Jakarta itu aneh. Kota ini tidak punya perasaan, tapi dia punya ingatan yang tajam.
Bagi sebagian orang, Jakarta adalah pusat bisnis, kemacetan, dan polusi. Tapi bagi orang yang baru patah hati, Jakarta adalah ladang ranjau. Setiap tikungan jalan, setiap lagu yang diputar di radio taksi, setiap bau aspal basah, semuanya memiliki potensi untuk meledakkan memori yang menyakitkan.
Selama tiga bulan terakhir, aku memperlakukan kota ini sebagai musuh. Aku menghindari Jalan Antasari karena di sana kami sering terjebak macet sambil bernyanyi. Aku menghindari Blok M karena itu tempat kami mencari piringan hitam bekas. Aku menghindari Cikini—yah, kau tahu kenapa.
Aku hidup seperti buronan yang rute pelariannya terbatas.
Tapi hari ini, sebulan setelah aku menghancurkan anting perak itu, aku memutuskan untuk berhenti lari.
Bagas meneleponku pagi tadi.
"Ar, gue di Blok M. Di kedai bakmi yang dulu. Rame banget, gue butuh temen ngantre. Sini lo."
Biasanya, aku akan menolak. Kedai bakmi itu adalah "Tempat Kami". Tempat aku dan Luna. Kursi sudut dekat jendela adalah singgasana kami. Datang ke sana tanpa Luna terasa seperti penistaan.
Tapi pagi ini, saat melihat pantulan diriku di cermin—wajah yang sudah tidak terlalu kusam, mata yang sudah tidak bengkak—aku berpikir: Sampai kapan?
Sampai kapan aku mau menyerahkan hak asuh atas tempat-tempat enak di Jakarta kepada kenangan mantan? Bakmi itu enak. Aku suka bakmi itu. Kenapa aku harus berhenti memakannya hanya karena satu orang sudah tidak ada dalam hidupku?
"Oke, Gas. Gue OTW," jawabku di telepon.
Dan di sinilah aku sekarang. Berdiri di depan kedai bakmi legendaris yang aromanya saja sudah bisa membuat perut keroncongan.
Uap kuah kaldu mengepul ke udara. Suara denting mangkuk beradu dengan sumpit terdengar riuh. Antrean mengular sampai ke trotoar.
Jantungku berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Otak reptilku siaga, memindai kerumunan, takut kalau-kalau Luna ada di sini. Tapi kemudian aku ingat: Luna yang baru, Luna yang memakai anting emas panjang dan dress mahal, mungkin tidak lagi makan di kedai bakmi panas tanpa AC seperti ini. Dia mungkin sedang makan brunch cantik di Senopati.
Pikiran itu menenangkan sekaligus menyedihkan.
"Woy! Tuan Muda akhirnya turun gunung!"
Bagas melambai dari barisan antrean. Dia memakai kaos oblong dan celana pendek, santai seperti biasa.
Aku menghampirinya, menyelip di antara kerumunan orang yang berkeringat.
"Rame gila," komentarku, berusaha terdengar normal.
"Weekend, Bos. Wajar," sahut Bagas. Dia menatapku sekilas, matanya memeriksa kondisiku. "Lo oke?"
"Cuma mau makan bakmi, Gas. Bukan mau perang."
"Bagus. Muka lo udah nggak kayak mayat hidup lagi. Ada kemajuan."
Kami mengantre selama dua puluh menit. Selama itu pula aku berperang dengan pikiranku sendiri. Mataku melirik ke arah meja sudut dekat jendela.
Meja Nomor 4.
Itu meja keramat. Dulu, Luna akan merajuk kalau kami tidak dapat meja itu. Kami pernah menunggu setengah jam hanya demi duduk di sana.
Sekarang, meja itu ditempati oleh sepasang suami istri paruh baya yang sedang makan dengan lahap. Tidak ada aura romantis. Tidak ada jejak Luna. Hanya dua orang tua yang menikmati makan siang.
Ternyata, dunia tidak berhenti berputar saat kami putus. Meja itu tetap ada, dipakai orang lain, dan hidup terus berjalan.
"Dua orang, Mas?" tanya pelayan yang sibuk mencatat pesanan.
"Iya. Bakmi ayam jamur dua. Pangsit goreng seporsi," jawab Bagas cepat. Dia hafal menu favoritku.
