Tang itu menjepit kancing kemeja paling atas Bram dengan presisi yang mengerikan, logam dinginnya menyentuh kulit leher yang basah oleh keringat dingin. Krak. Suara plastik pecah terdengar lebih nyaring dari guntur di luar jendela. Jaka tidak sekadar membuka baju itu; ia merobeknya, menarik serat kain murahan itu hingga benangnya menjerit putus, membiarkan bilah tang yang berkarat menggores dada Bram, meninggalkan jejak merah memanjang yang perih.
Bram mencoba menendang, meronta seperti ikan yang diletakkan di atas talenan, tetapi lantai bus Laju Sanjaya telah berubah menjadi rawa daging. Cairan kental berbau formalin dan anyir darah merembes dari sela-sela sambungan pelat besi, menjerat punggung dan kakinya. Perekat organik itu menyedotnya, membuatnya menyatu dengan anatomi bus terkutuk ini.
"Jangan... kumohon, ambil saja uangnya!" Bram meracau, matanya terbelalak menatap langit-langit bus yang kini berdenyut pelan, seolah-olah atap itu adalah diafragma raksasa yang sedang bernapas.
"Uang?" Suara Auditor terdengar datar, tanpa emosi, namun bergema di dalam rongga tengkorak Bram. Ia tidak menoleh ke arah tumpukan usus dan hati busuk yang dulunya adalah tas berisi uang jarahan Bram. "Alat tukar di sini bukan kertas, Bram. Mata uang kami adalah bobot dosamu."
Jaka menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam dan runcing seperti paku berkarat. Dengan satu sentakan kasar, ia mengoyak sisa kemeja Bram hingga dada kirinya telanjang sepenuhnya. Kulit pucat itu kini terekspos di bawah cahaya lampu kabin yang berkedip suram, siap menerima vonis.
Di kursi depan, makhluk yang dulunya bernama Santi menggeliat. Kepalanya yang terputar seratus delapan puluh derajat menatap Bram dengan mata putih susu tanpa pupil. Mulut vertikal di wajah datarnya terbuka, mengeluarkan suara tangisan bayi yang terdistorsi—bunyi "oaakk" yang diputar lambat dan dicampur dengan suara tulang patah. Perutnya yang membengkak tidak wajar bergerak-gerak liar, seolah ada sesuatu yang bertanduk sedang mencakar dinding rahim dari dalam, ingin keluar menyaksikan eksekusi ayahnya.
Auditor mengangkat stempel tulang itu tinggi-tinggi. Permukaannya tidak rata, dipenuhi ukiran simbol-simbol kuno yang menyakitkan mata jika dipandang terlalu lama. Tidak ada bantalan tinta. Ujung stempel itu membara dengan api hitam, menyerap cahaya di sekitarnya.
"Audit selesai," gumam Auditor. "Neraca tidak seimbang. Pasiva: Pengkhianatan. Aktiva: Nihil."
"Tunggu! Aku bisa jelaskan!" Bram berteriak, air matanya bercampur dengan lendir lantai bus. "Aku tidak bermaksud meninggalkannya! Aku hanya takut!"
"Ketakutan adalah alasan," potong Auditor. "Tindakan adalah bukti."
Tangan pucat itu turun.
BUM.
Bukan suara hantamannya yang membuat Bram menjerit, melainkan sensasi yang menyertainya. Stempel itu menghantam tepat di atas jantung. Tidak ada tulang rusuk yang patah, tetapi dagingnya mendesis, melepuh seketika. Rasa sakitnya bukan fisik semata; itu adalah rasa sakit memori yang dipaksa keluar secara paksa.
Dalam hitungan detik yang terasa seperti keabadian, Bram tidak lagi berada di lantai bus. Ia terlempar ke dalam kilas balik yang memuakkan. Ia melihat wajah Santi yang asli, manusiawi, menangis di klinik aborsi ilegal yang kumuh itu. Ia merasakan dinginnya gagang pintu saat ia memutuskan untuk berbalik dan lari. Ia mencium aroma antiseptik murah dan rasa pengecut yang pahit di lidahnya sendiri. Ia merasakan kembali getaran mesin mobil saat ia menginjak gas, meninggalkan wanita itu berdarah sendirian.
Semua rasa bersalah yang ia kubur di bawah tumpukan alasan logis dan ambisi karier kini ditarik ke permukaan, dipadatkan menjadi satu titik panas di dadanya. Stempel itu membakar kulit, mencetak simbol permanen: sebuah lingkaran bergerigi dengan jarum yang menunjuk ke bawah.
"AAAARGGGHHH!" Jeritan Bram memecah keheningan jalanan Pantura yang gaib. Asap berbau daging panggang mengepul dari dadanya.
Bus berguncang hebat. Jendela-jendela kaca bergetar, menampilkan pemandangan di luar yang bukan lagi jalan aspal, melainkan dinding-dinding tebing curam yang tersusun dari wajah-wajah manusia yang menjerit dalam bisu. Bus Laju Sanjaya sedang menanjak, bukan secara geografis, melainkan menanjak menuju puncak kegilaan.
Bram terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat, setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serbuk kaca. Stempel itu telah diangkat, meninggalkan luka bakar hitam yang masih mengepul. Ia merasa kosong. Kosong yang absolut. Sebagian dari jiwanya telah diambil, diarsipkan oleh Auditor ke dalam buku besar yang terbuat dari kulit manusia yang kini melayang di udara.
Lantai bus mulai melepaskan cengkeramannya, tetapi bukan untuk membebaskan Bram. Lantai itu memiringkan dirinya.
Tas yang berisi "uang"- kini onggokan hati yang menghitam dan usus yang dikerubungi belatung - meluncur jatuh, menabrak kaki Jaka. Kondektur itu menendang gumpalan daging busuk tersebut dengan jijik.
