Dua minggu. Empat belas hari. Tiga ratus tiga puluh enam jam.
Itulah durasi waktu sejak "hantu" itu pergi. Dan harus kuakui, kewarasan ternyata membosankan setengah mati.
Apartemenku kini steril. Tidak ada lagi pecahan keramik di lantai. Tidak ada lagi buku yang terbuka sendiri di sofa. Tidak ada lagi aroma kopi imajiner di pagi hari. Bagas benar-benar melakukan pekerjaan yang baik saat membersihkan tempat ini; dia menghapus jejak kegilaanku sampai ke akar-akarnya.
Sekarang, hidupku berjalan dengan rutinitas yang menakutkan saking normalnya.
Bangun jam tujuh. Mandi. Bikin kopi instan (karena menyeduh manual mengingatkanku pada dia). Kerja merestorasi pesanan klien sampai sore. Makan malam pesan antar. Tidur. Ulangi.
Aku sudah kembali bekerja. Tangan kananku yang luka sudah sembuh, menyisakan garis parut merah muda di telapak tangan yang sesekali gatal. Klienku senang karena aku menyelesaikan restorasi patung kayu abad ke-18 lebih cepat dari jadwal.
"Bagus, Mas Arya. Tangan dingin kamu sudah kembali," kata klienku lewat pesan WhatsApp kemarin.
Aku hanya membalas dengan stiker jempol.
Mereka tidak tahu bahwa "tangan dingin" ini bukan metafora bakat. Tanganku benar-benar dingin. Sejak aku menyentuh hantu itu dan merasakan kehampaannya, rasanya suhu tubuhku turun beberapa derajat dan tidak pernah naik lagi.
Malam ini, Jakarta diguyur hujan deras. Suara rintik air memukul kaca jendela lantai 12 terdengar ritmis, menghipnotis.
Aku duduk di meja kerja, bukan sedang bekerja, tapi sedang menatap satu-satunya benda asing yang tersisa di unit ini.
Anting perak berbentuk bintang.
Benda itu tergeletak di atas tatakan gelas berbahan gabus di mejaku. Selama dua minggu ini, aku memperlakukannya seperti limbah nuklir. Aku tidak membuangnya, tapi aku juga takut menyentuhnya. Aku membiarkannya di sana, menatapku balik dengan kilau samar.
Bagas menyuruhku membuang semua yang berhubungan dengan Luna. Tapi aku menyembunyikan anting ini darinya.
"Ini bukan sampah, Gas," dalihku dalam hati waktu itu. "Ini barang orang lain. Gue nggak berhak buang."
Alasan klasik seorang penimbun kenangan.
Malam ini, pertahananku goyah. Mungkin karena hujan. Mungkin karena sunyi. Atau mungkin karena aku bosan berpura-pura kuat.
Tanganku terulur, mengambil anting kecil itu.
Logamnya dingin di ujung jari.
Otakku mulai menyusun skenario. Skenario yang sangat logis, masuk akal, dan sopan.
Aku harus mengembalikannya.
Itu kan etika dasar? Kalau kita menemukan barang milik orang lain, kita harus mengembalikannya. Apalagi ini perak asli, bukan aksesoris plastik pasar malam. Luna pasti mencarinya dulu. Mungkin dia masih menyukainya.
Jika aku menghubunginya untuk mengembalikan ini, itu bukan berarti aku "gagal move on". Itu artinya aku dewasa. Aku bertanggung jawab.
Ya, itu narasi yang kupakai untuk membenarkan keinginanku mendengar suaranya lagi.
Aku mengambil ponselku. Layarnya yang retak masih berfungsi normal.
Aku membuka aplikasi pesan instan. Jari jempolku melayang di atas nama kontak yang sudah dua minggu tidak kusentuh.
Luna.
Jantungku berdegup kencang, memompa adrenalin yang sudah lama hilang. Rasanya seperti akan melompat dari tebing.
Aku mulai mengetik.
Draf 1:
Hai, Lun. Apa kabar? Sorry ganggu malem-malem. Aku nemu anting bintang kamu di kolong sofa.
Aku membacanya ulang. Terlalu basa-basi. "Apa kabar" terdengar seperti aku ingin mengajak balikan. Hapus.
Draf 2:
Lun, anting lo ketinggalan di tempat gue. Mau diambil atau gue Gojekin?
