Gerbang besi berkarat itu menghantam kusen beton dengan suara dentuman laksana guntur: BLAAAM!
Suara itu bergema di seluruh aula pabrik yang kosong, disusul oleh suara gedoran dan cakaran panik dari sisi luar. Anjing-anjing mutan—para Pemungut—itu melolong kecewa. Mereka mencakar pelat besi, mencoba mencari celah, namun gerbang pabrik tekstil ini dibangun di era ketika struktur bangunan dibuat untuk bertahan dari serangan bom, bukan sekadar cakaran binatang.
Naya merosot di lantai beton yang dingin. Napasnya memburu, parunya terasa seperti diisi pecahan kaca. Keringat dingin bercampur debu membasahi wajahnya.
"Aman..." desah Marni, juga merosot di sebelah Naya. Capit plastiknya terkulai lemas di lantai. "Mereka nggak bisa masuk. Dinding ini tebel."
Naya mencoba mengatur napas, menekan dadanya yang bergemuruh. Adrenalin yang tadi membanjiri sistem tubuhnya mulai surut, meninggalkan rasa lelah yang luar biasa dan... rasa lapar.
Bukan lapar karena perut kosong. Tapi lapar yang aneh.
Kaki kanan Naya berdenyut. Pembuluh darah hitam di pahanya berkedut-kedut, seolah meminta asupan energi. Naya menyadari dengan ngeri bahwa kakinya ingin berada di sini. Tempat ini... rasanya nyaman. Rasanya seperti pulang.
"Bangun," perintah Asep, remaja dengan jari-jari kabel itu. "Jangan diem di deket pintu. Baunya masih kecium."
Naya memaksakan diri berdiri. Dia melihat sekeliling aula pabrik tua itu.
Ruangan ini luasnya seperti lapangan bola. Langit-langitnya tinggi, dengan rangka baja yang masih kokoh meski berkarat. Di sana-sini, tergeletak mesin-mesin tekstil kuno—alat pemintal benang, mesin tenun raksasa—yang kini tertutup debu tebal dan sarang laba-laba.
Tapi bukan sarang laba-laba biasa.
Serabut-serabut putih yang menggantung dari langit-langit itu tebal dan kaku. Dan di sela-selanya, menjuntai kabel-kabel hitam yang tak terhitung jumlahnya. Kabel-kabel itu menjalar dari atap, melilit pilar-pilar beton, dan menyatu ke sebuah titik di tengah ruangan yang tertutup oleh dinding partisi kaca buram.
Dan ada suara itu.
Hmmmmmm....
Dengungan rendah yang konstan. Suara listrik statis tegangan tinggi, bercampur dengan suara gemericik cairan yang dipompa lewat pipa.
"Tempat apa ini?" tanya Naya pelan.
"Ini 'Ruang Doa'," jawab Pak Bejo, pria berpunuk styrofoam. Dia menatap partisi kaca di tengah ruangan dengan ketakutan. "Pak Karta bilang, di sini tempat Ibu bicara sama anak-anaknya."
"Maksudnya?"
"Lo bakal liat sendiri," kata Marni. "Ayo. Kita cari tempat ngumpet di lantai dua. Jangan deket-deket 'Altar'."
Mereka berjalan mengendap-endap di antara mesin-mesin tenun tua. Naya merasakan bulu kuduknya berdiri. Udara di dalam sini terasa bermuatan listrik. Rambut-rambut halusnya berdiri tegak karena statis.
Saat mereka melewati partisi kaca buram itu, Naya melihat bayangan di baliknya. Ada cahaya biru yang berkedip-kedip, dan siluet tubuh manusia yang... tergantung.
Naya berhenti. Insting ilmiahnya menggelitik.
"Jangan liat, Neng," peringat Marni.
Tapi Naya mendekat. Ada celah di kaca buram itu, bekas lemparan batu. Naya mengintip ke dalam.
Matanya terbelalak. Dia membekap mulutnya agar tidak menjerit.
Di balik kaca itu, di tengah ruangan yang dulunya mungkin kantor mandor, terdapat sebuah instalasi horor yang melampaui imajinasi terliar.
Ada sekitar dua puluh orang. Warga desa yang hilang.
Mereka tidak mati. Mereka berdiri melingkar, menghadap ke tengah. Tapi kaki mereka tidak menyentuh lantai. Kaki mereka telah menyatu dengan gumpalan kabel dan akar hitam yang tumbuh dari lantai.
Kepala mereka mendongak ke atas, mulut terbuka lebar, dan mata mereka memancarkan cahaya biru terang—cahaya LED.
