Bab 59 Sisa penyesalan

Penulis JanaIndria
20 January 2026

Pak Jono mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Sudah, Mas Bram. Tadi pagi saya dipanggil ke ruang HRD. Katanya anak saya yang bungsu, yang mau masuk kuliah teknik itu, bisa masuk daftar prioritas."

"Alhamdulillah, Pak. Itu bukan cuma buat anak kuliah, lho. Sampai SD juga ada," sahut Bram.

"Saya tadi sempat ketemu Bu Emma di lobby," ujar Pak Jono dengan suara bergetar. "Beliau yang minta data riwayat kerja saya. Beliau bilang, 'Pak Jono, terima kasih sudah menjaga kebersihan kantor ini seperti rumah sendiri. Sekarang biarkan kami menjaga sekolah anak Bapak.' Saya sampai mau sujud, Mas."

Bram menepuk bahu Pak Jono. "Pak Arsen dan Bu Emma itu beda, Pak. Mereka nggak kasih uang buat pamer. Mereka tanya dulu, apa yang kita butuh. Itu yang bikin saya betah di sini."

Di meja seberang, Siska, staf IT lainnya, ikut menimpal. "Iya, Mas. Kak Erlan yang verifikasi datanya langsung. Dia cek satu-satu, jangan sampai ada yang memanipulasi data atau yang mampu malah dapat. Semuanya harus transparan lewat sistem baru yang kita buat kemarin."

"Ini beneran beasiswa penuh, ya?" tanya seorang staf magang.

"Penuh," jawab Bram mantap. "Buku, seragam, sampai uang saku. Pak Arsen bilang, 'Saya nggak mau ada karyawan Adhianata yang pusing mikir biaya sekolah sampai harus pinjam ke pinjol'. Itu perintah langsung."

Suasana haru itu menyebar. Di setiap sudut kantor, loyalitas karyawan bukan lagi sekadar angka di kontrak kerja, melainkan sebuah ikatan batin yang kuat.


Berbeda dengan hiruk pikuk kehangatan di Adhianata, di Lembaga Pemasyarakatan, Hendra duduk termenung di sudut selnya. Rambutnya yang dulu tertata klimis kini memutih dan berantakan. Ia mengenakan seragam oranye yang terasa sangat kasar di kulitnya yang terbiasa dengan kain sutra.

"Mas Hendra, ada kunjungan dari pengacara," ujar seorang sipir.

Hendra berjalan gontai menuju ruang kunjungan. Di sana, pengacaranya memberikan beberapa dokumen laporan kebangkrutan aset.

"Sudah tidak ada yang tersisa, Pak Hendra. Semua aset disita negara untuk menutupi kerugian investor," lapor sang pengacara.

Hendra menghela napas panjang. "Sudahlah. Aku sudah tidak peduli. Aku hanya ingin menjalani sisa hidupku dengan tenang. Katakan pada Diana, jangan datang lagi. Biarkan dia memulai hidup baru tanpa namaku."

"Tapi Pak, ada satu hal lagi. Arsen Wijaya mengumumkan program beasiswa besar-besaran untuk anak-anak karyawan. Bahkan, mantan karyawan Anda yang kehilangan pekerjaan karena perusahaan Bapak pailit, dibantu oleh yayasan mereka untuk mendapatkan pelatihan kerja baru."

Hendra tertegun. "Arsen melakukan itu?"

"Iya, Pak. Atas permintaan istrinya, Bu Emma."

Hendra menunduk. Ada rasa sesak di dadanya. Bukan lagi rasa benci, melainkan rasa malu yang luar biasa. "Mereka benar-benar orang baik... Aku yang gila selama ini."

Pada saat itu, Hendra merasa bebannya sedikit terangkat. Ia berniat menghabiskan waktunya untuk berdoa dan menebus dosa. Ia ingin berhenti membenci. Ia ingin mati dalam keadaan damai.


Satu jam kemudian, saat jam istirahat di lapangan tengah penjara, Hendra duduk di bangku beton, menatap langit. Tiba-tiba, seorang pria dengan langkah terseret dan tatapan mata yang liar duduk di sampingnya.

Itu Ibra.

Ibra tampak jauh lebih buruk. Tubuhnya kurus kering, namun matanya memancarkan kegilaan yang mengerikan.

