Lampu-lampu kota Jakarta mulai meredup, namun di sebuah gedung pencakar langit lain yang hanya berjarak lima kilometer, atmosfernya sangat kontras. Di lantai 42 gedung Kusuma. Corp—markas besar rival abadi Adhianata Corp—suasana justru memanas.
Di sebuah ruangan luas beralaskan karpet beludru merah, delapan pria dan wanita muda duduk di depan jajaran monitor lengkung beresolusi tinggi, yang bisa membuat departemen IT mana pun iri. Mereka adalah delapan peretas terbaik yang disewa dari berbagai belahan dunia, masing-masing dibayar dengan angka yang cukup untuk membeli sebuah rumah mewah di kawasan elite Jakarta.
Hendra Utama, pemilik Utama Group, berdiri di balkon dalam ruangan itu, menatap kerlap-kerlip lampu kota dengan segelas wiski di tangannya. Di sampingnya, putranya, Riko, terus memantau progress bar di tabletnya.
"Bagaimana, Riko? Apa tembok Adhianata sudah runtuh?" suara Hendra terdengar berat, sarat dengan kebencian yang telah mengendap selama puluhan tahun.
"Sedikit lagi, Papa. Tim sedang melakukan serangan brute force ke server cadangan mereka. Delapan orang ini bukan amatir. Mereka bekerja seperti mesin," jawab Riko, matanya berkilat penuh ambisi.
Hendra menyesap wiskinya, bibirnya melengkung membentuk senyum sinis. "Andra Adhianata... dia selalu merasa menjadi yang paling suci. Dia pikir dengan membangun bisnis berbasis 'kemanusiaan', dia bisa melindas semua orang? Aku tidak akan lupa bagaimana dia membatalkan proyek konsorsium kita setahun lalu hanya karena alasan 'etika'. Dia membuatku terlihat seperti penjahat di depan publik."
"Sekarang gilirannya Arsen, anaknya, juga sama sombongnya. Dia pikir dia jenius karena bisa menumbuhkan perusahaan tiga ratus persen? Kita akan lihat bagaimana dia merangkak di lantai saat seluruh data kliennya kita jual ke pasar gelap."
Hendra berbalik, menatap delapan peretasnya yang bekerja dalam keheningan total, hanya suara detak keyboard mekanik yang terdengar seperti berondongan peluru.
"Hei, kalian!" teriak Hendra. "Aku membayar kalian lima puluh miliar bukan untuk melihat kalian mengetik lambat! Mana akses ke basis data inti?"
Salah satu peretas, seorang pria kurus dengan rambut dicat perak—sang pemimpin yang dikenal dengan nama Ghost—menoleh tanpa melepaskan tangannya dari keyboard.
"Tuan Utama, Adhianata ini tidak menggunakan protokol standar," ujar Ghost dengan suara datar. "Pertahanannya berlapis. Sepertinya seseorang di sana baru saja mengganti kunci enkripsinya secara manual. Kami butuh waktu sepuluh menit lagi untuk membongkar gerbang ketiga."
"Lakukan sekarang!" bentak Hendra. "Aku ingin kehancuran total. Bukan hanya datanya, aku ingin seluruh sistem operasional mereka mati permanen!"
Pukul 04.30 WIB – Kediaman Erlan Erlan terjaga di depan meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan kertas denah rumah lamanya dan tiga monitor yang terus berkedip. Matanya merah, kepalanya berdenyut. Ia baru saja kembali dari kantor pukul dua pagi tadi, namun otaknya menolak untuk berhenti bekerja.
Ia menatap kode-kode yang mengalir di layar. Tiba-tiba, ia berhenti. Ia teringat percakapannya dengan Emma semalam tentang gaun pernikahan Nuri.
"Bunga melati itu kalau renggang terlihat kosong, Kak. Harus rapat tapi punya pola tersembunyi," kata Emma semalam.
Erlan bergumam sendiri, "Pola tersembunyi-"
Ia menarik keyboard-nya. "Kalau mereka menyerang lewat jalur pipa data utama, kenapa aku tidak membuat pipa itu terlihat kosong, padahal datanya mengalir lewat jalur yang terlihat seperti sampah digital?"
Jemari Erlan bergerak secepat kilat. Ia menemukan sebuah logika baru—sebuah algoritma kamuflase yang belum pernah dipikirkan siapa pun. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.
"Aku dapat!" teriaknya pelan dengan sangat bersemangat.
Tanpa membuang waktu, ia menyambar kunci mobilnya. Ia harus segera sampai di kantor sebelum serangan fajar dari para peretas itu mencapai puncaknya.
Pukul 05.15 WIB – Lobby Adhianata Corp Udara pagi yang dingin menyambut Erlan saat ia memarkir mobilnya secara asal-asalan di depan lobby. Hampir bersamaan, sebuah mobil SUV mewah hitam berhenti tepat di sampingnya.
