Thriller

Suntikan Mati

21 January 2026

Catwalk—jembatan besi sempit yang menggantung di lantai dua pabrik—bergetar hebat di bawah kaki mereka. Karat yang melapisi grating besi rontok seperti hujan serbuk oranye ke lantai bawah yang kini telah berubah menjadi lautan kabel yang menggeliat.

Naya berlari di depan, kaki kanannya yang telah bermutasi menghantam logam dengan bunyi KLANG-KLANG yang nyaring. Reza di belakangnya, napasnya memburu, sesekali menoleh ke bawah dengan ngeri. Dia melihat mesin-mesin tenun raksasa itu bergerak sendiri, jarum-jarumnya menusuk udara kosong dengan ritme gila, seolah sedang merajut kain kematian.

"Jangan liat ke bawah, Za! Fokus ke depan!" teriak Naya, suaranya nyaris tenggelam oleh dengungan mesin dan jeritan statis dari speaker pabrik.

Tujuan mereka ada di tengah ruangan, menggantung tepat di atas area "Server Daging". Sebuah perangkat router induk.

Benda itu ukurannya sebesar mobil kecil. Bentuknya tidak lagi kotak seperti perangkat elektronik biasa. Ia telah tumbuh, dilapisi oleh "daging" plastik berwarna hitam mengilap yang berdenyut. Ribuan kabel serat optik yang keluar dari mulut para korban di bawah sana bermuara ke benda ini, menyuplai data kesadaran mereka untuk diproses.

Itu adalah otak dari jaringan lokal ini.

"Awas! Samping!"

Peringatan Pak Bejo datang terlambat sedetik.

Sebuah tentakel kabel setebal lengan orang dewasa melesat naik dari lantai bawah, menembus celah catwalk. Kabel itu menghantam sisi kiri Reza.

"Argh!" Reza terlempar ke pagar pembatas. Jaket kulitnya robek, bahunya menghantam pipa uap panas.

"Reza!" Naya berbalik.

Tentakel itu meliuk, bersiap melancarkan serangan kedua untuk menarik Reza jatuh ke dalam kawah mesin di bawah.

Tapi sebelum tentakel itu bergerak, Asep—remaja dengan jari-jari kabel—melompat ke depan. Dia tidak punya senjata, tapi dia punya mutasinya.

Asep mencengkeram tentakel penyerang itu dengan kedua tangannya yang terdiri dari untaian kawat tembaga telanjang.

"Makan nih!" teriak Asep.

Dia melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang tubuhnya sudah menjadi konduktor hidup. Asep menyerap listrik statis yang memenuhi udara pabrik, mengumpulkannya di tubuhnya, lalu melepaskannya sekaligus ke tentakel yang dipegangnya.

BZZZZEEET-CRASSS!

Percikan api biru yang menyilaukan meledak. Asep menjerit kesakitan saat ribuan volt listrik mengalir melalui tubuhnya sendiri. Bau daging dan plastik terbakar memenuhi udara.

Tentakel penyerang itu kejang-kejang hebat, lalu terkulai lemas, hangus dan berasap.

Tapi Asep juga ambruk. Dia berlutut di atas catwalk, napasnya putus-putus, asap tipis keluar dari telinga dan mulutnya. Jari-jari kabelnya meleleh menyatu.

"Asep!" Pak Bejo mencoba membantunya berdiri.

"Jalan terus, Pak..." bisik Asep, matanya yang merah menatap Naya. "Jangan sia-siain Marni."

Naya mengertakkan gigi. Dia menarik Reza berdiri. "Ayo, Za. Dikit lagi."

Mereka meninggalkan Asep yang terkapar. Naya benci ini. Dia benci harus meninggalkan orang-orang yang menyelamatkannya. Rasa bersalah itu dia ubah menjadi bahan bakar kemarahan.

Mereka mencapai platform tengah, tepat di samping router induk yang berdenyut itu. Panas yang dipancarkan benda itu luar biasa. Naya merasa seperti berdiri di samping reaktor nuklir yang bocor.

"Oke, Bu Ilmuwan," Reza terengah-engah, memegangi bahunya yang sakit. "Sekarang apa? Benda ini nggak punya colokan USB."

Naya mengamati benda itu. Dia mencari titik lemahnya.