"Meja tinggal yang di tengah ya, Mas. Gabung sama orang lain nggak apa-apa? Penuh banget."
Bagas menatapku. Dulu, aku benci duduk sharing table. Aku butuh privasi.
"Sikat aja," jawabku.
Kami digiring ke meja panjang di tengah ruangan. Di hadapan kami, duduk seorang perempuan muda yang sedang makan sendirian sambil membaca buku.
Kami duduk berhadapan. Si perempuan hanya mendongak sekilas, mengangguk sopan, lalu kembali ke dunianya.
"Jadi," Bagas membuka percakapan sambil menuang sambal ke mangkuk kecil. "Proyek restorasi piring VOC itu udah kelar?"
"Dikit lagi. Tinggal finishing emasnya," jawabku. "Tangan gue udah nggak kaku lagi."
Aku melirik telapak tangan kananku. Bekas luka goresan kaca dari malam itu sudah sembuh total, meninggalkan garis putih tipis yang membelah garis nasib. Sebuah suvenir permanen dari kebodohanku.
"Baguslah," kata Bagas. "Gue seneng lo balik kerja. Gue takut lo alih profesi jadi dukun gara-gara kelamaan main sama hantu."
Aku tertawa. Tawa yang asli. "Sialan lo."
Pesanan kami datang. Mangkuk ayam jago berisi mie keriting yang kenyal, potongan ayam kecap yang gurih, dan sawi hijau yang segar. Uapnya menerpa wajahku.
Ini adalah momen kebenaran.
Dulu, suapan pertama selalu dramatis. Luna akan menyuapiku, atau kami akan berkomentar betapa enaknya bakmi ini, membandingkannya dengan tempat lain. Bakmi ini punya rasa kenangan.
Aku mengambil sumpit. Mengaduk mie. Menyumpit gumpalan besar dan memasukkannya ke mulut.
Aku mengunyah.
Rasanya gurih. Asin. Manis ayam kecapnya pas. Tekstur mienya kenyal.
Itu saja.
Hanya rasa bakmi.
Tidak ada rasa rindu. Tidak ada rasa pahit perpisahan. Tidak ada flashback adegan romantis di kepala.
Lidahku hanya mendeteksi glutamat, garam, dan karbohidrat.
Aku menelan kunyahan itu dan tersenyum tipis.
"Kenapa lo senyum-senyum sendiri?" tanya Bagas curiga, mulutnya penuh pangsit.
"Enak," jawabku. "Ternyata rasanya cuma bakmi."
"Ya emang bakmi, Bambang. Lo ngarep rasa apa? Rasa yang pernah ada?"
"Kurang ajar."
Aku makan dengan lahap. Rasanya melegakan. Ternyata aku bisa menikmati makanan ini tanpa bumbu drama. Ternyata tempat ini hanyalah sebuah lokasi koordinat GPS, bukan museum suci. Aku sedang melukis ulang peta Jakarta di kepalaku. Menimpa label "Tempat Kenangan Luna" menjadi "Tempat Makan Enak".
Tiba-tiba, perempuan di depan kami menutup bukunya. Gerakan tangannya menyenggol tempat sambal, membuatnya terguling.
Trak!
Botol kaca itu jatuh ke meja, menggelinding ke arahku. Isinya tumpah sedikit, tapi botolnya tidak pecah.
Refleks, tangan kananku menyambar botol itu sebelum jatuh ke lantai. Gerakan cepat seorang restorator yang terbiasa menyelamatkan barang jatuh.
"Eh, maaf Mas!" seru perempuan itu kaget.
Aku menegakkan botol itu kembali. "Nggak apa-apa, Mbak. Aman."
Perempuan itu menatap tanganku. Matanya tertuju pada garis parut putih di telapak tanganku yang terekspos.
"Tangan Mas..." dia menunjuk ragu. "Refleksnya cepet banget. Tapi kayaknya udah sering nangkep barang tajem ya?"
Aku menarik tanganku, sedikit malu. "Oh, ini. Luka lama. Kebetulan kerjaan saya emang sering megang beling."
"Tukang kaca?" tanyanya polos.
Bagas tersedak kuah bakminya, menahan tawa.
"Bukan," jawabku sabar. "Restorator. Saya benerin barang antik yang pecah."
Mata perempuan itu berbinar. "Wah, serius? Kayak Kintsugi gitu?"
