Kemana Rino?

20 January 2026

Tiba-tiba Rino menghilang ....

Arema berkedip cepat. Pria yang barusan berdiri di depan pintu apartemennya itu lenyap begitu saja, seolah tertelan udara malam.

Lorong apartemen yang semula terisi oleh sosok Rino kini kosong, sunyi, dan dingin.

"Rino?" panggil Arema lirih.

Namun, tak ada jawaban.

Jantung Arema berdetak kencang. Ia melangkah keluar satu langkah, menengok ke kiri dan ke kanan lorong.

Lampu temaram menyala redup, memantulkan bayangan panjang tubuhnya sendiri di lantai marmer.

Tidak ada siapa-siapa. Bahkan suara langkah kaki pun tak terdengar.

"Rino .…?" Suaranya kali ini lebih pelan, nyaris berbisik.

Perasaan aneh menjalar dari tengkuk hingga punggungnya. Dadanya terasa sesak, napasnya pendek-pendek.

Arema menutup pintu apartemen perlahan, lalu menyandarkan punggungnya ke daun pintu. Tangannya gemetar.

"Ini, ada apa, sih?” gumamnya.

Kepalanya mendadak terasa ringan. Pandangannya berkunang-kunang.

Arema berusaha melangkah ke arah sofa, tapi kakinya terasa berat seperti tertanam di lantai. Detik berikutnya, dunia di sekelilingnya menggelap.

**

Arema tersentak. Ia terbangun dengan napas terengah. Keningnya basah oleh keringat.

Matanya menatap langit-langit apartemen dengan pandangan kosong, seolah masih berusaha membedakan antara nyata dan tidak.

Beberapa detik berlalu sebelum kesadarannya benar-benar kembali.

"Haah." Arema menghembuskan napas panjang.

Ia duduk perlahan, memegangi dadanya yang masih berdebar keras. Pandangannya menyapu ruangan.

Sofa, meja kecil, lampu berdiri di sudut ruangan. Semua ada di tempatnya. Tidak ada pintu terbuka. Tidak ada lorong sunyi. Tidak ada Rino.

"Ternyata cuma mimpi," batinnya pelan, "huft, kenapa mimpi Rino segala?"

Namun anehnya, rasa sesak di dadanya belum juga hilang.

Arema mengusap wajahnya kasar. Bayangan Rino masih begitu jelas di kepalanya. Wajah itu, sorot mata iba itu, suara yang memanggil namanya dengan nada seolah menyesal.

Semua terasa terlalu nyata untuk sekadar bunga tidur.

"Astaga, kenapa sih aku masih kebawa dia?" gumamnya kesal pada diri sendiri.

Ia berdiri dan berjalan ke dapur kecil. Mengambil segelas air putih, lalu meneguknya dalam-dalam. Tenggorokannya terasa kering, seolah ia baru saja menangis lama.

Setelah sedikit tenang, Arema duduk di kursi makan. Tangannya memeluk dirinya sendiri. Pikirannya kembali melayang, memutar ulang potongan-potongan masa lalu yang selama ini ia paksa kubur, yaitu Rino.

Nama itu kini tak lagi sekadar kenangan manis, melainkan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Ia sudah berusaha bangkit.

Sudah mencoba tidak peduli. Sudah memulai hidup baru, pekerjaan baru, lingkungan baru. Tapi rupanya, hatinya belum sepenuhnya berdamai.

"Kenapa kamu muncul lagi di mimpiku?" bisiknya lirih.

"Apa yang kurang jelas dari semua yang udah kamu lakuin ke aku?"

Arema menunduk. Matanya terasa panas, tapi ia menahan air mata agar tak jatuh. Ia tidak mau menangis lagi karena lelaki yang telah memilih perempuan lain.

Ia teringat Vhero. Teringat kebaya pengantin di toko. Teringat rasa sakit yang membuatnya pura-pura sakit perut demi menghindar.

Semua itu belum lama terjadi, namun rasanya seperti luka lama yang baru saja disayat ulang.

"Sudahlah, Ma," katanya pada dirinya sendiri. "Kamu nggak boleh lemah lagi."

Arema menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia berdiri dan berjalan ke jendela besar apartemen.

Tirai tipis sedikit terbuka, menampilkan gemerlap lampu kota di kejauhan. Malam begitu hidup, sementara hatinya masih berjuang menata ulang kepingan yang retak.

