Reza merayap turun melalui jalan setapak curam di samping pilar beton jembatan. Tangannya mencengkeram akar-akar liar dan besi angkur yang berkarat untuk menahan bobot tubuhnya. Di atasnya, dinding sampah yang mengerikan itu—barikade mobil penyok dan manusia yang tertanam—tampak seperti bendungan neraka yang menahan banjir kegilaan.
Suara gemuruh sungai di bawah sana semakin keras, menelan suara napas Reza yang tersengal. Bau di kolong jembatan ini adalah campuran antara lumut basah, oli bekas, dan kencing tikus.
Sesampainya di dasar, di atas gundukan tanah berlumpur yang dikelilingi tiang-tiang beton raksasa, Reza akhirnya berhadapan dengan sosok kecil itu.
Anak laki-laki itu mungkin baru berusia sepuluh atau sebelas tahun. Seragam pramukanya dekil, penuh noda lumpur hitam, dan celana cokelatnya sudah robek menjadi celana pendek tak beraturan. Di lehernya, tergantung sebuah ketapel yang karetnya terbuat dari ban dalam sepeda motor.
Reza mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Gue bukan musuh, Dek. Gue temennya Naya."
Anak itu tidak menurunkan kewaspadaannya. Dia memegang sebatang besi ruji sepeda yang ujungnya sudah diasah runcing seperti jarum. Matanya tajam, liar, dan penuh kecurigaan. Mata seorang penyintas.
"Naya siapa?" tanya anak itu ketus. Suaranya belum pecah, masih suara anak-anak, tapi intonasinya keras seperti preman pasar.
"Cewek. Rambut panjang. Pake kemeja flanel. Tadi dia lari ke hutan bambu," jawab Reza pelan-pelan. "Nama lo siapa?"
Anak itu menatap Reza dari ujung kaki sampai kepala, menilai. "Lo bukan orang sini. Sepatu lo bersih. Lo orang kota."
"Gue Reza. Gue mau keluar dari sini, tapi jalan di atas ditutup tembok... tembok orang."
Anak itu meludah ke samping. "Tembok Daging. Itu namanya. Pak Karta yang nyuruh bikin. Buat nahan orang luar masuk, dan nahan kita keluar."
"Kita?" Reza menangkap kata kunci itu.
Anak itu—yang akhirnya menurunkan besi runcingnya sedikit—mengangguk ke arah kegelapan di balik pilar jembatan yang paling besar. Di sana, tertutup oleh tumpukan seng bekas dan terpal biru sobek, ada sebuah lubang drainase besar. Gorong-gorong peninggalan zaman Belanda.
"Masuk. Di sini nggak aman. Drone lalat suka lewat sini kalau lagi patroli sungai," perintah anak itu.
Reza menurut. Dia mengikuti anak itu merangkak masuk ke dalam gorong-gorong.
Di dalam sana, Reza terkejut.
Ruang drainase itu kering dan luas. Dan di dalamnya, diterangi oleh beberapa lampu LED bertenaga baterai aki bekas, duduk sekitar tujuh atau delapan anak kecil lainnya.
Ada yang masih balita, tidur di atas tumpukan kardus mi instan. Ada yang seusia SMP, sedang sibuk mengasah pisau dapur di batu asahan. Mereka semua kurus, kotor, tapi mata mereka jernih.
Mata mereka normal. Tidak ada selaput putih. Tidak ada pupil hitam yang melebar.
"Mereka..." Reza berbisik takjub. "Mereka nggak kena?"
"Kita nggak minum air sumur," kata anak pramuka itu, duduk di atas drum plastik. "Namaku Dito. Aku ketua di sini."
Dito menunjuk tumpukan botol air mineral kemasan, minuman soda, dan teh kemasan di sudut ruangan. Semuanya barang bermerek.
"Kita 'mulung' dari minimarket di jalan raya sebelum dijarah sama orang-orang gila itu," jelas Dito bangga. "Orang dewasa goblok. Mereka percaya aja pas Pak Karta bilang air sumur itu 'Air Berkah'. Kita mah ogah. Airnya bau bangke."
Reza merasa secercah harapan. Metabolisme anak-anak yang cepat, atau mungkin kebiasaan mereka jajan minuman kemasan, telah menyelamatkan mereka dari gelombang pertama infeksi.
"Kenapa kalian nggak kabur?" tanya Reza.
"Kabur ke mana?" seorang anak perempuan yang sedang menggendong adiknya menyahut sinis. "Jembatan ditutup Tembok Daging. Hutan dijaga Bapak-Bapak yang bawa arit. Kita kejebak, Om."
"Om Reza," koreksi Reza otomatis, lalu sadar situasi ini terlalu serius untuk panggilan. "Dito, lo tau sungai ini ngalir ke mana?"
"Ke 'Kuburan Truk'," jawab Dito. "Di sana muaranya. Tempat bangkai-bangkai truk sampah dibuang. Banyak besi tua."
Reza teringat Naya. Dia jatuh ke sungai. Jika dia selamat, arus akan membawanya ke sana.
"Gue harus ke sana," kata Reza berdiri. "Temen gue hanyut. Dia mungkin masih idup."
