Thriller

Pemungut Jiwa

21 January 2026

Mata merah itu tidak berkedip. Di atas tumpukan bangkai truk setinggi lima meter yang mengelilingi Naya dan para "Produk Gagal", puluhan pasang mata itu menyala seperti bara rokok di kegelapan. Mereka tidak bergerak, hanya mengawasi, menilai, dan menunggu momen untuk menerkam.

Naya merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena dinginnya angin malam yang membawa bau karat, tapi karena suara di dalam kepalanya tiba-tiba berubah nada. Bisikan hive mind yang biasanya merayu dan membuai, kini berubah menjadi jeritan peringatan yang panik.

Lari... Bahaya... Mereka tidak patuh... Mereka lapar...

Ternyata, bahkan Gunung itu pun takut pada ciptaannya sendiri yang satu ini.

"Marni," bisik Naya, matanya tak lepas dari siluet di atas tumpukan besi. "Itu apa?"

Marni, wanita dengan tangan capit plastik itu, meludah ke tanah. Dia menggesekkan capitnya ke badan truk di sebelahnya, menciptakan bunyi sreeet yang nyaring dan memercikkan api. Sebuah tantangan.

"Itu Scavenger," jawab Marni pelan. "Kami nyebutnya Pemungut. Mereka dulu anjing-anjing liar yang hidup di TPA. Tapi mereka makan daging mayat yang udah bermutasi. Sekarang... mereka jadi mesin pembunuh."

Satu bayangan melompat turun dari atas tumpukan truk, mendarat dengan suara KLANG berat di atas kap mobil sedan penyok.

Cahaya bulan menimpa makhluk itu. Naya menahan napas.

Makhluk itu besarnya seukuran macan tutul, tapi anatominya salah total. Kepalanya masih menyerupai anjing kampung dengan moncong panjang dan gigi bertaring, tapi separuh tengkoraknya terekspos, dilapisi logam mengilap. Tubuhnya tidak berbulu, melainkan tertutup sisik-sisik dari pelat nomor kendaraan dan pecahan seng yang tertanam langsung ke dalam daging.

Dan kakinya... kakinya bukan tapak anjing. Kakinya adalah cakar besi yang terbuat dari ruji-ruji sepeda motor yang tajam dan bengkok.

Grrrr...

Suara geramannya terdengar seperti mesin gergaji yang macet.

"Mereka nggak dikendaliin sama Gunung?" tanya Naya.

"Mereka hama," sahut Pak Bejo, pria dengan punuk styrofoam di punggungnya. Dia mematahkan sebatang besi as roda dari rongsokan di dekatnya sebagai senjata. "Gunung itu rapi. Gunung mau keteraturan. Tapi anjing-anjing ini... mereka cuma mau nyabik-nyabik."

Tiba-tiba, Pemungut itu melolong. Lolongan yang terdengar seperti gesekan logam berkarat.

Itu sinyal serangan.

Dalam sekejap, puluhan Pemungut lain melompat turun dari segala arah. Mereka bergerak lincah, cakar besi mereka mencengkeram bodi mobil dan rongsokan dengan mudah, menciptakan hujan suara logam beradu.

"Rapat! Bentuk lingkaran!" teriak Marni.

Para Rejects—manusia-manusia buangan itu—langsung membentuk formasi defensif di sekitar sisa api unggun. Mereka mungkin cacat, tapi mereka sudah terbiasa bertahan hidup di neraka ini.

Seekor Pemungut menerjang ke arah Marni. Rahangnya terbuka lebar, siap mengoyak leher.

TRAK!

Marni mengayunkan tangan kirinya. Capit plastiknya yang besar menghantam kepala anjing mutan itu dengan telak. Tengkorak anjing itu retak, tubuhnya terlempar menghantam pintu truk.

Tapi dua ekor lagi datang dari samping.

