Neraca Dosa

Penulis djoedo
19 January 2026

Suara ketukan palu hakim tidak terdengar, digantikan oleh bunyi klik-klak mesin ketik yang menggila, bergema dari segala penjuru koridor banjir itu.

Bram mencoba menelan ludah. Kering. Tenggorokannya terasa seperti dilapisi kertas ampelas. Di hadapannya, sosok itu berhenti. "Auditor" tersebut tidak menapak di atas air hitam yang menggenangi lantai setinggi lutut, melainkan melayang satu inci di atas permukaannya. Jubahnya terbuat dari tumpukan faktur pajak yang dijahit kasar dengan benang merah basah. Baunya menyengat. Campuran antara aroma kertas tua yang lembap, tinta murah, dan daging yang mulai membusuk.

Tidak ada wajah.

Di balik tudung yang menutupi kepala makhluk itu, hanya ada kegelapan statis. Seperti layar televisi rusak yang kehilangan sinyal. Namun, Bram bisa merasakan tatapan itu. Tajam. Menelanjangi. Menembus kulit, daging, hingga ke organ dalamnya di mana koin-koin dingin itu bersarang. Berat di perutnya makin menjadi-jadi, seolah gravitasi di titik ini berpusat pada pusarnya.

"Subjek: Bramantyo," suara itu muncul. Bukan dari mulut, melainkan bergesekan langsung di dalam tempurung kepala Bram. Suaranya mirip gesekan besi berkarat. "Status: Defisit moral. Aset: Nihil."

Bram ingin berteriak, membantah bahwa dia punya uang, dia punya kuasa. Tapi bibirnya terkunci rapat. Kelumpuhan tidur yang dulu sering ia alami di kos-kosan sempit Jakarta kini menyerangnya dalam keadaan sadar penuh. Kakinya, yang terbenam dalam air hitam pekat, terasa dililit oleh sesuatu yang lunak dan berlendir. Ular? Bukan.

Dia menunduk dengan sisa tenaga lehernya yang kaku.

Itu bukan ular. Kabel telepon. Ribuan kabel telepon hitam menjuntai dari dasar air, melilit pergelangan kakinya, menariknya perlahan ke bawah. Kabel-kabel itu berdenyut, seakan mengalirkan darah, bukan listrik.

Di sisi kiri dan kanan koridor tak berujung itu, kubikal-kubikal kantor yang terendam air menampakkan penghuninya. Sosok-sosok dalam kantong mayat itu mulai bergerak lebih agresif. Ritsleting kantong mereka terbuka sedikit demi sedikit. Jari-jari pucat, bengkak karena terlalu lama terendam air, menyembul keluar. Mereka mengetik dengan kecepatan yang tidak manusiawi di atas mesin tik yang terbuat dari tulang belulang.

Tak-tak-tak-tak-tak.

Setiap hentakan tombol mesin tik itu mengirimkan rasa nyeri ke ulu hati Bram. Seolah setiap huruf yang diketik adalah sayatan kecil di jiwanya.

Bram memutar bola matanya ke arah kubikal terdekat. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Di sana, duduk di kursi kantor yang busanya telah sobek dan bernanah, adalah Tono. Pria misterius yang naik di tengah jalan itu tidak lagi terlihat angkuh. Wajah Tono rata. Kulit wajahnya telah ditarik ke belakang, distaples ke tengkuknya, menjadikannya kanvas kosong. Seorang juru tulis kerdil dengan kulit sewarna abu rokok sedang menuliskan angka-angka langsung di atas daging wajah Tono dengan pena tajam.

Tono tidak berteriak. Dia tidak punya mulut lagi. Tapi tubuhnya mengejang setiap kali pena itu menorehkan tinta hitam ke dalam dermisnya.

Dengung di telinga Bram semakin kencang. Ini bukan sekadar halusinasi. Ini adalah birokrasi neraka. Dan dia adalah berkas selanjutnya yang akan diarsipkan.

"Penyelesaian sengketa," Auditor itu mengangkat tangannya. Jari-jarinya panjang, runcing, dan terdiri dari mata pena celup kuno. "Pembayaran di muka diperlukan untuk menunda eksekusi."

Tangan itu terulur. Menunggu.

Bram panik. Otaknya berputar cepat mencari jalan keluar. Uang. Dia punya uang. Tas kulit yang sejak tadi ia peluk erat di dadanya—satu-satunya benda yang ia pertahankan mati-matian—terasa hangat. Ini adalah hasil korupsinya. Ratusan juta dalam pecahan besar. Tiketnya menuju kebebasan. Tiketnya untuk hidup baru.

Dengan tangan gemetar yang akhirnya berhasil lepas dari kekakuan sesaat, Bram merogoh tasnya.

"Ambil!" teriak Bram parau. Suaranya pecah, menyedihkan. "Ambil semuanya! Ini cukup buat beli nyawa kalian semua!"

Dia melemparkan gepokan uang itu ke arah Auditor. Kertas-kertas tinggi itu berhamburan di udara, melayang dalam gerak lambat yang menyiksa. Bram menunggu reaksi tamak. Dia menunggu negosiasi.

Namun, begitu uang-uang itu menyentuh aura di sekitar Auditor, realitas bergeser.