Jantungku berdesir mendengar kata itu. Kintsugi. Seni Jepang memperbaiki keramik dengan emas. Filosofi yang selama ini kubaca di buku tapi belum benar-benar kuhayati.
"Kurang lebih," jawabku. "Kenapa Mbak tau Kintsugi?"
Perempuan itu tersenyum. Senyumnya lebar, menampakkan gigi gingsul yang manis. Beda sekali dengan senyum rapi Luna.
"Saya penulis," katanya. Dia menepuk buku di mejanya. "Lagi riset buat novel baru. Tokoh utamanya seniman keramik yang percaya kalau benda rusak itu lebih cantik daripada benda utuh, karena dia punya sejarah."
Deg.
Kalimat itu menohokku.
Benda rusak itu lebih cantik karena dia punya sejarah.
Aku menatap bekas luka di tanganku. Selama ini aku menganggap luka ini, dan seluruh tragedi hantu itu, sebagai aib. Sesuatu yang memalukan. Sesuatu yang membuktikan betapa lemahnya aku.
Tapi di mata orang asing ini—penulis yang bahkan tidak tahu namaku—luka dan kerusakan adalah seni. Adalah cerita.
"Filosofi yang bagus," kataku pelan. "Siapa nama tokohnya?"
"Belum dapet nama yang pas," jawabnya. "Masih draf kasar."
"Kasih nama Arya aja," celetuk Bagas seenaknya.
Perempuan itu tertawa renyah. "Arya? Boleh juga. Kedengeran kayak nama orang yang punya banyak rahasia."
Dia melirik jam tangannya. "Eh, saya harus cabut. Makasih ya Mas Arya, udah nyelamatin botol sambelnya. Good luck sama restorasi barang antiknya. Jangan lupa, retakannya jangan disembunyiin semua. Biar 'bernapas'."
Dia membereskan barang-barangnya, mengangguk pada kami, lalu pergi menghilang di kerumunan Blok M.
Aku terpaku menatap punggungnya yang menjauh.
"Ciee," goda Bagas. "Belum apa-apa udah dapet fans."
"Diem lo."
Tapi pikiranku tidak pada perempuan itu secara romantis. Pikiranku tertuju pada kalimat terakhirnya.
Retakannya jangan disembunyiin semua. Biar bernapas.
Selama ini, dalam pekerjaanku sebagai restorator, aku selalu terobsesi pada kesempurnaan. Aku ingin menyambung pecahan serapi mungkin hingga retakannya tidak terlihat. Aku ingin menghapus jejak kerusakan.
Sama seperti aku ingin menghapus jejak patah hatiku. Aku ingin kembali "utuh" seperti sebelum bertemu Luna. Aku ingin melupakan bahwa aku pernah hancur.
Tapi itu mustahil. Dan itu salah.
Vas yang pecah tidak akan pernah bisa menjadi baru lagi. Dan hati yang patah tidak akan pernah bisa kembali polos.
Tapi vas itu bisa menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih kuat karena lem perekatnya. Sesuatu yang lebih berkarakter karena garis retakannya.
Aku meletakkan sumpitku. Mangkokku sudah kosong.
"Gas," panggilku.
"Apaan? Mau nambah?"
"Nggak. Gue mau balik."
"Lah, buru-buru amat. Baru jam satu."
"Gue dapet ide," kataku, mataku berbinar. Semangat yang sudah lama mati kini menyala lagi. Bukan semangat untuk mengejar mantan, tapi semangat untuk berkarya. "Gue tahu gimana cara nyelesaiin piring VOC itu. Dan gue tahu harus ngapain sama sisa-sisa barang di apartemen gue."
Bagas menatapku, lalu tersenyum bangga. "Nah, gitu dong. Itu baru Arya yang gue kenal."
Kami membayar makanan. Saat berjalan keluar dari kedai bakmi itu, aku merasa langkahku lebih ringan.
Matahari Jakarta masih terik. Debu masih beterbangan. Tapi udaranya terasa lebih lega.
Peta di kepalaku sudah berubah warna. Blok M bukan lagi zona merah. Blok M adalah tempat aku makan bakmi enak dan bertemu orang asing yang memberiku pencerahan.
Aku siap pulang. Bukan untuk bersembunyi di dalam gua, tapi untuk mengerjakan mahakarya terakhirku.