Hutan jati di malam hari memiliki wajah yang berbeda. Di siang hari, deretan pohon jati meranggas itu mungkin terlihat melankolis, namun di malam hari, sorot lampu motor Reza mengubah mereka menjadi barisan tulang rusuk raksasa yang mencuat dari bumi. Bayangan ranting-ranting kering menari liar di tanah, seolah-olah akar-akar pohon itu sedang bergerak mengejar roda motor yang berputar gila-gilaan.
Naya memejamkan matanya, menekan wajahnya ke punggung Reza. Namun, memejamkan mata tidak membantunya. Di balik kelopak matanya yang tertutup, dia melihat pola-pola geometris yang aneh. Segi enam. Jaring laba-laba. Struktur molekul polimer yang berantai panjang, berulang-ulang tanpa henti, berwarna neon hijau dan ungu.
Dan suara itu.
Dug... Dug... Dug...
Suara detak jantung gunung itu tidak lagi terdengar dari kejauhan. Suara itu kini terdengar dari dalam kepalanya sendiri, berdentum seirama dengan denyut nadinya. Setiap detak mengirimkan gelombang rasa gatal yang menyiksa ke kaki kanannya yang terluka.
"Nay! Arah jam berapa?!" teriak Reza, membuyarkan halusinasi Naya.
Naya membuka mata, memaksa otaknya untuk fokus pada realitas. Di depan mereka, jalan setapak bercabang dua. Kiri menuju turunan curam yang gelap, kanan menuju semak belukar yang rimbun.
"Kanan!" seru Naya, mengingat-ingat peta masa kecilnya. "Itu jalan tembus ke kebun bambu!"
Reza membanting setang ke kanan. Motor trail itu meraung, bannya mencakar tanah gembur, nyaris tergelincir sebelum akhirnya mendapatkan traksi. Mereka menerobos semak belukar. Ranting-ranting berduri menggores lengan dan wajah mereka, tapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan ketakutan diburu oleh satu desa yang sudah kehilangan akal sehat.
Jalanan semakin sempit dan tidak rata. Akar-akar pohon jati yang besar melintang di jalan setapak seperti polisi tidur alami yang mematikan. Reza harus berdiri setengah jongkok di atas footstep motor untuk menyeimbangkan beban, sementara Naya harus menahan erangan setiap kali motor itu melompat.
Rasa gatal di kaki Naya berubah menjadi rasa panas. Bukan panas api, melainkan panas reaksi kimia eksotermik. Panas yang timbul saat dua zat bereaksi membentuk zat baru.
Naya memberanikan diri melirik ke bawah. Dalam kegelapan hutan yang hanya diterangi pantulan samar lampu motor, dia melihat luka di betisnya.
Luka itu... bercahaya.
Sangat redup, nyaris tak terlihat, tapi ada pendaran fosforus berwarna biru pucat yang keluar dari balik lapisan "kulit" abu-abu yang menutupi lukanya.
Bioluminesensi, otak ilmiah Naya berbisik ngeri. Atau kemiluminesensi akibat oksidasi lindi.
Tiba-tiba, motor menghantam lubang yang dalam. Suspensi depan motor amblas maksimal.
BRAKK!
Reza kehilangan kendali. Motor itu terpelanting ke samping. Naya dan Reza terlempar jatuh ke tanah yang penuh daun kering.
Mesin motor mati. Lampu depan padam. Kegelapan total menyergap mereka seketika.
"Aduh..." Reza mengerang, terdengar sedang berusaha bangun beberapa meter dari Naya. "Nay? Lo idup?"
Naya terbaring telentang, menatap kanopi hutan yang hitam pekat. Anehnya, dia tidak merasa sakit akibat jatuhnya tadi. Tubuhnya terasa... ulet. Seperti karet ban yang dijatuhkan ke aspal, dia hanya membal sedikit.
"Gue oke," jawab Naya, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Lebih datar.
