahnya bangga dan puas, Satya mencoba untuk membela adiknya tapi Ayahnya terlalu keras.
Kemudian Arkan menarik lengan Sabina ke kamar mandi lalu mendorongnya sampai Sabina terduduk dilantai kamar mandi, setelah itu Ayahnya langsung menyiramnya dengan air dingin menggunakan gayung.
Arkan terus menyiramnya dengan air yang sangat dingin, Sabina merasa terkejut, ia tidak bisa menahan tangisnya lagi, ia menangis dan berteriak dengan keras.
" Ampun, ayah.... Maafin Sabina.... Sabina janji.... Sabina akan berusaha lagi" kata Sabina dengan suara yang terputus - putus.
Satya yang melihat itu dari luar kamar mandi merasa sedih dan khawatir, dia ingin membantu adiknya, tapi dia tidak ingin membuat ayahnya semakin marah.
Asfi, ibu mereka berdiri dibelakang Satya, melihat kejadian itu dengan wajah yang datar dan tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Sabina, yang masih menangis, melihat ibunya, ia berharap ibunya akan menolongnya tapi ibunya tidak melakukan apapun, dia hanya berdiri disana, melihat kejadian itu dengan tatapan yang kosong.
Kemudian Satya berusaha menghentikan Ayahnya, tapi ayahnya tidak mau mendengar, dia malah meminta Satya untuk menjauh dan tidak mencampuri urusannya.
" Ayah tolong berhenti! Sabina Udah kedinginan" kata Satya dengan suara yang keras.
Arkan tidak peduli, dia terus menyiram Sabina, membuat Sabina menangis dan menggigil kedinginan.
Satya merasa sedih dan marah melihat ayahnya melakukan, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghentikan kekerasan ayahnya terhadap adik kembarnya itu, dia hanya bisa berdiri disana, melihat kejadian itu dengan perasaan yang sedih.
Kemudian Asfi mendekat ke Satya " udah Satya, biarin, kamu tidak usah ikut campur" kata Asfi
" Tapi Bu, Ayah sedang menyiksa Sabina! Kita harus menolong Sabina! " Kata Satya dengan suara yang keras.
Asfi memandang Satya dengan wajah yang datar dan Santai " Sabina harus belajar dari kesalahannya Satya, Ayah hanya ingin mengajarinya agar Sabina lebih baik kedepannya ".
Satya merasa sedih dan kecewa mendengar kata - kata ibunya, dia merasa bahwa seharusnya ibunya menolongnya bukan membiarkannya.
Lalu setelah itu Asfi berpaling pergi dan masuk ke kamar.
Kemudian setelah selesai menyiram Sabina menggunakan air dingin, Arkan keluar lalu mengunci pintunya membiarkan Sabina didalam kamar mandi.
Sabina ditinggalkan sendirian dikamar mandi, menangis dan merasa sakit. dia berusaha untuk menghentikan tangisnya, tapi tidak bisa. dia merasa sedih dan terluka karena tindakan Ayahnya.
Sementara itu, Satya berdiri diluar kamar mandi, mendengar suara tangisan adiknya. dia merasa sangat marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, dia hanya berdiri disana, merasa tidak berdaya untuk membantu adiknya.
Kemudian Ayahnya berpaling ke Satya " jangan coba-coba untuk membuka pintunya" katanya penuh peringatan.
" Tapi Yah, Sabina kedinginan disana, kalo dia sakit gimana " Kata Satya, berharap Ayahnya mengeluarkan Sabina dari kamar mandi.
Arkan memandang Satya dengan mata tajam, seperti mengancam " tidak! Sabina harus belajar dari kesalahannya" katanya dengan suara keras lalu berpaling pergi meninggalkan Satya yang terdiam didepan kamar mandi.
Satya terdiam, merasa sedih dan tidak berdaya mendengar kata-kata Ayahnya. dia sangat ingin membuka pintu dan mengeluarkan Sabina dari dalam sana.
Satya khawatir tentang keadaan Sabina, Sabina pasti kedinginan dan menderita didalam sana.
Lalu setelah itu tiba - tiba Ayahnya ada urusan diluar dan itu menjadi kesempatan Satya untuk membuka pintunya, ia langsung mencari kunci lalu membuka pintu kamar mandi, setelah berhasil membukanya ia melihat Sabina yang terduduk dilantai, menggigil sambil menangis. Satya langsung berlari ke arah Sabina dan memeluk Sabina erat.
Sabina membalas pelukan Satya dan menangis dipelukan Satya, lalu Satya membantunya berdiri dan membawanya ke kamar, lalu dia menyuruh asisten rumah tangga untuk mengganti pakaian Sabina yang basah.
Kemudian setelah berganti pakaian Sabina tertidur, Satya memperhatikan Sabina yang memejamkan matanya, dia tahu bahwa adiknya sudah lelah dan membutuhkan istirahat, Satya memeluk Sabina erat dan berbicara lembut.
" Tidurlah Sabina, jangan khawatir tentang apapun." Bisiknya ditelinga Sabina.
Sabina memejamkan matanya dan mulai bernafas dengan tenang dan teratur, memperhatikan adiknya yang tertidur dengan hati yang penuh kasih sayang dan dia berjanji akan selalu melindungi Sabina dari segala bahaya.
