Cahaya matahari pukul empat sore di Jakarta Selatan memiliki warna yang khas. Warnanya bukan kuning cerah seperti pagi hari, melainkan oranye pekat yang sedikit berdebu. Cahaya lelah, kalau boleh kusebut begitu. Cahaya yang sudah melihat terlalu banyak kemacetan dan polusi, tapi tetap berusaha menghangatkan kota sebelum tenggelam.
Aku membuka pintu apartemen.
Udara di dalam tidak lagi berbau apek atau berbau "dingin" supranatural. Baunya netral. Bau pewangi ruangan aroma jeruk nipis yang sempat disemprotkan Bagas minggu lalu masih tercium samar.
Aku meletakkan kunci di mangkuk dekat pintu.
Dulu, setiap kali aku pulang, mataku akan otomatis mencari ke arah sofa. Mencari siluet wanita yang sedang membaca buku. Mencari senyum manis yang menipu.
Hari ini, mataku tetap melihat ke sofa. Tapi yang kulihat hanyalah furnitur. Busa, kain, bantal. Benda mati yang fungsinya hanya untuk diduduki, bukan untuk dipuja.
Sofa itu kosong. Dan kekosongan itu tidak lagi terasa seperti lubang hitam yang menyedot energiku. Kekosongan itu terasa seperti... ruang. Ruang yang tersedia. Ruang yang bebas.
Aku berjalan menuju meja kerjaku di sudut ruangan.
Di sana, sebuah proyek menantang sudah menanti. Bukan piring VOC milik klien—itu sudah kuselesaikan kemarin dan sudah dikirim dengan selamat.
Yang ada di meja kerjaku sekarang adalah sebuah kotak kardus kecil yang kuselamatkan dari "malam pembersihan" dua minggu lalu.
Saat Bagas sibuk menyapu, aku diam-diam mengambil satu benda yang pecah dan menyembunyikannya. Bukan karena aku belum bisa move on, tapi karena aku merasa benda ini pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Aku membuka kotak itu.
Di dalamnya, terbaring kepingan-kepingan vas keramik kecil berwarna putih polos. Ini adalah vas murah yang kami beli di pasar loak tiga tahun lalu. Tidak ada nilai sejarahnya, tidak ada nilai seninya. Tapi vas ini menjadi saksi bisu saat aku membantingnya ke lantai dalam puncak kemarahanku pada Hantu Luna.
Vas ini adalah korban dari perang emosionalku.
Aku menuangkan kepingan-kepingan itu ke atas meja kerja yang sudah dilapisi kain beludru hitam. Ada lima pecahan besar dan beberapa serpihan kecil.
Aku menyalakan lampu belajar. Cahaya fokus menyinari "pasien"-ku.
"Oke," bisikku. "Mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan."
Aku bukan lagi Arya yang ingin menyembunyikan retakan. Aku bukan lagi Arya yang ingin memutar balik waktu agar vas ini kembali mulus seperti baru beli. Itu mustahil. Vas ini sudah pernah hancur. Itu fakta sejarah yang tidak bisa dihapus.
Aku mengambil peralatan tempurku.
Bukan lem epoxy bening biasa yang transparan.
Aku mengambil botol kecil berisi Urushi—getah pohon pernis alami dari Jepang. Baunya khas, sedikit earthy dan tajam. Lalu aku mengambil wadah kecil berisi bubuk emas murni 24 karat.
Teknik Kintsugi.
Orang Jepang kuno percaya bahwa ketika sesuatu rusak, kerusakannya itu memiliki cerita. Dan cerita itu tidak boleh disembunyikan. Sebaliknya, retakan itu harus dirayakan. Harus diperjelas. Harus diberi "panggung" dengan melapisinya menggunakan logam mulia.
Aku mulai mencampur getah urushi dengan perekat. Teksturnya lengket dan kental.
Perlahan, dengan tangan yang stabil—tangan yang kini memiliki bekas luka parut tipis di telapaknya—aku mengoleskan perekat itu ke sisi-sisi pecahan keramik.
Pekerjaan ini butuh kesabaran tingkat dewa.
Jika terlalu cepat, lemnya tidak akan merekat kuat.