Pak Bejo memutar badannya, menggunakan punuk styrofoam keras di punggungnya sebagai tameng untuk menahan gigitan mereka. "Maju! Tusuk!" teriaknya pada remaja yang jari-jarinya berupa kabel.

Remaja itu, namanya Asep, menyambukkan jari-jari kabelnya seperti cambuk. Ujung-ujung kabel itu membelit leher salah satu anjing, mencekiknya.

Naya berdiri terpaku di tengah kekacauan itu. Dia bukan petarung. Dia ilmuwan. Dia tidak tahu cara memukul atau menendang dengan benar.

Seekor Pemungut yang ukurannya lebih besar dari yang lain—mungkin pemimpin kawanan—mendarat di depan Naya. Mata merahnya menatap kaki kanan Naya yang bersinar redup. Dia mencium bau feromon murni dari sana.

Bagi makhluk itu, kaki Naya adalah steak wagyu kualitas terbaik.

Makhluk itu melompat.

Waktu seolah melambat bagi Naya. Dia melihat gigi-gigi taring yang terbuat dari paku berkarat itu mendekat ke wajahnya.

Lindungi aset... bisik suara di kepala Naya.

Tanpa sadar, tubuh Naya bergerak sendiri. Bukan gerakan panik manusia, tapi gerakan presisi mesin.

Naya memutar pinggulnya, menanamkan kaki kirinya (kaki manusianya) kuat-kuat ke tanah, dan mengayunkan kaki kanannya (kaki plastiknya) dalam tendangan roundhouse yang sempurna.

DUM!

Kaki plastik Naya menghantam rusuk anjing mutan itu.

Efeknya mengerikan. Tubuh anjing seberat lima puluh kilogram itu tidak hanya terdorong mundur. Tubuhnya meledak ke samping. Tulang rusuk dan pelat seng yang menempel di tubuhnya hancur berkeping-keping. Makhluk itu terlempar jauh, menabrak tumpukan ban bekas hingga tumpukan itu runtuh.

Naya terengah-engah, menatap kakinya. Dia tidak merasakan sakit sedikit pun saat menghantam besi dan tulang tadi. Kakinya terasa padat, tak tergoyahkan.

"Wuidih," Marni bersiul di sela-sela pertarungannya. "Tendangan maut. Gunain itu, Neng! Jangan bengong!"

Naya sadar sekarang. Dia bukan lagi mangsa.

"Ayo sini, anjing jelek!" tantang Naya.

Dua ekor Pemungut lain berbalik ke arahnya, marah karena pemimpin mereka dihajar. Mereka menyerang bersamaan.

Naya tidak mundur. Dia menggunakan kelincahan barunya. Dia melompat, kakinya yang bermutasi memberinya daya tolak pegas yang luar biasa. Dia melayang di udara, lalu mendarat dengan menginjak punggung salah satu anjing hingga remuk.

Satu lagi mencoba menggigit lengannya. Naya menepisnya dengan sikut, lalu menendangnya lagi hingga terbang masuk ke dalam kabin truk tua.

Pertarungan itu brutal dan kacau. Suara jeritan anjing, teriakan manusia, dan benturan logam memenuhi Kuburan Truk.

Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Satu per satu anggota Rejects mulai kewalahan. Pak Bejo tergigit di bahu. Asep terpojok di sudut.

"Kita harus cabut!" teriak Marni, napasnya memburu. "Ke pabrik! Sekarang!"

"Lewat mana?!" Naya berteriak balik sambil menendang seekor anjing yang mencoba menggigit betisnya (dan giginya patah saat menggigit lapisan plastik keras itu).

"Tembus tumpukan itu!" Marni menunjuk sebuah celah sempit di antara dua kontainer sampah raksasa.

Mereka berlari. Naya berada di belakang, menjadi rear guard karena dia yang paling kuat sekarang. Setiap ada anjing yang mendekat, dia kirim terbang dengan satu tendangan.

