Bab 57 Kita nikah lagi?

Penulis JanaIndria
20 January 2026

Di ruang tamu, suasana jauh lebih ceria. Saka, mengenakan beskap mini yang persis dengan milik Arsen, sedang berlarian kecil mengejar Aleea.

"Tante Al! Saka... pahlawan! Jaga pintu!" seru Saka dengan wajah serius, membuat Aleea tertawa terbahak-bahak.

"Iya, Tante tahu. Tapi pahlawan tidak boleh lari-lari sampai berkeringat, nanti beskapnya kusut, lho," goda Aleea sambil menangkap bocah itu.

Arsen muncul dari arah tangga, tampak sangat tampan dan berwibawa. Ia segera menghampiri putranya. "Saka, sini sama Ayah. Jangan ganggu Tante Al, dia sedang sibuk menyiapkan janur."

Saka merentangkan tangan, meminta digendong. "Ayah... Saka ganteng?"

Arsen mencium pipi gembil anaknya. "Sangat ganteng. Paling ganteng di rumah ini, setelah Ayah tentu saja."

"Ih, narsisnya mulai," sahut Aleea sambil mencibir. "Tapi benar, Sen. Lihat Saka, dia benar-benar 'mini me'-mu. Papa dan Mama tadi sampai berebut mau ajak Saka foto di depan."

Papa Andra dan Mama Ratna memang sedang duduk di teras, menyapa tamu-tamu keluarga yang mulai berdatangan. Saat melihat Arsen menggendong Saka mendekat, wajah mereka bersinar.

"Sini, Sayang... cucu Eyang," Mama Ratna mengambil Saka dari gendongan Arsen. "Andra, lihat... beskap ini buatan Emma benar-benar pas di badan Saka. Dia terlihat seperti pangeran kecil."

"Emma memang luar biasa," puji Papa Andra. "Dia bukan cuma desainer, dia perajut hati. Lihat rumah ini, Andra merasa seperti kembali ke masa muda saat pertama kali berkunjung ke sini."


Saat Nuri melangkah keluar dari kamar rias, suasana mendadak sunyi. Gaun pengantin berwarna putih mutiara dengan bordir melati di bahunya tampak berkilau lembut. Sederhana, namun sangat berkelas. Emma berdiri di samping pintu, menatap Nuri dengan rasa bangga yang luar biasa.

Nuri berhenti sejenak di depan Emma, menggenggam tangannya. "Emma... terima kasih. Aku merasa sangat cantik hari ini."

Emma memeluk Nuri singkat. "Mbak memang cantik. Kak Erlan sudah menunggu di depan. Titip Kakakku ya, Mbak."

Prosesi akad berlangsung sangat khidmat. Erlan mengucapkan ijab kabul dengan suara yang mantap namun penuh emosi. Saat saksi meneriakkan kata "Sah!", tangis haru pecah di ruangan itu. Erlan menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang. Emma, yang duduk di samping Arsen, menggenggam tangan suaminya erat-erat.

"Dia bahagia, Sayang," bisik Arsen di telinga istrinya.

Setelah acara akad dan makan siang keluarga yang hangat, suasana menjadi lebih santai. Tamu-tamu mulai berpamitan, menyisakan keluarga inti. Emma dan Arsen melipir ke sudut taman belakang, tempat yang dulu sering digunakan Emma untuk melamun saat merindukan Arsen.

Mereka duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga yang rimbun. Saka sedang tertidur pulas di dalam gendongan Ibu Suti di teras.

Arsen menatap Emma lama. Sinar matahari sore menerpa wajah Emma, menyoroti kecantikan yang kini terlihat lebih tenang dan matang.

"Sayang," panggil Arsen pelan.

"Iya?"

Arsen meraih kedua tangan Emma, menggenggamnya dengan sangat erat. Matanya mendadak memerah. "Melihat Erlan dan Nuri tadi... melihat betapa indahnya pesta ini, meskipun sederhana... aku tiba-tiba teringat sesuatu."

Emma terdiam, ia bisa merasakan perubahan emosi di suara Arsen.

"Pernikahan kita..." Arsen menunduk, air matanya jatuh di punggung tangan Emma.

"Kita hanya menikah di rumah sakit, Emma. Tanpa bunga-bunga seperti ini. Tanpa dekorasi indah. Hanya ada bau antiseptik, suara monitor dan ketakutan bahwa itu mungkin hari terakhir kita."

"Aku merasa berhutang padamu," isak Arsen, kini ia menangis bersama Emma.

"Aku ingin melihatmu memakai gaun seperti Nuri. Aku ingin melihatmu berjalan di karpet merah, dielu-elukan banyak orang sebagai istriku yang sah. Aku ingin menebus semua kesederhanaan yang terpaksa kamu telan karena keadaanku saat itu."

Arsen mendongak, menatap mata Emma yang sudah bermata basah dengan penuh permohonan. "Sayang... maukah kamu jika kita mengadakan resepsi lagi? Yang sangat megah. Yang paling mewah di Jakarta. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kamu adalah ratuku. Aku ingin memberikan pesta yang dulu tidak sempat kuberikan."

