Bab 55 Tamu tak diundang

Penulis JanaIndria
20 January 2026

"Pergi ..." bisik Hendra pelan. "Pergi kalian semua dari sini!"

"Tanpa Bapak suruh pun kami pergi," ujar Zero. "Oh, satu lagi. Kami sudah menghapus semua jejak kami, tapi kami tidak bisa menghapus kesalahan Bapak. Tim IT Adhianata mengirimkan pesan terakhir sebelum mereka memutus koneksi."

"Pesan apa?"

Zero membuka ponselnya, membacakan sebuah baris teks singkat. "Hendra, kebencian hanya akan membuatmu buta pada keindahan yang kamu lawan. Salam dari tim IT yang mencintai pekerjaan mereka."

Setelah kedelapan peretas itu keluar, ruangan itu benar-benar sunyi. Hendra menatap monitor besar yang kini hanya menampilkan layar biru—tanda kematian sistemnya.


Pintu kantor Hendra terbuka tanpa ketukan. Seorang pria muda dengan setelan jas abu-abu masuk. Ia bukan peretas, ia adalah pengacara utama dari Firma Hukum Adhianata. Di belakangnya, dua orang petugas dari otoritas bursa menyusul.

"Pak Hendra," sapa sang pengacara dingin. "Saya rasa Anda sudah tahu kenapa kami di sini."

Hendra bahkan tidak mendongak. "Arsen mengirimmu untuk mengejekku?"

"Tidak. Pak Arsen terlalu sibuk merayakan kembalinya istrinya untuk sekadar mengejek Anda," jawab sang pengacara sambil meletakkan setumpuk dokumen di meja. "Ini adalah surat sita jaminan. Perusahaan Anda dinyatakan pailit mulai jam sepuluh pagi tadi. Seluruh aset Anda telah dibekukan karena bukti tindak pidana pencucian uang yang... secara sukarela masuk ke server kami semalam."

Hendra tertawa getir. "Sukarela? Kalian mencurinya!"

"Kami tidak mencuri, Pak Hendra. Anda yang mengirimkannya lewat pipa data yang Anda buka sendiri," sahut salah satu petugas otoritas bursa. "Kami di sini hanya untuk menjalankan prosedur."

"Aku ingin bicara dengan Andra," desis Hendra. "Hanya Andra."

"Pak Andra sedang beristirahat. Beliau berpesan satu hal," sang pengacara mendekat. "Beliau bilang: 'Hendra, aku sudah memaafkanmu tiga puluh tahun lalu. Sayangnya, kamu tidak pernah memaafkan dirimu sendiri atas kegagalanmu sendiri.'"

Hendra menutup matanya rapat-rapat. Kata-kata itu lebih tajam daripada surat penyitaan mana pun. Selama ini ia mengira dendamnya adalah mesin penggeraknya, ternyata itu adalah racun yang membunuh sistemnya dari dalam.


Hendra berdiri sendirian di jendela kantornya yang kini terasa asing. Ia melihat orang-orang di luar ruangannya mulai mengemasi barang-barang. Karyawan yang dulu ia bentak-bentak kini menatapnya dengan pandangan benci sekaligus kasihan.

Ponselnya bergetar. Sebuah nomor yang ia kenal. Diana.

"Halo, Diana..." suara Hendra gemetar.

"Mas... aku sudah dengar semuanya," suara Diana terdengar lelah di seberang sana.

"Semua orang pergi, Mas. Papa juga kecewa berat. Kenapa Mas harus melakukan ini? Kita sudah punya cukup uang, Mas. Kenapa harus Adhianata?"

"Karena mereka punya apa yang tidak pernah aku miliki, Diana," bisik Hendra. "Mereka punya kebahagiaan yang nyata. Aku pikir kalau aku menghancurkan mereka, aku akan merasa lebih baik. Ternyata aku hanya menghancurkan diriku sendiri."

"Pulanglah, Mas. Masih ada sisa rumah di kampung. Kita mulai dari awal sebagai manusia biasa, bukan sebagai penguasa yang haus darah."

Hendra terdiam. "Mungkin sudah terlambat, Diana. Polisi sedang menuju ke sini."

"Mas..."

"Maafkan aku, Diana. Sampaikan pada Papa, aku gagal menjaga warisannya karena aku terlalu sibuk menjaga benciku."

Hendra mematikan teleponnya. Ia melepaskan jam tangan mahalnya, meletakkannya di meja yang kosong. Ia melihat sebuah foto lama di lacinya—foto dirinya dan Andra Adhianata saat masih muda, berdiri di depan kantor kecil mereka yang pertama.

Saat itu, mereka belum punya server canggih, belum punya miliaran rupiah. Tapi saat itu, Hendra ingat ia bisa tertawa lepas tanpa harus merasa terancam.

