Arsen akhirnya melepaskan Emma. Begitu kakinya menyentuh lantai, Saka langsung merangsek masuk ke tengah-tengah, berdiri di antara kaki Emma dan Arsen, membelakangi Arsen seolah menjadi perisai bagi ibunya.
"Bunda... jangan peluk Ayah," rajuk Saka sambil mendongak menatap Emma.
"Kenapa, Sayang?" Emma berjongkok, mengusap pipi Saka yang gembil.
"Ayah... jenggotnya tajam. Nanti Bunda cakit," dalih Saka dengan alasan yang dibuat-buat, sambil melirik sinis ke arah dagu Arsen yang sebenarnya sudah dicukur bersih.
Arsen berlutut di hadapan Saka. "Tajam? Mana ada tajam? Coba sini, Ayah kasih ciuman jenggot!"
Arsen mencoba meraih Saka untuk menggelitikinya, namun Saka justru bersembunyi di balik daster Emma. "NDA MAU! Ayah bau kopi! Bunda wangi bunga!"
Setelah sarapan, mereka menghabiskan waktu di taman belakang rumah Erlan yang kini menjadi tempat favorit Saka di Taman Belakang. Emma duduk di ayunan kayu, sementara Arsen mencoba duduk di sampingnya.
"Saka, lihat itu ada burung!" Arsen menunjuk ke arah pohon besar, mencoba mengalihkan perhatian putranya yang sedang bermain mobil-mobilan di rumput.
"Mana?" Saka menoleh sebentar, lalu kembali menatap ayahnya dengan curiga. "Ayah jangan duduk dekat Bunda."
Arsen mendesah frustrasi yang dibuat-buat. "Al, tolong aku. Anakmu ini benar-benar tidak mau berbagi."
Aleea yang sedang duduk di kursi santai sambil membaca majalah tertawa terbahak-bahak. "Itu karma, Kak. Dulu Kak Arsen juga protektif banget sama Kak Emma sampai semua orang nggak boleh dekat. Sekarang Saka cuma meniru ayahnya."
"Tapi ini istriku sendiri, Al!" seru Arsen.
Arsen kembali mencoba taktik lain. Ia merangkul bahu Emma dan mengecup keningnya dengan cepat. Cup!
Saka yang melihat itu langsung melempar mobil-mobilannya. Ia berlari kencang, lalu memanjat ke pangkuan Emma, menutupi wajah Emma dengan kedua tangan kecilnya.
"Ndak boleh cium! Ndak boleh!" Saka berteriak protes.
"Saka, Ayah sayang Bunda. Makanya Ayah cium," jelas Emma lembut sambil memangku putranya yang mendadak manja.
"Caka juga sayang Bunda!" Saka kemudian mencium pipi Emma berkali-kali dengan suara muah yang berisik. Setelah itu, ia menoleh ke arah Arsen dengan ekspresi penuh kemenangan. "Caka lebih banyak ciumnya!"
Arsen hanya bisa mengurut dadanya. "Dia benar-benar menganggapku saingan, Sayang."
"Sabar, Papa Muda," goda Emma. "Dia cuma takut perhatianku terbagi."
Sore harinya, Arsen harus mengecek beberapa dokumen kantor di ruang kerjanya. Emma masuk membawakan camilan dan jus buah.
"Capek?" tanya Emma sambil memijat bahu Arsen yang kaku.
"Sedikit. Tapi melihatmu masuk ke sini, capeknya hilang," Arsen menarik tangan Emma, mengecup telapak tangannya. "Sini duduk sebentar."
Emma duduk di pangkuan Arsen. Mereka terdiam sejenak, menikmati keheningan sore itu. Arsen menyandarkan kepalanya di dada Emma, menghirup aroma ketenangan yang selama dua tahun ini hanya ada dalam mimpinya.
"Aku mencintaimu, Sayang. Sangat," bisik Arsen.
"Aku tahu, Suamiku. Aku pun begitu."
Emma menunduk, bibir mereka hampir bersentuhan untuk sebuah kecupan yang dalam, saat tiba-tiba pintu ruang kerja yang tidak tertutup rapat didorong dengan keras.
BRAK!
Saka berdiri di sana dengan botol susunya. Ia menatap pemandangan di depannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Bunda... Ayah nakal lagi?" suaranya bergetar, tampak sangat sedih.
Arsen langsung menegakkan duduknya, Emma hampir melompat turun dari pangkuan.
"Eh, Saka... Ayah cuma... Ayah cuma mau peluk Bunda sebentar," Arsen mencoba menjelaskan dengan wajah kikuk.
Saka tidak menjawab. Ia berjalan perlahan menuju mereka, lalu meletakkan botol susunya di meja kerja Arsen. Ia tidak berteriak kali ini. Ia justru menarik tangan Arsen, lalu menarik tangan Emma, dan meletakkan kedua tangan orang tuanya itu di atas kepalanya.
"Jangan berantem..." bisik Saka pelan. "Ayah peluk Caka saja. Jangan peluk Bunda terus. Bunda capek."
Arsen tertegun. Ia melihat binar ketulusan di mata anaknya. Ternyata, Saka bukan hanya cemburu. Bocah itu mengira ayahnya yang besar dan kuat terkadang "mengganggu" ibunya yang dianggapnya rapuh.
