Thriller

Teror Malam Pertama

21 January 2026

Pintu kamar itu terkunci dengan bunyi klik yang nyaring, disusul suara grendel besi yang digeser terburu-buru. Namun, bagi Naya, suara itu tidak terdengar meyakinkan. Kunci pintu kamarnya hanyalah mekanisme murahan buatan pabrik, dirancang untuk menjaga privasi dari anggota keluarga yang usil, bukan untuk menahan gempuran monster.

Naya mundur menjauhi pintu, matanya menyapu sekeliling kamar dengan panik. Barikade. Dia butuh barikade.

Dia berlari ke arah lemari pakaian jati tuanya—satu-satunya perabot yang berat di ruangan itu. Dengan mengerahkan seluruh tenaga, diselingi erangan tertahan karena otot lengannya yang gemetar, Naya mendorong lemari itu. Kaki-kaki lemari berdecit memilukan saat bergesekan dengan lantai keramik, menciptakan suara ngilu yang memecah keheningan malam.

Satu inci demi satu inci. Napas Naya memburu, keringat dingin membasahi punggungnya. Akhirnya, lemari itu bergeser menutupi pintu, menjadi tembok kayu setebal lima puluh sentimeter antara dirinya dan apa pun yang sedang menaiki tangga rumahnya.

Naya merosot di lantai, memeluk lututnya. Di tangannya, dia menggenggam erat ponselnya dan sebuah botol kaca berisi alkohol 96%—senjata kimia darurat yang dia sambar dari meja belajarnya.

Hening sejenak.

Lalu, terdengar suara itu.

Tap... Tap... Tap...

Langkah kaki di tangga kayu. Bukan langkah kaki biasa. Itu adalah langkah kaki yang berat dan kaku, seolah-olah sendi lutut si berjalan tidak bisa ditekuk dengan sempurna. Setiap pijakan membuat anak tangga tua rumah itu mengerang protes.

Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar Naya, di balik lemari jati.

"Naya..."

Suara itu milik ibunya. Tapi nadanya salah. Tidak ada intonasi, tidak ada emosi. Datar seperti rekaman suara operator telepon yang rusak.

"Buka pintunya, Neng... Di luar banyak tamu... Nggak sopan..."

Naya menggigit bibir bawahnya sampai berdarah, menahan isak tangis. "Ibu sakit, Bu. Ibu harus istirahat. Jangan paksa Naya keluar."

"Ibu nggak sakit," suara Bu Siti berubah, kali ini terdengar lebih dalam, lebih basah. "Ibu baru lahir... Ibu lapar... Teman-teman Ibu juga lapar..."

Srek.

Terdengar bunyi kuku menggaruk kayu pintu. Bunyinya tajam dan keras, seperti plastik tebal yang digesekkan ke papan.

Srek... Srek... Sreeeeet!

Garukan itu berubah menjadi cakaran yang beringas. Pintu di balik lemari itu bergetar hebat. Naya bisa membayangkan kuku-kuku ibunya—yang sudah mengeras menjadi polimer sintetik—sedang mencabik cat pintu, mencoba menembus serat kayu.

Dan ibunya tidak sendirian.

Dari ventilasi di atas jendela, Naya mendengar suara-suara lain dari halaman depan. Suara gumaman rendah yang tidak jelas, seperti dengungan sarang lebah yang marah.

"Buka... Buka... Airnya manis... Tanahnya hangat..."

Itu suara Pak Ujang. Suara Bu Darsih. Suara para tetangga yang tadi pagi masih menyapanya dengan ramah. Sekarang mereka berkumpul di bawah, mengepung rumahnya seperti semut mengerubungi gula.

Naya menatap layar ponselnya. Satu bar sinyal muncul timbul-tenggelam. Pesan Reza tadi masih terpampang di layar.

"Keluar dari desa sekarang. Jangan minum airnya. Gue di jalan."

Naya mengetik balasan dengan jari gemetar.

"Mereka di sini. Ibu kena. Gue kejebak di kamar. Cepetan, Za."

Sent. Lingkaran loading berputar lama sekali. Message Failed.

"Sialan!" umpat Naya lirih.

Dia mencoba mengirim ulang, tapi sinyal tiba-tiba hilang total. Tanda silang kecil di pojok layar ponselnya terasa seperti vonis mati.

Gedoran di pintu semakin keras. Lemari jati yang berat itu mulai bergeser sedikit demi sedikit. Kekuatan di balik pintu itu tidak manusiawi. Seorang wanita tua berumur 50 tahun seharusnya tidak mungkin bisa mendorong lemari seberat ini, tapi "benda" di luar sana bukan lagi sekadar wanita tua.

