Tinta Darah

Penulis djoedo
20 January 2026

Bunyi itu bukan berasal dari mesin diesel tua Laju Sanjaya. Dia melainkan dari langit-langit yang tak kasat mata, sebuah bunyi duk, duk, duk ritmis yang menyerupai suara stempel raksasa menghantam tumpukan dokumen basah.

Bram menelan ludah yang terasa seperti pasir besi. Di luar jendela, pemandangan jurang ungu dan jembatan tulang itu perlahan memudar, digantikan oleh dinding-dinding menjulang yang terbuat dari ribuan lemari arsip berkarat. Logam-logam itu berderit, seolah sedang mengunyah satu sama lain. Bau ozon tajam bercampur dengan aroma anyir darah kering menyeruak masuk melalui celah ventilasi bus, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada. Ini bukan sekadar gerbang tol; ini adalah loket penagihan hutang kosmik.

Bus melambat dengan sentakan kasar. Roda-rodanya tidak lagi menggilas aspal atau tulang, melainkan sesuatu yang lunak dan becek—seperti tumpukan kertas bubur yang direndam dalam cairan empedu.

"Siapkan berkas perkara," suara Jaka, sang kondektur, terdengar seperti gesekan kertas amplas di atas kaca. Ia tidak berjalan; ia meluncur di lorong bus, kakinya tak tampak bergerak, seolah lantai bus yang mendorongnya maju. Seragamnya yang kusam kini tampak menempel ketat di kulit, memperlihatkan tekstur otot yang tidak wajar, seakan-akan tubuhnya terbuat dari kawat baja yang dipilin.

Di bagian paling depan, tepat di sebelah kursi Pak Tua yang masih setia memutar kemudi tanpa arah, ruang udara terdistorsi. Sebuah meja mahoni besar yang lapuk bermanifestasi dari kabut asap rokok klembak menyan. Di balik meja itu, kegelapan memadat. Tidak ada wajah, tidak ada mata, hanya siluet setelan jas kedodoran dan sepasang tangan pucat dengan jari-jari yang terlalu panjang, memegang pena bulu yang meneteskan tinta merah kental.

Sang Auditor.

"Giliran pertama," gumam Jaka, matanya yang kosong menatap lurus ke arah Siti.

Wanita itu bangkit. Kebayanya yang lusuh tampak semakin berat, seolah kain itu menyerap kelembapan neraka di sekitarnya. Ia mendekap buntalan kain jarik "bayinya" dengan gemetar. Tidak ada tangisan. Hanya rembesan cairan hitam yang menetes dari balik kain, meninggalkan jejak noda menyerupai oli bekas di lantai bus yang berdenyut.

Siti melangkah gontai menuju meja mahoni itu. Jari-jari panjang Sang Auditor bergerak, membuka sebuah buku besar yang halamannya terbuat dari kulit manusia yang disamak kasar. Suara pena menggores kertas terdengar memilukan, srekk, srekk, seperti pisau bedah mengiris dermis.

"Aset..." suara itu tidak keluar dari mulut, melainkan bergaung langsung di dalam tempurung kepala Bram, menyebabkan migrain instan. Suaranya ganda, tumpang tindih antara bisikan wanita tua dan geraman binatang buas. "...Depresiasi moral. Nilai sisa: Nihil."

Sang Auditor mengulurkan tangan. Siti, dengan air mata yang telah mengering menjadi kristal garam di pipinya, menyerahkan buntalan itu. Saat kain jarik tersingkap sedikit, Bram melihatnya. Bukan bayi. Bukan pula sekadar batu nisan. Itu adalah gumpalan daging yang membatu, berukir nama yang tak sempat diucapkan, berdenyut lemah seirama dengan lampu bus yang berkedip sekarat.

BLAM.

Stempel dihantamkan. Siti menjerit tanpa suara saat sebagian dari esensinya—cahaya redup di matanya—terhisap masuk ke dalam buku besar itu. Ia kembali ke kursinya, lebih transparan dari sebelumnya, seolah ia baru saja membayar pajak dengan memudarkan eksistensinya sendiri.

Di kursi belakang, Maya hanya mengamati. Tatapannya tajam, tidak ada ketakutan, hanya perhitungan dingin. Ia menyalakan sebatang rokok, asapnya membentuk pola spiral yang melawan hukum fisika, tidak naik ke atas melainkan merayap turun ke lantai. "Jangan tawarkan apa yang tidak kau miliki, Bram," bisiknya, suaranya melayang melewati deretan kursi kosong. "Dia tahu bedanya antara kertas dan daging."

Bram tidak peduli. Insting bertahan hidupnya yang primitif mengambil alih. Ia adalah Bram, manipulator anggaran, ahli mark-up proyek, pesulap angka. Ia mencengkeram tas kulitnya erat-erat. Tas itu terasa hangat, menjijikkan, seperti memegang perut hewan yang baru disembelih. Uang di dalamnya bergerak-gerak gelisah, mendesis pelan.

"Selanjutnya."

Jaka menunjuk Bram dengan telunjuk yang ujungnya menghitam karena nekrosis.

