Rahim Kehampaan

Penulis djoedo
20 January 2026

Tubuhnya melayang, namun bukan kebebasan yang menyambutnya, melainkan tarikan gravitasi yang terasa lengket dan berminyak. Angin di dalam jurang itu tidak berhembus; ia menjerit. Suara ribuan paruh-paruh basah yang berbisik dalam bahasa yang tidak diciptakan untuk telinga manusia.

Bram terpelanting di udara, berputar tanpa kendali dalam kegelapan yang pekat. Ia tidak sendirian. Cengkeraman di kakinya menguat, kuku-kuku runcing menembus kain celana, merobek kulit hingga ke daging. Santi, atau sisa-sisa mengerikan dari wanita itu, merayap naik ke tubuhnya di tengah jatuhan bebas itu. Makhluk itu tidak memiliki bobot fisik, seolah ia terbuat dari asap yang memadat dan keputusasaan murni.

Di perut makhluk itu, tangan kecil berwarna abu-abu, tangan janin yang tak pernah sempat melihat matahari, menggapai-gapai dengan liar. Jari-jari mungil namun tajam itu tidak mengincar wajah Bram. Mereka mengincar tas kulit di pelukan Bram. Tas berisi uang curian yang selama ini ia dekap lebih erat daripada nyawanya sendiri.

"Bapaaak..." Suara itu bukan datang dari mulut Santi yang menganga lebar dan penuh lendir hitam, melainkan bergetar langsung di dalam batok kepala Bram. Suara itu basah, seolah diucapkan dari dalam rahim yang tergenang air keruh.

Di atas sana, pintu belakang Bus Laju Sanjaya semakin mengecil, tampak seperti lubang dubur raksasa dari seekor binatang purba yang bercahaya redup. Auditor masih berdiri di ambang pintu itu, siluetnya tenang, mengamati jatuhnya sang pendosa dengan ketidakpedulian yang dingin. Ia tidak menghukum; ia hanya mencatat neraca.

Bram menjerit, suaranya pecah ditelan kehampaan. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan: mereka tidak sekadar jatuh. Mereka sedang dicerna.


Dinding-dinding jurang itu mulai terlihat saat mata Bram beradaptasi dengan kegelapan. Itu bukan batu cadas. Itu adalah daging. Dinding tebing yang berdenyut, terbuat dari tumpukan ribuan wajah manusia yang mematung dalam ekspresi kesakitan abadi. Mulut-mulut mereka terbuka, mengembuskan uap belerang yang memanaskan udara di sekitar Bram.

Berat tas di tangannya terasa bertambah ribuan kilo. Tas itu menariknya ke bawah lebih cepat, menuju dasar jurang di mana lautan tubuh menggeliat seperti belatung di bangkai raksasa.

Lepaskan, bisik instingnya. Lepaskan beban itu atau kau akan menjadi bagian dari dinding ini selamanya.

Tapi logika Bram yang tamak, logika yang telah membawanya mencuri uang perusahaan dan meninggalkan Santi yang hamil, menolak. Uang itu adalah tiketnya untuk hidup baru. Uang itu adalah segalanya.

"Milikku!" teriak Bram, mendekap tas itu erat-erat ke dadanya, menendang wajah Santi yang kini berada tepat di depan wajahnya.

Makhluk itu mendesis. Tangan kecil dari perutnya berhasil mencengkeram tali tas kulit itu. Tarik-menarik terjadi di udara kosong. Kekuatan makhluk itu luar biasa. Setiap sentuhan kulitnya meninggalkan rasa dingin yang membakar, seperti menyentuh nitrogen cair.

"Bayar..." desis Santi. Mata putihnya menatap Bram tanpa pupil, mencerminkan kekosongan jiwanya sendiri. "Utang... nyawa... dibayar... nyawa."

Bram melihat ke bawah. Lautan tubuh di dasar jurang semakin dekat. Ia bisa melihat detail mengerikan di sana: orang-orang berpakaian rapi, berpakaian dinas, berpakaian pengantin, semua terjebak, menyatu satu sama lain dalam orgy penderitaan yang tak berujung. Mereka menengadah, tangan-tangan mereka terulur menanti "rezeki" baru yang jatuh dari langit.

Jika ia jatuh sambil membawa uang ini, ia akan tenggelam ke dasar tumpukan itu. Uang itu adalah pemberat dosa yang akan menahannya di lapisan neraka paling bawah.

Sebuah realisasi menghantam Bram lebih keras daripada benturan fisik apa pun. Tas ini bukan penyelamat. Tas ini adalah batu nisan-nya.


Tangan kecil di perut Santi mencakar tali tas hingga putus sebagian. Uang-uang kertas pecahan sepuluh ribuan mulai berhamburan keluar, melayang di udara. Namun, anehnya, begitu uang-uang itu menyentuh udara jurang, mereka berubah.

Kertas-kertas bernilai jutaan rupiah itu layu, menghitam, dan berubah menjadi daun-daun kering yang rapuh serta serpihan kulit mati yang membusuk. Bau amis menyeruak. Harta yang ia agung-agungkan, di dimensi ini, hanyalah sampah organik yang menjijikkan.