Uang kertas itu berubah. Warna merah dan biru pada pecahannya memudar, berganti menjadi cokelat kusam. Teksturnya bukan lagi kertas, melainkan daun kering yang rapuh. Dalam sekejap mata, gepokan uang itu hancur menjadi debu, lalu menjadi belatung. Ribuan belatung putih gemuk jatuh ke air hitam, menggeliat menjijikkan sebelum tenggelam.

Tas di tangan Bram kini terasa kosong. Ringan.

Nilai tukar di tempat ini berbeda. Rupiah tidak laku. Dolar tidak berarti. Mata uang di Laju Sanjaya adalah penderitaan.

Auditor itu tidak bergerak. Lubang hitam di wajahnya tampak semakin lebar, seolah menertawakan kebodohan Bram. "Alat tukar tidak valid," suara di kepala Bram kembali bergemuruh, lebih keras, membuat hidung Bram meneteskan darah segar. "Kewajiban tertunggak. Sita jaminan fisik."

Auditor itu melangkah maju. Air hitam di sekitarnya mendidih.

Rasa sakit yang luar biasa meledak di perut Bram. Koin-koin itu. Koin-koin yang ia telan. Mereka bukan sekadar logam asing. Mereka panas. Membara. Seolah-olah mereka baru saja dicetak dari tungku peleburan timah neraka. Bram jatuh berlutut, memegangi perutnya yang mengepulkan asap tipis. Bau daging terbakar dari dagingnya sendiri menyeruak, mengalahkan bau apek kantor tersebut.

Dia sadar sekarang. Koin-koin itu bukan hukuman pasif. Itu adalah down payment. Tanda jadi bahwa tubuhnya kini milik bus ini.

Di kejauhan, di ujung koridor yang sebenarnya adalah pintu belakang bus Laju Sanjaya, suara mesin diesel menderu kasar. Grrrroooookkk. Suara itu seperti batuk raksasa yang sedang sekarat.

Lampu-lampu neon di "kantor" ini mulai berkedip liar, satu per satu pecah, menyipratkan beling ke dalam air gelap. Kegelapan mulai memakan pinggiran visi Bram. Dinding-dinding dari tumpukan berkas mulai runtuh, menimpa para juru tulis mayat.

Jaka, sang kondektur, masih berdiri di ambang pintu bus yang melayang di kehampaan itu. Wajahnya datar, tanpa emosi, hanya diterangi oleh lampu kabin bus yang remang-remang kuning sakit-sakitan. Dia mengangkat tangan, lalu mengetuk pergelangan tangannya sendiri—memberi isyarat waktu.

Bus itu mulai bergerak mundur. Menjauh.

Bram terbelalak. Jika bus itu pergi, dia akan tertinggal di sini. Di Halte Penagihan. Bersama Auditor tanpa wajah dan Tono yang telah menjadi inventaris kantor. Dia akan menjadi satu lagi mayat yang mengetik laporan dosa selamanya.

"Tunggu!" jerit Bram.

Dia mencoba bangkit, tapi kabel-kabel telepon di kakinya mengerat. Auditor itu kini sudah berada tepat di depannya. Tangan pena itu terangkat tinggi, siap menancap ke dada Bram, siap mencatat "Lunas" di atas jantungnya.

Rasa takut akan kematian kalah oleh rasa takut akan keabadian dalam siksaan.

Bram tidak berpikir. Instingnya mengambil alih. Dia tidak mencoba melepaskan kabel itu dengan tangan. Dia menjatuhkan dirinya ke depan, merangkak di dalam air najis itu, menyeret kakinya sekuat tenaga. Kukunya mencakar lantai yang licin oleh lumut dan tinta.

Sreeet.

Pena Auditor meleset, hanya merobek kemeja punggung Bram dan menggores kulitnya. Darah menyembur, bercampur dengan air hitam. Perihnya bukan main, seperti disiram cuka.

Bram mengabaikannya. Matanya terkunci pada pintu bus yang semakin mengecil. Dia merangkak seperti binatang.

"Jaka! Buka pintunya!" teriaknya putus asa.

Jaka tidak bergeming. Bus semakin jauh, kembali ditelan kabut. Pemandangan kantor horor ini mulai berdistorsi, melengkung seperti lukisan cat minyak yang meleleh terkena api.

Bram merasakan beban di perutnya semakin berat, memaksanya untuk tenggelam. Dia harus memilih. Ego atau nyawa. Di saku celananya, tiket dari kulit manusia itu terasa membara, seakan mengingatkannya pada kontrak yang belum selesai.

Dengan sisa napas terakhir sebelum air menenggelamkan kepalanya, Bram menyadari satu hal mengerikan: Bus Laju Sanjaya bukan penyelamat. Bus itu adalah sel penjara yang bergerak. Tapi sel penjara itu satu-satunya tempat yang ia miliki sekarang. Di luar bus, hanya ada kehampaan dan birokrasi setan ini.

Dia harus kembali masuk. Walau itu berarti dia harus menyerahkan satu-satunya hal yang tersisa: kewarasannya.

Tangan Bram menggapai-gapai ke udara, mencoba meraih bumper besi bus yang berkarat itu, sementara Auditor di belakangnya mulai tertawa—suara tawa yang terdengar seperti robekan kertas dalam jumlah masif.