Seorang pria paruh baya keluar dari pintu belakang dengan wajah lelah namun tetap tegap. Papa Andra.
"Erlan? Kamu sepagi ini sudah kembali?" tanya Papa Andra, suaranya sedikit parau.
"Papa juga? Kenapa tidak istirahat dulu di rumah?" Erlan mendekat, menyalami tangan papanya.
"Papa tidak bisa tenang, Lan. Memikirkan data klien dan kerja keras kalian selama ini terancam ... Papa merasa tidak pantas tidur di kasur empuk sementara anak-anak Papa bertaruh nyawa di depan layar," sahut Papa Andra lembut.
Tiba-tiba, dari pintu samping kemudi SUV tersebut, Arsen keluar. Penampilannya jauh dari kata rapi. Kemejanya yang semalam masih sama, rambutnya berantakan, dan wajahnya sangat pucat. Ia mengucek mata berkali-kali.
"Arsen?" tanya Erlan heran.
Arsen menguap lebar, mencoba meregangkan otot lehernya. "Aku baru tidur mungkin satu jam setelah mengantar Emma pulang tadi."
Papa Andra menepuk bahu Arsen. "Bau parfum Emma masih menempel di bajumu, Sen. Seharusnya tadi kamu nggak usah ikut aja, istirahat dengan istrimu."
"Tidak bisa, Pa," Arsen menggeleng tegas, matanya kini mulai fokus. "Emma juga setuju. Aku mandi di kantor saja nanti."
Mereka bertiga berjalan menuju lift. Di dalam ruang sempit yang bergerak naik itu, keheningan menyelimuti.
"Lan," panggil Arsen. "Kamu punya ide baru?"
"Punya," sahut Erlan mantap. "Idenya datang dari Emma."
"Emma?" Arsen mengangkat alis.
"Ya. Tentang pola tersembunyi di gaun pengantin Nuri. Aku akan menerapkan logika itu pada enkripsi server kita. Kita tidak akan menahan serangan mereka, Sen. Kita akan membiarkan mereka masuk ke ruangan yang terlihat sangat mewah, penuh dengan data yang mereka cari, padahal itu semua adalah perangkap."
Papa Andra tersenyum bangga. "Gunakan semua sumber daya yang Papa punya, Lan. Arsen, bantu kakakmu. Papa akan mengurus hubungan dengan pihak otoritas siber."
Arsen duduk di sebelah Erlan, tangannya bergerak cepat membantu Erlan mengonfigurasi ulang sistem. Papa Andra duduk di belakang mereka, sesekali menyodorkan air minum atau sekadar memberikan pijatan kecil di bahu Erlan.
"Gila, Lan," gumam Arsen sambil menatap layar. "Kalau ini berhasil, server Hendra akan meledak karena serangan balik otomatis."
"Itu tujuannya, Sen," Erlan menyeringai. "Mereka pikir kita sedang bertahan. Mereka tidak tahu kita sedang memasang bom di pintu masuk mereka."
Sementara itu di pihak lawan, yang dilengkapi dengan fasilitas ruangan yang sangat mewah. Ada bar pribadi, kursi pijat otomatis, hingga ruang istirahat dengan tempat tidur sutra. Hendra memanjakan mereka agar mereka tidak memiliki alasan untuk gagal. Namun, ketegangan tetap terasa. Kebencian Hendra pada keluarga Adhianata adalah bahan bakar utama dari seluruh operasi ini.
"Papa benar-benar membenci Andra sampai ke tulang, ya?" tanya Riko sambil menyesuaikan posisi duduknya.
"Kamu tidak akan mengerti, Riko. Andra adalah bayang-bayang yang selalu mengikutiku. Saat aku berhasil, dia lebih berhasil. Saat aku jatuh, dia yang seolah-olah menjadi penyelamat dengan cara yang menghina. Bahkan saat menantunya—Emma itu—dikabarkan meninggal, aku sempat merasa senang. Tapi lihat sekarang? Dia kembali hidup, bahkan membawa anak. Keluarga mereka terlihat terlalu sempurna. Dan aku benci kesempurnaan yang palsu itu."
"Papa tenang saja. Malam ini, kesempurnaan itu akan pecah," ujar Riko sombong.
Tiba-tiba, Ghost mengumpat pelan. "Sial! Ada gangguan!"
Hendra langsung menghampiri meja peretas itu. "Apa maksudmu gangguan?!"
"Seseorang di sana melakukan serangan balik," ujar Ghost, jemarinya bergerak lebih cepat, menciptakan irama yang panik. "Ini bukan serangan otomatis, ini pasti manusia. Seseorang sedang menambal celah yang kami buka secara real-time. Siapa yang memimpin divisi IT Adhianata malam ini?"