"Sistem biologis butuh pendingin," analisis Naya cepat. "Atau dia bakal overheat."

Dia menunjuk ke bagian atas router itu, di mana terdapat pipa transparan besar yang mengalirkan cairan berwarna hijau keruh. Cairan itu berputar cepat, mendinginkan inti prosesor yang panas.

"Itu sistem pendinginnya. Mungkin lindi yang udah dimodifikasi jadi coolant."

"Kita harus pecahin pipanya?" tanya Reza.

"Nggak. Kalau cuma dipecahin, dia cuma bakal kepanasan dan mati total. Itu terlalu gampang buat mereka perbaiki," Naya mengeluarkan botol sampel dari sakunya.

Botol kaca itu berisi campuran lindi hitam murni yang dia ambil dari topi Ipul, dicampur dengan alkohol 96% dan sedikit darah kabel yang dia ambil di Zona Merah.

Cairan di dalam botol itu bergejolak gelisah, warnanya berubah-ubah antara hitam dan merah tua.

"Ini 'virus' biologis," jelas Naya. "Ini lindi yang belum stabil, dicampur sama pelarut kuat. Kalau gue suntikin ini ke sistem pendinginnya yang stabil... reaksinya bakal kacau. Kayak nyuntikin racun ke aliran darah."

"Tapi pipanya tebel banget, Nay. Itu kayak kaca anti peluru," Reza mengetuk pipa transparan itu. Keras sekali.

"Gue nggak bakal mecahin pake tangan," Naya mengangkat kaki kanannya. Kaki plastiknya yang keras dan tajam. "Gue bakal bor."

"Gue jagain punggung lo," Reza berdiri di belakang Naya, menyiapkan korek api dan kaleng semprotnya lagi—satu-satunya senjata yang dia punya. "Cepetan, Nay. Yang di bawah mulai naik lagi."

Di bawah mereka, lautan kabel yang sempat lumpuh karena serangan Asep mulai bergerak lagi. Kali ini lebih marah. Mereka merayap naik menempel di tiang-tiang penyangga catwalk.

Naya menempelkan ujung kakinya yang runcing ke pipa pendingin itu. Dia memejamkan mata, fokus. Dia memerintahkan sel-sel polimer di kakinya untuk berputar.

Krrrrrr....

Kakinya berfungsi seperti mata bor diamond. Serpihan plastik transparan beterbangan. Pipa itu mulai retak.

Cairan pendingin hijau mulai merembes keluar. Baunya memuakkan, seperti amonia yang dicampur gula terbakar.

PERINGATAN! KERUSAKAN STRUKTURAL TERDETEKSI! suara di speaker pabrik meraung. Lampu di seluruh ruangan berubah menjadi merah berkedip-kedip.

Di bawah, "Server Daging"—manusia-manusia yang tergantung itu—mulai menjerit serempak. Jeritan digital yang menyakitkan telinga.

"Cepetan, Nay! Mereka dateng!" teriak Reza sambil menyemburkan api ke arah kabel-kabel yang mencoba naik ke platform.

CRACK!

Pipa itu berlubang. Cairan hijau menyembur keluar dengan tekanan tinggi, mengenai wajah dan baju Naya. Panas dan perih.

Tapi Naya tidak peduli. Dia segera memasukkan mulut botol sampelnya ke lubang itu.

"Minum nih, Bangsat," geram Naya.

Dia menumpahkan seluruh isi botol "virus" itu ke dalam aliran pendingin.

Cairan hitam-merah itu tersedot masuk, berputar di dalam pipa, bercampur dengan cairan hijau.

Reaksinya instan.

BLUP... BLUP... KABOOM!

Di dalam pipa transparan itu, terjadi reaksi kimia yang dahsyat. Cairan itu mendidih seketika, berubah warna menjadi ungu pekat yang bercahaya, lalu meledak-ledak kecil di sepanjang jalur pipa.

Router induk itu kejang-kejang. Denyutannya menjadi liar dan tidak beraturan.

Di bawah sana, jeritan para "server manusia" berhenti mendadak. Tubuh mereka menegang kaku, lalu mulai bergetar hebat seperti sedang mengalami kejang epilepsi massal. Cahaya di mata mereka berubah dari merah menjadi putih menyilaukan, lalu... padam.