Lalu ditengah malam Sabina melenguh, Satya langsung terbangun memperhatikan Sabina yang melenguh, dia merasa khawatir dan langsung memeriksa suhu tubuh Sabina, dia merasa bahwa Sabina demam.
"Sabina, apa kamu baik - baik saja?" Tanya Satya dengan suara yang lembut.
Sabina membuka matanya dan memandang Satya dengan mata kabur " kak....aku merasa pusing " kata Sabina dengan suara yang lemah.
Satya langsung mengambil termometer dan memeriksa suhu tubuh Sabina. Dia melihat bahwa suhu tubuh Sabina memang tinggi. Satya langsung memberikan obat demam dan memastikan adiknya nyaman.
Setelah itu Satya memutuskan untuk mencari bantuan, dia tidak bisa membiarkan Sabina demam, dia keluar dari kamar mencari ibunya, tapi tidak menemukannya.
Satya kemudian memutuskan untuk mencari bantuan tetangga, dia berlari ke rumah tetangga dan meminta bantuan untuk membawa Sabina ke rumah sakit.
Tetangga mereka, pak Tono langsung setuju untuk membantu Satya. Pak Tono langsung mengeluarkan mobil dan membantu Satya membawa Sabina ke rumah sakit.
Mereka tiba dirumah sakit dan langsung membawa Sabina ke ruang gawat darurat. dokter dan perawat langsung memeriksa Sabina dan memberikan perawatan yang diperlukan.
Satya khawatir dan cemas, tapi dia merasa lega karena Sabina sudah mendapatkan perawatan yang tepat. dia berdoa agar Sabina cepat sembuh.
Setelah beberapa jam, dokter keluar dari ruang gawat darurat di berbicara dengan Satya " kondisi pasien sudah stabil, dia hanya demam biasa, tapi dia harus dirawat inap agar kami bisa memantau kondisinya" kata dokter.
Satya merasa lega dan berterima kasih kepada dokter dan perawat yang telah merawat Sabina.
Satya memutuskan untuk menjaga Sabina dirumah sakit, dia tidak ingin meninggalkan adiknya sendirian di rumah sakit. Satya duduk disamping tempat tidur Sabina, memegang tangan adiknya, dia berharap agar Sabina segera sadar.
Saat menjaga Sabina dirumah sakit, Satya tidak bisa berhenti memikirkan Ayahnya yang telah membuat Sabina jatuh sakit, dia merasa marah dan sedih, tapi dia tidak ingin membiarkan perasaan itu mengganggu keadaan Sabina.
Satya berusaha untuk tetap tenang dan fokus pada kesembuhan Sabina. dia berharap agar Sabina cepat sembuh dan kembali ke rumah dan Ayahnya menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada Sabina.
Setelah beberapa jam Sabina mulai sadar, Satya langsung memeluknya erat " Sabina, aku sangat senang kamu sudah bangun!" Kata Satya dengan suara yang lembut.
Satya dan Sabina berpelukan selama beberapa saat, Satya merasa lega dan bahagia karna Sabina sudah sadar dan berharap dokter memperbolehkan Sabina untuk pulang.
Tiba-tiba, dokter masuk keruangan dan tersenyum " Sabina, kondisi Kamu sudah mulai membaik, kamu sudah boleh pulang hari ini" kata dokter.
" Makasih, dokter " kata Sabina tersenyum lemah .
Dokter tersenyum " sama - sama Sabina, jangan lupa istirahat yang cukup dan makan makanan yang sehat, ya " kata dokter lalu keluar dari ruang rawat Sabina.
Lalu Satya membantu Sabina untuk bersiap pulang ke rumah.
Setelah sampai dirumah, Satya membantu Sabina masuk ke dalam rumah dan beristirahat dikamar. Setelah itu Satya menuju ke dapur untuk membuatkan makanan untuk Sabina.
Kemudian tiba tiba Ayahnya tiba dirumah, tidak ada ekspresi hangat diwajahnya " Satya, kamu kok tidak berangkat sekolah?" Tanya Arkan
Satya menaruh mangkuk yang berisi bubur ke meja " Sabina sakit, Ayah, jadi aku tidak berangkat " jawab Satya.
Arkan tidak menanggapi jawaban Satya, dia melihat sekeliling rumah dengan mata yang tajam " dimana Sabina sekarang?" Katanya dengan suara yang keras.
Satya merasa khawatir dan dia tidak ingin Ayahnya memarahi Sabina " Sabina sedang beristirahat dikamar, Ayah. dia masih lemah " jawab Satya dengan nada hati - hati.
" Jadi dia! yang membuatmu tidak berangkat sekolah" katanya dengan suara keras lalu berjalan menuju ke kamar Sabina
Lalu Satya berlari mencoba menghentikan Ayahnya " Ayah, tolong jangan marahi Sabina, dia masih sakit dan lemah" kata Satya.
Tapi Arkan tidak mau mendengar, dia melanjutkan berjalan ke kamar Sabina dengan mata yang tajam, dia mendekat ke tempat tidur Sabina" lagi - lagi kamu merepotkan, kamu sekarang tidak berangkat sekolah bagaimana kalo nilaimu tambah turun, sakit bukan alasan untuk tidak berangkat " katanya dengan suara yang keras.
