"Biasanya kepala IT mereka, tapi dia tidak sehebat itu," jawab Riko bingung.
"Ini bukan kepala IT biasa," desis Ghost. "Logikanya ... ini sangat personal. Dia seperti tahu setiap langkah yang akan kami ambil. Dia sangat defensif tapi mematikan."
"Kami sedang mencoba menyuntikkan malware ke jalur pipa data mereka, Pak Hendra," sahut peretas lain, seorang wanita bernama Luna.
"Tapi setiap kali kami masuk, sistem mereka mendeteksi dan langsung memindahkan datanya ke server bayangan. Ini gila."
"Tingkatkan serangannya!" perintah Hendra. "Gunakan seluruh sumber daya yang ada. Aku ingin pagi ini Adhianata Corp menjadi sejarah!"
Hendra mencengkeram bahu kursi Ghost. "Gunakan serangan kelima! Hancurkan server cadangan mereka sekarang!"
"Kami sedang mencoba, Tuan! Tapi... tunggu... apa ini?" Ghost berhenti sejenak. Monitornya mendadak menampilkan sebuah gambar statis.
“BOS! KITA TEMBUS!" teriak Zero kegirangan. "Pipa datanya terbuka! Semua data klien Adhianata ada di depan mata!"
Hendra langsung berdiri, mendekati monitor. "Ambil semuanya! Hancurkan server aslinya setelah kalian selesai menyedot datanya!"
"Sedang mengunduh... 10%... 30%... 50%..." Luna bersorak dengan bersemangat.
"Mudah sekali. Ternyata Adhianata cuma besar nama!"
Namun, saat angka mencapai 99%, layar monitor Zero tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah. Sebuah gambar muncul di sana, sketsa bunga melati yang sangat indah, namun di tengahnya terdapat logo Adhianata Corp.
"Apa ini?" Hendra bertanya, suaranya gemetar.
"Tunggu... ini bukan data!" wajah Zero pucat pasi. "Ini... ini virus balik! Dia memutar arus datanya! Komputer kita mulai menghapus dirinya sendiri!"
"PUTUSKAN KONEKSINYA! SEKARANG!" raung Hendra.
"Tidak bisa, Bos! Sistem kita terkunci dari luar! Seluruh data perusahaan kita... mereka sedang menyedot data kita sekarang!" teriak Luna panik.
"APA-APAAN INI?!" teriak Hendra, ia membanting gelas wiskinya hingga hancur berkeping-keping di lantai marmer. "Kalian semua pecundang! Bagaimana bisa foto itu muncul di monitor kita?!"
Ghost menyandarkan punggungnya, wajahnya yang pucat kini tampak pasrah. "Mereka meretas balik kita, Tuan Utama. Melalui celah yang kami buat sendiri saat mencoba masuk ke server mereka. Mereka tidak mencuri data kita... mereka hanya mengirim pesan."
"Tutup semuanya! Matikan servernya!" perintah Riko panik.
"Sudah terlambat," ujar peretas wanita di ujung meja. "IP kita sudah terekam. Jika mereka mau, mereka bisa melaporkan ini ke siber polri dalam hitungan detik dengan bukti jejak digital yang tidak bisa dihapus."
Hendra terengah-engah, wajahnya merah padam. Kebenciannya yang meluap-luap justru membawanya ke dalam lubang yang ia gali sendiri. "Andra... Arsen... kalian..."
Di saat yang sama, di gedung Adhianata Corp, Erlan menarik tangannya dari keyboard. Ia mengusap keringat di dahinya, yang tak bisa di hapus oleh udara dingin AC. Dia lalu menoleh pada Arsen dan Papa Andra yang berdiri di belakangnya.
"Berhasil, Lan?" tanya pak Andra dengan wajah yang sudah terlihat sangat Lelah, namun masih terjaga di samping Arsen.
"Berhasil," jawab Erlan dengan senyum lelah. "Aku menggunakan 'pintu belakang' yang pernah aku buat saat Emma hilang dulu. Aku tahu siapa yang menyerang kita. Hanya satu orang yang punya pola serangan penuh dendam seperti ini. Hendra Utama."
Arsen mengepalkan tangannya. "Utama Group? Jadi dia yang membayar delapan hacker itu?"
"Sepertinya begitu," sahut Papa Andra dengan nada tenang namun berwibawa.
"Hendra tidak pernah berubah. Dia pikir teknologi bisa mengalahkan segalanya. Dia lupa bahwa perusahaan ini punya hati."
Arsen menatap monitor yang baru saja dibersihkan oleh Erlan. "Apa kita akan melaporkannya, Pa?"
Papa Andra diam sejenak. "Tidak sekarang. Pesan dari Erlan tadi sudah cukup membuatnya tidak bisa tidur selama setahun. Biarkan dia tahu bahwa keluarga Adhianata bukan lagi sekadar nama bisnis, tapi sebuah kesatuan yang tidak bisa ditembus oleh kebencian."
