Resi Pembayaran

Penulis djoedo
20 January 2026

Namun, lelap itu tak lantas menghapus dinginnya lantai beton yang menusuk tulang punggung. Justru rasa dingin itulah yang ia cari. Kasar. Nyata. Tidak bergeser, tidak berdenyut seperti dinding daging bus Laju Sanjaya, dan yang paling penting, tidak berbisik.

Bram membuka mata. Langit-langit sel nomor empat itu retak-retak, diselimuti sawang hitam di sudut pertemuan dinding. Lampu neon di lorong berdengung rendah, sebuah humming elektrik yang stabil dan monoton. Suara dunia manusia. Bukan jeritan dari jurang tanpa dasar. Ia menghembuskan napas panjang, uap putih tipis terbentuk di udara malam yang lembap. Di luar sel, suara langkah kaki sepatu bot militer mendekat. Berat dan berirama.

"Bangun, bajingan," suara itu parau, tanpa basa-basi. Seorang sipir gemuk dengan seragam yang kancing perutnya nyaris meledak mengetuk jeruji besi dengan tongkat pentungan. "Penyidik mau bicara. Katanya kau sudah selesai menangis."

Bram tidak tersinggung. Ia bangkit perlahan. Sendi-sendinya berbunyi, protes atas siksaan fisik yang ia alami selama dua belas jam terakhir—atau mungkin dua belas tahun? Waktu di dalam bus itu bersifat elastis, melengkung dan memelintir persepsi hingga menjadi bubur. Di sini, jam dinding berdetak dengan ketukan yang logis. Satu detik adalah satu detik.

Ia digiring keluar sel. Borgol dipasang kembali. Logam dingin itu menggigit pergelangan tangannya, meninggalkan bekas merah di atas kulit yang masih pucat. Rasa sakit itu adalah validasi. Ia masih hidup. Ia berada di kantor polisi sektor kota kecil, bukan di dalam perut monster yang menyamar sebagai transportasi umum.

Mereka membawanya ke ruang interogasi. Sebuah ruangan 3x3 meter dengan meja kayu jati tua yang permukaannya penuh goresan silet dan sundutan rokok. Di seberang meja, duduk seorang perwira polisi dengan wajah lelah dan kantung mata hitam. Namanya tertera di dada: IPDA Haryanto.

Di atas meja, tergeletak tas kulit milik Bram. Tas yang seharusnya berisi uang hasil korupsi senilai ratusan juta rupiah. Tiket kebebasannya. Masa depannya.

"Duduk," perintah Haryanto.

Bram menurut. Ia menatap tas itu. Kulitnya tampak kusam, seolah telah menua puluhan tahun dalam semalam. Resletingnya tertutup rapat, tapi ada bau yang menguar darinya. Bukan bau uang kertas baru yang tajam dan kimiawi. Melainkan bau tanah basah. Bau hutan setelah hujan. Bau kematian yang purba.

Haryanto menyalakan rokok, asap mengepul memenuhi ruangan sempit itu. "Kami menemukanmu merangkak di pinggir jalan raya, berteriak-teriak soal bus hantu dan jurang. Kami pikir kau mabuk atau sakau. Tapi setelah kami cek identitasmu... kau buronan, Bramantyo."

Bram diam. Ia tidak membantah.

"Skandal penggelapan dana. Dicari Polda Metro," Haryanto mencondongkan tubuh, matanya menatap tajam. "Tapi yang bikin saya bingung bukan itu. Yang bikin saya bingung adalah isi tas ini."

Jantung Bram berdetak, tapi bukan karena takut ketahuan. Ia menunggu konfirmasi. Ia menunggu bukti bahwa transaksi di tebing jurang tadi benar-benar terjadi. Bahwa Darma, Jaka, dan Pak Tua telah mengambil "bayaran" mereka.

Haryanto meraih tas itu, menarik resletingnya dengan kasar, lalu menumpahkan isinya ke atas meja.

Brak.

Tidak ada tumpukan uang merah atau biru. Tidak ada ikatan karet gelang.

Yang tumpah ke atas meja adalah gundukan daun jati kering yang telah berubah warna menjadi cokelat tua, rapuh dan keriting. Di antara dedaunan itu, terdapat gumpalan tanah merah yang lengket, berbau anyir seperti darah lama, dan beberapa kerikil sungai yang licin.

Bram menatap tumpukan sampah itu. Matanya membelalak, lalu sudut bibirnya berkedut.

"Kau gila, ya?" tanya Haryanto, nada suaranya campuran antara marah dan bingung. "Kau bawa kabur uang perusahaan, lalu kau tukar dengan sampah hutan? Di mana uangnya, Bram? Kau kubur di mana?"

Bram tertawa. Awalnya pelan, suara yang keluar dari tenggorokan yang kering, lalu semakin keras. Itu bukan tawa orang gila. Itu tawa kelegaan yang absolut. Tawa seseorang yang baru saja lolos dari eksekusi mati dengan cara yang paling tidak masuk akal.