Sabina memandang Ayahnya dengan mata yang sedih dan terluka, dia tidak mengerti bagaimana Ayahnya begitu membenci dirinya.
Satya memandang Ayahnya dengan mata yang marah dan kecewa, dia tidak bisa memahami kenapa Ayahnya bisa begitu keras dan tidak peduli dengan Adiknya.
Kemudian setelah itu Arkan keluar dari kamar Sabina dan Satya langsung memeluk erat adiknya, Sabina merasa terharu saat Satya memeluknya, dia merasa bahwa Satya adalah satu - satunya orang yang masih peduli dengannya.
Kemudian disisi lain Arkan duduk di teras lalu Asfi datang membawakan secangkir kopi untuknya, lalu duduk disebelahnya .
" Aku mau bilang, apa kau tidak terlalu keras pada Sabina, bagaimana pun dia anak kita sama seperti Satya" kata Asfi dengan suara yang lembut.
Arkan memandang Asfi dengan mata yang tajam " apa maksudmu? Sabina harus belajar untuk menjadi kuat dan menjadi lebih baik kedepannya, jika aku bersikap lembut padanya, dia akan menjadi lemah dan tidak bertanggung jawab " .
Asfi menggelengkan kepalanya " tapi Sabina perempuan mas, dia membutuhkan kasih sayang dari kita sebagai orang tua ".
Arkan tetap tidak peduli, dia tetap kekeh pada pendiriannya, dia tidak akan mengubah cara perlakuan nya pada Sabina. Asfi hanya bisa menghela nafas dan berharap suatu hari nanti Arkan akan akan menyadari kesalahannya.
" apa kau sudah mulai kasian padanya?" Tanya Arkan dengan nada curiga.
Asfi memandang Arkan dengan mata yang sedikit terbuka " bukan begitu, aku cuma tidak ingin kau menyesal nantinya " .
Arkan menggelengkan kepalanya " aku tetap tidak ingin bersikap lembut padanya, dia harus belajar untuk menjadi kuat dan bertanggung jawab ".
Kemudian setelah itu Asfi berdiri lalu berjalan masuk ke dalam rumah, tetapi Asfi tetap mempertahankan sikap dinginnya terhadap Sabina, meskipun dia telah memahami bahwa Arkan telah berlalu tidak adil terhadap Sabina, dia masih merasa bahwa Sabina selalu membuat rumah menjadi ribut.
Namun, didalam hatinya Asfi masih memiliki perasaan kasih sayang terhadap Sabina sebagai ibu, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya mengekspresikan perasaan itu.
Lalu disisi lain Sabina sudah tertidur setelah meminum obat, berharap besok bisa berangkat sekolah.
Lalu Satya masuk ke dalam kamarnya, duduk disebelah adiknya yang tertidur, dia berharap adiknya kembali sehat agar bisa mulai berangkat sekolah lagi besok.
Kemudian Satya membenarkan selimutnya dan memberikan kecupan di keningnya " semoga besok kamu merasa lebih baik, adik " bisiknya ditelinga Sabina.
Sabina sudah tertidur, ia tidak menyadari kecupan dan kata kata Satya.
Satya kemudian berdiri lalu keluar dari kamar Sabina menuju ke kamarnya sendiri lalu membaringkan tubuhnya dan mulai menutup matanya.
Keesokan harinya, Sabina bangun pagi, ia merasa lebih baik setelah beristirahat semalam, ia lalu bersiap untuk berangkat sekolah tidak lupa sarapan terlebih dahulu, lalu berangkat menuju ke sekolah menggunakan angkutan.
Setelah sampai disekolah, Sabina langsung masuk melewati gerbang sekolah lalu berjalan menuju ke kelas dan duduk dibangkunya, dia memandang sekeliling kelas dan melihat teman - temannya, ada yang mengobrol, membaca dan lain-lain.
Kemudian bell sekolah berbunyi, mereka langsung duduk di bangkunya masing-masing.
Lalu guru memasuki kelas dan memulai pelajaran, Sabina memperhatikan penjelasan guru dan mencatat hal-hal yang penting.
Saat pelajaran berlangsung, Sabina merasa lebih santai dan nyaman, dia berharap hari ini akan menjadi hari yang baik.
Kemudian setelah itu guru mengumumkan bahwa ujian try out akan dilaksanakan Minggu depan " anak - anak, saya ingin mengumumkan bahwa ujian try out akan dilaksanakan Minggu depan, saya berharap kalian semua bisa mempersiapkan diri sebelum harinya tiba, terimakasih ".
" aku harap aku bisa dapat nilai yang lebih tinggi biar bisa membuat Ayah bangga dan tidak menghukum ku " batin Sabina.
Sabina menarik nafas dalam-dalam dan memandang ke depan dengan tekad yang kuat, ia ingin membuktikan kepada Ayahnya bahwa ia bisa mendapatkan nilai yang tinggi, Sabina tidak ingin merasakan hukuman dari Ayahnya lagi.
Kemudian dijam istirahat, Sabina langsung memakan bekalnya yang ia bawa dari rumah, ia memutuskan untuk tetap dikelas sambil membuka bukunya lalu membacanya dan mempelajari materi yang akan diujikan di try out nanti.
Kemudian setelah itu bell masuk berbunyi, Sabina langsung membereskan tepak makan nya dan menaruhnya ke dalam tas, lalu mengeluarkan bukunya, bersiap untuk mengikuti pelajaran berikutnya.
