Topi baseball merah bertuliskan Raja Sampah itu tergeletak di atas meja belajar Naya yang dialasi koran bekas. Naya menatap benda itu seolah-olah itu adalah bom waktu yang siap meledak.
Sudah satu jam sejak ia lari dari pos timbang Pak Karta, membawa topi itu pulang seperti membawa potongan mayat. Napasnya sudah kembali teratur, tetapi tangannya masih gemetar setiap kali hendak menyentuh topi itu.
Bukan karena kotor. Sebagai mahasiswa kimia yang sering berkutat di laboratorium, Naya terbiasa dengan zat-zat menjijikkan atau berbahaya. Yang membuatnya takut adalah suhu-nya.
Saat ia memungutnya tadi, lumpur hitam yang melumuri topi itu terasa hangat. Dan sekarang, di bawah naungan kamar yang sejuk dan lembap, lumpur itu... masih hangat.
"Ini nggak masuk akal," gumam Naya. Jemarinya meraih pinset panjang dari kotak peralatan praktikumnya—salah satu kebiasaan "nerd" yang selalu ia bawa: seperangkat alat dasar untuk pengambilan sampel lapangan.
Ia menjepit sedikit lumpur hitam pekat itu. Teksturnya aneh. Tidak buyar seperti tanah liat, tidak encer seperti lumpur sawah. Lumpur ini kental, elastis, dan menarik diri seperti keju leleh saat ditarik. Warnanya hitam pekat dengan kilap minyak yang memantulkan cahaya lampu kamar seperti permukaan oli tumpah.
Naya meletakkan sampel kecil itu di atas kaca preparat (pecahan kaca nako yang sudah ia bersihkan dengan alkohol). Ia mengambil kaca pembesar.
Di bawah lensa cembung itu, Naya melihat struktur lumpur tersebut.
"Ini bukan tanah," bisiknya.
Tidak ada butiran pasir atau sisa daun busuk yang lazim ditemukan pada kompos. Massa hitam ini homogen. Licin. Dan jika diperhatikan lebih teliti, ada serat-serat halus berwarna-warni—merah, biru, kuning—yang sangat mikroskopis, terjalin di dalam massa hitam itu.
Mikroplastik. Tapi mikroplastik tidak menyatu seperti ini. Mereka seharusnya terpisah-pisah. Massa ini terlihat seperti... jaringan. Seperti daging sintetis yang terbentuk dari limbah.
Dan baunya. Saat Naya mendekatkan hidungnya, bau itu bukan bau tanah. Itu bau anyir darah yang dicampur dengan aroma manis plastik yang terbakar.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu kamar membuyarkan konsentrasi Naya. Ia refleks menutupi topi Ipul dengan kain lap, seolah menyembunyikan barang bukti kejahatan.
"Nay? Kamu di dalam?" Suara Bu Siti terdengar lemah.
"Iya, Bu. Masuk aja nggak dikunci."
Pintu terbuka. Ibunya masuk membawa nampan berisi segelas teh manis hangat dan piring berisi pisang goreng yang agak gosong.
"Makan dulu, Neng. Dari pagi belum sarapan, malah keluyuran nyari Si Ipul," omel Bu Siti pelan. Ia meletakkan nampan di meja kecil dekat kasur, lalu duduk di tepi ranjang. Gerakannya kaku, seolah sendi-sendinya berkarat.
Naya menatap ibunya. Di bawah cahaya lampu kamar yang lebih terang daripada ruang tamu, kondisi kulit ibunya terlihat jauh lebih jelas. Dan jauh lebih mengerikan.
Lengan baju daster Bu Siti tersingkap sedikit. Kulit di pergelangan tangannya tidak hanya merah. Kulit itu tampak menebal, membentuk pola-pola segi enam yang samar namun teratur. Warnanya bukan merah darah, melainkan merah muda pucat yang mengilap, persis seperti warna botol plastik yang dijemur terlalu lama di bawah matahari hingga rapuh.
"Bu, sakit nggak?" tanya Naya, suaranya tercekat. Ia mendekat, berlutut di depan ibunya.
"Ah, nggak sakit. Cuma kaku aja. Kayak pake sarung tangan kekecilan," Bu Siti mencoba tersenyum, tapi sudut bibirnya berkedut. "Udah, jangan diliatin terus. Risih Ibu."
"Naya mau liat, Bu. Tolong," desak Naya. Tanpa menunggu izin, ia meraih tangan ibunya.
Sentuhan itu membuat Naya ingin menarik tangannya kembali, tapi ia menahannya. Kulit ibunya terasa kering kerontang. Tidak ada kelembapan alami manusia. Saat Naya menekan permukaan kulit yang bersisik itu dengan jempolnya, kulit itu tidak membal kembali dengan cepat. Ia melesak ke dalam, seperti menekan lilin mainan atau styrofoam padat.
