Audit Daging dan Dosa

Penulis djoedo
20 January 2026

Kalimat Jaka menggantung di udara, berat dan berlendir seperti dahak yang enggan jatuh. Bram tidak sempat menjawab; gravitasi di sekelilingnya mendadak berlipat ganda, menariknya jatuh bukan ke lantai besi bergelombang bus Laju Sanjaya, melainkan ke bibir jurang yang baru saja menganga di sana. Itu bukan lubang biasa. Di tepiannya, ratusan stapler berkarat dan pencabut paku tua tertanam tak beraturan, beradu gemeretak seperti rahang serangga raksasa yang kelaparan.

"Argh!" Bram mengerang. Lututnya menghantam gerigi besi itu. Rasa sakit yang tajam dan dingin menusuk hingga ke sumsum, namun rasa ngeri melihat apa yang ada di dalam lubang itu jauh lebih melumpuhkan.

Tidak ada aspal jalan raya di bawah sana. Yang ada hanya kegelapan yang berdenyut, sebuah esofagus mekanikal yang dinding-dindingnya dilapisi tumpukan kertas karbon basah dan kulit manusia yang telah disamak kasar. Bau di sana adalah campuran dari tinta busuk, keringat kepanikan, dan aroma anyir darah yang telah mengering selama dekade.

Tas berisi uang korupsi itu kini bukan lagi beban mati. Benda itu hidup. Akar-akar halus berwarna ungu kehitaman yang menjulur dari sela-sela ritsleting tas telah menembus jaket Bram, menjahit kain denim itu langsung ke daging pinggangnya. Semakin Bram mencoba menarik diri menjauh dari lubang, semakin kuat tas itu menyentak, seolah-olah tumpukan uang di dalamnya memiliki kesadaran kolektif yang mendambakan penyatuan dengan kegelapan di bawah. Uang itu ingin pulang.

"Lepaskan!" teriak Bram, jari-jarinya mencakar lantai bus yang kini terasa lunak seperti gusi bengkak. Kuku-kukunya patah, meninggalkan goresan di permukaan yang mengeluarkan nanah hitam berbau oli.

Jaka tidak bergerak. Ia hanya berdiri menjulang, seragam kondekturnya yang kusam tampak menyatu dengan bayangan kabin. Wajahnya datar, tanpa emosi, seperti manekin yang ditinggalkan di gudang terbakar. "Barang bawaan adalah tanggung jawab penumpang," gumamnya dengan suara parau, suara yang terdengar seperti gesekan kertas ampelas kasar. "Dan kau membawa terlalu banyak beban, Pak Bram. Audit harus dilakukan."

Sebuah komplikasi baru muncul bukan dari Jaka, melainkan dari tas itu sendiri. Ritsleting tas itu perlahan terbuka sendiri dengan suara zzzzzt yang nyaring dan menyakitkan telinga. Bukan lembaran rupiah merah yang menyembul keluar, melainkan cairan kental berwarna abu-abu—bubur kertas yang tercipta dari uang yang telah dicerna oleh kebencian. Cairan itu meleleh keluar, merambat naik ke lengan Bram, membakar kulitnya dengan rasa dingin yang tidak wajar.


Dari sudut matanya yang mulai buram karena air mata kesakitan, Bram melihat pergerakan di bangku belakang. Auditor. Sosok itu melangkah maju. Tidak ada bunyi langkah kaki; ia melayang sesenyap asap rokok. Di tangannya tergenggam sebuah buku besar bersampul kulit—kulit yang memiliki pori-pori dan tahi lalat, persis seperti punggung manusia.

"Neraca tidak seimbang," suara Auditor bergema, bukan di telinga Bram, tapi langsung di dalam batok kepalanya. Suara itu terdengar basah, seperti seseorang yang berbicara dengan mulut penuh darah. "Aset likuidmu... busuk."