Kemudian setelah sudah waktunya pulang, Sabina langsung mengemasi bukunya, menaruhnya ke dalam tas lalu pulang menuju ke rumah menggunakan taksi.
Sesampainya dirumah, Sabina dikejutkan dengan Ayahnya yang duduk diruang tamu dan menatapnya tajam " Ayah dengar Minggu depan sudah mulai try out, Ayah harap kamu bisa mendapatkan nilai tinggi, minimal harus 90 ke atas jika tidak, Ayah akan menghukummu seperti biasa atau bisa lebih berat lagi, mengerti " ancam Arkan.
Sabina merasa terkejut dan takut ketika Ayahnya mengancam akan menghukumnya.
Lalu ia hanya mengangguk dan berjalan menuju ke kamar, menutup pintunya dan duduk diatas tempat tidur merasa lelah dan tertekan.
Sabina memandang ke arah lantai, memikirkan tentang ancaman Ayahnya, dia merasa berada di bawah tekanan yang berat.
Kemudian disisi lain Satya berdiri didekat pintu kamarnya, mendengar Ayahnya mengancam Sabina, dia merasa sedih dan khawatir melihat Adiknya yang selalu menjadi sasaran kemarahan Ayahnya.
Lalu Satya memutuskan untuk pergi ke kamar Sabina dan mencoba untuk menenangkan Adiknya itu, dia berjalan menuju ke kamar Sabina dan mengetuk pintunya " Sabina, ini kakak"
Sabina segera menghapus air matanya " masuk, kak".
Satya membuka pintunya dan melihat Adiknya duduk diatas tempat tidur dengan wajah yang sedih, Satya segera mendekati Sabina dan duduk disebelahnya, memeluknya dengan lembut.
" apa yang terjadi? dimarahi Ayah lagi, ya" tanya Satya dengan suara yang lembut dan penuh perhatian.
" Tidak kok, lagian sudah biasa kan?" Kata Sabina dengan suara yang lembut.
Satya memeluk Sabina lebih erat, merasa sedih melihat Adiknya yang selalu dimarahi oleh Ayahnya " tidak Sabina, kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu " katanya dengan suara yang lembut.
Kemudian setelah itu perlahan Sabina memejamkan matanya dan tertidur dipelukan Satya, Satya memperhatikan Sabina yang memejamkan matanya, dia tahu bahwa adiknya sudah lelah dan mengantuk, Satya dengan lembut membaringkan Sabina dan memberinya selimut lalu duduk disebelahnya memperhatikan wajah adiknya yang tenang dan damai dalam tidurnya.
Kemudian keesokan harinya Satya dan Sabina bersiap untuk berangkat ke sekolah, mereka siap untuk menghadapi hari - harinya disekolah, mereka belajar dan bermain dengan teman - teman, dan tidak lupa belajar untuk mempersiapkan ujian try out.
Hari demi hari berlalu, kemudian hari ujian try out pun tiba.
Sabina bangun pagi, merasa sedikit gugup karena hari ini adalah hari dimana ujian try out dimulai, dia telah belajar dan mempersiapkan semuanya berharap mendapat hasil yang bagus.
Satya juga sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi try out, dia mendekati Sabina dan memberikan semangat kepada adiknya itu " kamu pasti bisa Sabina! Kamu sudah belajar, kakak yakin kamu pasti akan mendapatkan nilai yang bagus."
Sabina tersenyum lemah dan mengangguk, dia mengambil nafas dalam-dalam dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian try out .
Kemudian Satya dan Sabina berangkat menuju sekolah, bergabung dengan teman - teman mereka yang akan menghadapi ujian try out. Suasana disekolah menjadi tegang dan khawatir, karena semua siswa ingin mendapatkan hasil yang terbaik.
Kemudian ujian try out dimulai.
Sabina membuka soal dan membaca pertanyaan - pertanyaan yang tertera didalamnya dengan teliti lalu mulai menjawab, ia menjawab yang soal yang lebih mudah dahulu.
Satya juga melakukan hal yang sama, menjawab soal yang lebih mudah dahulu.
Mereka mengerjakan soal-soal dengan fokus dan serius karena mendapat nilai tinggi itu sangat penting bagi mereka.
Suasana di ruang ujian terasa tenang dan tegang, karena mereka semua ingin mendapatkan hasil yang terbaik. Tidak ada suara yang terdengar, kecuali suara pulpen yang menggores kertas.
Setelah beberapa jam menjawab soal - soal, waktu ujian akhirnya habis, Sabina menutup soalnya dan menghembuskan nafas lega .
Kemudian guru pengawas mengumpulkan soal - soal yang telah dijawab oleh siswa-siswi dan meminta mereka untuk meninggalkan ruang ujian, Sabina dan Satya berdiri lalu berjalan keluar dari ruang ujian.
" dan sekarang kita tinggal menunggu hasilnya" kata Satya dengan suara yang sedikit khawatir, Sabina mengangguk, ia juga merasa sedikit khawatir tentang hasil tryout nya nanti.
Kemudian keesokan harinya, pengumuman hasil tryout sudah ditempel di papan pengumuman.
Semua murid termasuk Sabina berjalan ke papan pengumuman, Sabina merasa sedikit khawatir dengan hasil tryout nya.