Terlalu kaku. Terlalu dingin. Seolah-olah kami musuh. Aku tidak mau dia berpikir aku marah padanya. Hapus.
Draf 3:
Malam, Lun. Anting bintang yang dulu ilang ketemu nih. Ternyata nyelip di sofa. Kabarin ya kalau mau diambil.
Nah. Ini pas. Sopan, informatif, dan ada sedikit nada nostalgia ("yang dulu ilang"). Ini sempurna.
Jariku gemetar di atas tombol Kirim.
Satu ketukan. Hanya butuh satu ketukan, dan jembatan yang sudah kuhancurkan akan terbangun lagi. Satu pesan ini akan membuka pintu komunikasi. Dia akan membalas. "Wah, serius? Makasih ya Ar!" Lalu kami akan mengobrol. Lalu mungkin kami bisa bertemu sebentar saat aku mengantarkannya. Sekadar kopi darat. Sekadar melihat apakah dia masih suka kopi yang sama.
Apa salahnya? Kami berpisah baik-baik (setidaknya di dunia nyata). Aku tidak pernah memaki Luna yang asli. Aku hanya memaki hantunya.
Aku hampir menekannya.
Hampir.
Tapi kemudian, notifikasi Instagram muncul di bagian atas layar.
@Luna_Amara just posted a photo.
Setan di kepalaku bersorak. Liat, Ar. Ini tanda. Semesta nyuruh lo liat.
Tanpa pikir panjang, aku mengetuk notifikasi itu. Aplikasi terbuka. Foto terbaru Luna muncul di layar retakku.
Dia sedang ada di sebuah pesta. Cahaya lampu disko remang-remang. Dia memakai gaun hitam yang memamerkan bahunya—gaun yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia memegang gelas cocktail, tertawa lepas dengan kepala mendongak ke belakang.
Di sebelahnya, ada tangan seorang pria yang merangkul pinggangnya. Pria berjas. Mungkin Pak David yang waktu itu, atau mungkin pria lain. Tidak penting.
Yang penting adalah apa yang dia pakai.
Aku men-zoom foto itu. Memperbesar bagian telinganya.
Luna memakai anting.
Bukan anting bintang perak kecil yang sedang kugenggam ini.
Dia memakai anting emas panjang yang elegan, berayun anggun menyentuh lehernya. Anting yang mahal. Anting yang dewasa. Anting yang cocok untuk wanita karier sukses yang sedang berpesta di Jumat malam.
Aku melihat anting bintang di tanganku.
Kusam. Kecil. Terlihat kekanak-kanakan.
Dulu, dia membelinya di pasar seni Jogja saat kami liburan kuliah dengan budget pas-pasan. Waktu itu dia senang sekali. "Lucu banget, Ar! Kayak bintang jatuh!" katanya.
Sekarang?
Benda ini bukan lagi perhiasan baginya. Benda ini adalah rongsokan dari masa lalu yang miskin dan naif.
Jika aku mengirim pesan itu: "Lun, anting bintang kamu ketemu," dia mungkin akan membacanya sambil tertawa di tengah pesta itu.
Mungkin dia akan bilang ke pria di sebelahnya: "Duh, mantan aku nge-chat. Nemu anting murah yang udah aku lupain. Kasian banget ya, dia masih nyimpen sampah aku."
Rasa malu yang panas menjalar dari leher ke wajahku.
Aku bukan mau mengembalikan barang berharga. Aku sedang mencoba menawar perhatian menggunakan sampah.
Aku meletakkan ponselku di meja dengan kasar.
Napas ku menderu. Rasa sakitnya beda dengan saat aku melihat hantu itu glitch. Saat itu sakitnya adalah ketakutan. Kali ini, sakitnya adalah kehinaan.
Aku merasa kecil. Aku merasa tertinggal.
Sementara aku di sini, di kamar sempit, menyusun kata-kata untuk pesan singkat selama satu jam, dia sedang berdansa, minum, dan hidup di level yang tidak bisa kujangkau.
Aku menatap anting itu lagi.
Benda ini adalah Kotak Pandora.
Jika aku membukanya (menghubunginya), yang keluar bukan harapan. Yang keluar adalah penyakit, kesedihan, dan perpanjangan masa berkabung yang tidak perlu.
Aku mengambil anting itu. Menggenggamnya erat sampai ujung bintangnya menusuk telapak tanganku yang baru sembuh.