Mereka menerobos celah sempit itu, meninggalkan area Kuburan Truk, berlari menuju siluet bangunan pabrik tekstil tua yang menjulang angker di kejauhan.

Sementara itu, di dalam kegelapan yang jauh lebih sempit.

Reza merangkak dengan sikut dan lutut yang lecet. Pipa drainase beton itu diameternya hanya sekitar satu meter. Cukup untuk orang dewasa merangkak, tapi terlalu sempit untuk berbalik badan atau berdiri.

Udara di sini pengap, berbau amonia tajam yang menusuk hidung. Reza menyalakan senter ponselnya, menyorot ke depan. Lorong itu tampak tak berujung, dindingnya licin berlumut.

"Sialan si Dito," gerutu Reza, suaranya bergema aneh. "Jalan tol katanya. Ini mah jalan tikus."

Cit... Cit...

Reza berhenti merangkak. Suara itu. Suara cicit tikus. Tapi suaranya disertai bunyi lain.

Bzzt... Bzzzzt...

Bunyi percikan listrik statis.

Reza menelan ludah. Dito sudah memperingatkannya soal "Tikus Kabel". Reza pikir itu hanya julukan karena tikus suka menggigit kabel.

Dia mengarahkan senternya ke depan, menyipitkan mata.

Di kegelapan sekitar sepuluh meter di depannya, ada sepasang mata kecil yang menyala kuning. Lalu dua pasang. Lalu sepuluh pasang.

Tikus-tikus itu ukurannya tidak normal. Sebesar kucing dewasa. Bulu mereka rontok, kulitnya merah meradang.

Tapi yang membuat Reza menahan napas adalah ekor mereka.

Ekor tikus-tikus itu bukan daging. Ekor mereka telah menyatu dengan kabel tembaga telanjang yang mereka pungut dan makan. Kabel-kabel itu tertanam di tulang belakang mereka, menjuntai panjang di belakang tubuh.

Dan saat tikus-tikus itu bergerak gelisah, ekor tembaga mereka saling bergesekan, memercikkan bunga api biru kecil.

"Mereka... mereka generator berjalan," bisik Reza takjub sekaligus ngeri. Mutasi di desa ini benar-benar melampaui logika biologi. Tikus-tikus ini telah beradaptasi untuk menyimpan dan mengalirkan listrik statis tubuh mereka lewat ekor logam.

Satu tikus di depan mendecit keras, memamerkan gigi kuningnya. Ekornya menyabet lantai beton yang basah.

CETAR!

Percikan listrik menyambar genangan air di depan Reza.

Reza reflek menarik tangannya yang menyentuh air. Air adalah konduktor. Seluruh lantai pipa ini basah. Jika tikus-tikus itu melepaskan muatan listrik mereka bersamaan ke air, Reza akan terpanggang hidup-hidup di dalam tabung beton ini.

"Oke, Reza. Pikir. Lo anak teknik. Jangan mati konyol sama tikus Pikachu," gumamnya panik.

Dia tidak bisa mundur. Mundur berarti kembali ke anak-anak kolong, dan Naya akan mati. Dia harus maju.

Dia butuh isolator.

Reza melihat sekeliling. Tidak ada apa-apa selain lumut.

Dia melihat jaket kulit sintetis yang dipakainya. Jaket motor. Bahannya tebal, waterproof, dan karet sintetis adalah isolator yang lumayan.

Reza melepas jaketnya dengan susah payah di ruang sempit itu. Dia melemparkan jaket itu ke genangan air di depannya, menjadikannya pijakan kering.

"Ayo maju, setan kecil," tantang Reza. Dia mengeluarkan korek api gas dari sakunya di satu tangan, dan kaleng spray penghilang bau helm yang kebetulan ada di tas selempangnya di tangan lain.

Flamethrower darurat.

Kawanan tikus itu menerjang maju. Ekor mereka memercik-mercik, mengirimkan gelombang listrik lewat air.