POP! POP! POP!

Satu per satu, kepala mereka meledak. Bukan ledakan darah, tapi ledakan percikan listrik dan asap hitam saat otak mereka yang kelebihan beban hangus terbakar dari dalam.

"Ya Tuhan..." Reza menutup matanya, tidak sanggup melihat pemandangan itu.

Naya menatap kosong. Dia baru saja membunuh dua puluh orang. Tapi dia tahu, mereka sebenarnya sudah mati sejak lama. Dia hanya memutus penderitaan mereka.

Sistem pabrik itu runtuh total. Mesin-mesin tenun berhenti bergerak. Kabel-kabel penyerang jatuh terkulai lemas seperti mi yang terlalu matang.

Lampu merah padam, digantikan oleh kegelapan total, hanya diterangi oleh percikan api dari router induk yang mulai terbakar dari dalam.

"Berhasil," bisik Reza tak percaya.

"Belum," kata Naya. Suaranya dingin. Dia merasakan sesuatu di kakinya. Getaran baru. Getaran kemarahan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Sistem ini tidak mati. Sistem ini hanya sakit. Dan sekarang, dia sedang marah besar.

DUM... DUM... DUM...

Suara detak jantung Gunung di luar sana terdengar jauh lebih keras, menggetarkan seluruh bangunan pabrik. Atap seng di atas mereka mulai berderit.

"Bangunan ini mau rubuh!" teriak Pak Bejo yang bersembunyi di dekat tangga. "Strukturnya nggak kuat nahan getaran!"

"Jalan keluar! Cari jalan keluar!" Reza menyorotkan senternya ke sekeliling. Tangga yang mereka pakai naik tadi sudah hancur tertimpa reruntuhan atap.

"Di sana!" Naya menunjuk ke sebuah cerobong asap besar di sudut pabrik, di lantai dua. Ada tangga monyet (tangga besi vertikal) yang menempel di cerobong itu, menuju ke atap.

"Itu naik, Nay! Bukan keluar!" protes Reza.

"Atap lebih aman daripada di sini! Kita bisa lompat ke area belakang pabrik dari atap!"

Mereka bertiga—Naya, Reza, dan Pak Bejo—berlari meniti catwalk yang miring dan nyaris putus menuju cerobong asap.

Beton-beton mulai berjatuhan dari langit-langit. Pabrik tekstil tua ini sedang meruntuhkan dirinya sendiri, mencoba mengubur virus yang telah meracuninya.

Naya memanjat duluan, diikuti Reza. Pak Bejo yang kesulitan karena punuk styrofoam-nya berada paling belakang.

Saat Naya hampir mencapai puncak cerobong, dia mendengar teriakan Pak Bejo.

"Tolong!"

Naya melihat ke bawah. Tangga besi di bagian bawah patah. Pak Bejo bergelantungan dengan satu tangan. Punuknya yang besar tersangkut di rangka besi, menahannya, tapi juga membuatnya tak bisa bergerak.

Di bawahnya, lantai satu mulai ambles. Tanah di bawah pabrik terbuka, menampakkan jurang sampah yang menganga. Lindi hitam mendidih naik dari dalam tanah.

"Pak Bejo!" Reza mencoba turun untuk membantu.

"Jangan! Pergi!" teriak Pak Bejo. Dia menatap Naya dan Reza. "Kalian harapan terakhir. Jangan mati di sini!"

Pak Bejo melepaskan pegangannya.

Dia jatuh. Tubuh dan punuk styrofoam-nya ditelan oleh jurang lindi yang mendidih di bawah. Tidak ada teriakan. Hanya suara PLUNG yang basah.

Tiga orang telah berkorban malam ini agar Naya dan Reza bisa terus maju.

Dengan hati hancur, Naya memanjat sisa tangga terakhir dan mendorong pintu palka di atap cerobong.

Mereka keluar ke udara terbuka.

Malam masih gelap, tapi langit di atas Desa Sindang tidak lagi hitam. Langit itu berwarna ungu kemerahan, memantulkan cahaya dari ribuan titik api kecil yang mulai menyala di seluruh area TPA.

Gunung itu sedang demam tinggi. Dan dia baru saja terbangun sepenuhnya.

(Bersambung ke Bab 14)