"Mas Dirga ... tadi aku dengar nama Arga. Siapa itu?"
Arga sontak terkejut, matanya melebar. Ia menoleh ke arah pintu, berharap ibunya muncul untuk menyelamatkan keadaan. Namun, Fenny hanya berdiri di luar, menatapnya dengan isyarat jangan panik.
Arga terbelalak, dalam hati, ‘Bagaimana mungkin? Bukankah Ibu bilang Nabila tertidur? Bagaimana jika ia mendengar sapaan Bibi Wati padaku tadi?’
Nabila kembali bertanya, suaranya lembut tapi penuh rasa ingin tahu.
"Aku tadi dengar Bibi dan Ibu menyebut nama itu, yaitu Arga. Siapa dia? Kenapa ada di rumah kita?"
Arga tercekat. Ia baru sadar, dengan kondisi Nabila yang buta. Jadi, ia tak bisa membedakan perempuan itu sedang tidur atau terjaga. Ia mungkin terlihat tenang, padahal telinganya mendengar segalanya.
"Aku ... eh ...." suara Arga bergetar, ia mencoba menahan kebohongan yang terasa menyesakkan.
Arga berharap ibunya datang dan mengendalikan situasi, tapi sepertinya ia harus menghadapinya seorang diri kali ini.
"Nabila, jangan banyak tanya dulu, ya. Kamu harus banyak istirahat agar tubuhmu cepat pulih.”
Nabila diam sejenak, wajahnya mengernyit. Ia memegang erat tangan Arga, seolah tak ingin dilepas.
"Tapi aku ingin tahu, siapa Arga itu, kenapa namanya mirip sekali denganmu, Dirga?”
Arga hanya bisa menunduk, jantungnya berdegup keras. Untuk pertama kalinya, kebohongan yang ia jalani terasa begitu rapuh, seolah bisa runtuh hanya dengan satu pertanyaan dari Nabila.
Arga menelan ludah, mencoba mengendalikan suaranya agar terdengar tenang.
Arga yang saat itu berperan sebagai kakaknya – Dirga menjawab dengan hati yang berat. "Arga itu adik kandungku. Dia masih kuliah, makanya jarang sekali pulang ke rumah. Hanya saja, tadi dia sempat nelpon, yang membuat Bibi Wati sempat kaget.”
Nabila terdiam, alisnya sedikit mengernyit. Jemarinya masih menggenggam tangan Arga, seolah mencoba membaca kebenaran lewat sentuhan. Ada sedikit kecurigaan pada dirinya.
"Adikmu? Tapi, kenapa selama ini aku tak pernah bertemu dengannya? Bukankah kita sudah lama pacaran, bahkan sampai menikah? Seharusnya aku pernah mengenalnya."
Arga terperangah, dadanya terasa sesak. Ia tahu Nabila punya alasan kuat untuk meragukan ceritanya, tapi ia tak boleh kehilangan peran yang sedang ia mainkan.
Arga berusaha tersenyum, meski hatinya gugup. "Dia sangat sibuk dengan kuliahnya. Hampir tak pernah pulang. Jadi wajar kalau kamu belum pernah bertemu dengannya. Bukan maksudku merahasiakan, hanya saja ... waktunya memang tak pernah pas."
Nabila menghela napas panjang, seolah menimbang-nimbang jawaban itu.
"Hmm ... jadi begitu? Aneh sekali rasanya. Tapi, kalau kamu yang bilang, aku percaya. Aku tahu, kamu orangnya jujur dan dapat dipercaya, Mas Dirga."
Ia mengeratkan genggaman tangannya, tersenyum samar.
‘Nabila, maafkan aku atas kebohongan ini. Andai saja kau tak buta dan psikismu normal, aku tak mungkin melakukan hal ini,’ batin Arga.
"Asal kamu tetap di sini menemaniku, Dirga. Aku tak peduli dengan yang lain."
Arga terdiam, hatinya semakin diliputi rasa bersalah. Ia melirik ibunya di pintu, yang hanya bisa memberi tatapan penuh penegasan agar ia tetap menjaga peran.
Perlahan, ia duduk di tepi ranjang, membiarkan tangannya tetap digenggam erat oleh Nabila.
“Selama kamu cuti nikah dari pekerjaanmu, aku ingin kau selalu di sisiku. Jadi, berapa lama lagi kau libur?”
“Aku ... seminggu lagi. Iya, seminggu lagi,” jawab Arga dengan gugup.
