Tiga hari menjelang hari besar itu, Kusuma Tower akhirnya kehilangan sosok pemimpin kreatifnya. Papa Hendra dan Mama Ratna sudah mengeluarkan perintah mutlak: Najwa dilarang keras menginjakkan kaki di kantor. Bagi Najwa, yang biasanya menghabiskan sepuluh jam sehari di depan maket dan layar monitor, terjebak di rumah mewahnya di Menteng terasa sangat aneh. Ia merasa seperti burung yang sayapnya diikat, meskipun sangkar itu terbuat dari emas dan permata.Pagi itu, mentari Jakarta mengintip malu-malu di balik gorden sutra kamar Najwa. Ia baru saja menyelesaikan sarapannya saat sebuah mobil boks putih dengan logo ekspedisi khusus berhenti di depan gerbang. Mama Ratna yang sejak tadi tampak tidak tenang, langsung berseru dari lantai bawah."Najwa! Paket kiriman dari umi sudah datang, Nak! Cepat turun!"Najwa menarik napas dalam. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia melangkah turun melewati tangga melingkar, melihat beberapa pelayan rumah sedang membantu mengangkut lima kotak kayu berukir bukan kardus biasa ke dalam ruang keluarga. Kotak-kotak itu mengeluarkan aroma harum kayu jati dan wangi melati yang samar."Masya Allah, kemasannya saja seperti ini, Naj," bisik Mama Ratna sambil mengelus permukaan kotak yang halus.Di saat yang sama beratus-ratus kilometer dari Menteng, suasana di Pesantren Al-Hidayah justru tampak jauh lebih tenang namun sibuk dengan cara yang berbeda. Gus Azam baru saja menyelesaikan pengajian kitab kuning di serambi masjid. Ribuan santri tertunduk takzim mendengarkan suaranya yang berat namun merdu. Meskipun pernikahan tinggal menghitung hari, Gus Azam tidak menunjukkan tanda-tanda kecemasan.Beberapa ajudan dan pengurus pesantren menghampiri Gus Azam saat ia berjalan menuju kantor ndalem."Gus, ini ada telepon dari panitia tabligh akbar di Malang. Mereka memohon sangat agar Gus Azam bisa hadir minggu depan," lapor salah satu santri senior.Gus Azam berhenti melangkah lalu menatap ke arah hamparan sawah di depan pesantren. Jika biasanya ia akan langsung mengangguk demi dakwah, kali ini ia menggeleng pelan. Bibirnya tetap terkatup, namun tangannya memberi isyarat menulis pada secarik kertas yang selalu ia bawa di saku jubahnya.‘Mohon maaf, sampaikan salamku pada jamaah. Saya ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan kirimkan jadwal pengganti bulan depan saja.’Para pengurus pesantren mengangguk paham. Mereka tahu, Gus Azam sedang "dipingit" oleh takdir. Meskipun ia tetap berdakwah di dalam lingkungan pesantren, Gus Azam membatalkan semua jadwal luar kota demi menghormati keputusan ayahnya. Di dalam hati pria itu, ada gejolak yang ia tekan dalam-dalam. Ia menjalankan pernikahan ini sebagai bentuk ketaatan mutlak pada sang Abi, meski hatinya masih terasa seperti tanah yang gersang.Kembali ke Menteng, Najwa perlahan membuka kotak kayu pertama yang ditujukan untuknya. Mama Ratna, Selvi dan Desi yang sengaja datang pagi itu, menahan napas. Begitu tutup kotak terbuka, sebuah gaun pengantin berwarna putih tulang (broken white) menyambut mata mereka."Ya Tuhan... ini bukan baju pengantin biasa," gumam Desi, sang desainer interior yang biasanya sangat kritis soal estetika.Gaun itu bukanlah gaun yang dipenuhi payet berlebihan atau kristal yang berkilau