Reza menyalakan senter ponselnya. Cahaya putih membelah kegelapan, menyorot wajah Naya yang pucat pasi dan kotor oleh tanah.
"Motornya kayaknya stangnya bengkok dikit, tapi masih bisa jalan," kata Reza sambil memeriksa motornya. Lalu dia menoleh ke Naya. "Kaki lo gimana? Tadi benturannya keras banget di sisi kanan."
Reza mengarahkan senter ke kaki kanan Naya.
Naya ingin menarik kakinya, menyembunyikannya, tapi terlambat.
Cahaya senter itu mengungkapkan segalanya.
Celana kargo Naya yang sudah robek semakin terkoyak akibat kecelakaan tadi, memperlihatkan betis kanannya dari lutut sampai mata kaki.
Reza terdiam. Dia mundur selangkah, napasnya tercekat.
"Nay..." suara Reza bergetar. "Itu... apa?"
Betis kanan Naya tidak lagi terlihat seperti kaki manusia.
Luka lecet yang didapatnya saat kabur dari rumah tadi sudah hilang. Sebagai gantinya, kulit di area itu telah berubah menjadi lapisan halus berwarna abu-abu metalik yang mengilap. Teksturnya licin dan keras, seperti pipa PVC.
Dan yang lebih mengerikan, lapisan plastik itu tidak diam. Di pinggiran area yang terinfeksi—di perbatasan antara kulit sehat dan kulit plastik—Naya bisa melihat proses kolonisasi itu terjadi secara real-time.
Serat-serat halus berwarna hitam menjalar di bawah kulitnya yang masih sehat, bergerak seperti cacing tanah yang menggali terowongan. Setiap kali serat itu maju, kulit di atasnya berubah warna menjadi abu-abu dan mengeras.
Naya sedang dicetak ulang.
"Gue udah bilang, Za," kata Naya lirih, menatap kakinya tanpa emosi. "Gue udah kena. Larva itu masuk lewat luka gue."
Reza mendekat lagi, melawan rasa jijiknya. Insting insinyurnya mencoba mencari penjelasan rasional. Dia memberanikan diri menyentuh bagian kaki Naya yang abu-abu itu.
"Keras," gumam Reza. "Kayak... fiberglass."
"Polimerisasi in vivo," jelas Naya, air mata mulai menetes membasahi pipinya. "Sel-sel tubuh gue diganti sama materi sintetik. Gue lagi berubah jadi boneka, Za. Kayak Ibu. Kayak Pak Ujang. Kayak mereka semua."
Naya menatap Reza dengan putus asa. "Tinggalin gue di sini, Za. Gue bahaya. Kalau proses ini nyampe ke otak... gue bakal nyerang lo. Gue bakal denger suara gunung itu dan gue bakal patuh sama dia."
Reza diam. Wajahnya keras, rahangnya mengertak. Dia berdiri, lalu berjalan menuju motornya.
Naya menutup mata, pasrah. Bagus. Pergilah. Selamatkan dirimu.
Tapi kemudian, Naya merasakan tangan Reza menarik lengannya, memaksanya berdiri.
"Lo ngomong apa sih, bego?" omel Reza. Dia tidak meninggalkan Naya. Dia justru memapahnya. "Lo itu Naya. Temen gue yang paling keras kepala se-fakultas MIPA. Lo pikir gue bakal ninggalin lo cuma gara-gara kaki lo jadi pipa pralon?"
"Tapi Za, ini nular! Kalau lo kena lindi dari luka gue—"
"Ya makanya gue nggak bakal jilat kaki lo!" potong Reza kasar, mencoba melucu di situasi yang tidak lucu sama sekali. "Kita cari tempat aman. Gue punya P3K di tas motor. Gue bawa alkohol, perban, betadine. Kita coba hambat penyebarannya. Lo anak kimia kan? Pikirin caranya matiin reaksi kimianya!"
Kalimat Reza menampar kesadaran Naya. Benar. Ini reaksi kimia. Setiap reaksi kimia punya inhibitor—penghambat.