"Liat siapa ini... Hendra si penguasa yang jatuh," ejek Ibra dengan suara serak.

Hendra tidak menoleh. "Pergilah, Ibra. Aku tidak ingin bicara."

"Kenapa? Kamu sudah jadi suci sekarang?" Ibra tertawa, suara tawanya seperti gesekan amplas. "Kamu tahu apa yang sedang dilakukan Arsen sekarang? Dia sedang menertawakanmu."

"Dia tidak menertawakanku. Dia sedang menolong orang-orang yang kuhancurkan," jawab Hendra datar.

Ibra meludah ke tanah. "Menolong? Itu penghinaan, Hendra! Dia memberi beasiswa pakai nama anaknya, Saka Gama. Dia mau seluruh dunia tahu bahwa dia menang dan kita adalah pecundang yang butuh belas kasihannya! Dia sedang menginjak-injak harga dirimu dengan cara yang sopan."

Hendra meremas tangannya. "Cukup, Ibra."

"Kamu tahu, Hendra?" Ibra mencondongkan tubuh, membisikkan racun ke telinga Hendra. "Emma itu harusnya milikku. Tapi Arsen mencurinya. Dan sekarang, dia memamerkan kebahagiaannya di depan muka kita. Kamu kehilangan gedungmu, hartamu, namamu... dan Arsen memberikan sisa-sisa hartanya pada orang-orangmu supaya mereka memujanya seperti Tuhan."

"Dia punya hati, Ibra. Kita tidak," balas Hendra, meski hatinya mulai goyah.

"Hati?" Ibra tertawa manik. "Itu strategi, bodoh! Dia membuat pencitraan supaya tidak ada yang berani melawannya lagi. Kamu tahu kenapa Emma sembunyi dua tahun? Karena dia takut padaku. Tapi Arsen... dia memanfaatkannya untuk membuat cerita dramatis supaya sahamnya naik! Dia menggunakan ketakutan istrimu untuk uang!"

Hendra menoleh, menatap Ibra. "Maksudmu?"

"Arsen... dia sedang mencitrakan diri sebagai pahlawan," Ibra tertawa sinis, ludahnya sedikit memuncrat. "Dia buat beasiswa pakai nama anaknya. Dia bagi-bagi uang ke karyawan. Dia sedang tertawa di atas penderitaan kita, Hendra! Dan kamu... kamu diam saja seperti orang mati?"

Hendra menghela napas panjang, sangat panjang hingga bahunya yang kurus naik turun. "Lalu aku harus apa?"

Ibra merangkak mendekat, suaranya merendah, penuh racun. "Aku punya orang di luar. Masih ada sisa-sisa pengikutku yang setia. Kalau kita bisa koordinasi, kita bisa hancurkan program itu. Kita buat skandal. Kita bilang uangnya hasil pencucian uang. Kita buat Arsen merangkak lagi!"

Ibra mencengkeram lengan Hendra. "Ayo, Hendra! Tumbuhkan lagi bencimu! Ingat bagaimana Andra Adhianata merebut posisimu dulu? Ingat bagaimana Arsen merampas perusahaanmu sampai kamu jadi pecundang di sini? Benci, Hendra! Benci!"

Hendra perlahan melepaskan cengkeraman tangan Ibra. Ia menoleh, menatap Ibra dengan mata yang tidak lagi menyala oleh amarah, melainkan mata yang sangat lelah dan hampa.

Hendra menggelengkan kepalanya pelan. "Ibra... lihat aku."

"Apa?"

"Usiaku sudah tua. Rambutku sudah putih semua," Hendra menyentuh kepalanya sendiri. "Tiga puluh tahun aku hidup dengan benci di dadaku. Setiap pagi aku bangun, yang aku pikirkan cuma gimana caranya Andra jatuh. Setiap malam aku tidur, aku susun rencana jahat. Dan lihat di mana aku sekarang?"

Hendra menunjuk ke sekeliling sel yang sempit. "Aku di sini. Anakku Diana bahkan takut menyebut namaku di depan teman-temannya. Aku kehilangan segalanya karena benci itu, Ibra."

"Tapi kita bisa balas!" teriak Ibra gila.

"Kalau benci terus... kapan aku mikir kebahagiaan, Ibra?" tanya Hendra dengan suara yang tenang namun bergetar hebat. "Kapan aku bisa merasakan tenang kalau setiap detik otakku cuma isinya racun? Aku sudah capek. Aku ingin tidur tanpa harus merasa marah."