Dinding bus mulai bergetar hebat. Kaca-kaca jendela yang sebelumnya menampilkan kabut abadi kini berubah. Pemandangan di luar sana melengkung, memelintir realitas. Kabut itu menipis, memperlihatkan sebuah ruangan sempit dengan cat dinding yang mengelupas. Itu adalah apartemen kontrakan Bram di Jakarta.

Bram terbelalak. Di tengah proyeksi mengerikan di kaca jendela itu, ia melihat sosok wanita duduk membelakangi, bahunya terguncang hebat. Santi.

"Santi?" Bram berbisik, suaranya tercekat.

Namun, sosok itu tidak berbalik. Justru, suara isak tangis Santi mulai memenuhi kabin bus, bercampur dengan deru mesin tua Laju Sanjaya yang menderum seperti binatang buas yang sekarat. Suara tangis itu terdistorsi, berubah menjadi lengkingan statis radio yang menyayat hati.

Maya, yang duduk mematung beberapa baris di depan, perlahan menoleh. Lehernya berputar dengan sudut yang sedikit terlalu jauh untuk anatomi manusia normal, menghasilkan bunyi krek kering. Matanya yang kosong menatap Bram dengan sorot yang sulit diartikan, campuran antara kasihan dan jijik yang mendalam.

"Dia tidak menangis untukmu, Bram," bisik Maya. Suaranya terdengar jauh, seolah datang dari dasar sumur. "Dia menangis untuk apa yang kau tinggalkan di rahimnya. Benih yang kau tanam dengan janji palsu, kini menjadi bahan bakar bus ini."

Bram menggeleng panik, berusaha menolak narasi itu, namun realitas di dalam bus tidak mengizinkan penyangkalan. Lantai di sekitar lubang menganga itu mulai berubah tekstur. Besi bergelombang itu melunak, membentuk kontur wajah-wajah kecil yang menjerit tanpa suara. Wajah-wajah janin yang tak pernah lahir. Salah satunya memiliki fitur wajah Bram.

"Kau melarikan diri dari tanggung jawab," Auditor melanjutkan, kini berdiri tepat di samping kepala Bram yang terhimpit ke lantai. Pena bulu di tangannya meneteskan tinta merah pekat ke atas buku besarnya. "Di sini, pelarian adalah bentuk mata uang tertinggi. Dan kau... kau bangkrut secara moral."


Dalam keputusasaan yang memuncak, Bram melakukan satu-satunya hal yang dipikirkan oleh naluri bertahan hidup hewani: tawar-menawar.

"Ambil uangnya! Ambil semuanya!" teriak Bram histeris. Ia merenggut tas yang menempel di pinggangnya dengan kedua tangan, mengabaikan rasa sakit luar biasa saat akar-akar parasit itu tercabut paksa dari dagingnya. Darah segar muncrat, membasahi kemeja putihnya yang sudah kotor. Dengan tenaga terakhir, ia melepaskan tas itu dan mendorongnya masuk ke dalam lubang stapler yang menganga.

Tas itu jatuh. Ditelan kegelapan.

Untuk sesaat, rahang-rahang besi di tepian lubang berhenti bergemeretak. Suara mesin bus mereda menjadi dengkuran halus. Bram terengah-engah, tergeletak di lantai yang lengket, berpikir bahwa ia telah berhasil membayar upeti. Ia mengira telah membeli kebebasannya dengan mengorbankan hasil curiannya. Sebuah kemenangan kecil di tengah kegilaan.

"Sudah... sudah kubayar," desis Bram, mencoba bangkit meski kakinya gemetar hebat.

Namun, tawa meledak dari Jaka. Tawa itu kering, tanpa humor, seperti suara ranting patah di hutan mati. Pak Tua di kursi pengemudi ikut menoleh, dan untuk pertama kalinya Bram melihat sekilas wajah di balik topi pet itu, tidak ada wajah, hanya sebuah lubang hitam yang menghisap cahaya, dengan sebatang rokok kretek yang menyala melayang di tengah kekosongan itu.