"Asam," gumam Naya. "Plastik tertentu rapuh sama asam kuat. Atau pelarut organik... aseton? Bensin?"
"Nah, itu baru Naya yang gue kenal. Bensin kita punya banyak di tangki," kata Reza sambil memapah Naya kembali ke motor.
Mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini lebih pelan. Hutan jati mulai menipis, digantikan oleh rumpun-rumpun bambu yang rapat. Suara angin yang melewati celah batang bambu menciptakan bunyi dengungan uuung... uuung... yang mistis, seperti suara seruling kematian.
Di depan, samar-samar terlihat area terbuka. Gundukan-gundukan tanah dengan nisan-nisan batu kali yang berlumut.
Kuburan Lama.
Tempat ini adalah pemakaman desa sebelum TPA dibuka. Orang-orang tua dulu dikubur di sini. Konon, nenek moyang desa yang "bersih" beristirahat di sini.
"Kita berhenti di sana," kata Reza, menunjuk sebuah bangunan cungkup makam tua yang atapnya masih utuh. "Itu kayaknya makam keramat. Atapnya bisa buat berlindung."
Reza memarkir motor di balik rumpun bambu, lalu membantu Naya berjalan ke cungkup makam itu. Lantainya terbuat dari tegel ubin kuno yang dingin.
Reza segera membongkar tas motornya. Dia mengeluarkan kotak P3K, botol air mineral, dan selang kecil untuk menyedot bensin dari tangki motor.
"Ini bakal sakit banget, Nay," kata Reza sambil menuangkan sedikit bensin ke dalam tutup botol air mineral. "Gue bakal bersihin lukanya pake bensin. Siapa tau bisa luruhin plastiknya."
Naya mengangguk. Dia menggigit lengan jaketnya sendiri sebagai ganjalan mulut. "Lakuin aja."
Reza menyiramkan bensin itu ke betis Naya yang abu-abu.
CESS!
Reaksinya instan. Asap putih mengepul.
Tapi Naya tidak berteriak.
Dia tidak merasakan apa-apa.
Saraf di kakinya sudah mati. Atau lebih tepatnya, sudah digantikan oleh sistem saraf baru yang tidak merespon rasa sakit dengan cara manusia.
Alih-alih rasa sakit, Naya justru merasakan... kemarahan.
Bukan kemarahannya sendiri. Tapi kemarahan dari benda di kakinya. Plastik itu bereaksi agresif terhadap bensin. Lapisan abu-abu itu berkerut, lalu tiba-tiba mencuatkan duri-duri halus yang tajam ke arah tangan Reza.
"Awas!" teriak Naya, menendang tangan Reza menjauh.
Reza terlonjak mundur. Botol bensin tumpah.
"Anjir! Dia nyerang?!" Reza menatap kaki Naya dengan horor. Duri-duri halus itu perlahan masuk kembali ke dalam kulit Naya, seolah sedang bersembunyi.
"Bensin nggak mempan," kata Naya, napasnya tersengal. "Dia adaptasi. Dia melindungi diri."
Naya menatap kakinya dengan putus asa. "Dia nggak mau pergi, Za. Dia mau ngambil seluruh tubuh gue."
Hening menyelimuti kuburan tua itu. Suara jangkrik dan gesekan bambu menjadi latar musik keputusasaan mereka.
Tiba-tiba, Naya memegang kepalanya. Matanya terbelalak menatap kegelapan hutan bambu.
"Za... matiin senter," bisik Naya.
"Kenapa lagi?"
"Sssst! Matiin aja!"
Reza mematikan senter. Gelap gulita kembali menyergap.
Dalam kegelapan itu, Naya melihatnya.
Di antara batang-batang bambu yang rapat, sekitar dua puluh meter dari tempat mereka duduk, ada cahaya-cahaya kecil yang melayang. Seperti kunang-kunang.
Tapi warnanya bukan kuning kehijauan. Warnanya biru elektrik.
