Bab 51 Obat stres

Penulis JanaIndria
20 January 2026

Arsen tersenyum, kali ini tulus. Ia mencium kening Emma di depan Papa Andra dan Erlan, tidak peduli lagi pada formalitas kantor. "Terima kasih sudah datang. Aku tadi benar-benar merasa sudah di ujung tanduk."

"Oiya, sayang. Tadi anakmu nitip pesan?" tanya Emma menggoda.

"Apa?"

"Dia bilang, 'Ayah itu pahlawan, tapi pahlawan juga harus mandi dan makan."

Tawa ringan pecah di ruangan yang tadinya tegang itu. Papa Andra tertawa, Erlan terbahak. Ketegangan yang mencekam sejak pagi itu seolah menguap begitu saja digantikan oleh kehangatan manusiawi.


Emma berdiri, membereskan wadah makanannya. "Aku akan menunggu di ruanganmu. Aku tidak akan pulang sebelum kamu selesai."

"Tidurlah di sofa ruanganku, Sayang. Aku janji ini tidak akan lama lagi," Arsen mengecup tangan Emma sekali lagi.

Sambil berjalan menuju ruang kerja Arsen, Emma melihat ke luar jendela kaca besar. Kota Jakarta masih sibuk dengan lampunya.


Pukul satu malam. Gedung pusat Adhianata Corp masih terang benderang di lantai-lantai atas. Di dalam ruang kerja CEO, suasana terasa mencekam. Papa Andra duduk di sofa dengan wajah lelah, sementara Arsen berdiri di depan deretan layar monitor yang menampilkan barisan kode-kode rumit.

"Bagaimana, Arsen? Apa pelakunya sudah terlacak?" suara Papa Andra terdengar berat.

"Tim siber sedang berusaha menutup celahnya, Pa. Sepertinya ini serangan terencana. Mereka mencoba mengambil data nasabah di anak perusahaan digital kita," Arsen memijat pelipisnya. Matanya merah, kemejanya sudah kusut dengan lengan yang digulung sampai siku.

"Ini bisa merusak kepercayaan investor yang sudah kita bangun susah payah," keluh Papa Andra.

"Arsen tahu, Pa. Arsen tidak akan membiarkan Adhianata runtuh karena ulah hacker kelas teri. Papa pulanglah dulu, Mama sudah menelepon terus. Biar Arsen yang di sini bersama tim."

Setelah Papa Andra pergi dengan berat hati, keheningan menyelimuti ruangan itu. Hanya suara detak jam dinding dan dengung pelan pendingin ruangan. Arsen kembali ke ruangannya, ada istrinya di sana.

"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Arsen sesaat setelah membuka pintu.

"Aku menunggumu," Emma tersenyum, melangkah mendekat.

Arsen menghampirinya, langsung merengkuh pinggang Emma dan membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Aroma melati yang menenangkan langsung menyapu sisa-sisa stresnya.

"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu."

"Aku juga, Tapi pekerjaanmu sepertinya benar-benar menyita waktu," Emma mengelus rambut Arsen yang sedikit berantakan.

Arsen melepaskan pelukannya sejenak, menatap mata Emma. "Maafkan aku. Masalah data ini benar-benar serius. Aku tidak ingin satu pun celah merusak masa depan yang sedang kita bangun."

Emma menatap layar-layar monitor di belakang Arsen, lalu menatap kamera CCTV yang berkedip di sudut langit-langit ruangan. Ia menyadari sesuatu—ketegangan di bahu Arsen bukan hanya soal pekerjaan, tapi soal gairah yang tertekan oleh stres.

Emma melangkah menuju meja kerja Arsen. Dengan gerakan yang tenang namun penuh maksud, ia menekan beberapa tombol di panel kontrol keamanan yang ada di bawah meja.

Klik. Layar kontrol menunjukkan bahwa kamera CCTV di dalam ruangan itu telah dimatikan.

Arsen memperhatikan gerakan Emma dengan kening berkerut, namun sedetik kemudian matanya menggelap saat menyadari apa yang dilakukan istrinya.

"Sayaaang ... apa yang-"

"CCTV sudah mati. Sekarang, hanya ada aku dan kamu. Tidak ada Adhianata Corp, tidak ada peretas, tidak ada kebocoran data," bisik Emma, suaranya berubah menjadi rendah dan menggoda.

Emma melangkah mendekati Arsen, tangannya meraba dada bidang Arsen dari balik kemeja kerjanya yang sudah tak rapi. Ia meremas otot dada suaminya dengan perlahan, merasakan detak jantung Arsen yang mulai berpacu kencang di bawah telapak tangannya.