Fajar menyingsing dengan sisa-sisa ketegangan yang perlahan menguap di udara. Di lantai eksekutif Adhianata Corp, cahaya matahari pagi menembus jendela kaca besar, menyinari debu-debu yang menari di atas meja-meja penuh kabel.
Papa Andra meregangkan punggungnya hingga terdengar bunyi berkerut. Wajahnya yang tegap kini terlihat sangat kuyu.
"Sen, Lan... Papa rasa sistem sudah benar-benar aman," ujar Papa Andra sambil menatap monitor yang menunjukkan grafik stabil. "Papa sudah tidak kuat lagi menahan kelopak mata ini."
Arsen yang sedang menyandarkan kepala di punggung kursi menoleh pelan. Matanya merah, kantung matanya menghitam. "Sama, Pa. Rasanya kalau aku berkedip sekali lagi, aku akan langsung pingsan di sini."
Erlan tertawa lemah, suara seraknya terdengar seperti parutan kayu. "Ide melati Emma benar-benar menguras otak, tapi setidaknya kita menang. Aku mau masuk ruangan. Tolong, jangan ada yang panggil aku kecuali kalau ada gempa bumi."
"Bahkan kalau ada gempa, seret saja kursiku keluar, jangan bangunkan aku," timpal Arsen sambil berdiri dengan langkah gontai.
Mereka bertiga berjalan keluar dari ruang kontrol. Di depan pintu, sekretaris masing-masing sudah berdiri dengan raut cemas sekaligus lega.
"Mira," panggil Arsen pada sekretarisnya. "Aku mau tidur di dalam. Tolong, batalkan semua janji sampai jam dua siang. Jangan ada telepon masuk, jangan ada yang mengetuk pintu. Kalau ada tamu penting, bilang saja aku sedang dalam perjalanan ke Mars."
Mira mengangguk takzim. "Baik, Pak Arsen. Saya akan pastikan tidak ada seekor nyamuk pun yang mengganggu."
Papa Andra menoleh pada sekretarisnya sendiri. "Sama, ya. Saya mau melanjutkan tidur yang tertunda. Dan tolong, pesankan kopi paling enak untuk anak-anak IT di dalam. Mereka luar biasa."
"Siap, Pak Andra."
Setelah ketiga pimpinan itu masuk ke ruangan masing-masing dan mengunci pintu, suasana di luar ruang kontrol menjadi sunyi. Namun, di dalam ruang kontrol, sepuluh staf IT yang juga terjaga semalaman tidak langsung pulang.
Bram, kepala tim IT, berdiri dan meregangkan otot lehernya. "Guys, pimpinan sudah tumbang. Kita juga perlu istirahat."
"Mau pulang, Mas Bram? Rasanya nyetir motor dalam kondisi begini sama saja cari mati," sahut salah satu staf wanita bernama Siska.
Bram melihat sekeliling ruangan. "Benar juga. Gimana kalau kita bereskan ruangan ini sebentar? Geser meja-meja itu ke pinggir. Kita gelar sisa beanbag dan karpet di tengah. Kita tidur bareng-bareng di sini saja."
"Setuju!" jawab mereka serempak.
Tanpa banyak bicara, sepuluh orang itu bekerja sama. Mereka mencabut kabel-kabel yang tidak perlu, menggeser meja panjang ke sudut, dan menumpuk kursi-kursi. Dalam lima belas menit, ruang kontrol yang tadinya sempit dan berantakan berubah menjadi ruang luas yang lega.
Beberapa dari mereka mengambil jaket sebagai bantal, yang lain menggunakan tas laptop.
"Selamat tidur, pejuang siber," gumam Bram sebelum akhirnya terlelap hanya dalam hitungan detik setelah kepalanya menyentuh lantai yang dialasi karpet.
Aroma rendang dan soto ayam menyeruak memenuhi lantai dasar gedung Adhianata Corp. Jam makan siang sedang mencapai puncaknya. Karyawan-karyawan hilir mudik dengan baki di tangan. Namun, ada yang berbeda hari ini. Di setiap meja kasir kantin, terdapat tulisan besar: "KHUSUS HARI INI: MAKAN SIANG GRATIS UNTUK SELURUH KARYAWAN. DIBAYAR OLEH MANAJEMEN."
"Wah, ada apa nih? Pak Andra ulang tahun?" tanya seorang staf administrasi pada temannya.
"Katanya sih karena kita baru saja menang besar lawan serangan hacker semalam. Lihat itu, pimpinan kita turun ke kantin!"
Di sudut kantin, Papa Andra, Arsen, dan Erlan tampak berjalan masuk. Mereka sudah mandi dan berganti pakaian bersih, meskipun sisa-sasa kelelahan masih tampak di wajah mereka.
"Wah, penuh sekali ya," ujar Papa Andra sambil tersenyum melihat kegembiraan karyawannya.
"Biar mereka senang, Pa. Semalam itu tekanan untuk seluruh gedung, bukan cuma kita," sahut Arsen.
Erlan mengedarkan pandangan. "Mana anak-anak IT? Apa mereka masih tidur?"
"Sepertinya sudah bangun. Tadi Mira bilang mereka sedang turun," jawab Arsen.