"Aku sekarang bukan Arema yang dulu," ucapnya tegas, meski suaranya sedikit bergetar.

"Aku punya kerjaan. Aku punya tanggung jawab. Aku punya masa depan," lanjutnya.

Bayangan Jordi sekilas muncul di benaknya. Pria itu berbeda. Tenang, dewasa, dan memperlakukannya dengan hormat.

Tanpa merendahkan, tanpa memanfaatkan. Arema menggeleng cepat, seolah menegur dirinya sendiri. "Jangan ke mana-mana dulu pikirannya," gumamnya.

"Fokus kerja. Fokus hidup."

Ia kembali ke sofa dan duduk. Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Rasa kantuk sudah hilang, digantikan kegelisahan yang belum sepenuhnya reda.

Arema memejamkan mata sejenak. Dalam gelap kelopak matanya, wajah Rino sempat muncul lagi, namun kali ini ia mengusirnya dengan cepat.

"Aku nggak butuh kamu lagi, Rino," bisiknya pelan. "Kamu sudah memilih jalanmu sendiri. Sekarang giliranku."

Beberapa menit kemudian, tubuhnya mulai rileks. Napasnya kembali teratur. Kali ini, Arema benar-benar terlelap.

Dan tanpa ia sadari, mimpi itu bukan sekadar bunga tidur.

Masa lalu memang belum sepenuhnya pergi. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali mengetuk pintu hidup Arema, entah sebagai ujian, atau sebagai awal dari badai yang lebih besar.

**

Satu minggu berlalu sejak mimpi aneh itu. Hari-hari Arema dipenuhi rutinitas baru di kantor. Pagi hingga sore ia belajar menjadi sekretaris pribadi Jordi.

Mengatur jadwal, mencatat agenda rapat, mengarsip dokumen penting, hingga menyesuaikan diri dengan ritme kerja perusahaan besar.

Meski lelah, Arema merasa hidupnya perlahan menemukan arah.

Sore itu, Arema baru saja tiba di apartemen. Ia meletakkan tas kerjanya di sofa, melepas sepatu, lalu menghembuskan napas panjang.

"Hari ini lumayan capek," gumamnya pelan.

Tok ... tok ... tok ....

Baru saja ia hendak melangkah ke dapur untuk mengambil minum, terdengar ketukan di pintu.

Arema mengernyit. Jarang sekali ada tamu sore-sore begini.

"Iya, sebentar," sahutnya sambil berjalan ke arah pintu.

Begitu pintu dibuka, seorang kurir berdiri di hadapannya, mengenakan jaket perusahaan jasa pengiriman. Di tangannya ada sebuah amplop cokelat tanpa logo.

"Permisi, Mbak. Ada surat buat Anda," kata kurir itu sopan sambil menyodorkan amplop.

"Surat?" Arema heran. "Buat saya?"

"Iya, atas nama Arema," jawab kurir singkat.

Arema menerima amplop itu dengan perasaan aneh. "Terima kasih, Pak."

Kurir mengangguk lalu pergi meninggalkan lorong apartemen.

Pintu pun tertutup kembali, menyisakan Arema yang berdiri terpaku menatap amplop di tangannya.

"Siapa yang ngirim ini?" batinnya bertanya-tanya.

Perlahan ia melangkah ke sofa dan duduk. Amplop itu terasa sedikit tebal. Tidak ada alamat pengirim. Hanya namanya tertulis rapi dengan tinta hitam. Dengan jari gemetar, Arema membuka segel amplop itu.

Begitu isi surat terbuka, matanya langsung terbelalak. Wajahnya pucat seketika. Napasnya tercekat. Jantungnya berdetak lebih cepat, seolah hendak melompat keluar dari dadanya.

Tangannya bergetar hebat saat membaca baris demi baris isi surat tersebut. Setiap kata seperti palu yang menghantam kepalanya tanpa ampun. Ingatan-ingatan lama yang selama ini ia kubur dalam-dalam mendadak menyeruak ke permukaan.

Arema menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan napas yang semakin tidak beraturan.

Ia mengepalkan kertas surat itu erat-erat. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih semata, melainkan karena rasa takut yang perlahan merayap ke dalam hatinya.

Masa lalu yang ia kira sudah terkubur, ternyata belum mati.

Di luar, malam mulai turun. Sementara di dalam apartemen itu, Arema duduk termenung menunggu badai yang sebentar lagi akan datang.Tiba-tiba Rino menghilang ....

