Sisa Arang dan Dosa

Penulis djoedo
20 January 2026

Langkah itu berat, menghantam kerikil basah dengan ritme otoritas yang kaku.

Suara gesekan kain seragam. Bunyi kretek radio panggil yang statis. Bau karet terbakar bercampur aroma ozon sisa hujan semalam. Bram tidak bergerak. Ia membiarkan dinginnya embun pagi merayapi luka di betisnya, luka yang masih menganga merah, berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang perlahan melambat. Bukan karena tenang, tapi karena pasrah.

"Angkat tangan! Jangan bergerak!"

Teriakan itu pecah, merobek keheningan hutan jati Alas Roban yang keramat. Senter menyilaukan mata, menembus kabut tebal yang masih menggantung rendah di antara pepohonan. Bram menyipitkan mata, mengangkat kedua tangannya perlahan. Telapak tangannya kotor oleh lumpur dan sisa darah kering.

Dua sosok berseragam polisi mendekat dengan senjata terhunus. Wajah mereka tegang, keringat dingin terlihat di pelipis meski udara pagi menggigit tulang. Mereka tidak melihat monster. Mereka tidak melihat Auditor atau kondektur bermata kosong. Mereka hanya melihat seorang pria kurus, berantakan, basah kuyup, yang bersandar pada rongsokan besi tua di pinggir jurang.

"Tiarap! Sekarang!"

Bram menurut. Ia menjatuhkan tubuhnya ke tanah basah. Aroma tanah liat dan daun busuk menyeruak masuk ke hidungnya, bau yang ironisnya mengingatkannya pada interior bus Laju Sanjaya. Sepatu bot menekan punggungnya. Kasar. Nyata. Logam dingin memborgol pergelangan tangannya. Klik. Suara mekanis itu adalah musik paling indah yang pernah didengarnya sepanjang malam ini. Itu suara dunia manusia.

"Kami mengamankan tersangka. KM 45. Kondisi... kacau," suara polisi itu melapor lewat radio di pundaknya. "Diduga korban kecelakaan atau... entahlah, dia seperti orang gila."

Bram ditarik berdiri dengan kasar. Lututnya goyah. Rasa sakit dari cakaran makhluk itu, manifestasi rasa bersalahnya, kembali menyengat. Tapi saat polisi itu memutarnya menghadap jalan raya, Bram terkesiap. Bukan karena rasa sakit fisik.

Matanya terkunci pada apa yang ada di belakangnya.

Tempat dia bersandar tadi.

Itu bukan bus.

Bangkai itu memang bernama "Laju Sanjaya", tapi kondisinya jauh melampaui kata rusak. Itu adalah kerangka besi yang telah dimakan zaman. Karat tebal menyelimuti seluruh permukaannya seperti penyakit kulit ganas. Kaca jendelanya sudah lama pecah, menyisakan lubang-lubang hitam menganga seperti rongga mata tengkorak. Tanaman liar merambat masuk melalui sela-sela pintu lipat yang penyok, melilit kursi-kursi yang tinggal per saja.

Bram menahan napas. Ia baru saja duduk di sana. Ia baru saja berjalan di lorong itu. Ia baru saja menyerahkan tiket kepada Jaka di sana.

"Lihat itu," gumam salah satu polisi, nadanya bergetar. Ia menyorotkan senter ke sisi bus. Catnya sudah mengelupas parah, tapi tulisan pudar itu masih terbaca di bawah lapisan lumut: LAJU SANJAYA - JURUSAN NERAKA - JAKARTA.

Tidak. Tulisan aslinya hanya SURABAYA - JAKARTA, namun goresan karat membuatnya terbaca lain di mata Bram.

"Bus hantu sialan," polisi itu meludah ke tanah, seolah mencoba membuang rasa takut yang tiba-tiba merayapi tengkuknya. "Sudah dibilang jangan patroli dekat rongsokan '80-an ini. Tempat ini terkutuk."

Bram merasakan perutnya mual. Mual yang visceral. Ia telah menumpangi mayat. Ia telah berjalan di dalam perut bangkai kendaraan yang telah mati puluhan tahun lalu. Realitas tumpang tindih di kepalanya, antara logam dingin berkarat yang ia lihat sekarang, dengan interior bus berbau kemenyan yang ia rasakan beberapa menit lalu.

"Bawa tasnya," perintah polisi senior.

Bram menunduk melihat tas hitam miliknya yang tergeletak di dekat ban depan yang sudah kempes dan dimakan rayap. Itu adalah pusat dari segalanya. Uang korupsi. Uang darah. Alasan dia lari. Alasan dia naik bus terkutuk itu.

Polisi muda itu memungut tas tersebut. Terasa ringan. Terlalu ringan untuk tas yang seharusnya berisi gepokan uang tunai hasil penggelapan dana proyek konstruksi.

"Buka."

Polisi itu merobek resletingnya. Bram tidak perlu melihat untuk tahu isinya, tapi ia tetap menonton. Bukan uang bergambar pahlawan yang menyembul keluar.

Daun kering.

Ribuan lembar daun jati kering yang rapuh, cokelat, dan mati. Angin subuh bertiup kencang, menerbangkan sebagian isi tas itu, membuat daun-daun itu berputar seperti pusaran debu di sekitar kaki mereka. Uang itu, nilai materi yang ia pertahankan mati-matian, yang membuatnya mengorbankan Santi, yang membuatnya menjadi pengecut, telah kembali ke asalnya. Sampah.

