Bab 58 Daybed

Penulis JanaIndria
20 January 2026

"Aku bahagia sekali hari ini. Melihat Kak Erlan akhirnya menikah, melihat rumah ini kembali hidup dan bernapas... rasanya perjalananku bersembunyi selama dua tahun itu benar-benar berakhir malam ini. Beban itu... akhirnya luruh," Emma menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Arsen.

Arsen melingkarkan lengannya, merangkul bahu Emma dengan protektif. Ia mencium pelipis istrinya dengan penuh pemujaan.

"Perjalananmu sebagai bayangan sudah berakhir, Sayang. Tapi perjalananmu sebagai cahayaku baru saja dimulai kembali," bisik Arsen.

"Besok, aku akan ke kantor dan mengumumkan program 'Beasiswa Emma Adhianata'. Aku ingin dunia tahu bahwa istriku adalah alasan di balik senyum banyak orang."

Emma tersenyum, namun ia mendongak menatap mata Arsen yang tajam namun teduh. "Jangan pakai namaku, Yang. Aku serius."

"Kenapa? Itu bentuk penghormatanku untukmu."

"Pakai nama 'Saka Gama' saja," ujar Emma lembut. "Biar dia belajar sejak kecil bahwa namanya bukan hanya soal warisan harta, tapi harus membawa manfaat untuk orang lain. Biar dia tumbuh menjadi pria yang tahu cara memberi, seperti ayahnya."

Arsen tertegun sejenak. Ia menatap keikhlasan di mata Emma. Tak ada lagi keraguan, hanya ada cinta yang meluap. Ia mengecup puncak kepala Emma dengan sangat lama.

"Apapun yang kamu inginkan, Sayang. Apapun. Nama 'Saka Gama' akan menjadi legenda kebaikan karena ibunya yang luar biasa."

Hening sejenak. Arsen merasakan detak jantung Emma yang beradu dengan dadanya. Hasrat yang tertahan sejak tadi siang, saat melihat Emma begitu anggun dalam balutan kebaya, kini mulai merayap naik. Ia memutar tubuh Emma agar menghadapnya sepenuhnya.

"Masuk yuk? Udah malam," ajak Arsen, suaranya mendadak berubah sedikit serak.

Emma mengangguk. Mereka melangkah pelan, bersama sama masuk ke dalam rumah, melewati ruang tengah yang masih beraroma melati, menuju kamar tempat mereka menginap malam ini.

Dan begitu pintu kamar tertutup dan kunci diputar, suasana mendadak berubah. Kamar yang hanya diterangi oleh lampu tidur di sudut ruangan yang memancarkan cahaya kekuningan yang sangat redup. Sepertinya di sengaja, Arsen tidak menyalakan lampu utama. Ia membiarkan kegelapan yang tipis menjadi saksi bagi mereka.

Di atas ranjang besar, Saka tertidur melintang, tangannya memeluk bantal guling kecil. Nafasnya teratur, menandakan ia benar-benar pulas.

Arsen mendekati Emma yang berdiri di dekat sofa panjang—daybed—yang terletak di dekat jendela besar yang tertutup tirai tipis. Tanpa sepatah kata pun, Arsen menarik Emma ke dalam pelukannya. Sangat erat.

"Saka sudah tidur nyenyak sekali," bisik Emma, mencoba meredam debaran jantungnya yang mulai tak keruan.

"Dan aku sudah tidak tahan lagi," balas Arsen. Suaranya rendah, sarat akan gairah yang telah lama ia tekan demi menghormati hari besar Erlan.

Tangan Arsen mulai bergerak. Ia meraba punggung Emma, menyusuri ritsleting gaun malam yang kini dikenakan istrinya. Perlahan, kain sutra itu meluncur jatuh, menyingkap bahu Emma yang mulus dan putih di bawah cahaya temaram.