Saat tiba dipapan pengumuman, Sabina sedikit kecewa karena melihat bahwa nilai rata-rata nya belum mencapai 90 meskipun termasuk nilai tertinggi, Sabina merasa khawatir dengan reaksi Ayahnya, ia takut Ayahnya bakal marah ketika mengetahui nilainya itu.
Satya, berdiri di sebelah Sabina " jangan khawatir Sabina, yang penting kamu sudah berusaha " kata Satya dengan suara yang lembut.
Sabina menggelengkan kepalanya " gak! Ayah pasti tidak akan menerima ini" kata Sabina dengan suara yang sedih dan putus asa.
Lalu Satya memberikan dukungan kepada Adiknya " jangan sedih, Sabina " kata Satya dengan suara yang lembut dan penuh perhatian " yang penting kamu sudah berusaha, kakak bangga sama Sabina, masih ada kakak yang sayang dan mendukung Sabina, kita hadapi sama - sama ya ".
Satya membuka pelukan dan memeluk Sabina, memberikan dukungan emosional dan membuat Sabina merasa lebih baik.
Setelah beberapa menit, Satya melepaskan pelukannya " ayo kita pulang" ajak Satya.
Sabina mengangguk dan berjalan bersama Satya menuju ke rumah, mereka berjalan dengan tenang dan siap menghadapi apapun yang akan terjadi dirumah.
Sesampainya dirumah, Ayah mereka menanyakan hasil ujian tryout.
Sabina merasa gugup saat Ayahnya menanyakan hasil tryout, karena Ayahnya akan marah karena nilainya belum mencapai apa yang di inginkan.
" Ayah, aku....aku dapat nilai 89" kata Sabina dengan suara yang sedikit gemetar.
Ayahnya memandang Sabina dengan ekspresi yang tidak puas " 89?! Itu belum cukup Sabina, kamu harus mendapatkan nilai yang lebih tinggi lagi."
Sabina merasa sedih dan kecewa karena Ayahnya tidak puas dengan hasilnya.
Kemudian setelah itu Ayahnya menarik Sabina ke gudang lalu menguncinya.
Sabina merasa sangat takut dan panik " Ayah! buka pintunya,Yah!" Teriak Sabina menggedor gedor pintunya.
Ayahnya tidak menjawab, ia langsung berpaling pergi meninggalkan area gudang.
Sabina merasa sedih dan takut, karena tidak ada pencahayaan didalam gudang itu.
Satya, mendengar suara Sabina dari arah gudang berjalan ke arah gudang tapi berpapasan dengan Ayahnya, Satya ingin berbicara tapi Ayahnya langsung menyelah " jangan mencoba untuk menolongnya".
" Tapi Ayah, disana gelap, pasti Sabina ketakutan didalam sana" ujar Satya.
Arkan tidak menjawab, ia hanya melanjutkan berjalan meninggalkan Satya, Satya merasa kecewa dan dia ingin membantu Sabina keluar dari gudang.
disisi lain Sabina duduk di dalam gudang beralaskan kardus, merasa sedih dan kesepian, ia merasa Ayahnya tidak adil.
" Ayah tidak pernah ngertiin aku " katanya kepada dirinya sendiri, sambil menangis " aku sudah berusaha keras, tapi kenapa Ayah tidak pernah puas".
Tiba-tiba Sabina mendengar suara dari luar gudang " Sabina, ini kakak " ujar Satya sambil mengetuk pintunya.
Sabina langsung berjalan ke arah pintu " kakak kenapa kesini, nanti Ayah tambah marah lho, kakak kembali ke dalam aja, Sabina tidak apa - apa kok " kata Sabina dari dalam gudang.
Satya merasa sedih mendengar kata - kata Sabina, dia tidak ingin meninggalkan Adiknya.
" Tapi Sabina, kakak tidak bisa meninggalkanmu, kamu pasti ketakutan didalam situ" kata Satya dari luar gudang.
" aku tidak apa-apa kak, kakak masuk ke rumah aja, aku gak mau Ayah tambah marah nantinya" kata Sabina masih didalam gudang.
Satya merasa ragu, tapi akhirnya memutuskan untuk menuruti perkataan Sabina, ia berjalan menuju ke dalam rumah.
Kemudian Sabina merasa ada sesuatu yang keluar dari hidungnya, Sabina merasa khawatir dan bingung " ada apa denganku, tidak biasanya" batin Sabina sambil menyeka darahnya dengan lengan bajunya.
Sabina mencoba tenang dan berfikir positif, mungkin itu karena dirinya stres dan kelelahan.
" Mungkin ini karena aku terlalu stres dan kelelahan" batin Sabina.
Tapi darahnya terus keluar dari hidungnya dan Sabina mulai merasa khawatir, takut terjadi sesuatu yang serius pada dirinya.
Keesokan harinya Satya mencoba menyelinap ke kamar Ayahnya untuk mencari kunci gudang, dia mencoba membuka laci dan melihat beberapa beberapa kunci lalu dia mencari yang bertuliskan ' gudang ' dan setelah beberapa menit, ia menemukan nya lalu ia langsung menuju ke gudang untuk mengeluarkan Sabina.
