Lari.
Hanya itu perintah yang tersisa di otak Naya. Lari.
Kaki kanannya yang telah bermutasi menghantam tanah hutan bambu dengan ritme yang menakutkan: DUM-tak-DUM-tak. Suara hantaman kaki kanan yang keras dan solid, disusul langkah kaki kiri yang lebih ringan dan manusiawi. Naya merasa dirinya bukan lagi seorang pelari, melainkan mesin piston yang pincang namun bertenaga.
Dia melesat melewati rumpun-rumpun bambu seperti hantu. Ranting berduri dan daun tajam menyabet wajahnya, tapi dia tidak melambat. Rasa sakit fisik itu justru dia butuhkan. Rasa perih di pipi adalah satu-satunya jangkar yang menahannya tetap berada di dunia nyata.
Karena di dalam kepalanya, dunia sedang runtuh.
Bisikan itu semakin keras. Bukan lagi suara satu orang, melainkan paduan suara ribuan orang yang berbicara serempak dengan nada monoton yang membius.
Jangan lari, Nak... Capek...
Di sini dingin... Di sini sepi...
Gabung sama kami... Kami hangat... Kami satu...
"Pergi dari kepala gue, Bangsat!" teriak Naya pada kegelapan hutan. Suaranya serak, tenggorokannya kering kerontang.
Tapi teriakan itu sia-sia. Suara itu tidak masuk lewat telinga. Suara itu merambat lewat tulang, lewat darah, lewat sel-sel plastik yang kini menjalar naik dari betis ke pahanya.
Sreeet...
Naya terpeleset di tanah lumpur tepi sungai. Dia jatuh berguling, wajahnya menghantam akar pohon beringin tua.
Dia mencoba bangkit, tapi tiba-tiba kepalanya terasa seperti dibelah kapak. Pandangannya memutih.
Dunia di sekelilingnya berubah.
Hutan bambu yang gelap dan menakutkan itu lenyap. Bau busuk sampah dan lindi menguap.
Naya berdiri di tengah-tengah sebuah alun-alun kota yang megah. Langit di atasnya berwarna emas cemerlang. Jalanan di bawah kakinya bukan tanah becek, melainkan marmer putih yang bersih.
Orang-orang berjalan di sekelilingnya dengan senyum bahagia. Mereka mengenakan pakaian bagus, bersih, dan wangi. Tidak ada kulit bersisik. Tidak ada nanah. Tidak ada kemiskinan.
"Naya? Kok bengong?"
Naya menoleh. Di depannya berdiri Ipul.
Ipul terlihat sehat. Kulitnya bersih, tidak ada panu atau kadas. Dia memakai kemeja rapi dan sepatu kulit mengilap. Tidak ada topi Raja Sampah yang kusam.
"Pul?" Naya mundur selangkah, bingung. "Kita... kita di mana?"
Ipul tertawa renyah. "Di Sindang Baru lah. Liat tuh, indah kan? Ibu yang bikin ini semua buat kita. Nggak ada lagi mulung, Nay. Nggak ada lagi laper."
Naya melihat sekeliling. Dia melihat ibunya, Bu Siti, sedang duduk di bangku taman sambil merajut, kakinya mulus tanpa koreng. Dia melihat Pak Karta sedang memberi makan merpati putih, bukan lalat mutan.
Semua orang bahagia. Semua orang damai.
Ini bohong, teriak bagian kecil otak Naya yang masih waras. Ini ilusi!
"Nggak usah dilawan, Nay," Ipul mendekat, memegang bahu Naya. Sentuhannya hangat dan menenangkan. "Sakit jadi manusia itu nggak enak. Capek mikirin skripsi, capek mikirin duit, capek liat nyokap sakit. Di sini... sakit itu ilang. Kita semua berbagi rasa. Kalau lo sedih, kita yang hibur. Kalau lo sakit, kita yang nanggung."
Air mata menetes di pipi Naya. Tawaran itu begitu menggoda. Begitu manis. Berhenti berjuang. Menyerah saja pada arus.
"Tidur aja, Nay..." bisik Ipul, wajahnya mendekat.
Tapi saat Ipul tersenyum lebih lebar, Naya melihatnya.
Di sela-sela gigi Ipul yang putih bersih, ada sesuatu yang menggeliat. Seekor kelabang hitam kecil merayap keluar dari gusi Ipul.
Ilusi itu retak.
Langit emas itu robek, memperlihatkan langit malam yang penuh asap hitam. Marmer putih itu retak, berubah kembali menjadi tanah becek penuh sampah. Dan wajah Ipul... wajah tampan itu meleleh seperti lilin, menampakkan daging busuk dan kerangka plastik di bawahnya.
"LO BUKAN IPUL!"
Naya menjerit dan memukul wajah Ipul sekuat tenaga.
BUGH!
Naya tersentak kembali ke dunia nyata.
Dia masih di pinggir sungai, napasnya memburu. Di depannya, bukan Ipul yang berdiri, melainkan seekor drone lalat mutan yang berdengung nyaring tepat di depan wajahnya.