menyakitkan mata. Gaun itu terbuat dari tenunan tangan yang sangat halus dengan motif sulaman benang perak yang membentuk pola geometris Islami yang sangat rumit. Modelnya adalah potongan syar'i yang sangat elegan lebar namun jatuh dengan indah (flowy). Bagian dadanya tertutup dengan aksen lipatan yang sangat rapi, dan yang paling mengejutkan adalah jilbabnya. Sebuah jilbab panjang berbahan sutra tipis dengan pinggiran renda buatan tangan yang terlihat sangat mewah namun bersahaja."Naj... ini kain tenun langka. Aku pernah lihat di pameran tekstil dunia ini dikerjakan berbulan-bulan hanya untuk satu helai," Selvi menyentuh pinggiran kain itu dengan ujung jarinya. "Pihak Gus Azam beneran nggak main-main soal kehormatan."Mama Ratna sudah meneteskan air mata. "Umi benar, Najwa. Kamu akan terlihat seperti bidadari. Ini sangat anggun, sangat... mahal dalam kesederhanaannya."Najwa mengangkat gaun itu, menempelkannya ke tubuhnya lalu bercermin di depan cermin besar. Kontras antara kulitnya yang cerah dan kain tenun itu menciptakan aura yang luar biasa. Ia terlihat sangat berwibawa, sangat suci, sekaligus sangat cantik dalam balutan yang menutup aurat."Tunggu, lihat kotak lainnya!" seru Desi.Kotak kedua berisi seragam untuk Papa Hendra, Mama Ratna dan Kak Arvin. Untuk pria, tersedia jas bergaya beskap modern dengan kain sarung sutra yang senada dengan gaun Najwa. Untuk Mama Ratna, ada kebaya panjang syar'i yang tak kalah mewah. Semuanya memiliki detail yang sangat konsisten."Ini namanya pernyataan kelas, Naj," Selvi berkomentar sambil memotret seragam-seragam itu. "Keluarga pesantren itu menunjukkan kalau mereka bisa memberikan kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang di mall-mall Jakarta. Ini soal seni, doa dan tradisi."Najwa tertegun melihat sebuah kartu kecil yang terselip di lipatan gaunnya. Kartu itu bertuliskan tangan, dalam huruf Arab yang sangat indah:‘Untuk anandaku Najwa. Pakailah ini dengan niat karena Allah. Tenunan ini dibuat oleh tangan-tangan yang selalu membasahi lidahnya dengan shalawat selama mengerjakannya. Semoga barokahnya menyelimuti pernikahanmu dengan Azam. - Umi Fatimah’Najwa meremas kartu itu. Ia merasa sangat kecil di depan ketulusan keluarga Gus Azam. Di saat ia sibuk memilih vendor hotel mewah dan katering mahal, keluarga di pesantren sana justru menyiapkan pakaian yang dibuat dengan dzikir dan doa."Apa ada pesan dari Gus Azam di situ, Naj?" tanya Desi penasaran.Najwa tersenyum kecil, dengan cepat ia menyembunyikan kartu itu."Beliau mendoakan lewat Umi, Des. Katanya, beliau sangat menghargai usahaku menyiapkan pesta di sini." Najwa kembali berbohong demi menjaga marwah calon suaminya. Ia tidak mau sahabatnya tahu kalau hingga H-3 ini, Gus Azam belum pernah sekalipun menanyakan kabarnya secara langsung.Di pesantren, Gus Azam masuk ke dalam kamarnya yang sederhana. Di atas ranjangnya, sudah tersalin jubah putih dan sorban yang akan ia pakai saat akad nikah nanti di Jakarta. Ia menatap pakaian itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia teringat masa lalunya yang kelam, rasa sakit saat dikhianati dan kebisuan yang selama ini ia jadikan benteng.Gus Azam duduk di tepi tempat tidur lalu mengambil ponselnya. Ia melihat profil WhatsApp Najwa sebuah foto Najwa yang sedang tersenyum di depan proyek bangunannya. Cantik, modern dan sangat bersemangat. Gus Azam menghela napas panjang. Ia merasa seperti akan membawa bidadari itu masuk ke dalam dunianya yang sunyi.Jemarinya bergerak di atas layar, ia ingin mengetik sesuatu. 