Thriller

Tamu Tak Diundang

21 January 2026

Angin malam menampar wajah Naya dengan brutal, tapi rasa sakit itu justru membuatnya tetap sadar. Di atas motor trail yang melaju kencang, dunia hanyalah serpihan lampu jalan yang memanjang menjadi garis-garis neon kabur dan kegelapan pekat hutan jati di kiri-kanan jalan.

Naya memeluk pinggang Reza erat-erat, membenamkan wajahnya ke punggung jaket kulit temannya itu. Jaket itu berbau parfum maskulin bercampur asap knalpot dan keringat—bau yang sangat manusiawi, sangat normal, kontras dengan bau lindi dan plastik busuk yang melekat di tubuh Naya.

"Pegangan kenceng, Nay! Jalanannya ancur!" teriak Reza mengatasi deru mesin motor dan angin.

Motor itu melompat-lompat menghantam aspal yang berlubang. Reza adalah pengendara yang terampil, tapi jalanan akses menuju TPA Sindang memang didesain untuk truk enam roda, bukan untuk motor. Setiap guncangan mengirimkan rasa nyeri menyengat ke bahu kiri Naya yang terkilir dan telapak kakinya yang lecet karena kehilangan sebelah sepatu.

Mereka sudah melewati batas desa. Lampu-lampu rumah penduduk sudah tertinggal jauh di belakang. Tapi Naya belum merasa aman. Teriakan ibunya tadi—jeritan frekuensi tinggi yang memanggil sesuatu—masih terngiang di telinganya.

"Berhenti dulu, Za! Gue... gue nggak kuat," teriak Naya saat perutnya terasa mual hebat. Adrenalinnya mulai surut, digantikan oleh rasa sakit fisik dan guncangan mental.

Reza melirik spion, memastikan tidak ada yang mengejar, lalu mengurangi kecepatan. Dia membelokkan motornya masuk ke pelataran sebuah bangunan tua bekas pabrik penggilingan padi yang sudah lama tutup. Tempat itu gelap, tapi cukup tersembunyi dari jalan raya.

Mesin motor dimatikan. Hening seketika menyergap, hanya disela oleh suara napas mereka berdua yang memburu dan bunyi tik-tik logam panas dari mesin motor.

Naya turun dari motor dengan kaki gemetar, lalu langsung jatuh terduduk di atas rumput liar. Dia menunduk, muntah. Cairan asam lambung keluar, menguras isi perutnya yang memang kosong seharian.

Reza segera standar motornya dan berlutut di samping Naya. Dia menyalakan senter ponselnya, tapi tidak menyorotkannya ke wajah Naya, melainkan ke tanah agar tidak menyilaukan.

"Nay? Lo oke? Ada yang luka?" tanya Reza, suaranya terdengar cemas tapi terkontrol.

Naya menyeka mulutnya dengan lengan baju kemeja flanelnya yang kotor. Dia mendongak, menatap Reza. Teman satu kampusnya itu—mahasiswa Teknik Sipil yang biasanya tampil necis dan sinis—kini terlihat berantakan dengan rambut acak-acakan dan mata yang menyiratkan kebingungan luar biasa.

"Lo... kok bisa ada di sini?" tanya Naya parau. "Gue baru kirim pesan sejam yang lalu."

Reza duduk bersila di depan Naya, menghela napas panjang. Dia mengeluarkan botol air mineral dari tas selempangnya, membuka tutupnya, dan menyodorkannya ke Naya.

"Minum dulu. Itu air segel, bukan air sini," kata Reza.

Naya meneguk air itu dengan rakus. Rasanya seperti surga.

"Gue udah di jalan pas lo SMS," jelas Reza. "Sebenernya gue udah curiga dari kemarin. Lo posting story di WA soal langit desa yang warnanya ungu lebam. Terus lo ngilang seharian. Dan tadi sore... gue dapet telpon aneh."

"Telpon?" Naya mengerutkan kening.

"Dari nomor nggak dikenal. Suaranya kresek-kresek, kayak gangguan sinyal. Tapi gue denger suara lo. Lo lagi ngomong sama dokter soal 'plastik' dan 'kulit mati'. Gue pikir lo dalam bahaya, mungkin diculik atau apa. Jadi gue langsung gas ke sini."

