Tak lama kemudian, sepuluh staf IT yang dipimpin Bram muncul. Wajah mereka tampak lebih segar setelah tidur beberapa jam, meskipun rambut mereka masih berantakan karena bantal darurat. Begitu melihat Papa Andra, mereka tampak agak sungkan.
"Bram! Sini, bergabung dengan kami!" panggil Papa Andra dengan suara berwibawa namun hangat.
Sepuluh staf itu mendekat dengan ragu. "Eh, Pak Andra... Pak Arsen... Pak Erlan. Terima kasih atas makan gratisnya."
"Duduklah," ujar Arsen, menunjuk meja panjang di sebelahnya. "Kalian tidak perlu sungkan. Hari ini tidak ada atasan dan bawahan. Hari ini kita hanya keluarga yang baru saja selamat dari musibah."
Mereka pun duduk. Suasana kantin yang tadinya agak segan karena kehadiran pimpinan, perlahan menjadi cair saat Erlan mulai melontarkan candaan.
"Bram, aku dengar tadi pagi kalian tidur tumpuk-tumpukan di ruang kontrol?" tanya Erlan sambil tertawa.
Bram tersipu. "Aduh, maaf Pak Erlan. Habisnya kalau pulang ke kosan, saya takut tertidur di lampu merah."
"Tidak apa-apa," sahut Papa Andra. "Justru itu menunjukkan solidaritas kalian. Aku sangat bangga punya tim sekokoh kalian."
Saat makanan mulai disajikan, Arsen berdiri sejenak. Ia mengetuk gelasnya dengan sendok, menarik perhatian seluruh penghuni kantin.
"Rekan-rekan semua," suara Arsen menggema. "Terima kasih atas dedikasi kalian hari ini. Terutama untuk sepuluh orang di depan saya ini."
Arsen menunjuk tim IT. "Semalam, mereka adalah benteng terakhir kita. Tanpa mereka, data perusahaan ini mungkin sudah dijual di pasar gelap. Papa Andra dan saya sudah memutuskan sesuatu."
Arsen melirik Papa Andra, yang mengangguk mantap.
"Sebagai rasa terima kasih kami, khusus untuk sepuluh staf IT yang lembur semalam, kami memberikan bonus sebesar dua kali gaji bulan ini," ujar Arsen.
Kantin mendadak hening selama dua detik, sebelum akhirnya meledak dalam tepuk tangan dan sorakan riuh. Siska, staf IT wanita tadi, bahkan sampai meneteskan air mata.
"Dua kali gaji, Pak?" tanya Bram tak percaya.
"Dua kali gaji," ulang Papa Andra. "Gunakan untuk menyenangkan keluarga kalian. Beli mainan untuk anak kalian, atau bawa orang tua kalian makan enak. Kalian pantas mendapatkannya."
"Terima kasih, Pak! Terima kasih banyak!" seru mereka hampir bersamaan.
Arsen duduk kembali, ia merasa hatinya jauh lebih ringan. Ia merogoh ponselnya, mengirim pesan pada Emma.
Arsen: Sayang, krisis benar-benar berakhir. Kami sedang di kantin. Aku baru saja memberi bonus untuk mereka. Rasanya... sangat lega bisa menjadi manusia lagi.
Tak lama, balasan masuk.
Emma: Aku bangga padamu, Sen. Kabari kalau mau pulang, aku buatkan camilan kesukaanmu dan Saka. Pahlawan harus dirayakan di rumah juga.
Arsen tersenyum menatap layar ponselnya. Ia menoleh ke arah Erlan yang sedang asyik berebut kerupuk dengan salah satu staf IT. Ia menatap Papa Andra yang sedang mendengarkan curhatan staf kantin.
"Kemanusiaan," gumam Arsen dalam hati. "Ternyata itu kode enkripsi paling kuat yang pernah ada."
Makan siang itu berlangsung lama, penuh tawa dan cerita. Tidak ada lagi ketakutan akan Hendra atau serangan peretas. Di kantin perusahaan yang sederhana itu, keluarga Adhianata baru saja membuktikan bahwa kepemimpinan bukan soal seberapa tinggi gedung yang mereka bangun, tapi seberapa dalam mereka menyentuh hati orang-orang di dalamnya.
Setelah makan siang, Arsen kembali ke ruangannya. Ia tidak langsung bekerja. Ia berdiri di jendela, menatap gedung Adhianata Kusuma milik Darmawan di kejauhan. Ia tahu, di sana pasti sedang ada kekacauan besar. Namun, ia tidak merasa menang karena dendam. Ia merasa menang karena ia punya sesuatu yang tidak dimiliki Darmawan: kesetiaan orang-orang di sekelilingnya.
Mira mengetuk pintu. "Pak Arsen, ada titipan dari Butik L'aura."
"Masuk, Mira."
Mira membawa sebuah kotak kecil. Di dalamnya terdapat sebuah pin perak berbentuk melati kecil. Ada catatan singkat di dalamnya.