Ibra tertegun. Ia melepaskan tangan Hendra seolah pria tua itu baru saja berubah jadi api. "Kamu... kamu sudah jadi pengecut."

"Bukan pengecut," sahut Hendra, ia kembali menatap dinding. "Aku cuma baru sadar kalau aku ini manusia. Andra sudah menang, bukan karena dia lebih kaya, tapi karena dia tahu cara memaafkan dirinya sendiri lebih dulu. Aku? Aku baru mulai belajar itu sekarang. Di tempat ini."

Ibra memaki, ia membalikkan badannya dan memukul tembok dengan keras. Namun Hendra tetap diam. Baginya, tembok dingin itu jauh lebih damai daripada api kebencian yang selama ini membakar jiwanya.---


Sore harinya, Diana mengunjungi kediaman Adhianata. Ia datang bukan untuk meminta harta, melainkan untuk menyerahkan surat permohonan maaf dari Kakaknya.

Emma menerima Diana di teras samping. "Diana, duduklah."

"Terima kasih, Bu Emma," Diana tampak lebih tenang sekarang. Ia bekerja di sebuah LSM kecil, menjauh dari dunia korporat yang dulu menghancurkan keluarganya.

"Kakakku mengirim pesan lewat pengacara. Beliau bilang... beliau menitipkan permohonan maaf yang tulus untuk Pak Andra dan Mas Arsen."

Arsen yang baru saja masuk dengan menggandeng tangan Saka yang sedang asyik memegang mainan pesawat, tersenyum mendengar kalimat Diana.

"Kakakmu bilang begitu?" tanya Arsen datar, namun tidak ada nada permusuhan lagi.

"Iya, Pak Arsen. Kakakku bilang, beliau merasa lega sekarang. Beliau tidak ingin lagi terlibat dalam urusan dunia luar. Beliau hanya ingin menghabiskan sisa masa tahanannya dengan tenang," Diana menatap Saka.

"Dan beliau bilang... nama Saka Gama itu indah. Dan …. Saya mewakili keluarga besar berharap tidak ada lagi dendam serta kebencian antara dua keluarga."

Arsen terdiam. Ia memandang putranya. Kata-kata Diana seolah mencuci sisa-sisa trauma yang selama ini ia bawa. Musuh terbesarnya baru saja menyerah—bukan karena kekuasaan, tapi karena kesadaran.

"Sampaikan pada Pak Hendra," ujar Arsen pelan. "Kami sudah memaafkannya. Katakan padanya untuk jaga kesehatan. Diana, kalau kamu butuh bantuan untuk kunjungan atau pengobatan beliau, jangan sungkan hubungi Erlan."

Diana menangis haru. "Terima kasih, Mas Arsen. Terima kasih, Bu Emma."

Emma bangkit dari duduknya dan memeluk Diana dengan hangat, membuat tangis Diana terasa semakin dalam.


Malam itu, di aula besar Adhianata Corp, acara peluncuran beasiswa berlangsung sangat sederhana. Tidak ada pesta mewah, hanya makan malam bersama seluruh karyawan dan keluarga mereka.

Arsen berdiri di podium, menggendong Saka. Emma berdiri di sampingnya, tampak sangat anggun dengan kebaya modern hasil rancangannya sendiri.

"Malam ini," Arsen memulai pembicaraannya, suaranya menggema penuh wibawa namun hangat. "Kita tidak merayakan angka. Kita merayakan persaudaraan. Beasiswa Saka Gama ini bukan pemberian dari pimpinan kepada bawahan. Ini adalah investasi seorang kakak kepada adik-adiknya. Karena di gedung ini, kita semua adalah satu keluarga."

Saka tiba-tiba mengambil mik dari tangan Arsen. "Halo... teman-teman!" seru Saka polos, membuat seluruh ruangan tertawa gemas. "Belajar... pinter ya!"

Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Para orang tua, mulai dari manajer sampai petugas kebersihan, berdiri memberikan standing ovation.

Di pojok ruangan, Erlan dan Nuri saling berpandangan. Erlan membisikkan sesuatu ke telinga istrinya. "Kita akan buat lebih banyak lagi yang seperti ini, Nur. Hidup rasanya baru mulai benar-benar bermakna."