Naya merinding. Dia tidak pernah menelpon siapa pun saat di Puskesmas. Apakah ponselnya disadap? Atau... apakah jaringan telekomunikasi di desa ini juga sudah menjadi bagian dari "sistem saraf" gunung itu, membocorkan informasi secara acak?

"Syukur lo dateng, Za. Kalau nggak... gue udah abis dimakan mereka," bisik Naya.

Reza menyorotkan senternya ke kaki Naya. Dia terhenyak melihat kondisi Naya. Satu kaki bertelanjang, penuh luka gores dan lumpur hitam. Celana kargonya robek-robek. Dan di bahu Naya, ada bekas cengkeraman tangan yang membiru—bekas tangan ibunya.

"Nay," Reza menelan ludah. "Tadi itu... itu nyokap lo, kan? Yang berdiri di tengah jalan?"

Naya mengangguk lemah, air mata kembali menggenang. "Itu bukan Ibu lagi, Za. Ibu udah... kosong. Mereka semua kosong. Diisi sama cacing plastik."

Reza diam sejenak, mencoba mencerna. Sebagai orang teknik, dia terbiasa dengan hal-hal logis. Beton, baja, struktur, beban. Apa yang dikatakan Naya terdengar seperti racauan orang gila.

"Oke, pelan-pelan," kata Reza, mencoba rasional. "Lo bilang cacing plastik? Maksud lo mereka keracunan limbah? Gue liat kulit mereka emang aneh, kayak orang kusta tapi... mengilap. Itu efek samping limbah kimia, kan? Halusinasi massal juga bisa terjadi karena keracunan gas metana atau karbon monoksida."

Naya tertawa getir. Tawa yang terdengar pecah. "Selalu skeptis ya lo. Ini bukan halusinasi, Za. Gue liat pake mikroskop gue sendiri. Air tanah di sini isinya larva polimer. Mereka minum air itu, dan tubuh mereka diganti pelan-pelan jadi plastik. Mereka jadi hive mind. Satu pikiran. Dikendaliin sama gunung itu."

"Gunung sampah?" Reza menaikkan alis. "Gunung sampah mengendalikan orang?"

"Iya! Gunung itu hidup! Dia punya jantung, dia punya pembuluh darah kabel, dan dia laper!" Naya berteriak, frustrasi karena tidak dipercaya. "Ipul udah mati dimakan lindi! Kambing Pak Karta dimakan lindi! Dan nyokap gue... nyokap gue minum air itu sambil senyum!"

Reza memegang bahu Naya, menenangkannya. "Oke, oke. Gue percaya lo liat sesuatu yang ngeri. Gue percaya kita harus cabut dari sini. Kita ke Polres di kota, kita laporin ini sebagai bencana lingkungan dan wabah penyakit. Biar orang medis dan tentara yang urus."

Naya menggeleng. "Nggak bakal semudah itu. Lo nggak liat pas masuk tadi? Ada yang jaga?"

Reza terdiam. Ingatannya memutar ulang perjalanannya tadi.

"Jalanan sepi banget," aku Reza. "Biasanya jalan akses TPA kan rame truk sampah 24 jam. Tapi tadi... kosong. Pos polisi di perbatasan desa juga kosong. Gelap. Kayak ditinggalin gitu aja."

"Mereka mengisolasi diri," kata Naya. "Atau mereka sedang mempersiapkan sesuatu."

Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar pelan.

Dug.

Reza menoleh kaget. "Gempa?"

"Bukan," jawab Naya dingin. "Itu napasnya."

Getaran itu semakin kuat. Dan kali ini, disertai suara lain. Suara gemuruh mesin diesel yang berat dari arah jalan raya di depan pabrik tua itu.

Sorot lampu kuning yang sangat terang menembus kegelapan, menyapu dinding pabrik tempat mereka bersembunyi.

"Matikan senter lo!" desis Naya.

Reza reflek mematikan senter ponselnya. Mereka berdua merunduk di balik semak-semak tinggi.

Di jalan raya, sebuah iring-iringan kendaraan lewat.

Bukan mobil polisi. Bukan ambulans.

Itu adalah truk sampah. Truk-truk oranye besar beroda sepuluh. Ada sekitar lima truk yang berjalan beriringan.

Tapi yang aneh adalah muatannya. Truk-truk itu tidak membawa sampah. Bak belakangnya terbuka, dan di dalamnya berdiri puluhan orang.

Warga desa.