Dengan suara bergetar, Nabila bertanya, “Dirga, aku mau bertanya boleh?”
“Oke, mau nanya apa?”
“Dengan kondisiku yang seperti ini … aku buta, aku nggak bisa lihat apa-apa. Apa kamu masih mau anggap aku istrimu?”
Pertanyaan itu menusuk jantung Arga. Ia terdiam sejenak, menunduk, merasakan tangannya bergetar. Namun, akhirnya, dengan suara yang ia usahakan selembut mungkin, ia menjawab, “Kenapa kamu bicara begitu? Aku cinta mati sama kamu. Jadi, apa pun kondisi kamu, kamu tetap istriku. Nggak ada yang bisa ubah itu. Enggak bisa diganggu gugat lagi.”
Air mata mengalir di pipi Nabila. Senyum bahagia muncul, meski matanya kosong. “Terima kasih, Dirga … kamu nggak pernah berubah, kamu sangat mencintaiku dengan tulus. Aku bahagia bisa berada di sampingmu.”
Di sudut ruangan, Fenny dan Bibi Wati saling berpandangan. Ada rasa lega karena Nabila akhirnya tenang, tapi juga ada luka mendalam karena kebohongan besar itu harus mereka pertahankan. Mereka tahu, semua ini terpaksa dilakukan demi menjaga psikis Nabila agar tidak runtuh.
Mereka bahagia dengan kedua pasangan itu, tapi cemas apabila rahasia itu terbongkar.
Satu kebohongan adalah membuat kabar palsu bahwa Dirga masih hidup dan satu kebohongan ladi adalah Arga yang memerankan Dirga.
Sementara Arga, meski hatinya tak karuan karena harus berbohong, hanya bisa menatap Nabila yang kini tertidur pulas di pelukannya. Dalam hati ia berbisik, ‘Kak … aku nggak punya pilihan lain. Aku akan jaga dia, meski harus membohonginya dengan memakai namamu.’
Arga tersenyum tipis. “Kelihatan banget capeknya. Mau aku bantu tiduran?”
Nabila menjawab sambil kembali menguap. “Hehe … iya. Aku benar-benar ngantuk.”
Arga pun menuntunnya perlahan hingga ia merebahkan diri di ranjang. Selimut ditarik pelan oleh Arga untuk menutup tubuh Nabila. Wajahnya terlihat damai, meski masih menguap sekali lagi. ‘Cantik sekali kalau sudah seperti ini. Kakak memang nggak salah pilih. Meski aku tahu, ini semua bukan tempatku. Tapi sulit sekali menolak perasaan yang mulai tumbuh.’
Nabila menggenggam tangan Arga sebelum matanya benar-benar terpejam. “Terima kasih ya, Dirga, kamu selalu ada buat aku.”
Arga terdiam. Hatinya serasa ditusuk kalimat itu, tapi ia hanya bisa tersenyum samar dan mengangguk. “Iya, Nabila, akan aku usahakan agar selalu bisa di sampingmu.”
Perlahan, genggaman itu melemah. Nabila pun tertidur pulas. Arga duduk di sisi ranjang, memperhatikannya dalam diam, sementara pikirannya dipenuhi rasa bersalah sekaligus kagum yang tak bisa ia hindari.
Nabila tertidur pulas di ranjang. Napasnya teratur, wajahnya tenang, bibirnya sedikit terbuka seolah tengah bermimpi indah. Rambutnya yang terurai menambah kesan lembut, membuat Arga tanpa sadar menunduk, memperhatikan setiap detail wajah itu.
Ada sedikit rasa bersalah yang menyelinap di dada Arga, mengingat kata-kata itu keluar begitu saja dari pikirannya. Namun, semakin lama ia menatap Nabila, semakin jelas bahwa pesona perempuan itu bukan hanya pada wajahnya yang cantik, melainkan pada ketulusan dan kelembutan yang memancar dari dirinya. Yaitu sesuatu yang tak pernah ia temukan pada Novita.
Tangannya sempat tergerak ingin merapikan helai rambut yang menutupi pipi Nabila, tapi segera ia tahan. Ia hanya bisa menarik napas panjang, menatap dalam diam, sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah ini awal dari perasaan yang seharusnya tidak ada? Kulit wajahnya begitu putih dan halus. Ia ingin menyentuh area wajahnya dan mengusap wajah cantiknya.
Akan tetapi, di saat tangannya ingin meraih wajah Nabila, tiba-tiba, Bi Wati muncul dari balik pintu ....