Satya berhasil membuka gudangnya dan ia langsung berlari menuju Sabina yang masih berada didalam gudang, dia melihat Sabina yang duduk di sudut gudang dengan wajah yang pucat dan lemah.
" Sabina! apa kamu baik - saja?" Tanya Satya dengan nada khawatir.
Sabina mengangkat kepalanya dan memandang Satya dengan mata yang lemah " kak Satya....aku merasa tidak enak badan, aku merasa pusing " kata Sabina dengan suara yang lembut.
Satya langsung memeluk Sabina dan membantunya berdiri " aku akan membawamu ke dokter, kamu harus diperiksa " kata Satya dengan suara yang tegas.
Sabina mengangguk lemah dan membiarkan Satya membawanya keluar gudang dan menuju ke rumah sakit.
Sesampainya dirumah Sakit, mereka langsung menuju ke bagian pendaftaran, lalu setelah itu menunggu giliran untuk dipanggil.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya giliran Sabina untuk diperiksa, Satya menunggunya diruang tunggu.
Kemudian dokter keluarga dari ruang Sabina, lalu Satya berdiri dan menghampirinya " bagaimana keadaan Adik saya, dok?" Tanya Satya.
" dengan berat hati saya mengatakan bahwa Sabina mengidap penyakit leukemia " kata dokter .
Satya merasa terkejut mendengar itu, dia tidak percaya bahwa Adiknya yang selalu ceria dan sehat, sekarang mengidap penyakit yang sangat serius.
" lalu, apa yang harus saya lakukan dok, saya tidak mau kehilangan Sabina" tanya Satya dengan suara yang gemetar.
Dokter menghela nafas dan memandang Satya dengan mata simpatik " Sabina harus menjalani pengobatan dan kemoterapi secara rutin, tapi itu tidak menjamin Sabina bisa hidup lebih lama, itu lebih ke memperlambat saja, usia Sabina tetap tidak akan lama lagi".
Satya merasa terpukul dengan perkataan dokter, dia tidak bisa membayangkan bahwa Adik kembarnya yang masih muda harus menghadapi kenyataan bahwa hidupnya tidak akan lama.
Kemudian Satya masuk ke ruang rawat Sabina, dia melihat Sabina yang duduk ditepi tempat tidur dengan wajah yang pucat.
Sabina melihat Satya dan tersenyum lemah " kakak, apa yang terjadi? Kakak habis nangis?" Tanya Sabina
Satya berusaha untuk tidak menangis " Sabina, aku....aku tidak mau kehilanganmu " ujar Satya dengan nada gemetar.
Sabina mengangkat tangan dan memeluk Satya " kakak, aku tidak pergi, aku akan selalu bersama kakak " kata Sabina kemudian melanjutkan " dan jangan kasih tau Ayah ibu tentang penyakit Sabina ya, Sabina gak mau menambah beban mereka".
Satya merasa hatinya tercabik - cabik mendengar perkataan Sabina dan dengan ragu mengiyakannya " baiklah Sabina, kakak tidak akan mengatakannya kepada Ayah, Ibu" kata Satya dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang.
Sabina tersenyum dan memeluk Satya lebih erat " makasih, kak"
Satya membalas pelukan Sabina dan berusaha untuk tetap kuat dan bersiap untuk membantu Sabina melalui masa - masa sulitnya nanti.
Kemudian mereka berdua keluar dari rumah sakit, menuju ke mobil dan memulai perjalanan menuju ke rumah.
Setibanya dirumah, Sabina langsung meminta Satya untuk membawanya ke kamar, Satya membantu Sabina berbaring ditempat tidur lalu duduk di sampingnya, menggenggam tangan Sabina.
Sabina memandang Satya dengan mata yang lemah dan tersenyum " kak, Sabina ingin meminta maaf jika selama hidup Sabina pernah membuat kesalahan sama kakak".
Satya merasa sedih mendengar perkataan Sabina " kamu tidak perlu meminta maaf dek, kamu tidak punya salah apa - apa sama kakak, seharusnya kakak yang minta maaf karena kakak gak bisa jagain kamu dengan baik sampai Kamu mengidap penyakit seperti ini " kata Satya dengan suara yang lembut.
Sabina menggelengkan kepalanya " tidak kak, kakak udah jadi kakak yang baik buat Sabina" kata Sabina kemudian melanjutkan " apapun yang akan terjadi kedepannya kakak harus tetap tersenyum ya, dan jagain Ayah, Ibu juga, Sabina gak mau kakak sedih" kata Sabina sambil menahan tangisnya.
Satya merasa sedih mendengar itu, ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Sabina nanti.
" Sabina, jangan bilang seperti itu, kamu tidak akan pergi kemana - mana, kamu akan sembuh " kata Satya dengan suara yang gemetar, dan mata yang berair.
Sabina tersenyum lelah lalu memeluk Satya " kakak, umur gak ada yang tau, dan Sabina gak mungkin minum obat terus" kata Sabina dengan suara yang sedih.
Satya merasa seperti dunianya runtuh mendengar kata - kata Sabina, dia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya jika Sabina tidak berada disisinya lagi.
Kemudian setelah Sabina memejamkan matanya dan mulai tidur, lalu Satya memutuskan untuk keluar dari kamar Sabina, membiarkan Adiknya beristirahat.