Mereka berdiri diam, berdesak-desakan, dengan tatapan kosong menatap ke depan. Mereka memegang bermacam-macam benda: linggis, sekop, balok kayu, dan obor.

Dan di truk paling depan, duduk di atas atap kabin pengemudi seperti seorang raja yang memimpin parade kematian, adalah sosok Pak Karta.

Pria tua itu memegang sebuah pengeras suara toa yang kabelnya tersambung ke dalam truk.

Suara Pak Karta terdengar pecah dan menggema lewat pengeras suara:

"Cari anak yang hilang... Ibu belum kenyang... Cari Naya... Cari temannya..."

Truk-truk itu melaju pelan, menyisir jalanan. Mereka memblokade akses keluar. Mereka bukan sedang membuang sampah. Mereka sedang berburu.

Reza menahan napas, matanya terbelalak lebar. Skeptisismenya hancur berkeping-keping saat melihat pemandangan itu. Itu bukan halusinasi. Itu adalah milisi zombi yang dipimpin oleh orang gila.

"Mereka nyari kita," bisik Reza, suaranya bergetar untuk pertama kalinya. "Mereka tau kita mau kabur."

"Mereka ngepung semua jalan keluar," kata Naya. "Kita nggak bisa lewat jalan utama."

Truk terakhir lewat. Di bak belakang truk itu, Naya melihat ibunya. Bu Siti berdiri di pinggir bak, matanya yang hitam legam memindai kegelapan hutan. Seolah-olah dia bisa mencium bau anaknya.

Setelah iring-iringan itu menjauh, Reza langsung menarik Naya berdiri.

"Kita harus pergi. Sekarang," kata Reza tegas. "Tapi kita nggak bisa balik ke kota lewat jalan aspal. Mereka pasti bikin blokade di jembatan perbatasan."

"Terus lewat mana? Kiri kanan hutan jati, Za. Dan di balik hutan itu jurang."

Reza menatap Naya serius. "Lo anak sini kan? Lo pasti tau jalan tikus. Jalan setapak yang nggak bisa dilewatin truk. Jalan yang cuma bisa dilewatin motor trail atau jalan kaki."

Naya berpikir keras. Otaknya memutar peta desa masa kecilnya. Jalan tikus. Jalan petani.

Ada satu.

"Jalan Hutan Bambu," gumam Naya. "Itu jalan tua di sisi barat bukit. Dulu dipake buat angkut kayu. Tembusnya ke sungai di bawah jembatan provinsi. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Jalan itu ngelewatin 'Kuburan Lama'," kata Naya ragu. "Warga sini nggak ada yang berani lewat sana malem-malem. Katanya angker."

Reza menaiki motornya dan menyalakannya. Derum mesin memecah keheningan lagi.

"Setan di kuburan nggak mungkin lebih ngeri daripada satu kampung zombi plastik yang bawa linggis, Nay. Naik."

Naya tidak membantah. Dia naik ke boncengan Reza.

"Arah mana?" tanya Reza.

"Barat. Masuk ke hutan jati, terus cari jalan setapak yang ada pohon beringinnya."

Reza memutar gas. Motor trail itu melompat masuk ke dalam hutan jati yang gelap gulita. Ranting-ranting pohon menampar wajah mereka, tapi mereka tidak peduli.

Mereka meninggalkan jalan raya, meninggalkan peradaban, dan masuk lebih dalam ke wilayah kekuasaan gunung itu. Naya tahu, melarikan diri bukan lagi opsi yang mudah. Sekarang, ini adalah permainan kucing-kucingan di dalam labirin raksasa.

Dan saat mereka menembus kegelapan hutan, Naya merasakan kakinya yang terluka berdenyut aneh.

Bukan rasa sakit. Tapi rasa gatal.

Rasa gatal yang muncul dari dalam daging, seolah-olah ada sesuatu yang sedang merajut sel-sel tubuhnya yang rusak.

Naya meraba lukanya di kegelapan. Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan licin di bagian yang lecet.

Lukanya sudah menutup. Tapi tidak dengan keropeng darah. Lukanya tertutup oleh lapisan abu-abu yang halus.

Plastik.

Naya menggigit bibirnya agar tidak menjerit. Dia sudah terinfeksi.

"Za, cepetan," bisik Naya di telinga Reza. "Gue nggak punya banyak waktu."

(Bersambung ke Bab 8)