Gigi tinggi itu bukan metafora, melainkan jeritan fisik dari mesin tua yang meraung seperti binatang purba yang sedang disembelih. Lantai bus bergetar begitu hebat hingga tulang-tulang di pergelangan tangan Bram terasa beradu satu sama lain, menciptakan irama gemeretak yang menyatu dengan simfoni kekacauan di sekelilingnya. Sebelum ia sempat memproses rasa sakit akibat tendangan Jaka, stempel tulang di tangan Auditor itu menghujam turun.
Krak.
Bukan suara hantaman benda tumpul, melainkan bunyi basah dari kartilago yang remuk.
Bram melolong, suara yang pecah dan parau, hilang ditelan deru angin hitam yang berpusar di dalam kabin. Ujung stempel itu tidak menggunakan tinta. Benda itu panas, membakar kulit punggung tangannya dengan sensasi dingin yang paradoksal, meninggalkan bekas hangus beraroma daging bakar dan sulfur. Rasa sakitnya tidak terlokalisir; ia menjalar naik ke lengan, meracuni aliran darahnya dengan kepanikan purba.
"Pembayaran diterima sebagian," gumam Auditor itu. Suaranya tidak keluar dari mulut, melainkan bergema langsung di dalam tempurung kepala Bram, tumpang tindih dengan suara gesekan logam berkarat di bawah sana.
Cengkeraman Bram melemah. Gravitasi di dalam bus itu terasa miring, seolah-olah Laju Sanjaya sedang menukik tajam ke dalam jurang tanpa dasar. Di bawah kakinya yang bergelantungan, roda-roda gigi raksasa berputar lambat namun pasti, dilumasi oleh cairan kental berwarna merah tua yang menetes dari sela-sela kursi penumpang lain. Itu bukan oli. Bau amis yang menyengat hidung Bram memastikan itu adalah darah yang sudah membusuk.
Dengan sisa tenaga yang dipacu adrenalin, Bram menyentakkan tubuhnya ke atas. Kakinya menendang udara kosong, lalu entah bagaimana berhasil mengait pada pinggiran lubang yang bergerigi. Ia merangkak naik, menyeret tubuhnya kembali ke lantai bus yang kotor, terengah-engah seperti ikan yang dilempar ke daratan kering. Ia meringkuk, memeluk tangannya yang hancur, menatap nanar pada simbol yang kini terpatri di kulitnya: sebuah angka nol yang melingkari mata yang menangis.
Jaka tidak lagi menendangnya. Kondektur itu sudah berbalik, berjalan terhuyung-huyung menyusuri lorong bus dengan gerakan patah-patah yang tidak wajar, seolah persendian lututnya dipasang terbalik.
"Tiket selanjutnya..." desis Jaka pada kekosongan.
Bram mencoba memfokuskan pandangannya. Realitas di dalam bus ini semakin cair. Dinding-dinding logam bus mulai melengkung, teksturnya berubah dari besi dingin menjadi sesuatu yang lunak dan berpori. Seperti dinding lambung raksasa. Dan di kursi depan, tempat Maya tadi duduk, kini kosong.
Tidak, tidak kosong.
Ada sesuatu yang tumbuh dari jok kursi itu. Busa kursi yang robek merekah seperti luka yang terinfeksi, memuntahkan gumpalan daging berwarna abu-abu yang perlahan membentuk siluet manusia. Bram ingin memejamkan mata, tapi kelopak matanya terasa kaku, dipaksa terbuka oleh kekuatan tak kasat mata untuk menyaksikan dosa yang ia tinggalkan di Jakarta.
Sosok itu memadat. Rambut hitam panjang yang kusut, basah oleh lendir ketuban yang berbau anyir. Tubuhnya membengkak tidak wajar, perutnya membesar seolah siap meledak. Wajah itu... Bram mengenal gurat wajah itu meskipun kini tertutup memar dan pembuluh darah yang menghitam.
"Santi?" bisik Bram. Suaranya tercekat di tenggorokan yang kering.
Sosok itu tidak menoleh. Ia duduk diam, menatap lurus ke depan, ke arah jalanan gelap yang membentang tanpa ujung di balik kaca depan yang retak. Namun, perutnya bergerak. Ada sesuatu yang menendang dari dalam, bukan tendangan bayi, melainkan gerakan kasar sesuatu yang bertanduk atau bercakar. Kain daster lusuh yang dikenakan sosok itu basah kuyup di bagian bawah.
"Kau meninggalkannya di klinik itu, Bram," suara Auditor terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Sosok jangkung itu kini berdiri tepat di samping Bram yang masih terkapar di lantai. "Kau membayar dokter itu dengan uang yang kau curi, lalu kau lari. Kau pikir jarak bisa menghapus noda?"
"Itu... itu kesepakatan bersama," racau Bram, mencoba membenarkan diri, namun kata-katanya terasa hampa, seringan abu rokok. Ia mencoba mundur, menyeret punggungnya menjauhi sosok Santi dan Auditor.