Setelah beberapa jam Sabina membuka matanya lalu ia berdiri dan berjalan menuju ke dapur untuk mencari cemilan, ketika sampai didapur ia melihat Ayahnya yang duduk disana lalu Sabina memutuskan untuk menunduk dan melanjutkan berjalan ke dapur berharap Ayahnya tidak menegurnya, ia membuka kulkas lalu tiba - tiba Ayahnya berkata " kamu kenapa sih tidak pernah membuat saya bangga, kamu tidak bisa apa mendapat nilai yang sempurna seperti kakak kamu, kamu lahir bersama, di rahim yang sama, tetapi kenapa kamu tidak bisa seperti dia" kata Arkan dengan nada dingin kemudian berpaling pergi meninggalkan Sabina didapur.
Sabina hanya bisa menunduk, merasa sedih dan terluka saat mendengar kata - kata Ayahnya, dia merasa bahwa Ayahnya tidak pernah menghargai usahannya dan selalu membandingkan dirinya dengan Satya.
Satya yang mendengar percakapan itu merasa sedih " andai Ayah tahu kalo mengidap penyakit leukemia dan umurnya tidak akan lama lagi, apa Ayah masih tega memperlakukan Sabina seperti itu" batin Satya, Satya ingin sekali mengatakan kepada orang tuanya tentang penyakit yang Sabina derita, tapi ia tidak ingin mengecewakan Sabina, karena Sabina tidak mengijinkan dirinya untuk mengatakannya kepada kedua orang tuanya dan Satya juga ingin membuat orang tuanya menyesal nanti terutama Ayahnya.
Kemudian Satya melangkah, menghampiri Sabina lalu membawa Sabina ke pelukannya, membiarkan Sabina menangis dibahunya.
Keesokan harinya Satya dan Sabina bersiap untuk berangkat ke sekolah seperti biasa, mereka siap menghadapi hari - harinya disekolah, belajar dan bermain bersama teman-teman dan tidak lupa pula belajar untuk persiapan ujian Akhir.
Sabina juga tidak lupa untuk fokus pada kesehatannya, dia rutin periksa, kemoterapi dan meminum obat yang diresepkan dokter dan Satya juga setia menemani adiknya untuk berobat dan kemoterapi, ia mengisahkan uang jajannya untuk biaya berobat dan kemoterapi Sabina, meskipun Sabina tidak mengijinkan tapi Satya tetap melakukannya dan ia juga meminjam kepada temannya jika tidak cukup.
Hari demi hari berlalu dan hari dimana mereka melaksanakan ujian akhir pun tiba.
dan Sabina merasa tubuhnya tidak baik - baik saja, dia merasa tubuhnya tidak kuat lagi untuk melawan penyakitnya, ia memutuskan untuk meminum obatnya, lalu berangkat menuju ke sekolah.
Sesampainya disekolah Sabina, Sabina langsung menuju ke kelas dan duduk dibangkunya, meskipun sudah meminum obat, Sabina masih merasa lemas tetapi dia berusaha untuk tidak memikirkan penyakitnya dan fokus pada ujiannya.
Kemudian pengawas ujian datang dan langsung membagikan soal ujiannya kepada peserta ujian, Sabina langsung mengerjakan soal yang telah dibagikan itu dengan fokus meskipun tubuhnya merasa sakit dan tidak nyaman.
Setelah ujian selesai, Sabina merasa lega, dia berjalan keluar kelas dan berkumpul dengan teman - temannya yang sudah selesai mengerjakan ujian.
Kemudian setelah beberapa hari ujian selesai dan nilai diumumkan di mading lalu para siswa yang telah mengikuti ujian akhir langsung menuju ke mading.
Sabina ikut menyusul dan melihat ke papan pengumuman itu, dan dia tidak menyangka bahwa dia mendapatkan nilai tertinggi dan diposisi pertama.
" aku... aku tidak menyangka" kata Sabina dengan suara yang bergetar karena terkejut.
Tapi tiba-tiba dia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, ia merasa tubuhnya sakit dan merasa seperti ada yang hancur didalam tubuhnya.
" apa yang terjadi?" Katanya dengan nada yang panik.
dia merasa bahwa penyakit yang dideritanya sudah menyebar di seluruh tubuhnya, dia tidak menyangka bahwa akan terjadi secepat ini.
Sabina berusaha untuk berjalan, tapi ia merasa lemah dan tidak bisa menopang tubuhnya, lalu dia jatuh ke tanah, tapi dia masih bisa melihat Satya menuju ke arahnya.
" Kak Satya...." Kata Sabina dengan suara yang lemah.
Satya berlari ke arah Sabina yang tergeletak di tanah dan langsung mengangkatnya dan membawanya ke rumah sakit, tidak peduli masih jam sekolah, ia membawa Sabina ke rumah sakit menggunakan mobil yang dia bawa.
Sesampainya dirumah sakit, Sabina langsung dibawa ke ruang ICU oleh dokter dan perawat, dan Satya menunggu diluar.
diluar ruang ICU Satya menelpon orang tuanya menyuruh mereka untuk datang ke rumah sakit " Ibu, Ayah Sabina masuk rumah sakit, tolong kesini sekarang" kata Satya ditelepon.
Kemudian disisi lain orang tuanya langsung bergegas menuju ke rumah sakit, mereka penasaran apa yang terjadi dengan Sabina.