'Maafkan aku jika nanti aku mengecewakanmu atau Terima kasih sudah bersedia namun egonya kembali menahan. Ia akhirnya hanya meletakkan ponsel itu kembali. Baginya, bicara lewat doa di sujud terakhir jauh lebih aman daripada bicara lewat kata-kata yang bisa saja melukai.Sementara itu di Menteng, rumah keluarga Kusuma semakin ramai. Para asisten rumah tangga sibuk mengatur pengiriman undangan terakhir yang tersisa. Papa Hendra masuk ke ruangan dengan wajah sumringah."Najwa! Papa baru saja dapat kabar, Kyai-Kyai sepuh dari Jawa Timur akan datang satu bus khusus. Papa sudah siapkan hotel terbaik untuk mereka," Papa Hendra melihat gaun yang sedang dipegang Najwa. Beliau terpaku. "Masya Allah... itu kamu yang akan pakai, Nak?""Iya Pah ini kiriman dari Umi," jawab Najwa lembut.Papa Hendra memeluk putrinya. "Papa tidak pernah membayangkan melihatmu seperti ini. Kamu cantik sekali Najwa, Papa merasa sangat tenang melepaskanmu pada keluarga Abi Ahmad. Pakaian ini... pakaian ini adalah bukti mereka sangat memuliakanmu."Najwa bersandar di bahu Papanya. Di balik kemegahan gaun syar'i itu, di balik keramaian sahabat yang sibuk memilih sepatu dan di balik kesibukan orang tuanya, Najwa berbisik dalam hati. Ia menatap langit Jakarta yang mulai sore, mencoba mengirimkan pesan lewat angin menuju pesantren di timur sana."Gus... aku sudah siap. Aku sudah menyiapkan mahkotaku seperti permintaan Umimu. Aku hanya berharap, di hari itu nanti, suaramu kembali bukan untuk menghardikku, tapi untuk menerima kehadiranku."Tiga hari lagi Najwa akan mendapat gelar baru dan waktu terus berdetak menuju pertemuan dua dunia yang sangat berbeda. Satu dunia yang bicara lewat angka dan estetika, satu dunia yang bicara lewat diam dan doa. Dan di antara keduanya, sehelai gaun tenun syar'i berdiri sebagai saksi bisu sebuah pengabdian yang akan segera dimulai.Tiga hari menjelang hari besar itu, Kusuma Tower akhirnya kehilangan sosok pemimpin kreatifnya. Papa Hendra dan Mama Ratna sudah mengeluarkan perintah mutlak: Najwa dilarang keras menginjakkan kaki di kantor. Bagi Najwa, yang biasanya menghabiskan sepuluh jam sehari di depan maket dan layar monitor, terjebak di rumah mewahnya di Menteng terasa sangat aneh. Ia merasa seperti burung yang sayapnya diikat, meskipun sangkar itu terbuat dari emas dan permata.Pagi itu, mentari Jakarta mengintip malu-malu di balik gorden sutra kamar Najwa. Ia baru saja menyelesaikan sarapannya saat sebuah mobil boks putih dengan logo ekspedisi khusus berhenti di depan gerbang. Mama Ratna yang sejak tadi tampak tidak tenang, langsung berseru dari lantai bawah."Najwa! Paket kiriman dari umi sudah datang, Nak! Cepat turun!"Najwa menarik napas dalam. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia melangkah turun melewati tangga melingkar, melihat beberapa pelayan rumah sedang membantu mengangkut lima kotak kayu berukir bukan kardus biasa ke dalam ruang keluarga. Kotak-kotak itu mengeluarkan aroma harum kayu jati dan wangi melati yang samar."Masya Allah, kemasannya saja seperti ini, Naj," bisik Mama Ratna sambil mengelus permukaan kotak yang halus.Di saat yang sama beratus-ratus kilometer dari Menteng, suasana di Pesantren Al-Hidayah justru tampak jauh lebih tenang namun sibuk dengan cara yang berbeda. Gus Azam baru saja menyelesaikan pengajian kitab kuning di serambi masjid. Ribuan santri tertunduk takzim mendengarkan suaranya yang berat namun merdu. Meskipun pernikahan tinggal menghitung hari, Gus Azam tidak menunjukkan tanda-tanda kecemasan.Beberapa ajudan dan pengurus pesantren menghampiri Gus Azam saat ia berjalan menuju kantor ndalem."Gus, ini ada telepon dari panitia tabligh akbar di Malang. Mereka memohon sangat agar Gus Azam bisa hadir minggu depan," lapor salah satu santri senior.Gus Azam berhenti melangkah lalu menatap ke arah hamparan sawah di depan pesantren. Jika biasanya ia akan langsung mengangguk demi dakwah, kali ini ia menggeleng pelan. Bibirnya tetap terkatup, namun tangannya memberi isyarat menulis pada secarik kertas yang selalu ia bawa di saku jubahnya.‘Mohon maaf, sampaikan salamku pada jamaah. Saya ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan kirimkan jadwal pengganti bulan depan saja.’Para pengurus pesantren mengangguk paham. Mereka tahu, Gus Azam sedang "dipingit" oleh takdir. Meskipun ia tetap berdakwah di dalam lingkungan pesantren, Gus Azam membatalkan semua jadwal luar kota demi menghormati keputusan ayahnya. Di dalam hati pria itu, ada gejolak yang ia tekan dalam-dalam. Ia menjalankan pernikahan ini sebagai bentuk ketaatan mutlak pada sang Abi, meski hatinya masih terasa seperti tanah yang gersang.Kembali ke Menteng, Najwa perlahan membuka kotak kayu pertama yang ditujukan untuknya. Mama Ratna, Selvi dan Desi yang sengaja datang pagi itu, menahan napas. Begitu tutup kotak terbuka, sebuah gaun pengantin berwarna putih tulang (broken white) menyambut mata mereka."Ya Tuhan... ini bukan baju pengantin biasa," gumam Desi, sang desainer interior yang biasanya sangat kritis soal estetika.Gaun itu bukanlah gaun yang dipenuhi payet berlebihan atau kristal yang berkilau menyakitkan mata. Gaun itu terbuat dari tenunan tangan yang sangat halus dengan motif sulaman benang perak yang membentuk pola geometris Islami yang sangat rumit. Modelnya adalah potongan syar'i yang sangat elegan lebar namun jatuh dengan indah (flowy). Bagian dadanya tertutup dengan aksen lipatan yang sangat rapi, dan yang paling mengejutkan adalah jilbabnya. Sebuah jilbab panjang berbahan sutra tipis dengan pinggiran renda buatan tangan yang terlihat sangat mewah namun bersahaja."Naj... ini kain tenun langka. Aku pernah lihat di pameran tekstil dunia ini dikerjakan berbulan-bulan hanya untuk satu helai," Selvi menyentuh pinggiran kain itu dengan ujung jarinya. "Pihak Gus Azam beneran nggak main-main soal kehormatan."Mama Ratna sudah meneteskan air mata. "Umi benar, Najwa. Kamu akan terlihat seperti bidadari. Ini sangat anggun, sangat... mahal dalam kesederhanaannya."Najwa mengangkat gaun itu, menempelkannya ke tubuhnya lalu bercermin di depan cermin besar. Kontras antara kulitnya yang cerah dan kain tenun itu menciptakan aura yang luar biasa. Ia terlihat sangat berwibawa, sangat suci, sekaligus sangat cantik