Dari mulut mereka, keluar kabel serat optik tebal yang menjulur ke atas, menyambung ke sebuah perangkat router raksasa yang tergantung di langit-langit.
Mereka bernapas serempak. Haaah... Haaah...
Dan setiap kali mereka menghembuskan napas, cahaya biru di mata mereka berkedip, mengirimkan data. Mengirimkan sinyal.
Mereka adalah repeater. Mereka adalah modem hidup.
Inilah sumber sinyal KONEKSI_INDUK_V1.0 yang dideteksi Reza.
"Mereka... mereka jadi server," bisik Naya, air mata menetes. "Otak mereka dipake buat memproses jaringan."
Inilah hive mind itu. Bukan sihir. Bukan mistis. Ini adalah jaringan komputasi biologis. Gunung itu menggunakan otak manusia sebagai prosesor paralel untuk meningkatkan kecerdasannya.
"Mereka nggak sakit kok," kata Marni di belakang Naya, suaranya terdengar hampa. "Mereka lagi mimpi indah. Liat mukanya."
Naya melihat lebih teliti. Benar. Meski tubuh mereka kurus kering dan diperalat mesin, ekspresi wajah mereka... ecstatic. Bahagia. Seolah sedang orgasme abadi.
"Ayo pergi," Naya menarik diri dari kaca, merasa mual. Konsep 'bahagia' di desa ini sudah terlalu rusak.
Tiba-tiba, kaca di salah satu jendela tinggi di atas aula pabrik pecah berantakan.
PRANG!
Naya dan para Rejects sontak menoleh, memasang kuda-kuda bertarung. Marni mengangkat capitnya. Asep menyiapkan cambuk kabelnya.
Sesosok tubuh berjaket kulit melompat masuk dari jendela yang pecah itu, bergelantungan di sisa kain gorden tua, lalu mendarat dengan gaya yang kurang mulus di atas mesin tenun.
Sosok itu terguling, lalu bangkit dengan cepat sambil mengacungkan... kaleng semprot dan korek api?
"Jangan bergerak! Gue punya api dan gue nggak takut make ini!" teriak sosok itu dengan suara gemetar tapi sok berani.
Naya menyipitkan mata. "Reza?"
Reza menurunkan kaleng semprotnya sedikit, menatap Naya dengan mata terbelalak. Dia melihat Naya yang kotor, baju sobek-sobek, dan dikelilingi oleh tiga monster mutan.
"Nay?" Reza melompat turun dari mesin. Dia hendak lari memeluk Naya, tapi Marni menghadang dengan capit raksasanya.
"Mundur, Manusia Bersih," geram Marni. "Lo bau sabun. Lo musuh."
"Dia temen gue!" seru Naya, melompat ke tengah-tengah antara Reza dan Marni. "Jangan sentuh dia!"
Marni mendengus, tapi menurunkan capitnya. "Temenmu nekat juga. Masuk lewat ventilasi atas?"
Reza mengabaikan Marni dan langsung mencengkeram bahu Naya. "Lo gila ya? Gue liat lo dari luar tadi. Lo... lo nendang anjing mutan itu kayak nendang bola plastik."
"Gue beradaptasi, Za," jawab Naya lelah. "Gimana lo bisa masuk?"
"Manjat pipa talang air. Ada jendela pecah di atas," Reza menunjuk ke atas. Lalu dia mengeluarkan ponselnya. "Nay, tempat ini gila. Lo liat sinyal Wi-Fi di sini? Gue coba connect tadi pas di luar."
"Jangan," cegah Naya. "Itu bukan Wi-Fi biasa."
"Gue tau," wajah Reza pucat. "Pas gue connect, HP gue nge-glitch. Terus gue denger suara. Bukan suara mesin. Suara orang ngaji... tapi kebalik. Terus ada suara nyokap lo, Nay."
Naya terdiam.
"Suara nyokap lo bilang: 'Naya, pulang. Server sudah siap. Upload kesadaranmu.'"
Reza menatap Naya dengan ketakutan murni. "Nay, tempat ini bukan pabrik tekstil lagi. Ini... ini motherboard. Dan orang-orang di dalem kaca itu... mereka komponennya."
"Gue tau, Za. Gue baru liat," Naya menunjuk partisi kaca.
Reza menoleh, melihat instalasi manusia-kabel itu. Dia mundur selangkah, nyaris muntah. "Anjing... ini teknologi macam apa? Siapa yang ngajarin sampah bikin ginian?"
"Evolusi," kata Naya dingin. "Plastik itu polimer. Rantai karbon. Sama kayak DNA kita. Kalau dikasih energi yang cukup—dari lindi, dari listrik, dari gas metana—mereka belajar meniru struktur kehidupan yang paling efisien: kita."