"Untuk pahlawan siberku. Agar kamu ingat, bahwa di balik setiap teknologi, ada hati yang menjagamu. - Emma"
Arsen menyematkan pin itu di kerah jasnya. Ia menarik napas panjang, aroma melati imajiner seolah menenangkan sarafnya yang tegang.
"Mira," panggil Arsen.
"Iya, Pak?"
"Kirimkan karangan bunga terbesar ke Butik L'aura. Tuliskan di kartunya: 'Terima kasih pada sang desainer, karena polanya telah menyelamatkan sebuah kerajaan.'"
"Baik, Pak Arsen."
Arsen kembali duduk di kursinya. Kali ini, ia tidak membuka laporan keuangan. Ia membuka folder foto di komputernya, melihat foto Saka yang sedang merangkak di taman rumah Erlan.
"Sederhana," bisik Arsen. "Hidup ini sebenarnya sangat sederhana kalau kita tahu apa yang diperjuangkan."
Di lantai bawah, sepuluh staf IT sedang bersiap pulang dengan wajah berseri-seri. Bonus dua kali gaji bukan hanya soal uang bagi mereka, tapi soal pengakuan bahwa keberadaan mereka dianggap penting. Dan di ruangannya, Papa Andra sedang menelepon istrinya, berjanji akan pulang lebih awal untuk makan malam bersama.
Keluarga Adhianata telah kembali. Bukan hanya sebagai penguasa korporat, tapi sebagai manusia yang utuh. Dan di sebuah sudut kota, di sebuah butik yang harum, seorang wanita bernama Emma tersenyum sambil terus menjahit, tahu bahwa doa-doanya yang terjahit dalam setiap helai benang, telah dikabulkan oleh semesta.
Di lantai 42 gedung Adhianata Kusuma, kemewahan yang biasanya terasa angkuh kini berubah menjadi mencekam. Ruangan yang dirancang untuk merayakan kemenangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan dengung kipas dari jajaran server yang mulai kepanasan. Di tengah ruangan, Hendra berdiri mematung. Wajahnya yang biasanya merah karena amarah, kini pucat seperti kertas yang sudah diremas.
Di hadapannya, delapan peretas yang ia sewa dengan harga miliaran rupiah sedang sibuk mengemasi barang-barang pribadi mereka ke dalam tas ransel. Tidak ada lagi tarian jemari di atas keyboard. Hanya ada keputusasaan.
"Mau ke mana kalian?" suara Hendra pecah, terdengar serak dan rapuh.
Zero, sang pemimpin tim peretas, menoleh tanpa ekspresi. Ia menutup laptop mahalnya dengan bunyi klik yang tajam. "Kami pergi, Pak Hendra. Kontrak selesai."
"Selesai?!" Hendra berteriak, suaranya menggema di ruangan luas itu. "Kalian belum menghancurkan Adhianata! Kalian baru saja merusak setengah dari sistem pertahananku sendiri! Kalian berhutang padaku!"
Luna, satu-satunya wanita di tim itu, tertawa sinis sambil menyampirkan tasnya di bahu. "Berhutang? Pak Hendra, kami hampir masuk penjara gara-gara obsesi gila Bapak. Anda tidak bilang kalau kami akan melawan monster."
"Kalian peretas terbaik! Aku membayar kalian untuk menjadi monster!" raung Hendra.
"Ada perbedaan antara monster dan maestro, Pak," Zero melangkah mendekati Hendra. Ia menatap pria tua itu dengan tatapan kasihan. "Kami ini peretas. Kami bekerja demi uang. Tapi tim IT Adhianata? Mereka bekerja seperti orang yang sedang melindungi nyawa mereka sendiri."
"Dia pasti hanya anak ingusan!"
"Anak ingusan itu baru saja menggunakan logika yang berbeda," sahut Zero pelan. "Sebuah algoritma yang bahkan tidak ada di buku teks mana pun. Itu bukan sekadar kode, Pak Hendra. Itu adalah seni. Mereka sengaja membiarkan kami masuk, memberi kami harapan, lalu mengunci kami di dalam ruang hampa sementara mereka menyedot balik semua data aset Bapak."
Hendra terhuyung, ia berpegangan pada pinggiran meja mahogani. "Apa maksudmu dengan menyedot balik?"
Luna menyeringai pahit. "Artinya? Seluruh bukti transfer Bapak, daftar suap mungkin, hingga cadangan dana di luar negeri ... semuanya sudah ada di tangan Arsen Adhianata sekarang. Bapak tidak punya apa-apa lagi. Gedung ini? Mungkin besok sudah disegel."
Hendra terduduk lemas di kursinya. "Tidak mungkin... Aku punya segalanya. Aku sudah merencanakan ini bertahun-tahun!"
"Bapak punya uang," potong Zero. "Tapi Adhianata punya loyalitas. Saat kami menyerbu, kami melihat mereka saling mendukung, mereka bertarung untuk bersama. Kami bertarung untuk cek dari Bapak. Dalam dunia siber, hati seringkali mengalahkan kecepatan prosesor."