Jika terlalu lambat, lemnya akan mengering sebelum disambung.
Sama seperti menyembuhkan hati. Kau tidak bisa memaksanya cepat sembuh dalam semalam (seperti yang kucoba lakukan dengan menyangkal). Tapi kau juga tidak boleh membiarkannya terbuka terlalu lama tanpa diobati.
Aku menyatukan kepingan pertama dengan kepingan kedua.
Aku menahannya. Satu menit. Dua menit.
Hening.
Di dalam keheningan ini, pikiranku melayang. Bukan ke masa lalu yang menyakitkan, tapi ke sebuah pemahaman baru.
Selama ini, aku menciptakan Hantu Luna karena aku takut pada "kerusakan". Aku takut pada fakta bahwa hubungan kami gagal. Aku takut pada cacat. Di kepalaku, Luna harus sempurna, hubungan kami harus abadi, dan halaman 42 harus selalu dibaca dengan indah.
Aku menolak menerima bahwa kami retak.
Padahal, retakan itulah realitanya.
Luna yang asli pergi karena dia merasa tidak cocok. Itu retakan.
Aku yang terlalu pasif dan membosankan. Itu retakan.
Kami yang punya visi masa depan berbeda. Itu retakan.
Retakan-retakan itu nyata. Dan dengan menyangkalnya, aku justru menghancurkan diriku sendiri. Hantu itu adalah manifestasi dari penolakanku terhadap ketidaksempurnaan.
Aku menempelkan kepingan ketiga. Bentuk vas mulai terlihat kembali.
Sekarang, saatnya bagian terpenting.
Saat perekatnya setengah kering tapi masih lengket, aku mengambil kuas halus. Aku mencelupkannya ke dalam bubuk emas.
Dengan gerakan lembut, aku menaburkan emas itu di sepanjang garis retakan yang menyambung.
Garis yang tadinya hanya bekas lem jelek, kini berubah warna. Berkilau. Menyala di bawah lampu.
Garis emas itu menjalar seperti sungai cahaya di permukaan keramik putih yang polos.
Indah.
Sangat indah.
Vas ini dulu membosankan. Putih, polos, pasaran.
Tapi sekarang? Dengan garis-garis emas asimetris yang membelah tubuhnya, vas ini menjadi unik. Tidak ada vas lain di dunia ini yang memiliki pola retakan yang sama persis dengan vas ini.
Kehancurannya memberinya karakter.
Kehancurannya memberinya jiwa.
"Jadi ini maksud kamu..." gumamku, teringat pada perempuan penulis di kedai bakmi kemarin. "Biar bernapas."
Aku menyelesaikan taburan emas terakhir. Aku meniup sisa bubuk yang berlebih.
Vas itu berdiri di mejaku. Utuh kembali, namun berubah total. Dia tidak menyembunyikan fakta bahwa dia pernah dibanting. Dia justru memamerkannya dengan bangga: Lihat, aku pernah hancur, tapi aku bertahan, dan kini aku lebih berharga.
Aku menyandarkan punggung ke kursi, menghela napas panjang. Rasanya lega sekali. Seolah-olah garis emas itu bukan hanya menambal vas, tapi juga menambal rongga di dadaku.
Aku melihat telapak tanganku. Bekas lukaku.
Mungkin aku tidak bisa menaburkan emas di kulitku. Tapi aku bisa memperlakukan ingatan tentang Luna seperti emas itu.
Aku tidak perlu melupakannya (membuang pecahannya).
Aku juga tidak perlu terobsesi padanya (mencoba menyatukan paksa agar mulus lagi).
Aku hanya perlu mengakuinya sebagai bagian dari sejarahku. Bagian yang membentuk siapa aku hari ini.
"Terima kasih," bisikku. Entah kepada siapa. Mungkin kepada Tuhan, mungkin kepada Bagas, mungkin kepada Luna, atau mungkin kepada diriku sendiri yang berhasil bertahan hidup.
Aku berdiri, membawa vas yang baru selesai itu ke dekat jendela.
Langit Jakarta sudah berubah menjadi ungu gelap. Lampu-lampu gedung bertingkat mulai menyala, menciptakan konstelasi bintang buatan di cakrawala.
