Suara mesin jahit high-speed itu mendengung konstan, seirama dengan detak jantung Emma yang sedikit berpacu lebih cepat pagi ini. Di depannya, selembar kain sutra premium berwarna putih gading terbentang. Jemarinya yang ramping bergerak lincah, menata renda-renda halus dari Prancis yang ia potong manual satu per satu.
Di sudut meja, kotak beludru terbuka memperlihatkan ribuan butir payet kristal yang berkilau di bawah lampu kerja.
Pernikahan Erlan dan Nuri tinggal sepuluh hari lagi. Bagi Emma, ini bukan sekadar pesanan butik. Ini adalah persembahan cintanya untuk satu-satunya kakak kandungnya yang telah menjaganya melampaui batas kewajaran.
"Emma, coba lihat ini. Apa bordir melatinya tidak terlalu padat di bagian bahu?" tanya Bu Melani, sambil menunjuk manekin gaun pengantin Nuri.
Emma menghentikan injakan kakinya. Ia menyeka keringat tipis di dahi dengan punggung tangan, lalu berdiri untuk memeriksa jarak pandang.
"Tidak, Bu. Mbak Nuri itu bahunya tegas. Kalau melatinya renggang, malah akan terlihat kosong. Saya ingin dia terlihat seperti sedang dipeluk taman bunga saat berjalan menuju Kak Erlan nanti," jawab Emma lembut namun penuh keyakinan.
Bu Melani tersenyum, menyandarkan bahu di pintu ruang desain. "Kamu benar-benar perfeksionis kalau soal Erlan, ya? Padahal jahitanmu yang paling standar saja sudah membuat orang berdecak kagum."
"Dia satu-satunya kakakku, Bu. Dia sudah membangun kembali rumah masa kecil kami dengan sangat indah tanpa mengubah satu pun kenangannya. Aku hanya ingin membalasnya dengan gaun tercantik untuk istrinya."
Tiba-tiba, ponsel Emma di atas meja bergetar pendek. Sebuah pesan masuk dari Aleea.
Aleea: Kak Emma, jangan tunggu Kak Arsen makan malam. Di kantor lagi kacau. Ada kebocoran data di server utama Adhianata Corp. Papa Andra dan Kak Arsen sepertinya bakal lembur sampai pagi. Kak Erlan juga masih di ruang IT.
Emma menghela napas panjang. Ia meletakkan ponselnya kembali, namun pandangannya kini tak lagi fokus pada kain di depannya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba merayap. Kebahagiaan mereka baru saja kembali, namun badai bisnis seolah tidak pernah berhenti menguji ketenangan mereka.
"Ada masalah, Em?" suara Bu Melani menyentak lamunannya.
Emma mencoba tersenyum, meski terlihat getir. "Arsen dan Papa tidak pulang malam ini, Bu. Ada masalah serius di kantor. Sepertinya serangan siber."
Bu Melani berjalan mendekat, ia menarik kursi kecil dan duduk di hadapan Emma. "Kamu khawatir?"
"Sangat," bisik Emma. "Arsen itu... kalau sudah bekerja dalam tekanan, dia sering lupa makan. Dia bisa meminum lima cangkir kopi hitam tanpa menyentuh nasi sedikit pun. Apalagi sekarang ada kebocoran data. Dia pasti merasa bertanggung jawab penuh."
Bu Melani menatap jam di dinding, lalu beralih ke wajah Emma yang tampak kuyu. "Jahitannya bisa menunggu sampai besok, Emma. Renda ini tidak akan lari ke mana-mana."
"Tapi Bu, target kita—"
"Target kita adalah kebahagiaan," potong Bu Melani tegas namun hangat. "Dengar, Emma. Laki-laki seperti Arsen atau Papa Andra itu seperti gedung pencakar langit. Mereka terlihat kokoh dan tak tergoyahkan dari luar, tapi mereka butuh fondasi yang stabil di bawahnya agar tidak retak saat ada gempa. Dan saat ini fondasi itu adalah kamu."
Emma terdiam, mencerna kata-kata pemilik butik itu.
"Pergilah," lanjut Bu Melani. "Siapkan makanan yang dia suka. Datangi dia ke perusahaan. Bukan untuk membantunya memperbaiki server, tapi untuk mengingatkannya bahwa dia masih punya dunia yang lebih penting daripada sekadar data digital."
Emma menatap manekin gaun pengantin itu sekali lagi. "Apa tidak apa-apa jika saya tinggal, Bu?"
"Sangat tidak apa-apa. Malah aku yang akan merasa berdosa kalau membiarkan desainer andalanku menjahit dengan hati yang gelisah. Pergilah jemput suamimu, bawa dia kembali ke 'bumi' sebentar."