Bram berdiri, lututnya goyah. Ia menyeret tas itu—yang kini terasa seberat dosa seumur hidup—menuju depan. Lantai bus terasa lengket, sepatu pantofel mahalnya berdecit ngeri setiap kali ia melangkah, seolah lantai itu mencoba menahannya, mencicipi sol sepatunya.

Ia sampai di depan meja mahoni. Bau busuk itu semakin menjadi-jadi. Bau uang lama yang disimpan di gudang lembap, bercampur dengan bau kamar mayat.

"Saya... saya bisa bayar," ujar Bram, suaranya pecah namun dipaksakan tegas. Ia membanting tas itu ke atas meja. "Ada ratusan juta di situ. Cukup untuk tiket VIP. Cukup untuk putar balik. Cukup untuk menyumpal mulut siapa pun di birokrasi ini."

Sang Auditor tidak bergerak. Pena bulu itu berhenti menggores. Hening yang menyakitkan menyelimuti bus Laju Sanjaya, hanya dipecahkan oleh suara napas Pak Tua yang berbunyi grok-grok basah.

Perlahan, tas itu terbuka sendiri. Bukan karena ritsletingnya ditarik, melainkan kulit tas itu robek seperti luka yang menganga.

Tumpukan uang merah pecahan seratus ribu itu menyembul keluar. Tapi ada yang salah. Gambar pahlawan di lembaran uang itu tidak lagi tersenyum wibawa; wajah mereka terdistorsi dalam ekspresi jeritan abadi, mata mereka melotot putih. Dan uang itu basah. Lendir merah muda melapisinya.

"Mata uang tidak sah," gema suara Sang Auditor, kali ini terdengar geli, sebuah tawa kering yang meretakkan kaca jendela bus. "Inflasi dosa terlalu tinggi. Nilai tukar jatuh."

"Ini uang asli!" bentak Bram, panik mulai menggerogoti logikanya. Ia merogoh ke dalam tas, mencoba mengambil gepokan uang untuk membuktikannya.

Kesalahan fatal.

Begitu tangannya masuk, uang-uang itu menggigit.

Ribuan gigi mikroskopis yang tumbuh di pinggiran kertas tajam itu menggerogoti kulit tangan Bram. Ia menjerit, mencoba menarik tangannya, tapi tas itu—entitas itu—mengunyah pergelangan tangannya dengan lahap. Darah segar menyembur, bukan tumpah ke meja, tapi terhisap masuk ke dalam serat-serat uang kertas itu, membuat warna merahnya semakin menyala, semakin hidup.

"Bunga keterlambatan," Jaka berbisik di telinganya, napasnya bau formalin. "Kau pikir itu uangmu? Itu darah mereka yang kau hisap anggarannya. Sekarang mereka lapar."

Bram meronta sekuat tenaga, menendang meja mahoni. Dengan satu sentakan brutal yang merobek kulit punggung tangannya, ia berhasil membebaskan diri. Ia terpelanting ke belakang, jatuh berguling di lantai yang kini mulai berombak.

"Audit ditangguhkan. Penahanan aset fisik diperlukan," Sang Auditor mengetuk palu sidang—yang ternyata adalah tulang femur manusia.

Lampu bus padam total selama satu detik. Gelap gulita yang absolut.

Ketika lampu menyala kembali dengan cahaya kuning temaram yang sakit-sakitan, interior bus telah berubah. Dinding bus bukan lagi pelat besi berkarat. Dinding itu kini dilapisi kulit manusia yang dibentangkan, penuh dengan tato angka-angka, tanggal, dan nominal korupsi yang pernah Bram lakukan. Setiap kursi penumpang berubah bentuk menjadi gundukan daging yang menyerupai wajah-wajah orang yang pernah ia tipu, mulut mereka ternganga lebar membentuk sandaran kursi.

Bram merangkak mundur, menjauhi tasnya yang kini tumbuh kaki-kaki serangga kecil dari uang kertas, merayap perlahan ke arahnya.

"Duduk, Pak Bram," perintah Jaka. Nadanya bukan lagi perintah kondektur, tapi sipir penjara.

Bram terpojok di kursi nomor 13. Begitu punggungnya menyentuh sandaran, ia merasakan sensasi basah dan panas. "Kursi" itu memeluknya. Serat-serat daging dari sandaran kursi mulai menjulur, menembus kemeja mahalnya, menyatu dengan pori-pori kulit punggungnya. Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya telah menjadi satu dengan bus.

Ia bukan lagi sekadar penumpang. Ia adalah bagian dari inventaris.

Dari kursi belakang, Maya menghembuskan asap rokok terakhirnya. "Proses asimilasi dimulai," katanya datar, seolah sedang membaca ramalan cuaca. "Bertahanlah, Bram. Perhentian berikutnya adalah 'Kantor Pusat'. Kau akan menyukainya. Di sana, lembur tidak pernah berakhir."

Bus Laju Sanjaya menderu, mesinnya menjerit seperti paduan suara orang-orang terkutuk. Roda-roda kembali berputar, melaju menembus gerbang dokumen yang kini terbakar api biru, membawa mereka lebih dalam ke perut kegelapan di mana logika matematika dan moralitas telah lama mati membusuk.

Di lantai, tas uang itu berhenti mengejar. Ia menunggu. Ia tahu tuannya tidak bisa lari ke mana-mana.