Sesampainya dirumah sakit mereka langsung menuju ke ruang ICU dan mereka melihat Satya duduk disana dengan menundukkan kepalanya, terlihat sedih dan murung.
" Satya, apa yang terjadi dengan Sabina!" Kata Arkan dengan suara yang tegas.
Satya tidak menjawab, ia masih menundukkan kepalanya dan sedih.
Lalu dokter keluar dari ruang ICU, Satya segera berdiri dan bertanya " bagaimana keadaan Adik saya, dok"
" Kondisi Sabina sangat kritis, penyakit leukemia nya sudah semakin parah, dan kemungkinan dia bakal selamat itu sangat kecil" kata dokter
Arkan dan Asfi terkejut mendengar itu, ia tidak tahu tentang penyakit yang diderita Sabina selama ini, mereka menyesal telah memperlakukan Sabina dengan buruk.
" apa yang telah kita lakukan?" Kata Asfi dengan suara yang bergetar.
" Kita udah jahat kepadanya selama ini" kata Arkan dengan suara yang sedih.
Lalu mereka masuk ke ruang rawat Sabina, Satya langsung duduk ditepi brankar Sabina disebelah kanan dan kedua orang tua Sabina disebelah kirinya.
Asfi langsung memegang tangan Sabina " Sabina maafin Ibu, Ibu gak pernah peduli sama kamu selama ini" katanya dengan suara yang bergetar sambil menangis.
Arkan juga memegang tangan Sabina bersama dengan Asfi " Ayah juga minta maaf, Ayah udah jahat sama kamu" katanya dengan suara yang sedih.
Sabina membuka matanya memandang kedua orang tuanya dengan mata yang lemah " Ayah.... ibu.... Sabina tidak pernah benci sama kalian, nanti kalian baca buku diary Sabina yang halaman terakhir ya" kata Sabina dengan suara yang lemah dan terputus - putus.
Lalu Sabina perlahan memejamkan matanya dan monitor jantung itu bergerak lurus.
Kemudian dokter dan suster datang untuk memeriksa Sabina, lalu setelah selesai dokter berkata " dengan berat hati saya mengatakan bahwa nyawa Sabina sudah tidak bisa diselamatkan lagi, Sabina sudah kembali ke pangkuan tuhan".
Arkan dan Asfi terkejut, mereka merasa menyesal, disaat mereka sudah meminta maaf kepada Sabina dan berjanji untuk menjadi orang tua yang baik untuk Sabina kedepannya Sabina sudah tidak ada lagi disisi mereka.
Satya juga terkejut, dia tidak menyangka bahwa Adiknya yang selama ini ia jaga dan ia sayangi sudah pergi untuk selamanya.
Kemudian setelah itu prosesi pemakaman Sabina, prosesi itu dihadiri oleh tetangga terdekat, guru dan teman teman Sabina.
Setelah prosesi pemakaman selesai, Asfi dan Arkan membuka kamar Sabina dan mencari dimana buku diary Sabina berada dan setelah menemukannya, mereka membuka dan membaca halaman terakhir:
Kalo kalian baca halaman ini, berarti Sabina udah gak ada lagi disisi kalian.
Teruntuk Ayah, Sabina tahu Ayah sering memarahi dan menghukum Sabina ketika Sabina mendapat nilai ulangan yang tidak Ayah harapkan, tapi meskipun begitu, Sabina gak benci kok sama Ayah, makasih ya, Ayah udah membuat Sabina jadi anak yang kuat dan tidak mudah menyerah.
Teruntuk Ibu, meskipun Ibu terlihat tidak peduli sama Sabina, Sabina tahu kok kalo Ibu sebenarnya sayang sama Sabina, makasih ya, udah melahirkan dan merawat Sabina.
dan teruntuk kak Satya, kakak adalah kakak yang baik bagi Sabina, makasih kakak udah selalu ada buat Sabina, selalu mendengar keluh kesah Sabina, dan menjadi tempat sandaran buat Sabina.
Untuk kedepannya Ayah, Ibu udah gak perlu repot-repot lagi marahin Sabina, udah gak usah mikirin Sabina jadi beban kalian lagi, kalian fokus saja sama kak Satya, kak Satya anak terbaik kalian kan, pasti kak Satya tidak akan mengecewakan kalian, tapi jangan buat kak Satya mengalami hal seperti Sabina, Sabina sayang sama kak Satya soalnya, jagain kak Satya buat Sabina ya,
Sabina sayang kalian.
Arkan dan Asfi menangis dan memeluk buku diary Sabina, mereka merasa bersalah telah memperlakukan Sabina tidak baik semasa Sabina masih hidup, padahal Sabina sendiri tidak pernah membenci mereka.
disisi lain Satya juga menangis, Satya menangis dikamar sambil memeluk bingkai foto Sabina, ia merasa sedih karena telah kehilangan Adiknya yang paling ia sayangi.
Kemudian setelah itu Asfi dan Arkan berdiri dan memandang foto Sabina di dinding, merasa sedih dan kehilangan anak gadis mereka.
" Selamat jalan, Sabina" kata Arkan kemudian Asfi melanjutkan " semoga kamu bahagia disana".
Lalu mereka berdua saling memeluk, dan berjanji untuk menjadi orang tua yang baik kedepannya.