Dan cahaya-cahaya itu terbang berformasi. Mereka bukan serangga.
Mereka adalah mata.
Mata-mata kecil yang terpasang pada drone organik. Lalat-lalat sampah yang sudah bermutasi. Ukurannya sebesar kepalan tangan, sayapnya terbuat dari plastik transparan yang berdengung nyaring.
Lalat-lalat itu adalah mata-mata Pak Karta. Mereka sedang menyisir area ini.
"Mereka nemuin kita," bisik Naya. "Lalat-lalat itu... mereka ngirim sinyal visual ke warga desa."
Benar saja. Tak lama kemudian, dari kejauhan, terdengar suara teriakan bersahut-sahutan.
"Di sana! Di kuburan!"
"Baunya di sana!"
Mereka tidak perlu melihat jejak ban motor. Mereka melacak bau Naya. Bau feromon infeksi yang dikeluarkan oleh kaki plastiknya memanggil kawanannya.
"Bangsat," umpat Reza. Dia segera membereskan barang-barangnya. "Ayo, Nay. Kita nggak bisa diem di sini."
"Za," Naya menahan tangan Reza. "Percuma. Selama gue sama lo, mereka bakal terus tau posisi kita. Gue itu GPS berjalan buat mereka."
"Terus lo mau gue ninggalin lo di sini buat jadi makan malem lalat mutan itu? Nggak!"
"Bukan ninggalin," Naya menatap Reza tajam. Matanya mulai berubah. Di bagian putih matanya, mulai terlihat urat-urat halus berwarna hitam. Infeksinya menyebar lebih cepat dari dugaan. "Tapi kita harus misah. Gue bakal mancing mereka ke arah sungai. Lo lari ke jalan raya, cari bantuan. Bawa polisi, bawa tentara, bawa siapa aja."
"Gila lo! Lo pincang!"
"Gue nggak pincang lagi, Za," Naya berdiri tegak. Dia menghentakkan kaki kanannya yang sudah menjadi plastik keras ke lantai ubin. TAK. Bunyinya solid dan kuat. "Kaki ini... dia kuat banget. Gue bisa lari lebih cepet dari lo sekarang."
Naya menyambar botol bensin yang sisa setengah dari tangan Reza.
"Pergi, Reza. Ini satu-satunya cara kita berdua selamet. Gue bakal bikin keributan di sungai. Lo manfaatin itu buat lolos."
Sebelum Reza sempat membantah, Naya sudah berlari keluar dari cungkup makam. Dan benar saja, dia berlari dengan kecepatan yang tidak wajar. Kaki plastiknya memberinya tenaga pegas yang luar biasa. Dia melesat menembus kegelapan hutan bambu menuju arah sungai, meninggalkan jejak cahaya biru samar dari kakinya.
Lalat-lalat bermata biru itu segera berbalik mengejar Naya, mendengung keras memberi tanda pada tuannya.
Reza berdiri terpaku di kegelapan, tangannya mengepal erat. Dia melihat punggung Naya menghilang ditelan malam. Rasa bersalah menghantam dadanya, tapi logika insinyurnya tahu Naya benar. Ini adalah peluang taktis.
"Bertahanlah, Nay," bisik Reza. "Gue bakal balik bawa kavaleri."
Reza menyalakan motornya, kali ini tanpa lampu, dan memacu kendaraannya ke arah berlawanan, menuju perbatasan jalan raya yang semoga penjagaannya sudah melonggar karena semua monster sedang mengejar Naya.
Di dalam hutan bambu, Naya berlari sendirian. Tapi dia tidak merasa sepi.
Suara di kepalanya semakin jelas. Bukan lagi sekadar detak jantung. Sekarang, ada kata-kata.
Anakku... Lari yang kencang... Kami suka mengejar...
Naya menyeringai di kegelapan. Gigi-giginya terasa gatal.
"Ayo kejar gue, Brengsek," desisnya. "Gue bakal ajak kalian mandi lindi."
(Bersambung ke Bab 9)