Naya menepis lalat itu dengan tangan, menghancurkan sayap plastiknya.
Dia mengerti sekarang. Warga desa itu... mereka tidak sadar mereka sedang menderita. Infeksi itu memanipulasi otak mereka, memberikan dopamin dan serotonin palsu. Mereka hidup dalam mimpi indah kolektif sementara tubuh mereka membusuk dan diperalat oleh gunung.
Itu bukan surga. Itu peternakan.
"Gue nggak mau tidur," desis Naya, bangkit berdiri. Kaki kanannya berdenyut semakin kencang, seolah marah karena dia menolak "hadiah" mimpi itu.
Tiba-tiba, semak-semak di depannya tersibak.
Empat orang warga desa muncul. Mereka tidak berlari, mereka melayang—berjalan dengan gerakan kaki yang begitu cepat dan halus hingga tubuh bagian atas mereka tampak tidak bergerak.
Salah satunya adalah Pak Seno, guru SD Naya dulu. Pria yang dulu gemuk dan ramah itu kini kurus kering, kulitnya abu-abu, dan tangan kanannya memegang sebuah arit pemotong rumput berkarat.
"Naya..." suara Pak Seno terdengar ganda. "Kenapa nakal? Kenapa bangun?"
"Jangan deket-deket, Pak!" Naya mundur sampai tumitnya menyentuh air sungai yang dingin.
"Ibu sedih..." kata warga yang lain, seorang ibu-ibu penjual sayur. "Ibu mau kasih susu... tapi Naya nolak..."
Mereka menyerang serentak.
Tidak ada strategi. Hanya serangan brute force. Mereka menerjang seperti binatang buas.
Pak Seno mengayunkan aritnya ke arah leher Naya.
Naya menunduk refleks. Arit itu menancap di pohon beringin di belakangnya.
Naya tidak punya senjata. Dia hanya punya senter besi dan... kakinya.
Saat Pak Seno mencoba menarik aritnya, Naya melakukan sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan bisa dia lakukan. Dia memutar badannya dan melepaskan tendangan memutar menggunakan kaki kanannya—kaki plastiknya.
KRAAAK!
Kaki Naya menghantam dada Pak Seno.
Suaranya bukan seperti menendang daging. Suaranya seperti menendang batako hingga pecah.
Tubuh Pak Seno terlempar tiga meter ke belakang, menabrak dua warga lainnya hingga jatuh berguling. Dada guru SD itu penyok ke dalam. Tidak berdarah, tapi retak seperti body motor yang tabrakan.
Naya terpaku menatap kakinya sendiri. Dia baru saja meremukkan rusuk manusia dengan sekali tendang.
"Maaf... Maaf, Pak..." Naya gemetar ketakutan. Dia menjadi monster. Dia sama seperti mereka.
Tapi musuhnya tidak memberi waktu untuk menyesal. Warga yang lain bangkit. Mereka tidak peduli pada Pak Seno yang terkapar. Mereka tidak punya empati individual. Mereka hanya peduli pada misi: Tangkap Naya.
Ibu penjual sayur itu melompat, mencengkeram rambut Naya.
"Aaaarrgh!" Naya menjerit, merasakan rambutnya ditarik kuat.
Dia memukul wajah ibu itu dengan senter besinya. Kaca senter pecah. Wajah ibu itu robek, mengeluarkan cairan hitam. Tapi dia tidak melepaskan jambakannya. Dia justru membuka mulutnya lebar-lebar, bersiap menggigit leher Naya.
Naya bisa mencium bau mulutnya—bau bangkai tikus.
Dalam kepanikan, Naya melihat ke belakang. Sungai.
Sungai Citarum purba yang melintasi desa ini airnya hitam dan bau, tercemar lindi dari TPA selama puluhan tahun. Tapi itu satu-satunya jalan keluar. Arusnya deras karena hujan di hulu.
"Lepasin gue!"
Naya menyikut perut ibu itu, lalu tanpa pikir panjang, dia menjatuhkan dirinya ke belakang.
BYUR!
Naya dan ibu penjual sayur itu jatuh ke dalam sungai yang dingin dan pekat.
Air hitam langsung masuk ke hidung dan mulut Naya. Rasanya pahit, berminyak, dan membakar selaput lendir.
Di dalam air, cengkeraman ibu itu terlepas. Massa jenis tubuh mereka berbeda. Tubuh ibu itu yang penuh rongga plastik mengapung lebih cepat, sementara Naya masih memiliki tulang dan daging yang berat.
Naya tenggelam.
Arus sungai menyeretnya menjauh dari tepi, memutarnya seperti pakaian di dalam mesin cuci. Naya menahan napas, mencoba berenang ke permukaan, tapi kaki plastiknya terasa sangat berat di dalam air, menariknya ke dasar.
Saat dia terombang-ambing di kedalaman sungai hitam itu, Naya melihat sesuatu di dasar sungai.