"Kesepakatan?" Auditor itu tertawa. Bukan tawa manusia, melainkan suara gemerincing koin jatuh ke lantai batu. "Mari kita audit nilai kesepakatan itu."
Auditor mengulurkan tangannya yang kurus dan panjang ke arah sosok Santi. Ia tidak menyentuhnya, melainkan menarik benang merah tak kasat mata dari perut wanita itu. Seketika, dinding bus berdenyut. Lampu kabin yang remang-remang berkedip, memancarkan cahaya merah yang menyakitkan mata.
Bram merasakan tas uang yang masih terkalung di lehernya memberat. Tas kulit berisi uang hasil korupsi yang selama ini ia jaga mati-matian, benda yang menjadi alasan ia berada di neraka berjalan ini. Ia mendekap tas itu erat-erat, satu-satunya pegangan nyatanya pada "kesuksesan" duniawi.
"Aku punya uang!" teriak Bram histeris, menyodorkan tas itu ke hadapan Auditor, berharap bisa menyuap entitas mengerikan ini seperti ia menyuap pejabat di Jakarta. "Ambil semuanya! Biarkan aku turun! Turunkan aku di mana saja!"
Tangan Bram yang gemetar merobek resleting tas. Ia berharap melihat tumpukan uang kertas merah dan biru yang rapi. Ia berharap melihat tiket kebebasannya.
Namun, yang tumpah keluar bukanlah uang.
Dari dalam tas itu, meluncur keluar usus-usus basah yang berbelit-belit, potongan hati yang menghitam, dan gumpalan daging busuk yang dikerubungi belatung. "Uang" itu telah bermetamorfosis menjadi limbah organik yang menjijikkan. Bau busuk bangkai seketika memenuhi rongga hidung Bram, membuatnya tersedak muntahannya sendiri.
"Harta bendamu sudah dikonversi ke nilai tukar yang berlaku di sini," kata Auditor dingin. Ia menunjuk tumpukan jeroan itu dengan tongkatnya. "Nilainya nol. Bahkan kurang. Itu hanya beban biologis yang membusuk."
Bram menatap horor pada tangannya yang kini berlumuran darah dan lendir dari "uang" yang ia bawa. Ia melempar tas itu jauh-jauh seolah benda itu terbakar, tapi baunya sudah menempel, meresap ke dalam pori-pori kulitnya. Rasa jijik yang viseral merayap naik dari perut ke kerongkongannya. Ia telah memeluk bangkai selama perjalanan ini. Ia telah membunuh demi sampah ini.
"Tidak... tidak mungkin..." Bram merintih, kewarasannya mulai terkelupas lembar demi lembar.
Bus Laju Sanjaya tiba-tiba berbelok tajam. Bukan belokan fisik di jalan aspal, melainkan belokan dimensi yang membuat isi perut Bram terlempar ke segala arah. Pemandangan di luar jendela berubah. Hutan jati yang gelap lenyap, digantikan oleh dinding-dinding keramik putih yang kotor dan bernoda darah, lorong klinik aborsi tempat ia meninggalkan Santi. Namun, lorong itu memanjang tanpa batas, diterangi lampu neon yang berdengung seperti lalat yang marah.
Jaka kembali muncul dari kegelapan lorong bus, kali ini ia membawa tang catut besi berukuran besar yang berkarat.
"Potongan pajak," geram Jaka. Matanya yang putih sepenuhnya menatap jari manis Bram, jari di mana cincin pertunangannya dengan wanita lain (bukan Santi) melingkar. "Untuk setiap kebohongan, ada tarifnya."
Bram mencoba bangkit, tapi lantai bus kini terasa lengket, seperti lidah raksasa yang menahannya tetap di tempat. Sosok Santi di kursi depan perlahan memutar kepalanya 180 derajat. Tulang lehernya berderak patah. Wajahnya rata. Tidak ada mata, tidak ada hidung, hanya sebuah mulut vertikal yang dijahit kasar dengan benang kawat, mengeluarkan suara tangisan bayi yang terdistorsi.
"Waktunya audit aset tetap," ucap Auditor, mengangkat stempel tulangnya tinggi-tinggi sekali lagi.
Kali ini, targetnya bukan tangan. Targetnya adalah dada kiri Bram, tepat di mana jantungnya berpacu liar dalam ritme ketakutan yang mematikan.
Di luar, "klinik" itu runtuh, digantikan kembali oleh kegelapan kosmik Pantura yang abadi. Namun Bram tahu, tidak ada jalan pulang. Satu-satunya jalan keluar adalah melalui rasa sakit yang dijanjikan oleh instrumen di tangan mereka. Bus ini tidak akan berhenti sampai ia benar-benar telanjang, tanpa uang, tanpa ego, tanpa dosa yang bisa disembunyikan.
"Buka bajumu," perintah Jaka, mengarahkan catut itu ke kancing kemeja Bram yang sudah basah oleh keringat dingin. "Kita lihat seberapa hitam isinya."