dalam balutan yang menutup aurat."Tunggu, lihat kotak lainnya!" seru Desi.Kotak kedua berisi seragam untuk Papa Hendra, Mama Ratna dan Kak Arvin. Untuk pria, tersedia jas bergaya beskap modern dengan kain sarung sutra yang senada dengan gaun Najwa. Untuk Mama Ratna, ada kebaya panjang syar'i yang tak kalah mewah. Semuanya memiliki detail yang sangat konsisten."Ini namanya pernyataan kelas, Naj," Selvi berkomentar sambil memotret seragam-seragam itu. "Keluarga pesantren itu menunjukkan kalau mereka bisa memberikan kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang di mall-mall Jakarta. Ini soal seni, doa dan tradisi."Najwa tertegun melihat sebuah kartu kecil yang terselip di lipatan gaunnya. Kartu itu bertuliskan tangan, dalam huruf Arab yang sangat indah:‘Untuk anandaku Najwa. Pakailah ini dengan niat karena Allah. Tenunan ini dibuat oleh tangan-tangan yang selalu membasahi lidahnya dengan shalawat selama mengerjakannya. Semoga barokahnya menyelimuti pernikahanmu dengan Azam. - Umi Fatimah’Najwa meremas kartu itu. Ia merasa sangat kecil di depan ketulusan keluarga Gus Azam. Di saat ia sibuk memilih vendor hotel mewah dan katering mahal, keluarga di pesantren sana justru menyiapkan pakaian yang dibuat dengan dzikir dan doa."Apa ada pesan dari Gus Azam di situ, Naj?" tanya Desi penasaran.Najwa tersenyum kecil, dengan cepat ia menyembunyikan kartu itu."Beliau mendoakan lewat Umi, Des. Katanya, beliau sangat menghargai usahaku menyiapkan pesta di sini." Najwa kembali berbohong demi menjaga marwah calon suaminya. Ia tidak mau sahabatnya tahu kalau hingga H-3 ini, Gus Azam belum pernah sekalipun menanyakan kabarnya secara langsung.Di pesantren, Gus Azam masuk ke dalam kamarnya yang sederhana. Di atas ranjangnya, sudah tersalin jubah putih dan sorban yang akan ia pakai saat akad nikah nanti di Jakarta. Ia menatap pakaian itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia teringat masa lalunya yang kelam, rasa sakit saat dikhianati dan kebisuan yang selama ini ia jadikan benteng.Gus Azam duduk di tepi tempat tidur lalu mengambil ponselnya. Ia melihat profil WhatsApp Najwa sebuah foto Najwa yang sedang tersenyum di depan proyek bangunannya. Cantik, modern dan sangat bersemangat. Gus Azam menghela napas panjang. Ia merasa seperti akan membawa bidadari itu masuk ke dalam dunianya yang sunyi.Jemarinya bergerak di atas layar, ia ingin mengetik sesuatu. 'Maafkan aku jika nanti aku mengecewakanmu atau Terima kasih sudah bersedia namun egonya kembali menahan. Ia akhirnya hanya meletakkan ponsel itu kembali. Baginya, bicara lewat doa di sujud terakhir jauh lebih aman daripada bicara lewat kata-kata yang bisa saja melukai.Sementara itu di Menteng, rumah keluarga Kusuma semakin ramai. Para asisten rumah tangga sibuk mengatur pengiriman undangan terakhir yang tersisa. Papa Hendra masuk ke ruangan dengan wajah sumringah."Najwa! Papa baru saja dapat kabar, Kyai-Kyai sepuh dari Jawa Timur akan datang satu bus khusus. Papa sudah siapkan hotel terbaik untuk mereka," Papa Hendra melihat gaun yang sedang dipegang Najwa. Beliau terpaku. "Masya Allah... itu kamu yang akan pakai, Nak?""Iya Pah ini kiriman dari Umi," jawab Najwa lembut.Papa Hendra memeluk putrinya. "Papa tidak pernah membayangkan melihatmu