Arsen membenamkan wajahnya di ceruk leher Emma, menghirup aroma sabun dan aroma alami tubuh Emma yang selalu membuatnya mabuk. "Dua tahun aku hanya memeluk bantal dingin, Sayaang. Malam ini, aku ingin menebus setiap detiknya."

Emma mendesah pelan saat bibir Arsen mulai memberikan kecupan-kecupan panas di lehernya. "Sayaaaang ... ah... pelan-pelan..."

Arsen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membimbing Emma menuju sofa panjang di pojok kamar. Ia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak putra mereka di ranjang utama, namun ia juga tak bisa lagi menunda keinginan untuk menyatu dengan istrinya.

Emma duduk di atas sofa tersebut, dan Arsen segera berlutut di depannya. Matanya menatap Emma dengan lapar, namun penuh cinta. Ia membuka kancing kemejanya satu per satu dengan tergesa, menampakkan dada bidangnya yang berotot.

"Kamu cantik sekali malam ini, Sayang, sangat cantik," puji Arsen. Tangannya merangkak naik, meraba paha Emma yang hangat, lalu naik ke arah dada.

Emma memejamkan mata saat tangan besar Arsen menyentuh dadanya yang terlindungi lingerie tipis. Arsen menarik tali tipis itu, membiarkan keindahan di depannya terpampang nyata. Di bawah pendar lampu kekuningan, dada Emma tampak berkilau.

Arsen mendekatkan wajahnya. Ia ingin memberikan tanda bahwa wanita ini sepenuhnya miliknya. Ia mulai mengecup kulit lembut di atas dada Emma. Bukan sekadar kecupan, Arsen menghisapnya perlahan namun bertenaga, menciptakan "stempel cinta" kemerahan yang kontras dengan kulit putih istrinya.

"Ini tandaku," bisik Arsen di sela cumbuannya. "Biar semua orang tahu, dan biar kamu selalu ingat, kamu adalah milik Arsen Wijaya."

Emma mendongakkan kepalanya, tangannya meremas rambut Arsen saat bibir suaminya turun lebih jauh. Arsen bergerak menuju puncak yang menegang. Ia tidak terburu-buru. Ia menyesapnya perlahan, mengecup ujungnya dengan gerakan memutar yang membuat Emma memekik tertahan, menekan suaranya agar tidak membangunkan Saka.

"Ssh ... sshhh... jangan di situ..." rintih Emma, namun tangannya justru menekan kepala Arsen agar lebih merapat.

"Kenapa? Kamu menyukainya, kan?" goda Arsen. Ia menggoda ujung yang sensitif itu dengan lidahnya, menciptakan sensasi dingin dan panas yang beradu.

Lantai kamar terasa dingin, namun suhu di atas sofa panjang itu memanas luar biasa. Arsen meraba perut Emma, menyusuri garis-garis halus yang menjadi bukti perjuangan Emma melahirkan anaknya. Ia menciumi garis-garis itu dengan takzim.

"Terima kasih sudah menjaga Saka untukku," gumam Arsen.

Ia kemudian bangkit, mendudukkan Emma di pangkuannya di atas sofa panjang tersebut. Mereka saling berhadapan, kulit bertemu kulit tanpa penghalang. Arsen merangkul pinggang Emma, menariknya hingga tidak ada lagi jarak.

Ciuman mereka kini lebih dalam, lebih menuntut. Bibir Arsen melumat bibir Emma dengan penuh gairah, sementara tangannya tidak berhenti meraba lekukan tubuh istrinya yang sangat ia hafal namun selalu terasa baru setiap saat.

Emma bisa merasakan kerasnya tubuh Arsen yang mendamba. Ia meraba punggung Arsen yang berkeringat, kuku-kukunya sedikit menancap saat Arsen memberikan kecupan-kecupan basah di sepanjang garis dadanya kembali.

"Kamu membuatku basah, Sayang. Luar biasa basah oleh keinginan," bisik Arsen tepat di telinga Emma.