Tiba-tiba, dengungan di ruangan itu berubah nada.
HMMMMMMM.... menjadi NGIIIIING....
Lampu-lampu biru di mata para korban di balik kaca itu berubah warna. Menjadi merah.
Salah satu "server manusia" di dalam sana—seorang bapak tua yang mulutnya disumpal kabel serat optik—tiba-tiba menolehkan kepalanya patah-patah ke arah Naya dan Reza.
Meskipun ada dinding kaca, tatapannya menembus langsung.
Dan suara bapak itu keluar, bukan dari mulutnya, tapi dari speaker pabrik yang rusak di dinding.
"Koneksi asing terdeteksi... Pengguna tidak sah: Reza... Tindakan: Eliminasi."
Lantai pabrik bergetar.
Mesin-mesin tenun tua di sekeliling mereka mulai bergerak sendiri. Roda-rodanya berputar berdecit. Jarum-jarum tenun yang tajam dan berkarat bergerak naik turun dengan cepat.
TAK-TAK-TAK-TAK-TAK!
Dan dari sela-sela mesin itu, kabel-kabel hitam mulai merayap keluar seperti ular kobra yang berdiri tegak.
"Sistem keamanannya aktif!" teriak Reza. "Lari!"
"Ke atas!" komando Marni. "Tangga besi di pojok! Kita putusin kabel utamanya dari lantai dua!"
Mereka berlari menuju tangga besi berkarat di sudut ruangan.
Tapi lantai pabrik itu melawan mereka. Ubin-ubin beton pecah, mencuatkan tangan-tangan kabel yang mencoba menjegal kaki Reza.
Naya berbalik, menebas kabel-kabel itu dengan tendangan kakinya yang tajam.
"Jalan terus! Gue lindungin belakang!" teriak Naya.
Reza memanjat tangga besi itu duluan, diikuti Pak Bejo dan Asep.
Saat Naya hendak naik, sebuah mesin tenun di sebelahnya bergeser, menghantam Marni hingga terjepit ke dinding.
"Argh!" Marni menjerit. Capit plastiknya retak. Mesin seberat dua ton itu menekannya.
"Marni!" Naya berhenti, mencoba mendorong mesin itu.
"Tinggalin gue!" teriak Marni, darah hitam keluar dari mulutnya. "Gue Produk Gagal! Nggak penting! Selamatin yang Manusia Bersih itu! Dia saksi!"
"Nggak!" Naya mengerahkan kekuatan kaki dan punggungnya. Otot-otot plastiknya menegang maksimal. KRRRRT! Mesin itu bergeser sedikit.
"Pergi, bego!" Marni menggunakan capitnya yang masih bebas untuk memukul kaki Naya, mendorongnya ke arah tangga.
Dari balik partisi kaca, kabel-kabel serat optik menjebol dinding. Ujung-ujungnya tajam seperti tombak, melesat ke arah mereka.
Marni menatap Naya terakhir kalinya.
"Bakar tempat ini, Neng. Bakar sampe jadi abu."
Marni kemudian melakukan hal gila. Dia melompat ke arah kabel-kabel serat optik itu, menjadikan tubuhnya tameng. Kabel-kabel itu menembus tubuh Marni, mengangkatnya ke udara.
Naya menjerit tertahan, air matanya tumpah. Reza menarik tangan Naya dari atas tangga.
"Nay! Ayo!"
Naya membiarkan dirinya ditarik ke lantai dua. Dia melihat ke bawah. Tubuh Marni sedang ditarik masuk ke dalam kerumunan "server manusia" itu. Marni akan dijadikan komponen baru. Sparepart pengganti.
Mereka berlari menyusuri catwalk (jembatan besi) di lantai dua, di antara pipa-pipa uap panas.
Di bawah mereka, seluruh lantai satu pabrik kini telah hidup. Lautan kabel dan mesin yang bergerak liar, mencari penyusup.
"Kita kejebak," kata Asep panik. "Jalan keluar di bawah semua!"
"Nggak," kata Naya, menghapus air matanya. Tatapannya kini keras. "Kita nggak keluar. Kita ke ruang kontrol di atas router itu."
Naya menunjuk ke perangkat besar yang tergantung di langit-langit, tempat semua kabel bermuara.
"Kita kasih virus ke sistemnya," kata Naya sambil merogoh sakunya, memegang botol sampel berisi lindi dan alkohol yang dia bawa dari rumah. "Reaksi kimia yang nggak bisa mereka prediksi."
Reza mengerti. "Sabotase."
"Sabotase," ulang Naya. "Buat Marni."
(Bersambung ke Bab 13)