Naya bangkit berdiri. Dia tidak bisa bertahan di sini. Pintu ini akan jebol dalam hitungan menit.

Matanya tertuju pada jendela kamar yang menghadap ke samping rumah. Di sana ada dak beton kecil, kanopi yang menaungi teras samping. Dari situ, dia mungkin bisa melompat ke pagar tembok tetangga, lalu lari ke jalan utama.

Tapi sebelum Naya sempat bergerak ke jendela, dia merasakan sesuatu yang aneh.

Lantai kamarnya... basah.

Naya menunduk. Dari celah-celah keramik putih kamarnya, merembes cairan hitam pekat. Cairan itu keluar seperti keringat dari pori-pori lantai.

Baunya langsung memenuhi ruangan. Bau logam, sampah busuk, dan plastik terbakar.

Lindi.

Rumah ini tidak aman. Pondasi rumah ini tertanam di tanah yang sudah jenuh dengan limbah cair TPA. Dan sekarang, cairan itu naik ke permukaan, merembes lewat kapilaritas dinding dan lantai, seolah-olah rumah ini sedang mencerna penghuninya.

Naya mundur, tapi dinding di belakangnya juga mulai "berkeringat". Cat temboknya melepuh, menggelembung seperti kulit yang terkena luka bakar, lalu pecah mengeluarkan nanah hitam.

"Rumah ini hidup..." bisik Naya horor.

Gunung sampah itu bukan hanya ada di belakang rumah. Gunung itu ada di bawah rumah. Akar-akarnya—akar polimer cair—sudah menyusup ke setiap struktur bangunan di Desa Sindang.

BRAKK!

Pintu kamar jebol. Kayu di sekitar engsel pecah berantakan.

Lemari jati itu terdorong maju sejauh setengah meter, menggores lantai dengan suara memekakkan telinga. Dari celah antara lemari dan kusen pintu, sebuah tangan muncul.

Tangan itu pucat, mengilap, dan jarinya terlalu panjang. Kuku-kukunya hitam dan runcing.

Tangan itu meraba-raba udara, mencari mangsa.

"Naaa... yaaa..."

Naya tidak menunggu lagi. Dia menyambar tas ranselnya, memasukkan laptop dan botol sampel kulit ibunya dengan panik. Dia juga menyambar senter berat dari meja.

Dia melompat ke arah jendela, membuka kuncinya, dan mendorong daun jendela itu lebar-lebar.

Angin malam menyerbu masuk, membawa serta debu dan bau asap. Tapi itu lebih baik daripada udara busuk di dalam kamar.

Naya memanjat keluar jendela, kakinya mendarat di atas dak beton yang kasar.

Di bawahnya, di halaman samping, dia melihat mereka.

Lima atau enam orang berdiri mendongak ke atas. Mata mereka memantulkan cahaya lampu jalan dengan kilauan aneh—seperti mata kucing, tapi berwarna putih susu. Mulut mereka terbuka, meneteskan liur hitam.

Mereka melihat Naya.

"Itu dia..." salah satu dari mereka menunjuk dengan gerakan kaku. Itu Pak RT. Dia masih memakai seragam dinas cokelatnya, tapi seragam itu sudah sobek-sobek, memperlihatkan dada yang dipenuhi sisik plastik abu-abu.

"Turun, Neng... Kita main..." panggil Pak RT.

Mereka mulai memanjat. Mereka tidak menggunakan tangga. Mereka menancapkan jari-jari mereka yang keras ke dinding batako rumah Naya, melubanginya seperti paku, dan menarik tubuh mereka naik dengan kekuatan kasar.

Seperti cicak. Cicak raksasa berbentuk manusia.

"Gila. Semuanya gila," desis Naya.

Dia berlari menyusuri dak beton itu menuju sisi belakang rumah. Jarak dari dak ke pagar tembok belakang sekitar dua meter. Agak jauh untuk dilompati, dan di bawahnya ada tumpukan beling bekas pecahan botol yang ditanam di atas pagar untuk mencegah maling. Ironisnya, sekarang beling itu menghalangi pemilik rumah untuk kabur.

Di belakangnya, Naya mendengar suara lemari jatinya tumbang. GUBRAK!

Ibunya sudah masuk ke kamar.

Naya menoleh sekilas. Di jendela kamarnya, siluet ibunya berdiri. Bu Siti tidak terlihat marah. Wajahnya datar, kosong, tapi air mata hitam mengalir di pipinya.

"Sakit, Neng... Kalau nggak minum airnya, rasanya sakit... Sini Ibu kasih minum..."