Arsen membaringkan Emma di atas sofa panjang tersebut. Sofa itu cukup lebar untuk menampung gairah mereka berdua. Ia memposisikan dirinya di antara kaki Emma, menatap mata istrinya yang kini sayu oleh kabut nafsu.

"Aku mencintaimu, Sayang. Sangat," ujar Arsen sebelum kembali menenggelamkan dirinya dalam kehangatan istrinya.

Penyatuan itu terjadi dengan ritme yang penuh perasaan. Arsen bergerak dengan presisi, memastikan setiap gerakannya membawa Emma menuju puncak. Emma mencengkeram lengan Arsen, mencoba menahan erangan yang ingin meledak. Keringat mereka beradu, menciptakan aroma gairah yang memenuhi sudut kamar.

Di sofa panjang itu, mereka seolah lupa bahwa dunia luar masih ada. Hanya ada mereka berdua, detak jantung yang berpacu, dan janji-janji yang tak terucap namun tersalurkan lewat setiap sentuhan dan rabaan.

Arsen kembali menunduk, mengecup ujung dada Emma berulang kali saat mereka mencapai puncak bersama. Tubuh mereka menegang, saling mendekap erat dalam kepuasan yang tiada tara.


Beberapa saat kemudian, suasana kembali tenang. Arsen masih memeluk Emma di atas sofa panjang tersebut. Keduanya masih mengatur napas yang memburu. Arsen menarik selimut tipis yang tersampir di dekat sana untuk menutupi tubuh mereka yang masih menyatu.

"Sofa ini ternyata lebih nyaman dari ranjang," bisik Arsen sambil terkekeh pelan, mencium kening Emma yang basah oleh peluh.

Emma tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di dada Arsen yang masih berdegup kencang. "Gara-gara Saka. Kamu jadi 'kreatif' mencari tempat."

"Aku akan melakukan apapun untuk bisa bersamamu, Sayang. Apapun."

Arsen menoleh sejenak ke arah ranjang, memastikan Saka masih tertidur pulas. Anak itu sedikit menendang selimutnya, namun tetap tak terusik oleh keributan kecil yang baru saja terjadi.

"bolehkan aku memanggilmu dengan sebutan Ayah?" tanya Emma lagi.

"Tentu saja"

"Besok... saat kita umumkan beasiswa Saka Gama, aku ingin kita melihat senyum mereka secara langsung."

Arsen tersenyum, ia merangkul Emma lebih erat, memberikan kenyamanan yang paling hakiki. "Iya. Kita akan lakukan itu bersama. Sebagai satu keluarga yang utuh."

Arsen mengecup bibir Emma sekali lagi, sebuah kecupan yang lembut dan penuh janji. "Sekarang, tidurlah. Aku akan menjagamu."

Malam itu, di rumah lama yang penuh kenangan, Emma tertidur lelap dalam dekapan Arsen di atas sofa panjang, merasa benar-benar pulang. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan. Hanya ada cinta yang mengalir, sesederhana detak jantung dan sekuat janji yang telah mereka buktikan.

Besok, matahari akan terbit dengan cahaya yang lebih terang, membawa nama 'Saka Gama' sebagai simbol kebaikan yang lahir dari cinta yang tak pernah menyerah pada duka. Perjalanan baru mereka benar-benar baru saja dimulai.


Aroma kopi dan gorengan di kantin Adhianata Corp pagi itu terasa lebih semarak. Namun, bukan hanya karena makanan, melainkan karena sebuah pengumuman yang terpampang di layar-layar digital koridor.

"PROGRAM BEASISWA SAKA GAMA: Pendidikan Menuju Masa Depan. Pendaftaran Verifikasi Data Dibuka Hari Ini."

Bram, kepala tim IT yang tempo hari lembur, duduk bersama Pak Jono, seorang petugas kebersihan senior yang sudah bekerja belasan tahun di gedung itu.

"Pak Jono sudah dengar?" tanya Bram sambil menyeruput kopinya.