seperti ini. Kamu cantik sekali Najwa, Papa merasa sangat tenang melepaskanmu pada keluarga Abi Ahmad. Pakaian ini... pakaian ini adalah bukti mereka sangat memuliakanmu."Najwa bersandar di bahu Papanya. Di balik kemegahan gaun syar'i itu, di balik keramaian sahabat yang sibuk memilih sepatu dan di balik kesibukan orang tuanya, Najwa berbisik dalam hati. Ia menatap langit Jakarta yang mulai sore, mencoba mengirimkan pesan lewat angin menuju pesantren di timur sana."Gus... aku sudah siap. Aku sudah menyiapkan mahkotaku seperti permintaan Umimu. Aku hanya berharap, di hari itu nanti, suaramu kembali bukan untuk menghardikku, tapi untuk menerima kehadiranku."Tiga hari lagi Najwa akan mendapat gelar baru dan waktu terus berdetak menuju pertemuan dua dunia yang sangat berbeda. Satu dunia yang bicara lewat angka dan estetika, satu dunia yang bicara lewat diam dan doa. Dan di antara keduanya, sehelai gaun tenun syar'i berdiri sebagai saksi bisu sebuah pengabdian yang akan segera dimulaidimulaidimulaidimulaidimulaidimulaidimulaidimulai.Tiga hari menjelang hari besar itu, Kusuma Tower akhirnya kehilangan sosok pemimpin kreatifnya. Papa Hendra dan Mama Ratna sudah mengeluarkan perintah mutlak: Najwa dilarang keras menginjakkan kaki di kantor. Bagi Najwa, yang biasanya menghabiskan sepuluh jam sehari di depan maket dan layar monitor, terjebak di rumah mewahnya di Menteng terasa sangat aneh. Ia merasa seperti burung yang sayapnya diikat, meskipun sangkar itu terbuat dari emas dan permata.
Pagi itu, mentari Jakarta mengintip malu-malu di balik gorden sutra kamar Najwa. Ia baru saja menyelesaikan sarapannya saat sebuah mobil boks putih dengan logo ekspedisi khusus berhenti di depan gerbang. Mama Ratna yang sejak tadi tampak tidak tenang, langsung berseru dari lantai bawah.
"Najwa! Paket kiriman dari umi sudah datang, Nak! Cepat turun!"
Najwa menarik napas dalam. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia melangkah turun melewati tangga melingkar, melihat beberapa pelayan rumah sedang membantu mengangkut lima kotak kayu berukir bukan kardus biasa ke dalam ruang keluarga. Kotak-kotak itu mengeluarkan aroma harum kayu jati dan wangi melati yang samar.
"Masya Allah, kemasannya saja seperti ini, Naj," bisik Mama Ratna sambil mengelus permukaan kotak yang halus.
Di saat yang sama beratus-ratus kilometer dari Menteng, suasana di Pesantren Al-Hidayah justru tampak jauh lebih tenang namun sibuk dengan cara yang berbeda. Gus Azam baru saja menyelesaikan pengajian kitab kuning di serambi masjid. Ribuan santri tertunduk takzim mendengarkan suaranya yang berat namun merdu. Meskipun pernikahan tinggal menghitung hari, Gus Azam tidak menunjukkan tanda-tanda kecemasan.
Beberapa ajudan dan pengurus pesantren menghampiri Gus Azam saat ia berjalan menuju kantor ndalem.
"Gus, ini ada telepon dari panitia tabligh akbar di Malang. Mereka memohon sangat agar Gus Azam bisa hadir minggu depan," lapor salah satu santri senior.
Gus Azam berhenti melangkah lalu menatap ke arah hamparan sawah di depan pesantren. Jika biasanya ia akan langsung mengangguk demi dakwah, kali ini ia menggeleng pelan. Bibirnya tetap terkatup, namun tangannya memberi isyarat menulis pada secarik kertas yang selalu ia bawa di saku jubahnya.