Aku meletakkan vas itu di ambang jendela.
Besok pagi, saat matahari terbit, sinar pertamanya akan mengenai garis emas di vas ini. Dan itu akan menjadi pemandangan yang spektakuler.
Aku berbalik menatap apartemenku.
Masih sepi. Masih sendirian.
Tapi kesendirian ini tidak lagi menakutkan. Ini adalah solitude, bukan loneliness. Ini adalah kesendirian yang produktif.
Aku berjalan ke arah sofa biru itu.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku duduk di sana. Di sisi kiri. Di tempat biasanya Hantu Luna duduk.
Aku menyentuh sandaran tangan sofa. Kainnya terasa kasar di kulit. Dingin, tapi dingin yang wajar karena AC.
Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan ponsel.
Aku membuka galeri foto. Menggulir ke bawah, jauh ke bawah, ke tahun-tahun yang lalu.
Aku menemukan satu foto. Foto aku dan Luna saat mendaki Gunung Papandayan. Kami berdua kucel, berkeringat, rambut lepek, tapi tertawa lebar dengan latar belakang hutan mati.
Tidak ada pose cantik. Tidak ada filter estetik. Hanya dua manusia yang kelelahan tapi bahagia.
Aku menatap foto itu lama.
Dulu, melihat ini membuatku ingin mati rasa.
Sekarang, aku melihatnya dan tersenyum tipis.
"Kita pernah bahagia ya, Lun," gumamku pada layar ponsel. "Dan itu nyata. Bukan imajinasi."
Itu cukup. Fakta bahwa kebahagiaan itu pernah ada sudah cukup. Tidak perlu diperpanjang, tidak perlu diulang. Itu sudah selesai, seperti buku yang sudah tamat di halaman terakhir.
Aku tidak menghapus foto itu. Tapi aku memindahkannya dari folder "Favorit" ke folder "Arsip".
Aku menyimpan kenangan itu di tempatnya: di masa lalu. Bukan di ruang tamu masa kini.
Perutku berbunyi pelan. Ah, lapar lagi. Efek makan bakmi tadi siang sudah habis.
Aku membuka aplikasi pesan antar makanan.
Dulu, aku selalu memesan apa yang Luna suka. Martabak manis, sate padang, sushi.
Hari ini, aku bertanya pada diriku sendiri: Arya, lo lagi pengen makan apa?
Aku menggulir menu. Mataku tertumbuk pada gambar nasi goreng kambing yang berminyak dan pedas. Luna benci kambing karena baunya. Aku suka banget kambing. Selama dua tahun, aku jarang makan ini demi menghargai hidungnya.
Aku menekan tombol Pesan.
"Nasi Goreng Kambing Pedas, satu. Telur dadar, satu."
Sambil menunggu makanan datang, aku mengambil buku sketsa kosong dan pensil dari meja kerja.
Aku duduk kembali di sofa.
Bukan membaca buku halaman 42.
Aku mulai menggambar. Aku membuat sketsa vas Kintsugi yang baru saja kubuat. Goresan pensilku kasar, tapi bebas.
Ruangan ini hening, tapi bukan hening yang kosong. Ruangan ini penuh dengan potensi.
Hantunya sudah pergi.
Residunya sudah kubersihkan.
Luka-lukanya sudah kurekatkan dengan emas.
Aku Arya. Aku seorang Restorator.
Dan proyek terbesarku—memperbaiki diriku sendiri—baru saja selesai tahap pertamanya.
Besok adalah hari baru. Mungkin aku akan pergi ke toko buku lagi. Mungkin aku akan bertemu perempuan penulis itu lagi, atau mungkin tidak. Mungkin aku akan belajar makan sendirian di restoran mewah.
Apapun itu, aku siap.
Karena aku tahu, kalaupun aku hancur lagi nanti, aku punya cukup banyak emas untuk menyatukan kepingannya kembali.
Aku menutup buku sketsa, meletakkannya di meja.
Di luar, suara motor pengantar makanan terdengar mendekat. Kehidupan memanggil.
Aku berdiri, berjalan ke pintu, dan membukanya lebar-lebar.
— TAMAT —