"Sayaaang , aku sedang lelah..." gumam Arsen, namun tangannya justru menarik pinggang Emma lebih dekat.

"Justru karena kamu lelah, kamu butuh pelepasan, Sayang," Emma menjinjit, membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Arsen, lalu menggigit kecil cuping telinganya.

Arsen mengerang rendah. Tangan Emma tidak berhenti di sana. Ia melepaskan satu per satu kancing kemeja Arsen, lalu tangannya turun, meraba perut suaminya yang keras dan berotot, hingga akhirnya jemarinya menemukan apa yang ia cari.

Emma meremas inti milik Arsen dari balik celana kain, yang sudah ia buka pengamannya. Gerakan tangannya mantap, ritmis, dan penuh gairah. Arsen memejamkan mata, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan sentuhan istrinya yang begitu intens.

"Ah, Sayang ... kamu nakal sekali malam ini," bisik Arsen dengan napas yang mulai terputus-putus.

Emma tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendorong Arsen hingga duduk di pinggir meja kerjanya yang luas. Dengan gerakan berani, Emma naik ke pangkuan Arsen, kakinya melingkar di pinggang suaminya. Ia kembali meremas milik Arsen dengan lebih kuat, memberikan stimulasi yang membuat Arsen nyaris kehilangan kendali.

"Aku menginginkanmu, sekarang, di sini," tuntut Emma.

Arsen tidak bisa menahan diri lagi. Ia mencium bibir Emma dengan rakus, sebuah ciuman yang sarat akan rasa lapar dan kepemilikan. Tangannya meraba paha Emma di bawah roknya, kulit mereka yang bersentuhan seolah meledakkan aliran listrik yang membara.


Penyatuan itu terjadi di atas meja kerja yang biasanya digunakan untuk menandatangani kontrak triliunan rupiah. Namun malam ini, meja itu menjadi saksi bisu dari penyatuan cinta yang jauh lebih berharga. Ritme mereka stabil namun penuh tenaga, sebuah tarian gairah yang melepaskan seluruh beban stres Arsen.

"Sayang... ah, Sayang... kamu luar biasa," Arsen berbisik di sela-sela ciumannya di leher Emma.

Emma memeluk Arsen erat, kukunya sedikit menancap di punggung Arsen saat ia merasakan gelombang kenikmatan yang luar biasa. Namun, Arsen belum ingin ini berakhir. Ia mengangkat tubuh Emma, membawanya menuju sofa panjang berbahan kulit yang ada di sudut ruangan.

Di atas sofa yang empuk itu, Arsen mengambil kendali. Ia bergerak dengan ritme yang panjang dan intens, memastikan setiap inci dari Emma merasakan kehadirannya. Emma mendesah keras, suaranya memenuhi ruangan yang kini terasa begitu panas dan intim.

"Lebih dalam, Suamiku ... kumohon," rintih Emma.

Arsen memenuhi permintaan itu dengan gerakan yang semakin ritmis. Mereka saling meraba, saling mengeksplorasi kembali tubuh satu sama lain seolah-olah ini adalah malam pertama mereka. Gairah yang meluap-luap itu berlangsung lama, sangat panjang, hingga akhirnya keduanya mencapai puncak kebahagiaan bersama dalam sebuah ledakan kenikmatan yang memabukkan.

Hening kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini hening yang damai. Arsen tetap berada di atas Emma, memeluknya erat di atas sofa, membiarkan napas mereka perlahan kembali normal.


Emma menyandarkan kepalanya di dada Arsen, mendengarkan detak jantung suaminya yang kini sudah tenang. Arsen mencium puncak kepala Emma dengan penuh kasih sayang.

"Terima kasih, Sayang. Kamu benar ... aku merasa sepuluh kali lebih baik sekarang," bisik Arsen.

Emma tersenyum, mengusap keringat di pelipis Arsen. "Sama-sama, Sayang. Pekerjaan memang penting, tapi jangan pernah lupakan bahwa kamu manusia yang butuh dicintai."

Arsen tertawa kecil, ia bangkit dan merapikan pakaian Emma, lalu pakaiannya sendiri. Ia berjalan menuju meja kerjanya, menyalakan kembali sistem keamanan dan CCTV, namun kali ini dengan senyum yang tidak hilang dari bibirnya.

"Ayo kita pulang," ujar Arsen sambil meraih tas jinjing Emma.

"Pekerjaanmu? Data yang bocor?"

Arsen menatap layar monitornya sejenak. "Aku akan mengantarmu."

Emma menggandeng tangan Arsen, melangkah keluar dari gedung pencakar langit itu. Di bawah langit Jakarta yang gelap, mereka pulang menuju satu tempat yang paling mereka puja, rumah.