Ada cahaya-cahaya redup di dasar lumpur.
Bukan ikan.
Itu adalah... orang-orang.
Mayat-mayat—atau orang yang setengah mati—berdiri tegak di dasar sungai, kaki mereka tertanam di lumpur, tubuh mereka bergoyang mengikuti arus seperti rumput laut. Mereka adalah "Gagal Panen". Warga yang tidak berhasil bermutasi sempurna, yang dibuang oleh Pak Karta ke sungai.
Mata mereka yang terbuka lebar menatap Naya yang hanyut di atas mereka. Tangan-tangan pucat mereka melambai pelan, seolah ingin meraih kakinya.
Naya menendang sekuat tenaga dengan kaki plastiknya, mendorong dirinya naik. Paru-parunya terasa mau meledak.
HUP!
Kepala Naya menyembul ke permukaan. Dia menghirup udara rakus, terbatuk-batuk memuntahkan air lindi.
Dia sudah terbawa arus cukup jauh, menjauh dari hutan bambu. Di kejauhan, dia melihat cahaya senter para pengejarnya masih menyisir tepi sungai tempat dia jatuh tadi.
Dia selamat. Untuk sementara.
Naya membiarkan dirinya hanyut mengikuti arus, berpegangan pada batang pisang yang lewat. Dia menangis dalam diam, air matanya menyatu dengan air sungai yang kotor.
Dia baru saja menyakiti gurunya sendiri. Dia baru saja melihat neraka di dasar sungai.
Dan yang paling menakutkan: saat dia menendang Pak Seno tadi... ada sedetik momen di mana dia merasa puas. Rasa puas yang asing. Rasa dominasi predator terhadap mangsa.
Itu bukan perasaan Naya. Itu perasaan Gunung.
Sementara itu, lima kilometer dari posisi Naya.
Reza menghentikan motornya di balik semak belukar, lima ratus meter sebelum Jembatan Sindang—satu-satunya akses jalan raya keluar dari desa menuju kota.
Dia mematikan mesin dan mendorong motornya perlahan, bersembunyi di kegelapan.
Apa yang dilihatnya di jembatan itu membuat darahnya dingin.
Dia mengira akan melihat barikade polisi, atau mungkin beberapa truk sampah yang diparkir melintang.
Dia salah.
Jembatan itu sudah hilang.
Atau lebih tepatnya, jembatan itu sudah berubah bentuk. Sebuah tembok raksasa setinggi tiga meter telah dibangun melintang di tengah jembatan, menutup total akses jalan.
Tapi tembok itu tidak terbuat dari bata atau beton.
Tembok itu terbuat dari tumpukan rongsokan yang dipadatkan: bangkai mobil, kulkas, mesin cuci, dan ribuan ban bekas. Semuanya direkatkan bukan dengan semen, melainkan dengan lendir hitam yang mengeras.
Dan di sela-sela tumpukan sampah itu... ada "penjaga".
Manusia-manusia yang tubuhnya sudah menyatu dengan tembok. Hanya kepala dan tangan mereka yang menyembul keluar dari dinding sampah itu. Mereka seperti gargoyle hidup yang tertanam di benteng neraka.
Mata mereka memindai jalanan dengan sorot lampu senter yang dipasang di kepala. Mereka memegang senapan angin dan tombak besi.
"Anjing..." desis Reza. "Mereka bukan cuma nutup jalan. Mereka ngebentengin diri."
Reza mengeluarkan ponselnya. Masih tidak ada sinyal. Menara BTS di kejauhan terlihat miring, kabel-kabelnya putus bergelantungan. Mereka memutus komunikasi fisik dan digital.
Reza sadar, dia tidak bisa menembus ini sendirian. Dia butuh lebih dari sekadar motor trail. Dia butuh ledakan. Atau dia butuh mencari jalan lain yang lebih gila.
Dia menatap ke bawah jembatan. Jurang sungai yang dalam dan gelap.
Dan di sanalah dia melihat sesuatu yang membuatnya sedikit berharap.
Di bawah kolong jembatan, tersangkut di antara tiang penyangga beton, ada benda oranye yang familiar. Sebuah rakit darurat yang terbuat dari drum-drum plastik bekas. Dan di atas rakit itu, ada sosok kecil yang sedang melambai padanya.
Seorang anak kecil. Memakai seragam pramuka yang kotor.
Anak itu menempelkan jari di bibirnya. Ssst.
Lalu dia menunjuk ke arah jalan setapak tersembunyi yang menuju ke bawah jembatan.
Reza ragu. Apakah ini jebakan? Apakah anak itu juga drone?
Tapi dia tidak punya pilihan. Naya sedang bertaruh nyawa di hutan. Reza harus mengambil risikonya.
Dia meninggalkan motornya, dan mulai merayap turun menuju kegelapan kolong jembatan, menuju satu-satunya sekutu yang mungkin tersisa di tanah terkutuk ini.
(Bersambung ke Bab 10)