"Ternyata Erlan benar," gumam Hendra sambil menatap bayangannya di kaca. "Logika melati... pola tersembunyi. Keindahan itu memang ada, tapi aku terlalu sibuk membuat duri."

Pintu kantornya kembali terbuka. Kali ini, petugas kepolisian masuk.

"Pak Hendra? Anda ikut kami."

Hendra tidak melawan. Ia mengulurkan tangannya untuk diborgol dengan sikap yang hampir tenang. Saat ia berjalan keluar melewati koridor kantornya yang kini runtuh, ia melihat sebuah pesan di layar televisi lobby yang masih menyala.

Berita tentang Arsen Adhianata yang menyumbangkan sebagian besar bonus kemenangannya untuk panti asuhan dan pendidikan tim IT-nya.

Hendra tersenyum tipis. Sebuah senyum yang pahit namun jujur. Di saat terakhirnya sebagai pengusaha, ia akhirnya mengakui satu hal: Adhianata tidak menang karena kode. Mereka menang karena mereka tahu apa artinya pulang.


Mobil polisi membawa Hendra menjauh dari gedung yang pernah ia banggakan. Di jalan raya, ia sempat berpapasan dengan sebuah SUV hitam yang ia kenali. Itu mobil Arsen.

Entah kenapa Hendra membayangkan jika dalam SUV itu, Arsen sedang tertawa sambil menggendong Saka. Emma duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahu suaminya. Mereka tidak melihat ke arah mobil polisi itu. Mereka terlalu sibuk dengan dunia kecil mereka yang baru saja diselamatkan.

Hendra menyandarkan kepalanya di kursi mobil polisi yang keras. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, ia merasa bebannya terangkat. Bukan karena ia menang, tapi karena ia akhirnya berhenti bertarung melawan sesuatu yang tidak bisa ia kalahkan: ketulusan.

"Pak," panggil salah satu polisi. "Anda baik-baik saja?"

Hendra mengangguk pelan. "Ya. Saya hanya sedang berpikir... besok adalah hari pertama saya tidur tanpa harus merencanakan kehancuran orang lain. Itu rasanya... sangat lega."

Lampu lalu lintas berubah hijau. Mobil polisi itu melaju, membawa Hendra menuju pertanggungjawabannya, sementara di sisi lain kota, keluarga Adhianata sedang merajut kembali benang-benang kebahagiaan mereka yang sempat terputus.


Pagi itu, kediaman Adhianata tidak lagi bernuansa kaku seperti markas korporat. Sinar matahari menerobos masuk ke ruang makan, memantul di atas meja marmer yang kini selalu penuh dengan tawa dan aroma masakan rumah. Krisis data sudah berlalu, Hendra sudah meringkuk di balik jeruji, dan hidup Arsen terasa begitu penuh.

Arsen berdiri di dekat meja bar dapur, menyesap kopi hitamnya sambil menatap Emma yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk Saka. Emma mengenakan daster rumahan yang sederhana namun terlihat sangat cantik dengan rambut yang dicepol asal-asalan.

Arsen meletakkan kopinya, melangkah perlahan, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Emma dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di bahu istrinya itu.

"Harum," bisik Arsen pelan, mengecup leher Emma singkat.

"Aduh, jangan mulai ... Aku lagi goreng telur, nanti gosong," protes Emma, meski ia menyandarkan kepalanya ke pipi Arsen.

"Biarkan saja gosong. Kita bisa pesan lewat ojek online. Aku cuma mau begini sebentar," gumam Arsen, semakin mengeratkan pelukannya.

Tiba-tiba, suara derap kaki kecil terdengar berlari di atas lantai kayu.

"AYAH! LEPAS!"

Bocah kecil berusia dua tahun lebih itu muncul dengan wajah bersungut-sungut. Saka, mengenakan piyama motif dinosaurus, berdiri dengan tangan di pinggang. Matanya yang bulat menatap tajam ke arah tangan Arsen yang melingkar di perut Bundanya.

Arsen tertawa, sengaja tidak melepaskan pelukannya. "Kenapa dilepas? Bunda kan istri Ayah."

Saka berlari mendekat, lalu mencoba memisahkan tangan Arsen dengan tenaga kecilnya. "Ndak boleh! Bunda... punya Caka! Ayah cana!"

"Saka, Ayah kangen sama Bunda. Masak Ayah tidak boleh peluk?" goda Arsen, kini malah mengangkat Emma sedikit hingga kakinya menggantung.

"AYAH NAKAL! BUNDA... TOLONG!" teriak Saka panik, wajahnya memerah karena cemburu.

Emma tertawa geli, ia menepuk lengan Arsen. "Sudah, Ayah. Lihat itu, anakmu sudah mau menangis. Lepaskan aku."