"Kau pikir kertas-kertas itu berharga di sini?" cemooh Jaka.

Dari dalam lubang di lantai, terdengar suara gemuruh. Detik berikutnya, tas itu dimuntahkan kembali dengan kekuatan ledakan. Tas itu meledak di udara, menghamburkan isinya ke seluruh kabin.

Tapi bukan uang yang berhamburan. Yang jatuh menghujani Bram adalah ribuan gigi manusia yang berlumuran darah, bercampur dengan potongan-potongan kuku dan rambut. Uang haram itu telah bermetamorfosis menjadi limbah biologis, sampah organik yang tidak memiliki nilai tukar apa pun di dimensi Laju Sanjaya.

"Kami tidak butuh kertas, Bram," suara Auditor terdengar lebih dekat, lebih dingin. Ia membungkuk, wajahnya yang samar kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah Bram. Bau napasnya seperti formalin dan bunga kamboja layu. "Mata uang di bus ini adalah penderitaan. Dan kau mencoba menyogok kami dengan sampah?"

Harapan Bram hancur berkeping-keping, sama seperti gigi-gigi yang kini berserakan di sekelilingnya. Ia tidak menang. Ia justru baru saja menghina tuan rumahnya.


"Pemberhentian selanjutnya: Penagihan Paksa," seru Jaka, suaranya bergema seperti pengumuman stasiun kereta api, namun dengan nada ancaman yang kental.

Bus Laju Sanjaya tiba-tiba menyentak maju. Bukan sekadar melaju, bus itu melesat dengan akselerasi yang mustahil. Kekuatan tarikan yang tercipta menekan tubuh Bram kembali ke lantai, tepat di tepi lubang yang kini melebar dua kali lipat. Pemandangan di jendela berubah menjadi terowongan cahaya merah dan hitam yang berputar-putar memusingkan. Mereka menembus ruang dan waktu dengan kecepatan yang merobek kewarasan.

Angin kencang menderu masuk dari lubang di lantai, menarik kaki Bram. Ia merasakan tarikan vakum yang dahsyat. Kakinya tergelincir masuk.

"Tidaaak!" Bram mencengkeram kaki kursi besi di dekatnya. Besi itu dingin membekukan, membakar telapak tangannya.

Ia bergelantungan. Setengah tubuhnya kini berada di dalam lubang, berayun-ayun di atas kehampaan yang penuh dengan roda gigi raksasa yang berputar lambat di kegelapan bawah sana. Roda-roda gigi itu dilumuri darah kental sebagai pelumas. Bram bisa melihat tubuh-tubuh manusia lain terjepit di antara gerigi roda itu, penumpang-penumpang sebelumnya yang gagal membayar. Mereka masih hidup, mengerang lirih, digiling perlahan dalam siklus abadi birokrasi neraka ini.

Di atasnya, Auditor berdiri tegak, tidak terpengaruh oleh guncangan bus. Ia mengangkat stempel besarnya tinggi-tinggi. Stempel itu terbuat dari tulang paha manusia yang diukir runcing.

"Satu kaki untuk satu penundaan," kata Auditor datar. "Kau punya dua pilihan, Bram. Masuk sukarela dan menjadi bagian dari mesin ini, atau biarkan kami mengambil apa yang menjadi hak kami, potong demi potong."

Stempel itu menghujam turun, mengarah tepat ke jari-jari Bram yang mencengkeram kaki kursi.

Bram menjerit, bukan karena rasa sakit yang belum datang, tapi karena pemahaman absolut yang kini menghantam kesadarannya: Tidak ada jalan keluar yang bisa dibeli. Di bus ini, dia bukan penumpang. Dia adalah kargo. Dan Laju Sanjaya baru saja memasuki jalan turunan yang curam tanpa rem.

Jaka menendang bahu Bram, memaksanya semakin melorot ke dalam mulut lantai yang lapar itu. "Nikmati perjalanannya, koruptor. Kita baru saja masuk gigi tinggi."