‘Mohon maaf, sampaikan salamku pada jamaah. Saya ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan kirimkan jadwal pengganti bulan depan saja.’
Para pengurus pesantren mengangguk paham. Mereka tahu, Gus Azam sedang "dipingit" oleh takdir. Meskipun ia tetap berdakwah di dalam lingkungan pesantren, Gus Azam membatalkan semua jadwal luar kota demi menghormati keputusan ayahnya. Di dalam hati pria itu, ada gejolak yang ia tekan dalam-dalam. Ia menjalankan pernikahan ini sebagai bentuk ketaatan mutlak pada sang Abi, meski hatinya masih terasa seperti tanah yang gersang.
Kembali ke Menteng, Najwa perlahan membuka kotak kayu pertama yang ditujukan untuknya. Mama Ratna, Selvi dan Desi yang sengaja datang pagi itu, menahan napas. Begitu tutup kotak terbuka, sebuah gaun pengantin berwarna putih tulang (broken white) menyambut mata mereka.
"Ya Tuhan... ini bukan baju pengantin biasa," gumam Desi, sang desainer interior yang biasanya sangat kritis soal estetika.
Gaun itu bukanlah gaun yang dipenuhi payet berlebihan atau kristal yang berkilau menyakitkan mata. Gaun itu terbuat dari tenunan tangan yang sangat halus dengan motif sulaman benang perak yang membentuk pola geometris Islami yang sangat rumit. Modelnya adalah potongan syar'i yang sangat elegan lebar namun jatuh dengan indah (flowy). Bagian dadanya tertutup dengan aksen lipatan yang sangat rapi, dan yang paling mengejutkan adalah jilbabnya. Sebuah jilbab panjang berbahan sutra tipis dengan pinggiran renda buatan tangan yang terlihat sangat mewah namun bersahaja.
"Naj... ini kain tenun langka. Aku pernah lihat di pameran tekstil dunia ini dikerjakan berbulan-bulan hanya untuk satu helai," Selvi menyentuh pinggiran kain itu dengan ujung jarinya. "Pihak Gus Azam beneran nggak main-main soal kehormatan."
Mama Ratna sudah meneteskan air mata. "Umi benar, Najwa. Kamu akan terlihat seperti bidadari. Ini sangat anggun, sangat... mahal dalam kesederhanaannya."
Najwa mengangkat gaun itu, menempelkannya ke tubuhnya lalu bercermin di depan cermin besar. Kontras antara kulitnya yang cerah dan kain tenun itu menciptakan aura yang luar biasa. Ia terlihat sangat berwibawa, sangat suci, sekaligus sangat cantik dalam balutan yang menutup aurat.
"Tunggu, lihat kotak lainnya!" seru Desi.
Kotak kedua berisi seragam untuk Papa Hendra, Mama Ratna dan Kak Arvin. Untuk pria, tersedia jas bergaya beskap modern dengan kain sarung sutra yang senada dengan gaun Najwa. Untuk Mama Ratna, ada kebaya panjang syar'i yang tak kalah mewah. Semuanya memiliki detail yang sangat konsisten.
"Ini namanya pernyataan kelas, Naj," Selvi berkomentar sambil memotret seragam-seragam itu. "Keluarga pesantren itu menunjukkan kalau mereka bisa memberikan kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang di mall-mall Jakarta. Ini soal seni, doa dan tradisi."
Najwa tertegun melihat sebuah kartu kecil yang terselip di lipatan gaunnya. Kartu itu bertuliskan tangan, dalam huruf Arab yang sangat indah:
‘Untuk anandaku Najwa. Pakailah ini dengan niat karena Allah. Tenunan ini dibuat oleh tangan-tangan yang selalu membasahi lidahnya dengan shalawat selama mengerjakannya. Semoga barokahnya menyelimuti pernikahanmu dengan Azam. - Umi Fatimah’
Najwa meremas kartu itu. Ia merasa sangat kecil di depan ketulusan keluarga Gus Azam. Di saat ia sibuk memilih vendor hotel mewah dan katering mahal, keluarga di pesantren sana justru menyiapkan pakaian yang dibuat dengan dzikir dan doa.