Bu Siti mengangkat sebuah gelas plastik berisi cairan hitam pekat. Dia ingin "menyelamatkan" anaknya dengan cara menularkan infeksinya.

Naya memalingkan wajah. "Maafin Naya, Bu."

Dia mengambil ancang-ancang, lalu melompat sekuat tenaga ke arah pohon mangga di dekat pagar, menghindari pagar beling itu.

Tangannya berhasil meraih dahan pohon mangga yang besar. Kasar kulit pohon menggores telapak tangannya, tapi dia berpegangan erat.

KREK.

Dahan itu tua dan lapuk. Beban tubuh Naya terlalu berat.

Dahan itu patah.

Naya jatuh terjerembap ke tanah kebun belakang yang becek. Bahunya menghantam tanah keras. Rasa sakit menyengat menjalar ke lengan kirinya. Mungkin terkilir.

"Argh..." Naya mengerang, mencoba bangkit.

Tanah di tempatnya jatuh terasa aneh. Tanah itu bergerak.

Akar-akar pohon mangga itu mencuat keluar dari tanah. Tapi itu bukan akar kayu. Itu adalah kabel-kabel hitam dan pipa-pipa plastik fleksibel yang tertanam di tanah, kini bergerak melilit pergelangan kaki Naya.

Sistem saraf desa ini sedang mencoba menahannya.

"Lepas! Lepasin gue!" Naya menendang-nendang dengan kaki kanannya, memukul kabel-kabel itu dengan senter besinya.

Dari atas dak beton, Pak RT dan warga lainnya sudah bersiap melompat turun mengejarnya. Di jendela kamar, ibunya mulai memanjat keluar dengan gerakan laba-laba yang mustahil.

Naya memukul kabel yang melilit kakinya sekali lagi, sekuat tenaga, tepat di bagian sambungan. Kabel itu memercikkan api kecil dan melonggar.

Naya menarik kakinya bebas, kehilangan satu sepatunya yang tertinggal terlilit kabel.

Dia berlari pincang dengan satu sepatu, menerobos semak belukar kebun belakang, menuju jalan setapak yang mengarah ke jalan raya. Dia tidak berani menoleh ke belakang.

Suara langkah kaki berat yang berlari mengejarnya terdengar semakin dekat. Bukan satu atau dua orang. Tapi puluhan.

Seluruh desa sedang berburu.

Naya mencapai jalan aspal utama dengan napas putus-putus. Jalanan sepi. Lampu jalan berkedip-kedip suram.

"Tolong! Siapa aja!" teriaknya sia-sia.

Di ujung jalan, dari arah gapura desa, sebuah sorot lampu motor yang menyilaukan muncul. Motor itu melaju kencang, suaranya meraung memecah keheningan malam.

Motor itu tidak melambat saat melihat Naya. Justru makin ngebut.

Naya melambaikan tangannya panik. "Berhenti! Woy!"

Motor itu melakukan pengereman mendadak, bannya berdecit panjang, berhenti melintang tepat dua meter di depan Naya.

Pengendara motor itu membuka kaca helm full-face-nya.

Mata tajam di balik helm itu menatap Naya, lalu beralih ke gerombolan warga desa yang mulai bermunculan dari kegelapan gang di belakang Naya.

"Naik," perintah pengendara itu singkat. Suaranya tenang, kontras dengan kekacauan di sekitarnya.

"Reza?" Naya nyaris menangis saking leganya.

"Naik sekarang atau kita berdua jadi kompos!" bentak Reza sambil menarik gas motornya, mesinnya meraung menantang para monster di belakang Naya.

Naya melompat naik ke boncengan motor trail Reza.

"Pegangan," kata Reza.

Naya memeluk pinggang temannya itu erat-erat. Reza melepas kopling, dan motor itu melesat maju, meninggalkan debu dan asap di wajah para warga Desa Sindang yang meraung kecewa karena mangsa mereka lolos.

Tapi Naya tahu ini belum berakhir. Saat dia menoleh ke belakang, dia melihat sosok ibunya berdiri di tengah jalan, di bawah lampu merkuri yang berkedip. Ibunya tidak mengejar lagi.

Dia hanya berdiri diam, dan mulutnya terbuka lebar secara tidak wajar, mengeluarkan suara lengkingan tinggi yang membuat kaca-kaca rumah di sekitarnya bergetar.

Itu bukan suara manusia. Itu adalah sinyal pemancar.

Sinyal untuk memanggil sesuatu yang lebih besar dari dalam gunung.

(Bersambung ke Bab 7)