"Cewek tadi?" Dito mengerutkan kening. "Kalau dia jatuh ke Citarum Item, harusnya dia mati keracunan, Om. Atau dimakan sama Gagal Panen di dasar kali."
"Dia beda," kata Reza, teringat kaki plastik Naya. "Dia... dia kuat. Gue butuh bantuan kalian buat nyusul dia."
Anak-anak itu saling pandang. Mereka ragu.
"Om punya apa?" tanya Dito pragmatis. "Di sini nggak ada yang gratis. Kita butuh batre. Kita butuh makanan."
Reza merogoh saku jaketnya. Dia mengeluarkan ponselnya (yang masih mati sinyal tapi baterainya penuh) dan sebuah powerbank kapasitas besar. Dia juga mengeluarkan dua batang cokelat protein bar yang selalu dia bawa saat touring.
Mata anak-anak itu berbinar melihat cokelat.
"Deal," Dito menyambar cokelat itu dan membaginya dengan rata kepada teman-temannya. "Kita nggak bisa anter sampe sana, kejauhan. Tapi kita punya 'jalan tol' sendiri."
Dito menunjuk ke ujung gorong-gorong yang gelap.
"Pipa ini nembus sampe ke belakang pabrik tekstil tua di deket muara. Tapi hati-hati, Om. Di sana sarangnya Tikus Kabel. Jangan injek buntutnya."
Reza mengangguk mantap. "Makasih, Jenderal Dito."
Sebelum Reza masuk ke kegelapan pipa, Dito memanggilnya lagi.
"Om?"
"Ya?"
"Kalau ketemu Bapakku di sana... Bapakku pake kaos Partai... tolong jangan dibunuh ya, Om? Siapa tau Bapak bisa sembuh."
Mata Dito yang tajam itu meredup, menyiratkan kesedihan anak kecil yang kehilangan orang tuanya secara paksa.
Reza merasakan dadanya sesak. Dia tidak bisa menjanjikan itu. Tapi dia mengangguk. "Gue usahain."
Tiga kilometer di hilir sungai.
Naya terbatuk hebat, memuntahkan lumpur hitam dari paru-parunya. Tubuhnya terdampar di atas gundukan sampah plastik yang menumpuk di belokan sungai, membentuk pulau buatan yang bau.
Dia masih hidup.
Naya mencoba duduk. Sekujur tubuhnya sakit. Kulitnya perih terkena air lindi sungai. Bajunya basah kuyup, berat, dan lengket.
Tapi saat dia melihat kaki kanannya, rasa sakit itu hilang digantikan rasa ngeri.
Kaki kanannya—kaki plastiknya—tidak rusak sama sekali. Justru sebaliknya. Kaki itu terlihat lebih besar.
Air sungai yang penuh polimer cair itu telah "memberi makan" infeksinya. Lapisan abu-abu di betisnya kini menebal, membentuk pelindung yang kokoh seperti shin guard pemain bola. Dan infeksinya telah naik.
Sekarang, paha kanannya juga mulai mengeras. Urat-urat hitam di pinggangnya berdenyut, menjalar naik ke arah perut dan dada.
"Nggak... berhenti..." rintih Naya, memukul pahanya sendiri. "Berhenti tumbuh, bangsat!"
Dia meraba dadanya. Di bawah kulit dadanya yang pucat, dia bisa melihat pembuluh darahnya tidak lagi berwarna biru atau merah, melainkan hitam pekat. Jantungnya berdetak lambat sekali. Dug... ... Dug...
Setiap detak jantungnya memompa cairan hitam itu ke otak.
Suara-suara di kepalanya kini lebih tenang, tidak lagi berteriak-teriak. Tapi itu justru lebih menakutkan. Suara itu sekarang terdengar seperti pikirannya sendiri.
Naya lapar... Naya butuh ganti kulit...
"Gue bukan Naya," gumam Naya, mencoba mempertahankan identitasnya. "Gue Naya Arisanti. NIM 12045... Gue manusia."
Naya memaksakan diri berdiri. Dia berada di sebuah area terbuka yang luas. Cahaya bulan samar-samar menerangi pemandangan di depannya.
Ini adalah "Kuburan Truk".
Puluhan, mungkin ratusan bangkai truk sampah dari berbagai dekade tergeletak di sini. Truk tahun 80-an yang sudah karatan, truk modern yang ringsek bekas kecelakaan. Mereka ditumpuk, disusun, dan dibiarkan membusuk.
Tapi ada yang aneh.
Posisi truk-truk itu tidak acak. Mereka disusun melingkar, menyerupai tembok benteng atau... amphitheater.
Dan di tengah-tengah lingkaran truk itu, ada api unggun yang menyala. Apinya bukan oranye, melainkan biru kehijauan—api gas metana.
Naya ingin bersembunyi, tapi kakinya yang berat menginjak kaleng bekas.
KLANG.
Suara itu menggema di keheningan malam.
Dari balik bangkai truk Fuso di dekat api unggun, sesosok bayangan muncul.
Naya bersiap lari, atau bertarung. Dia mengepalkan tangannya.