"Apa ada pesan dari Gus Azam di situ, Naj?" tanya Desi penasaran.
Najwa tersenyum kecil, dengan cepat ia menyembunyikan kartu itu.
"Beliau mendoakan lewat Umi, Des. Katanya, beliau sangat menghargai usahaku menyiapkan pesta di sini." Najwa kembali berbohong demi menjaga marwah calon suaminya. Ia tidak mau sahabatnya tahu kalau hingga H-3 ini, Gus Azam belum pernah sekalipun menanyakan kabarnya secara langsung.
Di pesantren, Gus Azam masuk ke dalam kamarnya yang sederhana. Di atas ranjangnya, sudah tersalin jubah putih dan sorban yang akan ia pakai saat akad nikah nanti di Jakarta. Ia menatap pakaian itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia teringat masa lalunya yang kelam, rasa sakit saat dikhianati dan kebisuan yang selama ini ia jadikan benteng.
Gus Azam duduk di tepi tempat tidur lalu mengambil ponselnya. Ia melihat profil WhatsApp Najwa sebuah foto Najwa yang sedang tersenyum di depan proyek bangunannya. Cantik, modern dan sangat bersemangat. Gus Azam menghela napas panjang. Ia merasa seperti akan membawa bidadari itu masuk ke dalam dunianya yang sunyi.
Jemarinya bergerak di atas layar, ia ingin mengetik sesuatu. 'Maafkan aku jika nanti aku mengecewakanmu atau Terima kasih sudah bersedia namun egonya kembali menahan. Ia akhirnya hanya meletakkan ponsel itu kembali. Baginya, bicara lewat doa di sujud terakhir jauh lebih aman daripada bicara lewat kata-kata yang bisa saja melukai.
Sementara itu di Menteng, rumah keluarga Kusuma semakin ramai. Para asisten rumah tangga sibuk mengatur pengiriman undangan terakhir yang tersisa. Papa Hendra masuk ke ruangan dengan wajah sumringah.
"Najwa! Papa baru saja dapat kabar, Kyai-Kyai sepuh dari Jawa Timur akan datang satu bus khusus. Papa sudah siapkan hotel terbaik untuk mereka," Papa Hendra melihat gaun yang sedang dipegang Najwa. Beliau terpaku. "Masya Allah... itu kamu yang akan pakai, Nak?"
"Iya Pah ini kiriman dari Umi," jawab Najwa lembut.
Papa Hendra memeluk putrinya. "Papa tidak pernah membayangkan melihatmu seperti ini. Kamu cantik sekali Najwa, Papa merasa sangat tenang melepaskanmu pada keluarga Abi Ahmad. Pakaian ini... pakaian ini adalah bukti mereka sangat memuliakanmu."
Najwa bersandar di bahu Papanya. Di balik kemegahan gaun syar'i itu, di balik keramaian sahabat yang sibuk memilih sepatu dan di balik kesibukan orang tuanya, Najwa berbisik dalam hati. Ia menatap langit Jakarta yang mulai sore, mencoba mengirimkan pesan lewat angin menuju pesantren di timur sana.
"Gus... aku sudah siap. Aku sudah menyiapkan mahkotaku seperti permintaan Umimu. Aku hanya berharap, di hari itu nanti, suaramu kembali bukan untuk menghardikku, tapi untuk menerima kehadiranku."
Tiga hari lagi Najwa akan mendapat gelar baru dan waktu terus berdetak menuju pertemuan dua dunia yang sangat berbeda. Satu dunia yang bicara lewat angka dan estetika, satu dunia yang bicara lewat diam dan doa. Dan di antara keduanya, sehelai gaun tenun syar'i berdiri sebagai saksi bisu sebuah pengabdian yang akan segera dimulai.