"Lihat," desis Jaka, suaranya seperti gesekan amplas kasar. "Bahkan kotoran pun tidak mau bersatu denganmu."
Bram merangkak mundur, sikunya tergores di lantai besi, menjauhi Auditor dan Jaka. Ia terpojok di dekat pintu belakang. Matanya tertuju pada Santi. Makhluk itu kini turun dari kursinya, merangkak di langit-langit bus dengan gerakan patah-patah seperti laba-laba cacat. Tangisan dari perutnya semakin nyaring, kini terdengar seperti paduan suara ribuan bayi yang tak pernah dilahirkan.
"Santi..." bisik Bram, suaranya parau. "Maafkan aku."
Kepala terbalik itu mendekat, menatap Bram dari jarak beberapa sentimeter. Bau amis ketuban dan tanah kuburan menguar dari mulut vertikalnya. Tidak ada pengampunan di mata putih itu. Hanya ada kelaparan kosmik yang tak terpuaskan.
Cakar-cakar kecil merobek kulit perut Santi dari dalam. Sebuah tangan mungil, namun berwarna abu-abu dan berkuku tajam, menyembul keluar, menggapai ke arah Bram. Itu bukan anaknya. Itu adalah manifestasi dari dosa yang ia tinggalkan untuk membusuk, kini tumbuh subur dalam kebencian.
"Pembayaran tahap pertama diterima," kata Auditor sambil membersihkan stempelnya dengan sapu tangan sutra yang entah dari mana asalnya. "Tapi bunganya masih berjalan, Bram. Dan Laju Sanjaya tidak menerima kredit macet."
Bus tiba-tiba mengerem mendadak. Bunyi decit rem angin terdengar seperti jeritan wanita panjang yang menyayat hati. Guncangan itu melemparkan Bram menghantam pintu lipat belakang. Tulang bahunya terasa retak, namun rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan teror yang menantinya.
Lampu kabin padam total. Kegelapan menyelimuti mereka, pekat dan berat, seolah-olah atmosfer itu sendiri memiliki massa jenis yang meremukkan paru-paru. Hanya ada satu sumber cahaya: cahaya bulan pucat yang masuk dari luar ketika pintu bus terbuka secara otomatis dengan desis hidrolik yang lelah.
Pssssshhhhh.
Angin malam yang masuk tidak membawa kesejukan. Angin itu membawa aroma garam laut dan jurang yang dalam.
Bram menoleh ke luar pintu yang terbuka. Tidak ada terminal. Tidak ada Rest Area Sari Asih. Tidak ada aspal Pantura.
Di bawah sana, hanya ada kegelapan tanpa dasar. Sebuah jurang maha luas. Namun, jika Bram memicingkan mata, ia bisa melihat bahwa dasar jurang itu bergerak. Lautan tubuh manusia yang saling tumpang tindih, menggeliat dalam penderitaan abadi, jutaan tangan menggapai ke atas, memohon keselamatan yang tak akan pernah datang.
Itu adalah tempat pembuangan akhir bagi penumpang yang gagal membayar tiket mereka.
"Turun," perintah Jaka. Ia tidak lagi menodongkan tang. Ia hanya menunjuk ke luar pintu, ke arah kehampaan itu.
Bram menggeleng panik, mencengkeram tiang besi di dekat pintu. "Tidak! Jangan buang aku! Aku akan bayar! Aku akan melakukan apa saja!"
Auditor melangkah maju, bayangannya memanjang menelan sisa cahaya. "Pilihanmu sederhana, Tuan Bramantyo. Kau turun secara sukarela dan menerima nasibmu di dasar sana, atau..."
Ia menunjuk ke arah Pak Tua di kursi pengemudi. Sosok supir itu tetap diam, punggungnya kaku, asap rokok kemenyan mengepul dari balik topi pet-nya. Namun untuk pertama kalinya, Bram melihat sesuatu yang ganjil. Seragam Pak Tua tampak menyatu dengan kursi pengemudi. Kulit lehernya memiliki tekstur yang sama dengan jok kulit bus yang retak-retak. Dia bukan lagi manusia yang mengemudikan bus; dia adalah bagian dari bus itu sendiri.
"...atau kau gantikan salah satu dari kami," lanjut Auditor, senyum tipis yang mengerikan tersungging di bibirnya. "Jaka sudah lelah. Dia butuh istirahat. Kondektur baru selalu dibutuhkan untuk menagih dosa."
Bram menatap Jaka. Kondektur itu tampak kurus kering, kulitnya abu-abu seperti mayat, matanya cekung tanpa harapan. Apakah itu masa depan Bram? Menjadi budak abadi Laju Sanjaya, terjebak dalam siklus malam Jumat Kliwon selamanya, memeras tiket dari jiwa-jiwa tersesat lainnya?
Di belakangnya, monster Santi mendesis, tangan kecil dari perutnya kini memegang kaki celana Bram, menariknya perlahan. Di depannya, jurang kematian menanti.
Bram berdiri di ambang pintu, di antara kutukan abadi menjadi monster atau kehancuran total menjadi ketiadaan. Angin dari jurang menderu, memanggil namanya dengan suara-suara yang ia kenal, suara ibunya, suara rekan kerjanya, suara nuraninya sendiri yang telah lama mati.
Ia menatap nanar ke arah tas berisi organ busuk itu untuk terakhir kalinya. Ego, harta, dan harga dirinya telah membusuk. Yang tersisa hanyalah pilihan terakhir seorang pengecut yang dipaksa menjadi martir bagi dosanya sendiri.
Bram melepaskan pegangannya pada tiang pintu.