Arema berkedip cepat. Pria yang barusan berdiri di depan pintu apartemennya itu lenyap begitu saja, seolah tertelan udara malam.

Lorong apartemen yang semula terisi oleh sosok Rino kini kosong, sunyi, dan dingin.

"Rino?" panggil Arema lirih.

Namun, tak ada jawaban.

Jantung Arema berdetak kencang. Ia melangkah keluar satu langkah, menengok ke kiri dan ke kanan lorong.

Lampu temaram menyala redup, memantulkan bayangan panjang tubuhnya sendiri di lantai marmer.

Tidak ada siapa-siapa. Bahkan suara langkah kaki pun tak terdengar.

"Rino .…?" Suaranya kali ini lebih pelan, nyaris berbisik.

Perasaan aneh menjalar dari tengkuk hingga punggungnya. Dadanya terasa sesak, napasnya pendek-pendek.

Arema menutup pintu apartemen perlahan, lalu menyandarkan punggungnya ke daun pintu. Tangannya gemetar.

"Ini, ada apa, sih?” gumamnya.

Kepalanya mendadak terasa ringan. Pandangannya berkunang-kunang.

Arema berusaha melangkah ke arah sofa, tapi kakinya terasa berat seperti tertanam di lantai. Detik berikutnya, dunia di sekelilingnya menggelap.

**

Arema tersentak. Ia terbangun dengan napas terengah. Keningnya basah oleh keringat.

Matanya menatap langit-langit apartemen dengan pandangan kosong, seolah masih berusaha membedakan antara nyata dan tidak.

Beberapa detik berlalu sebelum kesadarannya benar-benar kembali.

"Haah." Arema menghembuskan napas panjang.

Ia duduk perlahan, memegangi dadanya yang masih berdebar keras. Pandangannya menyapu ruangan.

Sofa, meja kecil, lampu berdiri di sudut ruangan. Semua ada di tempatnya. Tidak ada pintu terbuka. Tidak ada lorong sunyi. Tidak ada Rino.

"Ternyata cuma mimpi," batinnya pelan, "huft, kenapa mimpi Rino segala?"

Namun anehnya, rasa sesak di dadanya belum juga hilang.

Arema mengusap wajahnya kasar. Bayangan Rino masih begitu jelas di kepalanya. Wajah itu, sorot mata iba itu, suara yang memanggil namanya dengan nada seolah menyesal.

Semua terasa terlalu nyata untuk sekadar bunga tidur.

"Astaga, kenapa sih aku masih kebawa dia?" gumamnya kesal pada diri sendiri.

Ia berdiri dan berjalan ke dapur kecil. Mengambil segelas air putih, lalu meneguknya dalam-dalam. Tenggorokannya terasa kering, seolah ia baru saja menangis lama.

Setelah sedikit tenang, Arema duduk di kursi makan. Tangannya memeluk dirinya sendiri. Pikirannya kembali melayang, memutar ulang potongan-potongan masa lalu yang selama ini ia paksa kubur, yaitu Rino.

Nama itu kini tak lagi sekadar kenangan manis, melainkan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Ia sudah berusaha bangkit.

Sudah mencoba tidak peduli. Sudah memulai hidup baru, pekerjaan baru, lingkungan baru. Tapi rupanya, hatinya belum sepenuhnya berdamai.

"Kenapa kamu muncul lagi di mimpiku?" bisiknya lirih.

"Apa yang kurang jelas dari semua yang udah kamu lakuin ke aku?"

Arema menunduk. Matanya terasa panas, tapi ia menahan air mata agar tak jatuh. Ia tidak mau menangis lagi karena lelaki yang telah memilih perempuan lain.

Ia teringat Vhero. Teringat kebaya pengantin di toko. Teringat rasa sakit yang membuatnya pura-pura sakit perut demi menghindar.

Semua itu belum lama terjadi, namun rasanya seperti luka lama yang baru saja disayat ulang.

"Sudahlah, Ma," katanya pada dirinya sendiri. "Kamu nggak boleh lemah lagi."

Arema menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia berdiri dan berjalan ke jendela besar apartemen.

Tirai tipis sedikit terbuka, menampilkan gemerlap lampu kota di kejauhan. Malam begitu hidup, sementara hatinya masih berjuang menata ulang kepingan yang retak.