"Ini bukan kutu air, Bu," kata Naya tegas. "Ini juga bukan alergi biasa. Ibu udah ke Puskesmas?"
"Udah, Neng. Seminggu lalu. Dokternya bilang ini dermatitis kontak. Katanya gara-gara air tanah tercemar limbah sabun. Dikasih salep hidrokortison, tapi nggak mempan. Malah makin tebel."
Dermatitis kontak. Diagnosis standar untuk segala macam gatal-gatal yang tak terjelaskan. Naya tahu, dokter di Puskesmas desa terpencil seringkali kewalahan dan kekurangan alat diagnosis, jadi mereka memberikan jawaban paling umum.
"Naya mau bawa Ibu ke dokter di kota. Besok kita berangkat," putus Naya.
Bu Siti menggeleng cepat. "Nggak usah, Neng. Mahal. Lagian... tetangga lain juga pada begini kok. Pak RT, Bu Darsih, Si Mamang sayur... semuanya kulitnya begini. Kalau ini penyakit bahaya, masa satu desa kena tapi pemerintah diem aja?"
Kata-kata ibunya justru menjadi bensin bagi api kecurigaan Naya. Satu desa kena.
"Ibu tunggu di sini. Habisin tehnya. Naya mau keluar sebentar."
"Loh, mau ke mana lagi?"
"Ke Puskesmas. Naya mau bicara sama dokternya."
Puskesmas Pembantu Desa Sindang adalah bangunan tua bercat putih yang sudah mengelupas, terletak tidak jauh dari Balai Desa. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan ruang tunggu yang sempit itu sudah penuh sesak.
Bau di sini adalah campuran antara antiseptik murah, keringat, dan aroma manis busuk yang sama dengan yang tercium di jalanan.
Naya berdiri di pojok, mengamati pasien-pasien yang antre. Hampir semuanya memiliki keluhan yang sama. Mereka menggaruk-garuk lengan, leher, atau kaki mereka.
Seorang anak kecil di barisan depan menangis. Ibunya mencoba menenangkannya dengan mengipas-ngipas leher anak itu. Naya melihat leher anak itu. Kulitnya melepuh parah, warnanya hijau kekuningan, dan mengelupas seperti cat tembok yang rontok. Di bawah lapisan kulit yang mengelupas itu, Naya tidak melihat daging merah. Ia melihat lapisan putih yang berserat.
Ya Tuhan, apa itu?
Naya menerobos antrean, menuju meja resepsionis. "Mbak, saya mau ketemu Dokter Jaga. Penting. Saya Naya, mahasiswi Kimia, anak Bu Siti."
Perawat yang menjaga meja administrasi tampak lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya tebal. Ia menatap Naya dengan pandangan kosong. "Dokter lagi istirahat, Mbak. Pasien lagi banyak. Kalau mau daftar, ambil nomor antrean."
"Saya nggak mau berobat. Saya mau tanya soal wabah ini. Kenapa semua orang gejalanya sama?" desak Naya, suaranya meninggi.
Beberapa pasien menoleh, tapi tatapan mereka layu. Tidak ada semangat hidup di mata mereka. Seolah-olah penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tapi juga menyedot energi mereka.
"Mbak, tolong jangan bikin keributan," desis perawat itu. "Ini bukan wabah. Ini cuma iritasi massal akibat musim kemarau. Debu TPA lagi banyak-banyaknya."
"Iritasi massal? Mbak liat anak itu?" Naya menunjuk anak yang menangis. "Itu bukan iritasi! Itu nekrosis jaringan! Jaringan kulitnya mati!"
Pintu ruang periksa terbuka. Seorang dokter muda berkacamata tebal keluar, jas putihnya kusut. Namanya dr. Arif, menurut nametag yang miring di dadanya.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya dr. Arif.
Naya langsung menghampirinya. "Dok, saya Naya. Saya liat kondisi warga. Ini bukan dermatitis, Dok. Ini keracunan sistemik. Atau paparan mutagen. Dokter sadar kan kalau struktur kulit mereka berubah? Mengeras?"
Dr. Arif menatap Naya sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia memberi isyarat agar Naya masuk ke ruang periksa.
Di dalam ruangan yang berbau obat itu, dr. Arif melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya. "Kamu mahasiswi ya? Jurusan apa?"
"Kimia Murni, Dok."
"Oke, anak Kimia. Dengerin saya," dr. Arif merendahkan suaranya, berbisik. "Saya tahu ini bukan dermatitis. Saya udah ambil sampel biopsi kulit dari tiga pasien minggu lalu. Saya kirim ke lab di kabupaten."