Tapi sosok itu tidak menyerang. Sosok itu berjalan pincang, menyeret satu kakinya yang tampak... tidak wajar.
Saat sosok itu mendekat ke cahaya api biru, Naya terbelalak.
Itu seorang wanita muda. Mungkin seusia Naya. Dia memakai daster yang compang-camping.
Tapi yang membuat Naya terpaku adalah tubuh wanita itu.
Lengan kirinya sudah tidak ada. Sebagai gantinya, tumbuh sebuah struktur aneh yang menyerupai capit kepiting, tapi terbuat dari susunan botol plastik yang meleleh dan menyatu. Wajah sebelah kirinya juga tertutup lapisan plastik abu-abu yang sama dengan kaki Naya.
Wanita itu adalah hybrid. Setengah manusia, setengah sampah. Sama seperti Naya.
Wanita itu menatap Naya, lalu menatap kaki kanan Naya yang bersinar redup.
Dia tersenyum. Senyum yang sedih, tapi penuh pemahaman. Dia tidak memiliki mata hive mind yang kosong. Matanya sadar. Matanya menderita.
"Kamu baru ya?" tanya wanita itu suaranya serak.
Naya tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu.
"Sini," panggil wanita itu, melambaikan tangan manusianya. "Jangan berdiri di situ. Nanti 'Pemungut' liat kamu."
"Pemungut?" bisik Naya.
"Makhluk yang makan kita kalau kita belum mateng," jelas wanita itu santai, seolah membicarakan cuaca. "Masuk ke lingkaran. Di deket api aman. Gasnya bikin mereka pusing."
Naya melangkah ragu mendekati lingkaran truk itu. Di sekitar api unggun biru itu, dia melihat ada tiga orang lain. Semuanya cacat. Semuanya bermutasi.
Ada bapak-bapak yang punggungnya ditumbuhi bongkahan styrofoam keras seperti punuk unta. Ada remaja yang jari-jarinya berubah menjadi kabel serabut panjang.
Mereka adalah The Rejects. Produk gagal. Warga yang tubuhnya menolak asimilasi total, yang pikirannya terlalu keras kepala untuk dikendalikan oleh Gunung, tapi tubuhnya sudah terlanjur rusak.
Mereka dibuang ke sini. Diasingkan dari "Surga" yang dijanjikan Ipul di dalam mimpi tadi.
"Duduk," kata wanita bercapit plastik itu. Dia menendang sebuah jok mobil bekas ke arah Naya. "Nama gue Marni. Selamat datang di Purgatori, Neng."
Naya duduk, merasakan kehangatan api metana yang aneh. Dia menatap orang-orang buangan ini.
Mereka monster. Tapi mereka manusia.
"Kalian... kalian masih sadar?" tanya Naya pelan.
"Kadang-kadang," jawab si bapak berpunuk styrofoam. "Kalau lagi ujan, suara di kepala makin kenceng. Kita harus teriak-teriak biar nggak lupa nama sendiri."
"Kenapa kalian nggak dibunuh?"
"Karena kita bibit unggul," Marni terkekeh pahit, mengetuk-ngetuk capit plastiknya ke bodi truk. "Pak Karta bilang kita ini 'proyek jangka panjang'. Dia nungguin kita nyerah. Dia nungguin jiwa kita capek, biar tubuh kuat kita bisa diambil alih sepenuhnya sama Ibu."
Marni menatap Naya tajam.
"Dan kamu, Neng... kamu keliatannya bibit yang paling spesial. Liat tuh kakimu. Mulus. Simetris. Ibu pasti naksir berat sama kamu."
Naya merinding. Dia melihat kakinya sendiri. Benar. Mutasi di tubuh orang-orang ini tampak berantakan, chaos, dan menyakitkan. Tapi kaki Naya... kaki Naya terbentuk dengan rapi, presisi, seolah didesain dengan tujuan khusus.
Dia bukan sekadar sampah daur ulang.
Dia adalah senjata yang sedang ditempa.
"Gue harus pergi dari sini," kata Naya.
"Nggak bisa," potong Marni. "Jalan keluar cuma satu. Lewat gorong-gorong pabrik. Tapi di sana ada Tikus Kabel."
"Temen gue ada di sana," kata Naya teringat Reza. Jika Reza berhasil, dia akan lewat sana.
Marni menggeleng. "Kalau temenmu manusia biasa... dia udah mati."
Tiba-tiba, dari arah tumpukan bangkai truk di sisi gelap, terdengar suara decitan logam yang menyilukan telinga.
Ciit... Ciiit...
Suara itu diikuti oleh getaran tanah. Bukan dug-dug napas gunung. Tapi getaran langkah kaki kecil yang jumlahnya ribuan.
"Matiin apinya!" desis Marni panik. "Pemungut dateng!"
Mereka buru-buru menimbun api biru itu dengan tanah. Gelap gulita menyergap.
Naya menahan napas. Di kegelapan, dia melihat sepasang mata merah menyala di atas tumpukan truk setinggi lima meter. Lalu sepasang lagi. Dan lagi.
Puluhan mata merah menatap ke bawah, ke arah mereka.
(Bersambung ke Bab 11)