"Apa-apaan ini?" Polisi itu mengaduk isi tas dengan ujung tongkatnya, berharap menemukan narkoba atau senjata. "Cuma sampah? Hei, Bung! Kau gila ya? Bawa tas isi sampah daun di tengah hutan?"

Bram tertawa. Suara tawanya serak, kering, dan patah-patah. Itu bukan tawa humor. Itu tawa seseorang yang baru saja mengintip ke balik tirai kewarasan semesta dan menyadari leluconnya.

"Lunas," bisik Bram.

"Apa?" Polisi itu mendekatkan wajahnya, bau tembakau murah tercium kuat. "Kau bilang apa?"

"Tiketnya... sudah lunas."

Polisi itu mengerutkan kening, menatap Bram dengan pandangan jijik bercampur kasihan. Ia merogoh saku celana Bram, mencari kartu identitas, namun jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan tipis. Ia menariknya keluar.

Sebuah potongan tiket bus kuno.

Warnanya kuning gading, terbuat dari kertas karton tebal yang teksturnya kasar, nyaris seperti kulit manusia yang disamak. Pinggirannya bergerigi bekas sobekan alat pembolong tiket kondektur. Tinta merah darah terstempel jelas di tengahnya: LUNAS. Dan di bawahnya, tanggal yang tercetak timbul: JUMAT KLIWON, 1985.

Polisi itu terdiam. Ia melihat tiket itu, lalu melihat bangkai bus yang berkarat, lalu kembali ke tiket yang terlihat masih baru, seolah baru saja dicetak pagi ini. Bulu kuduknya meremang. Dengan gerakan cepat, ia melempar tiket itu ke tanah seolah benda itu membakar jarinya.

"Masuk mobil. Cepat!" bentaknya, suaranya naik satu oktaf karena panik yang tak bisa dijelaskan. "Bawa dia pergi dari sini. Tempat ini... udaranya salah."

Bram didorong masuk ke kursi belakang mobil patroli. Jok vinil itu dingin dan keras. Kaca pembatas besi memisahkannya dari dunia luar. Pintu ditutup dengan bantingan keras.

Mobil mulai bergerak. Roda berputar menggilas kerikil, menjauh dari tepi jurang. Bram memutar kepalanya, menatap keluar jendela belakang. Cahaya lampu rotari biru berputar-putar, menyinari rongsokan bus Laju Sanjaya yang perlahan mengecil di kejauhan.

Dalam kedipan lampu biru itu, Bram melihatnya.

Di kursi pengemudi yang seharusnya kosong dan hanya berisi kerangka besi, ada siluet bayangan. Topi pet kusam. Asap rokok kretek mengepul tipis, melawan arah angin. Dan di pintu belakang yang menganga, sosok tinggi kurus berdiri tegak. Jaka. Kondektur itu tidak lagi memiliki wajah hancur. Ia berdiri tegap, mengangkat tangannya, melambai pelan dengan gerakan kaku seperti boneka kayu.

Bukan lambaian selamat tinggal. Itu lambaian peringatan.

Kami selalu ada. Menunggu penumpang berikutnya.

Bram memalingkan wajah, menatap ke depan. Jalanan Pantura mulai terlihat samar-samar di ujung jalan setapak. Truk-truk besar mulai menderu, membawa logistik kehidupan duniawi.

"Kau punya banyak masalah, Kawan," gumam polisi di kursi depan, matanya melirik lewat spion tengah. "Kantor pusat bilang kau buronan penggelapan. Koruptor kelas teri yang kabur bawa lari uang perusahaan. Penjara Nusa Kambangan mungkin terlalu bagus buatmu."

Bram menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang bergetar. Penjara. Jeruji besi. Sidang. Cemoohan masyarakat. Wajah kecewa orang tuanya. Itu semua menakutkan, tentu saja. Itu adalah neraka duniawi yang harus ia jalani.

Tapi dibandingkan dengan lorong bus yang memanjang tanpa ujung? Dibandingkan dengan tatapan Sang Auditor yang menimbang berat dosanya dengan jantung yang dicabut paksa? Dibandingkan dengan keabadian menjadi bahan bakar mesin bus yang menjerit-jerit?

Penjara terasa seperti satu tempat peristirahatan yang tenang.

Bram meraba saku celananya dengan tangan yang terborgol. Tiket itu sudah tidak ada, tertinggal di tanah Alas Roban. Tapi ia bisa merasakan bekasnya. Rasa dingin yang menjalar di ujung jarinya, sisa sentuhan dunia lain yang tak akan pernah hilang seumur hidup.

Ia tidak membawa uang sepeser pun. Reputasinya hancur. Kariernya tamat. Namanya akan tercoreng selamanya. Ia telah kehilangan segalanya.

Namun, saat matahari pagi benar-benar pecah di ufuk timur, menyinari wajahnya yang penuh goresan, Bram menarik napas panjang. Udara di dalam mobil polisi itu bau keringat dan bensin, tapi itu adalah udara kehidupan. Udara milik manusia yang masih bernapas.

Ia kalah telak dalam permainan dunia, tapi ia memenangkan jiwanya kembali dari cengkeraman Laju Sanjaya.

Mobil melaju kencang memasuki jalan raya, meninggalkan hutan jati yang gelap dan diam. Di belakang sana, kabut kembali menutup bangkai bus, menyembunyikannya dari mata orang-orang yang belum cukup berdosa untuk melihatnya.

Bram memejamkan mata. Untuk pertama kalinya - entah dalam waktu yang dia sendiri tak bisa membayangkannya, ia bisa tidur tanpa bermimpi dikejar bayangannya sendiri.