"Terus hasilnya apa?"
Wajah dr. Arif berubah suram. "Hasilnya inconclusive. Tidak dapat disimpulkan. Lab bilang sampel jaringannya rusak. Sel-sel kulit manusianya... hilang. Digantikan oleh polimer sintetik."
Naya ternganga. "Maksud Dokter... kulit mereka berubah jadi plastik?"
"Secara kasar, ya. Polimer organik yang menyerupai struktur plastik. Saya udah lapor ke Dinas Kesehatan. Mereka bilang sampelnya terkontaminasi wadah plastik dan nolak nerima laporan saya. Mereka bilang saya halusinasi karena kelelahan kerja di daerah kumuh."
Dokter muda itu tertawa getir. "Mereka nggak mau ada berita buruk soal TPA ini, Naya. TPA ini nampung sampah dari tiga kota besar. Kalau ditutup karena isu kesehatan, sampah di kota mau dibuang ke mana? Jadi, diagnosa resminya tetap: Dermatitis Kontak dan Infeksi Jamur."
Naya merasakan dingin merambat di punggungnya. Ini bukan sekadar kelalaian medis. Ini adalah penutupan fakta yang sistematis.
"Dok, ada satu lagi," kata Naya, teringat topi Ipul. "Teman saya hilang di Zona Merah. Saya nemu topinya. Ada lumpur hitam di situ. Lumpur itu aneh, Dok. Dia... anget terus. Dan dia kayak punya serat-serat plastik di dalamnya."
Dr. Arif menegakkan tubuhnya, matanya membelalak. "Hitam? Dan anget?"
"Iya."
"Jangan sentuh langsung!" seru dr. Arif panik. Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan botol alkohol dan kapas. "Itu Lindi Hitam. Varian baru yang muncul sebulan terakhir dari mata air di dekat Zona Merah. Pasien yang paling parah kondisinya... mereka yang pernah kontak langsung sama cairan itu."
"Dok, Ipul..." Naya menelan ludah. "Kalau dia jatuh ke cairan itu..."
Dr. Arif tidak menjawab. Ia hanya menatap Naya dengan tatapan iba yang mengerikan. Tatapan yang mengatakan: Temanmu sudah tamat.
"Pulang, Naya. Bawa ibumu pergi dari desa ini. Secepatnya," bisik dr. Arif. "Penyakit ini... dia nggak cuma ngerusak kulit. Dia masuk ke otak. Pasien yang udah stadium lanjut... mereka mulai denger suara-suara."
Naya keluar dari Puskesmas dengan kaki lemas. Matahari siang terasa membakar kulitnya, membuatnya paranoid. Apakah debu yang menempel di kulitnya sekarang juga mengandung polimer itu?
Ia berjalan cepat pulang. Ia harus mengambil sampel kerokan kulit ibunya, membandingkannya dengan lumpur di topi Ipul. Ia butuh bukti empiris sebelum memaksa ibunya pergi.
Sesampainya di rumah, Naya langsung menuju kamarnya. Ia mengunci pintu.
Ia membuka kain lap yang menutupi topi Ipul.
Naya terpekik kaget dan mundur hingga menabrak lemari.
Topi itu sudah tidak ada.
Atau lebih tepatnya, topi itu sudah tidak berbentuk topi.
Kain katun merah topi itu telah luluh lantak, larut menjadi bubur merah yang menyatu dengan lumpur hitam di sekelilingnya. Dan gumpalan lumpur itu kini telah melebar, merembes membasahi koran alas meja.
Lumpur itu... tumbuh.
Massa hitam itu berdenyut pelan, seperti jantung moluska yang telanjang. Serat-serat plastik warna-warni di dalamnya bergerak menggeliat, mencoba menjangkau tumpukan buku di dekatnya.
Naya menyambar botol alkohol 70% yang ada di mejanya dan menyiramkannya ke gumpalan itu.
CESS!
Terdengar suara mendesis nyaring. Asap putih berbau plastik terbakar mengepul. Gumpalan itu menggeliat liar, bereaksi terhadap alkohol seolah-olah kesakitan, lalu menyusut kaku menjadi kerak hitam yang keras.
Naya terengah-engah, jantungnya memukul-mukul rongga dada.
Itu bukan reaksi kimia biasa. Itu respon biologis. Itu respon pertahanan diri.
Dr. Arif benar. Penyakit ini, lumpur ini... mereka bukan benda mati.
Desa Sindang sedang dimakan hidup-hidup oleh sesuatu yang mencoba meniru kehidupan. Dan "sesuatu" itu sekarang ada di atas meja belajarnya.
(Bersambung ke Bab 4)