Emma mengangguk mantap. "Terima kasih, Bu Melani. Saya akan selesaikan sisanya besok subuh."
Pukul 20.00 – Lobby Adhianata Corp
Gedung pencakar langit itu masih menyala terang di lantai-lantai atasnya, kontras dengan kegelapan malam Jakarta. Emma melangkah keluar dari taksi sambil menjinjing dua tas besar berisi rantang makanan dan termos kopi. Ia mengenakan blus sederhana, namun auranya sebagai Nyonya Adhianata kini tak bisa disembunyikan.
Petugas keamanan di lobby langsung berdiri tegak saat melihatnya. "Selamat malam, Bu Emma. Ingin bertemu Pak Arsen?"
"Iya, Pak. Apa beliau masih di ruang kontrol?"
"Masih, Bu. Sejak sore belum turun. Situasinya sepertinya cukup tegang."
Emma tersenyum tipis. "Terima kasih, Pak. Saya naik dulu."
Lift membawanya ke lantai eksekutif dengan kecepatan tinggi. Saat pintu lift terbuka, suasana sibuk langsung menyambutnya. Beberapa staf IT berlari dengan wajah panik, suara telepon berdering di mana-mana. Emma berjalan lurus menuju ruang rapat utama yang kini disulap menjadi War Room.
Di sana, ia melihat pemandangan yang menyayat hatinya. Arsen berdiri di depan layar monitor raksasa, kemejanya sudah kusut, lengan bajunya digulung sampai siku, dan letak dasinya sudah asal-asalan. Di sampingnya, Papa Andra sedang berbicara lewat telepon dengan nada suara yang berat. Erlan ada di pojok lain, jemarinya menari di atas keyboard laptop dengan kecepatan luar biasa.
"Aku tidak peduli berapa biayanya, tutup celah itu sekarang!" suara Arsen menggelegar di ruangan itu.
Tidak ada yang menyadari kehadiran Emma sampai ia meletakkan tas makanannya di meja panjang di sudut ruangan. Bunyi gesekan tas itu membuat Arsen menoleh dengan cepat, wajahnya yang tadinya tegang dan penuh emosi mendadak membeku.
"Emma?" Arsen berjalan menghampirinya, langkahnya sedikit gontai. "Kenapa kamu di sini? Ini sudah malam."
Emma tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendekat, meraih tangan Arsen yang terasa dingin, lalu menatap matanya yang merah karena kurang tidur. "Aku tidak bisa tidur kalau tahu suamiku sedang bertaruh nyawa dengan layar komputer."
"Emma, keadaannya sedang gawat," bisik Arsen, suaranya parau. "Data klien kami terancam. Ini soal kredibilitas Adhianata."
"Aku tahu," sahut Emma lembut. Ia menoleh ke arah Papa Andra dan Erlan yang kini juga menghentikan aktivitas mereka sebentar. "Papa, Kak Erlan... aku membawakan sup ayam hangat dan nasi. Aku juga membawakan kopi yang tidak akan membuat lambung kalian perih."
Papa Andra menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Sepertinya malaikat pelindung kita datang, Sen."
Erlan mendekat, ia tampak paling kelelahan di antara semuanya. "Dek, sumpah... baunya lebih enak daripada kode-kode ini."
"Makan dulu," perintah Emma, kini dengan nada bicara yang tidak bisa dibantah. "Hanya lima belas menit. Data itu tidak akan lari kalau kalian makan. Tapi kesehatan kalian bisa hilang kalau tidak diurus."
Arsen hendak memprotes, namun Emma meletakkan jari telunjuknya di bibir Arsen. "Duduk, Arsen Keanu, sekarang!"
Arsen akhirnya menyerah. Ia duduk di samping Emma, menyantap sup ayam itu perlahan. Untuk pertama kalinya sejak belasan jam yang lalu, bahunya yang tegang mulai merileks.
"Bagaimana di butik?" tanya Arsen di sela suapannya.
"Hampir selesai. Gaun Mbak Nuri sudah cantik sekali. Kak Erlan pasti akan pangling," jawab Emma sambil menuangkan teh hangat untuk Papa Andra.
Arsen menatap istrinya, lalu beralih menatap tim IT-nya yang masih bekerja keras di seberang ruangan. "Kadang aku merasa gagal, Emma. Aku membangun perusahaan ini dengan begitu keras, tapi celah sekecil ini bisa mengguncang semuanya."
Emma menggenggam tangan Arsen di bawah meja. "Kamu tidak gagal, Sen. Sebuah gedung tidak dinilai dari retakan kecil di dindingnya, tapi dari seberapa kuat ia berdiri saat badai datang. Kamu sedang menjaga gedung ini, dan aku sedang menjaga penghuninya."