Uangnya hilang. Lenyap. Diambil sebagai barter nyawa.

Bus Laju Sanjaya tidak menerima uang Rupiah. Mereka hanya menerima esensi dari keserakahan itu sendiri. Uang itu adalah beban dosanya, dan sekarang beban itu telah dikonversi menjadi material organik tak berharga. Ia miskin. Ia bangkrut. Ia akan membusuk di penjara.

Dan ia belum pernah merasa sebebas ini.

"Habis, Pak," jawab Bram akhirnya, suaranya serak tapi stabil. Matanya menatap lurus ke arah Haryanto, tatapan yang membuat sang polisi sedikit mundur karena melihat kedalaman gelap di sana. "Sudah dipakai bayar tiket."

"Tiket apa? Jangan main-main!" Haryanto menggebrak meja. Daun-daun jati kering itu berhamburan, sebagian jatuh ke lantai.

"Tiket pulang," bisik Bram. Ia memungut selembar daun jati dari meja. Teksturnya kasar di ujung jari. Di permukaan daun itu, jika diperhatikan dengan teliti di bawah sorotan lampu neon yang berkedip, terlihat guratan-guratan halus yang menyerupai wajah manusia yang menjerit. Wajah-wajah serakah yang terperangkap dalam selulosa mati.

Bram meremas daun itu hingga hancur menjadi serbuk debu.

Haryanto menggelengkan kepala, jelas frustrasi menghadapi tahanan yang dianggapnya sudah putus saraf warasnya. Ia memanggil dua petugas jaga. "Bawa dia balik ke sel. Besok pagi tim dari Jakarta jemput. Biar mereka yang urus orang gila ini."

Bram berdiri tanpa perlawanan. Saat ia hendak melangkah keluar, hidungnya menangkap aroma lain di antara bau rokok murah dan keringat polisi.

Bau kemenyan. Dan cengkeh.

Ia berhenti mendadak di ambang pintu. Tubuhnya menegang. Aroma itu tipis, sangat tipis, menyelinap dari ventilasi udara di sudut ruangan. Itu adalah aroma rokok kretek Pak Tua.

Bram menoleh cepat ke arah jendela kaca yang menghadap ke jalan raya di depan kantor polisi. Di luar sana, hujan mulai turun lagi. Deras. Membentuk tirai air yang memburamkan pandangan.

Di seberang jalan, di bawah sorotan lampu merkuri jalanan yang temaram, sebuah bus tua terparkir. Mesinnya menyala, mengepulkan asap hitam pekat yang tidak wajar, seolah asap itu hidup dan menggeliat. Cat bus itu mengelupas, memperlihatkan karat yang menyerupai luka koreng. Di kaca depannya, samar-samar tertulis: LAJU SANJAYA.

Tidak ada sopir di kursi depan. Hanya kegelapan kosong di balik kemudi. Namun, di baris kursi penumpang paling belakang, Bram melihat siluet seseorang. Sosok wanita dengan rambut basah menutupi wajah. Maya. Atau mungkin Santi? Atau mungkin representasi dari semua wanita yang pernah ia kecewakan.

Sosok itu tidak bergerak. Hanya menatap lurus ke arah kantor polisi. Ke arah Bram.

"Jalan!" bentak sipir di belakangnya, mendorong punggung Bram.

Bram tersentak. Ia mengerjap. Saat ia melihat kembali ke seberang jalan, bus itu tidak ada. Hanya ada truk ekspedisi yang lewat menyipratkan genangan air, dan sebuah pohon beringin tua yang dahan-dahannya bergoyang ditiup angin malam.

Halusinasi? Trauma sisa? Atau peringatan?

Bram tersenyum tipis, pahit. Itu tidak penting lagi. Ia sudah turun. Ia sudah membayar. Ia melangkah kembali menuju selnya dengan langkah yang lebih ringan. Kaki-kakinya menapak mantap di lantai beton.

Auditor telah menyelesaikan auditnya. Neraca telah seimbang. Harta bendanya nol. Reputasinya hancur. Tapi jiwanya, entah bagaimana, masih miliknya sendiri. Dan malam ini, di dalam kotak beton 3x3 meter ini, untuk pertama kalinya dalam sebulan, Bram tidak perlu berlari.

Pintu sel besi itu ditutup dengan dentangan keras yang bergema di lorong sunyi.

Klang.

Bunyi kunci diputar adalah suara paling merdu yang pernah ia dengar. Itu adalah suara batas. Suara yang memisahkan dunia manusia dari dunia mereka. Bram merosot duduk di pojok sel, memeluk lututnya. Ia menatap kegelapan di luar jeruji, siap menyambut pagi, siap menyambut pengadilan, siap menyambut kehancuran hidupnya di mata masyarakat.

Karena setidaknya, di pengadilan manusia, hakimnya masih memiliki wajah.