"Saka sayang Ayah?" tanya Arsen, suaranya mendadak serak karena haru.
Saka mengangguk pelan, lalu memeluk leher Arsen dengan erat. "Sayang ... tapi Ayah jangan bikin Bunda nangis ya? Kalau Ayah peluk Bunda kuat-kuat, Bunda nanti cakit."
Arsen terdiam. Ia baru menyadari bahwa selama ini, setiap kali ia memeluk Emma dengan emosional karena sisa trauma masa lalu, Saka memperhatikannya. Saka yang masih kecil menganggap pelukan erat ayahnya adalah sebuah beban bagi ibunya.
Arsen menggendong Saka, membawanya ke dalam pelukan yang hangat bersama Emma. "Ayah janji, Saka. Ayah tidak akan menyakiti Bunda. Ayah memeluk Bunda karena Ayah sangat bersyukur Bunda ada di sini. Sama seperti Ayah bersyukur Saka ada di sini."
Saka meletakkan kepalanya di bahu Arsen. "Ayah... ganteng."
Emma tersenyum, menyeka air mata yang mulai jatuh di pipinya. "Tuh kan, akhirnya dipuji juga."
"Tunggu, tadi Saka bilang apa?" Arsen menjauhkan wajah Saka sedikit.
"Ayah... ganteng. Seperti Caka," ulang Saka sambil tersenyum lebar, memamerkan gigi-gigi kecilnya yang rapi.
Malam harinya, saat Saka sudah tertidur lelap di antara mereka berdua di tempat tidur besar, Arsen terus menatapi wajah putranya. Ruangan hanya diterangi lampu tidur yang temaram.
"Dia mirip sekali denganku ya, Sayang?" bisik Arsen.
"Sangat mirip. Sifat keras kepalanya, posesifnya, bahkan cara tidurnya yang suka menendang selimut," jawab Emma pelan agar tidak membangunkan Saka.
"Dia anak yang hebat, Arsen. Dia tahu betapa berharganya keluarga ini."
Tiba-tiba, dalam tidurnya, Saka mengigau kecil. Tangannya bergerak mencari tangan Arsen dan Emma. Begitu menemukan jemari ayahnya dan ibunya, Saka menggenggam keduanya dan menyatukannya di atas perutnya.
"Ayah... Bunda... jangan pergi..." gumam Saka dalam tidurnya.
Arsen memejamkan mata, air matanya jatuh tanpa suara. Kalimat itu—kalimat yang sama yang selalu Arsen bisikkan dalam doanya selama dua tahun Emma menghilang—kini keluar dari mulut anaknya.
Arsen mencium kening Saka, lalu beralih mencium kening Emma.
"Aku tidak akan pergi ke mana pun lagi," janji Arsen dalam hati.
Arsen tersenyum, ia menarik Emma lebih dekat, meskipun di antara mereka ada Saka. "Apapun untuk kalian. Bahkan jika aku harus rela tidak memelukmu seharian karena dijaga 'satpam' kecil ini."
Emma tertawa kecil. "Satpam kecil yang sangat mencintai ayahnya, meskipun dia malu mengakuinya."
Arsen menatap Saka sekali lagi. Rasa iri Saka tadi siang, kemarahannya saat Arsen mencium Emma, semuanya adalah bentuk cinta yang paling murni. Arsen menyadari, kebahagiaan sejati bukan terletak pada seberapa besar Adhianata Corp, tapi pada genggaman tangan kecil yang menyatukan mereka malam ini.
"Terima kasih, Emma. Terima kasih sudah memberiku Saka," bisik Arsen sebelum akhirnya terlelap dalam damai yang paling sempurna.
Rumah tua itu kini berdiri dengan gagah, namun tetap menyimpan kehangatan masa lalu yang kental. Aroma bunga melati segar menyeruak dari setiap sudut ruangan, bercampur dengan wangi kayu jati yang baru dipoles. Pagi ini, kediaman Erlan bukan sekadar bangunan, melainkan saksi bisu kembalinya kebahagiaan yang sempat tercerabut.
Di ruang tengah, tempat yang dulu menjadi saksi bisu pernikahan orang tua mereka, kini telah disulap menjadi area akad nikah yang sangat elegan. Erlan berdiri di depan cermin besar, merapikan beskap putihnya dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Kak, jangan ditarik terus kerahnya. Nanti miring," suara lembut Emma menghentikan gerakan tangan Erlan.
Erlan menoleh, menatap adiknya yang tampak sangat anggun dengan kebaya seragam keluarga berwarna biru safir. "Dek... aku masih merasa ini mimpi. Kamu di sini, merapikan bajuku... di rumah kita."
Emma tersenyum, matanya berkaca-kaca. Ia merapikan lipatan beskap kakaknya dengan telaten. "Ini nyata, Kak. Aku di sini. Dan sebentar lagi, Mbak Nuri akan resmi jadi bagian dari kita."
"Gaunnya, Emma..." Erlan menatap manekin kosong di sudut kamar tempat gaun Nuri tadi diletakkan sebelum dibawa ke ruang rias. "Aleea bilang itu desain terbaikmu. Nuri sampai menangis waktu pertama kali mencoba."
"Itu doa yang aku jahit, Kak. Setiap helai benangnya adalah caraku bilang terima kasih karena Kakak sudah menjaga rumah ini untukku," bisik Emma.