"Aku sekarang bukan Arema yang dulu," ucapnya tegas, meski suaranya sedikit bergetar.

"Aku punya kerjaan. Aku punya tanggung jawab. Aku punya masa depan," lanjutnya.

Bayangan Jordi sekilas muncul di benaknya. Pria itu berbeda. Tenang, dewasa, dan memperlakukannya dengan hormat.

Tanpa merendahkan, tanpa memanfaatkan. Arema menggeleng cepat, seolah menegur dirinya sendiri. "Jangan ke mana-mana dulu pikirannya," gumamnya.

"Fokus kerja. Fokus hidup."

Ia kembali ke sofa dan duduk. Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Rasa kantuk sudah hilang, digantikan kegelisahan yang belum sepenuhnya reda.

Arema memejamkan mata sejenak. Dalam gelap kelopak matanya, wajah Rino sempat muncul lagi, namun kali ini ia mengusirnya dengan cepat.

"Aku nggak butuh kamu lagi, Rino," bisiknya pelan. "Kamu sudah memilih jalanmu sendiri. Sekarang giliranku."

Beberapa menit kemudian, tubuhnya mulai rileks. Napasnya kembali teratur. Kali ini, Arema benar-benar terlelap.

Dan tanpa ia sadari, mimpi itu bukan sekadar bunga tidur.

Masa lalu memang belum sepenuhnya pergi. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali mengetuk pintu hidup Arema, entah sebagai ujian, atau sebagai awal dari badai yang lebih besar.

**

Satu minggu berlalu sejak mimpi aneh itu. Hari-hari Arema dipenuhi rutinitas baru di kantor. Pagi hingga sore ia belajar menjadi sekretaris pribadi Jordi.

Mengatur jadwal, mencatat agenda rapat, mengarsip dokumen penting, hingga menyesuaikan diri dengan ritme kerja perusahaan besar.

Meski lelah, Arema merasa hidupnya perlahan menemukan arah.

Sore itu, Arema baru saja tiba di apartemen. Ia meletakkan tas kerjanya di sofa, melepas sepatu, lalu menghembuskan napas panjang.

"Hari ini lumayan capek," gumamnya pelan.

Tok ... tok ... tok ....

Baru saja ia hendak melangkah ke dapur untuk mengambil minum, terdengar ketukan di pintu.

Arema mengernyit. Jarang sekali ada tamu sore-sore begini.

"Iya, sebentar," sahutnya sambil berjalan ke arah pintu.

Begitu pintu dibuka, seorang kurir berdiri di hadapannya, mengenakan jaket perusahaan jasa pengiriman. Di tangannya ada sebuah amplop cokelat tanpa logo.

"Permisi, Mbak. Ada surat buat Anda," kata kurir itu sopan sambil menyodorkan amplop.

"Surat?" Arema heran. "Buat saya?"

"Iya, atas nama Arema," jawab kurir singkat.

Arema menerima amplop itu dengan perasaan aneh. "Terima kasih, Pak."

Kurir mengangguk lalu pergi meninggalkan lorong apartemen.

Pintu pun tertutup kembali, menyisakan Arema yang berdiri terpaku menatap amplop di tangannya.

"Siapa yang ngirim ini?" batinnya bertanya-tanya.

Perlahan ia melangkah ke sofa dan duduk. Amplop itu terasa sedikit tebal. Tidak ada alamat pengirim. Hanya namanya tertulis rapi dengan tinta hitam. Dengan jari gemetar, Arema membuka segel amplop itu.

Begitu isi surat terbuka, matanya langsung terbelalak. Wajahnya pucat seketika. Napasnya tercekat. Jantungnya berdetak lebih cepat, seolah hendak melompat keluar dari dadanya.

Tangannya bergetar hebat saat membaca baris demi baris isi surat tersebut. Setiap kata seperti palu yang menghantam kepalanya tanpa ampun. Ingatan-ingatan lama yang selama ini ia kubur dalam-dalam mendadak menyeruak ke permukaan.

Arema menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan napas yang semakin tidak beraturan.

Ia mengepalkan kertas surat itu erat-erat. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih semata, melainkan karena rasa takut yang perlahan merayap ke dalam hatinya.

Masa lalu yang ia kira sudah terkubur, ternyata belum mati.

Di luar, malam mulai turun. Sementara di dalam apartemen itu, Arema duduk termenung menunggu badai yang sebentar lagi akan datang.