Sayang memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir deras. Ia merasakan cinta Arsen yang begitu besar, namun ia tersenyum di tengah tangisnya. Ia menggeleng perlahan.

"Tidak, Ayahnya Saka. Terima kasih banyak, tapi jawabanku tidak."

Arsen tertegun. "Kenapa, Sayang? Aku punya segalanya sekarang. Adhianata Corp sangat kuat. Aku bisa memberikan pesta paling megah sekalipun."

Emma menghapus air mata di pipi Arsen dengan ibu jarinya. "Sayang, dengar aku. Pernikahan kita di rumah sakit itu... meskipun tanpa bunga dan tanpa dekorasi, adalah pernikahan yang paling jujur. Itu adalah saat kita berjanji untuk saling menjaga tanpa tahu apakah hari esok masih ada. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup."

"Tapi Sayang..."

"Aku tidak butuh pesta mewah untuk merasa seperti ratu," potong Emma lembut.

"Aku sudah merasa menjadi ratu setiap kali kamu pulang kerja dan mencium keningku. Aku merasa menjadi ratu setiap kali melihat Saka tumbuh sehat. Pesta megah hanya akan menjadi pajangan, Sen. Aku lebih suka jika uang itu kita gunakan untuk sesuatu yang abadi."

Arsen mengernyit. "Sesuatu yang abadi? Maksudmu?"

Emma menatap ke arah dalam rumah, ke arah tim IT yang dulu membantu mereka, yang kini juga hadir di sana bersama keluarga mereka.

"Aku teringat sepuluh staf IT yang lembur semalam saat krisis data," ujar Emma. "Mereka punya anak-anak, Sen. Dan aku yakin, banyak karyawan di Adhianata Corp yang berjuang setengah mati untuk biaya sekolah anak-anak mereka. Daripada kita menghabiskan miliaran rupiah hanya untuk pesta satu malam yang akan dilupakan orang, bagaimana kalau kita berikan beasiswa?"

Arsen terdiam, terpukau dengan cara berpikir istrinya.

"Beasiswa pendidikan untuk anak-anak karyawan yang kurang mampu," lanjut Emma. "Mulai dari SD sampai kuliah. Aku ingin setiap anak di Adhianata Corp punya kesempatan yang sama untuk sukses. Itu adalah pesta yang sesungguhnya bagiku, Sen. Melihat mereka tersenyum karena masa depan mereka terjamin."

Arsen menatap Emma dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Rasa bangga, cinta, dan haru bercampur jadi satu. "Kamu benar-benar malaikat, Sayang. Aku selalu berpikir tentang angka dan gengsi, tapi kamu selalu berpikir tentang hati."

"Tapi ada catatannya," tambah Emma dengan nada serius.

"Apa itu?" tanya Arsen dengan dahi mengkerut.

"Data penerimanya harus benar-benar valid. Aku ingin kita mengambil data dari orang yang benar-benar bisa kita percaya. Bukan cuma sekadar laporan di atas meja. Aku ingin tim IT-mu yang hebat itu memverifikasi siapa yang benar-benar butuh. Kita tidak boleh salah sasaran."

Arsen tertawa kecil di tengah sisa tangisnya, ia memeluk Emma sangat erat. "Tentu. Aku akan tugaskan Erlan untuk memimpin tim verifikasi data ini. Dia sangat teliti."

Emma membalas pelukan Arsen, menyandarkan kepalanya di dada suaminya. "Terima kasih, Arsen. Terima kasih sudah mau mendengarkanku."

"Akulah yang berterima kasih, Sayang. Kamu mengingatkanku bahwa menjadi kaya bukan soal seberapa banyak yang kita pamerkan, tapi seberapa banyak yang bisa kita bagikan."


Malam merayap perlahan menyelimuti Jakarta, namun di rumah lama yang kini telah bersalin rupa menjadi istana mungil yang kokoh itu, keheningan terasa begitu damai. Lampu-lampu taman menyala temaram, membiarkan bayang-bayang pepohonan menari ditiup angin malam yang sejuk. Pesta kecil setelah akad nikah Erlan dan Nuri baru saja berakhir beberapa jam yang lalu.

Erlan dan Nuri sudah berpamitan untuk naik ke lantai atas, memulai babak baru kehidupan mereka di kamar yang telah direnovasi dengan sentuhan kayu jati yang mewah. Kini, hanya tersisa Arsen dan Emma di teras depan, berdiri berdampingan menatap hamparan langit yang bertabur bintang.

Saka, putra mereka, sudah tertidur lelap di kamar tamu lantai bawah. Kelelahan setelah seharian menjadi "pahlawan kecil" yang berlarian ke sana kemari.

"Yang," panggil Emma lembut. Suaranya hampir tenggelam dalam desir angin, namun Arsen mendengarnya dengan jelas.

"Ya?" Arsen menoleh, merapatkan posisinya.