Reza melompat ke atas jaket kulitnya, meringkuk seperti bola agar tidak menyentuh dinding basah.

Saat tikus terdepan melompat ke arah wajahnya, Reza menekan nozzle kaleng spray dan memantik koreknya.

WUSH!

Semburan api oranye menyambar di ruang sempit itu.

Tikus-tikus itu menjerit. Api membakar kulit mereka yang berminyak. Dan yang lebih penting, api membuat mereka panik. Formasi mereka pecah. Ekor-ekor mereka saling membelit dalam kekacauan, memicu korsleting massal di antara mereka sendiri.

BZZEEET!

Tikus-tikus itu kejang-kejang, tersengat oleh listrik teman mereka sendiri. Bau daging gosong dan bulu terbakar memenuhi pipa.

Reza tidak menunggu. Selagi tikus-tikus itu sibuk memanggang diri sendiri, dia melompati tumpukan tubuh mereka yang berasap, mendarat di area yang agak kering di balik kawanan itu, dan merangkak secepat kilat.

"Jangan kejar gue! Jangan kejar gue!" rapalnya seperti mantra.

Dia melihat cahaya di ujung lorong. Cahaya bulan. Jalan keluar.

Reza memacu sisa tenaganya, menyeret tubuhnya keluar dari mulut pipa. Dia jatuh terguling di atas rumput ilalang yang tinggi, terbatuk-batuk menghirup udara segar.

Dia selamat.

Reza bangkit berdiri, membersihkan lumpur dari bajunya. Dia melihat sekeliling.

Dia berada di belakang sebuah kompleks bangunan raksasa yang sudah runtuh sebagian. Pabrik Tekstil Sindang Sejahtera (PT SS), yang bangkrut tahun 90-an.

Tapi perhatian Reza teralihkan oleh suara keributan di sisi lain pabrik.

Dia mendengar suara teriakan manusia dan gonggongan anjing yang aneh.

Reza berlari memutari dinding pabrik, bersembunyi di balik tangki air berkarat.

Dari posisinya, dia bisa melihat lapangan terbuka di depan pabrik.

Di sana, dia melihat Naya.

Gadis itu sedang berlari bersama tiga orang aneh lainnya, dikejar oleh kawanan anjing robotik.

Tapi Reza nyaris tidak mengenali temannya itu.

Naya bergerak dengan kecepatan yang mustahil. Dia melompat setinggi dua meter, berputar di udara, dan menghantam seekor anjing dengan kaki kanannya hingga anjing itu remuk.

"Naya?" bisik Reza, matanya membelalak.

Temannya itu bukan lagi sekadar mahasiswi kimia yang canggung. Dia telah berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang mematikan.

Naya dan kelompoknya berhasil masuk ke dalam pintu gerbang pabrik dan menutup gerbang besi berat itu tepat sebelum anjing-anjing itu menerjang.

BANG! BANG!

Anjing-anjing itu menabrak gerbang, mencakar-cakar besi, tapi tidak bisa masuk.

Reza menghela napas lega. Mereka aman untuk sesaat.

Dia harus mencari cara untuk masuk ke dalam dan menemui Naya. Tapi saat dia hendak melangkah, dia merasakan getaran di saku celananya.

Bukan getaran phantom. Ponselnya benar-benar bergetar.

Reza mengambil ponselnya. Sinyal masih nol.

Tapi ada notifikasi Wi-Fi terbuka yang terdeteksi.

Nama jaringannya membuat darah Reza membeku:

Wi-Fi Available: KONEKSI_INDUK_V1.0

Dan lokasi sinyal itu berasal dari dalam pabrik tekstil tempat Naya baru saja masuk.

"Itu bukan tempat perlindungan," gumam Reza horor. "Itu server."

Naya baru saja masuk ke dalam sarang laba-laba yang sebenarnya.

(Bersambung ke Bab 12)