Bram terbelalak. Selama ini ia mati-matian melindungi sampah. Ia telah membunuh nuraninya demi segenggam kotoran.

"Ambil!" jerit Bram, air mata dan ingus bercampur di wajahnya yang pucat pasi.

Dengan sisa tenaga terakhir, didorong oleh ketakutan akan damnasi kekal yang jauh lebih mengerikan daripada penjara duniawi, Bram melakukan satu hal yang tak pernah ia lakukan seumur hidupnya: ia melepaskan miliknya.

Ia mendorong tas itu sekuat tenaga ke arah Santi.

Tangan-tangan kecil dari perut makhluk itu menyambar tas tersebut dengan kerakusan binatang buas. Santi memeluk tas itu, melilitkan seluruh tubuhnya pada objek kebencian dan hasrat itu. Bobot dosa berpindah.

Seketika, momentum berubah.

Santi dan tas itu meluncur deras ke bawah, semakin cepat, ditarik oleh gravitasi dosa yang tak terelakkan. Bram melihat sosok wanita itu mengecil, ditelan oleh kegelapan, bergabung dengan ribuan jiwa lain di dasar jurang yang mulai bersorak menyambut "daging" baru.

Bram, kini tanpa beban, merasa tubuhnya menjadi ringan. Ia tidak lagi jatuh. Ia mengapung. Kehampaan di sekelilingnya bergeser. Dinding-dinding daging yang berdenyut itu memudar, digantikan oleh kabut abu-abu yang dingin dan basah.

Suara gemuruh bus Laju Sanjaya terdengar lagi, tapi kali ini menjauh, seperti gema mimpi buruk yang perlahan sirna saat fajar menyingsing.


"Haaah!"

Bram tersentak bangun. Paru-parunya meraup udara dengan rakus, seolah ia baru saja ditarik keluar dari kedalaman samudra.

Rasa sakit yang nyata menghantam sekujur tubuhnya. Bukan sakit spiritual, melainkan nyeri fisik yang tumpul dan kasar. Punggungnya berbaring di atas tanah basah yang berbau lumut dan bensin.

Langit di atasnya berwarna biru pucat, warna subuh yang dingin dan berkabut. Tidak ada dinding daging. Tidak ada tangan janin yang mencakar. Hanya pepohonan jati yang menjulang tinggi dan semak belukar basah di tepi Jalan Pantura yang sunyi.

Bram mencoba duduk, namun mengerang kesakitan. Kakinya terasa remuk. Ia melihat ke bawah. Celana kainnya robek-robek, penuh lumpur dan darah kering. Di betisnya, terdapat bekas luka cakar yang dalam, tiga garis merah yang masih mengucurkan darah segar, bukti bahwa malam itu bukan sekadar halusinasi.

Ia menoleh ke samping.

Beberapa meter darinya, tergeletak sebuah bangkai bus tua. Besi-besinya sudah karatan parah, ditumbuhi tanaman liar yang merambat masuk melalui jendela-jendela yang pecah. Catnya sudah mengelupas, namun tulisan pudar di bodi sampingnya masih bisa terbaca samar-samar: LAJU SANJAYA.

Bus itu sudah mati. Sudah menjadi rongsokan selama puluhan tahun. Tidak ada mesin yang menyala, tidak ada Jaka, tidak ada Pak Tua. Hanya kerangka besi yang dingin dan diam.

Di dekat ban belakang yang sudah sisa velg, tergeletak tas kulit Bram.

Jantung Bram berpacu. Ia merangkak dengan susah payah mendekati tas itu. Apakah uangnya masih ada? Apakah semua penderitaan itu setidaknya memberinya hasil?

Tangannya yang gemetar membuka resleting tas yang macet karena karat dan tanah.

Kosong.

Tidak ada uang. Hanya tumpukan daun kering yang basah, persis seperti apa yang ia lihat saat jatuh di jurang dimensi lain itu. Dan di antara tumpukan daun busuk itu, tergeletak sebuah benda kecil yang keras.

Bram memungutnya. Itu adalah tiket bus kuno. Warnanya merah darah yang mulai memudar, terbuat dari bahan yang terasa aneh di kulit—seperti kulit manusia yang disamak. Di atas tiket itu, tercetak stempel bertuliskan satu kata dengan tinta hitam tebal: LUNAS.

Suara sirine sayup-sayup terdengar dari kejauhan, memecah kesunyian hutan jati alas roban. Lampu rotari biru memantul samar di pepohonan. Polisi patroli jalan raya.

Bram menjatuhkan tiket itu ke tanah. Ia tidak berusaha lari. Ia tidak berusaha menyembunyikan diri. Ia menyandarkan punggungnya pada bangkai bus tua itu, membiarkan dinginnya besi meresap ke tulang punggungnya.

Ia bangkrut. Ia terluka. Ia akan dipenjara. Tapi saat ia menatap matahari yang mulai merangkak naik di ufuk timur, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bram tidak merasakan beban.

Utangnya pada alam semesta sudah dibayar. Sekarang, tinggal utangnya pada hukum manusia.

Bram menutup matanya, dan menunggu suara langkah sepatu bot yang mendekat.