"Cukup," bisikku pada diri sendiri.
Aku tidak akan mengirim pesan itu. Aku tidak akan menjadi mantan menyedihkan yang mencari alasan.
Tapi aku juga tidak bisa membiarkan benda ini ada di sini. Selama anting ini ada di mejaku, aku akan terus tergoda. Besok, lusa, atau bulan depan saat aku kesepian, aku pasti akan mencoba mengirim pesan itu lagi.
Aku harus memusnahkannya.
Sebagai seorang Restorator, aku punya banyak alat untuk memanipulasi logam dan keramik. Aku punya pelarut, aku punya lem, aku punya amplas.
Tapi untuk ini, aku butuh sesuatu yang lebih permanen.
Aku berdiri, berjalan ke dapur. Aku membuka laci terbawah, tempat aku menyimpan perkakas kasar.
Aku mengambil tang potong dan sebuah palu kecil.
Aku kembali ke meja kerja. Aku meletakkan anting bintang itu di atas lempengan besi yang biasa kugunakan sebagai alas kerja.
Bintang kecil itu terlihat tidak berdaya di bawah lampu sorot kerjaku.
Aku mengangkat palu.
Ada keraguan di hatiku. Ini kenangan, Arya. Ini sejarah.
Tapi sejarah yang memberatkan langkah tidak layak untuk disimpan di museum.
TAK!
Palu menghantam anting itu.
Bentuk bintangnya penyok. Tidak hancur total, hanya bengkok jelek.
Aku memukulnya lagi.
TAK!
Sekarang bentuknya sudah tidak karuan. Hanya seonggok perak gepeng.
TAK! TAK! TAK!
Aku memukulnya berulang-ulang dengan ritme yang sama seperti detak jantungku. Setiap pukulan adalah pelepasan.
Pukulan untuk kebodohanku.
Pukulan untuk harapanku yang sia-sia.
Pukulan untuk Luna yang sudah bahagia tanpaku.
Setelah sepuluh pukulan, aku berhenti. Napasku terengah.
Di atas lempengan besi itu, tidak ada lagi bintang. Hanya ada serpihan logam perak yang pipih, hancur, dan tidak bisa dikenali lagi.
Tidak ada toko perhiasan yang bisa memperbaikinya. Tidak ada restorator—bahkan yang sehebat aku—yang bisa mengembalikannya ke bentuk semula.
Selesai.
Aku mengambil serpihan logam itu dengan ujung jari. Tidak ada lagi rasa sentimentil. Itu hanya logam.
Aku berjalan ke jendela, membukanya lebar-lebar. Angin malam yang membawa butiran hujan langsung menerpa wajahku. Dingin. Segar.
Di bawah sana, lampu-lampu Jakarta berkelap-kelip. Jutaan manusia dengan jutaan masalah hati mereka masing-masing.
Aku mengulurkan tangan keluar jendela.
Membuka genggaman.
Serpihan perak itu jatuh. Melayang turun dua belas lantai, hilang ditelan kegelapan malam dan hujan. Mungkin jatuh ke selokan, mungkin terlindas mobil, mungkin hilang selamanya.
Aku menarik tangan kembali, mengusap air hujan yang membasahi lengan.
Aku kembali ke meja, mengambil ponselku.
Membuka aplikasi pesan. Menghapus draf pesan yang tadi belum terkirim.
Lalu membuka Instagram.
Masuk ke profil Luna_Amara.
Menekan tombol tiga titik di pojok kanan atas.
Pilihan itu muncul berwarna merah: Block.
Apakah aku yakin?
Jari jempolku tidak gemetar lagi.
Tap.
Profil itu hilang. Foto-foto itu hilang. Nama itu hilang.
Duniaku menyusut lagi menjadi sebatas dinding apartemen ini. Tapi kali ini, tidak terasa sempit. Terasa lega. Seperti ruangan yang baru saja dikeluarkan barang-barang tidak berguna agar penghuninya bisa bernapas.
Aku duduk kembali di kursi kerjaku. Mataku tertuju pada proyek restorasi selanjutnya: sebuah piring keramik jaman kolonial yang retak di tengah.
Aku mengambil kuas, mencelupkannya ke dalam perekat emas.
Besok pagi, piring ini akan utuh kembali. Dan mungkin, suatu hari nanti, aku juga.