Atap seng pabrik tekstil itu melengkung dan berderit, merintih di bawah tekanan gaya gravitasi dan getaran gempa buatan. Di bawah kaki Naya dan Reza, bangunan beton bertulang yang telah berdiri selama setengah abad itu sedang meregang nyawa, siap runtuh ke dalam kawah lindi yang menganga di lantai dasar.
Angin malam di ketinggian dua puluh meter itu menerpa wajah mereka dengan kasar, membawa bau asap kabel terbakar dan aroma manis yang memuakkan dari "darah" pabrik yang mendidih.
"Kita nggak bisa turun lewat tangga!" teriak Reza, matanya menyisir pinggiran atap. "Di bawah sana lautan api!"
Naya melihat ke bawah. Halaman pabrik yang tadi dipenuhi anjing mutan kini telah berubah menjadi zona perang. Tanah ambles, menelan pagar dan pos satpam. Asap hitam membumbung tinggi. Jika mereka melompat ke sana, mereka akan mati terpanggang atau tercabik-cabik.
"Belakang!" seru Naya, menunjuk ke sisi utara pabrik.
Di sana, berbatasan langsung dengan tembok belakang pabrik, terdapat hutan lebat. Tapi itu bukan hutan jati atau bambu. Itu adalah "Hutan Sampah Tua". Area TPA yang paling kuno, yang sudah ditutup puluhan tahun lalu dan kini telah ditumbuhi vegetasi liar di atas tumpukan sampahnya. Pohon-pohon besar tumbuh miring di sana, akar-akarnya mencengkeram bangkai mobil dan kulkas tua alih-alih tanah.
Jarak dari atap ke pepohonan terdekat sekitar lima meter secara horizontal, dan sepuluh meter secara vertikal.
"Lo gila?" Reza menatap jarak itu dengan ngeri. "Itu kejauhan, Nay! Kalau meleset, kita jatuh ke jurang besi tua!"
"Gue bisa," kata Naya tegas. Dia menatap kaki kanannya. Kaki plastik itu berdenyut, seolah mengerti apa yang harus dilakukan. "Gue bakal gendong lo."
"Hah? Jangan bercanda!"
"Naik ke punggung gue, Reza! Sekarang atau kita mati bareng gedung ini!" bentak Naya.
Gedung pabrik berguncang hebat. Cerobong asap di belakang mereka retak dan mulai miring. Reza tidak punya pilihan. Dengan harga diri yang sedikit terluka namun didorong insting bertahan hidup, dia melompat ke punggung Naya, melingkarkan lengannya di leher gadis itu.
"Jangan berat-berat, Insinyur," desis Naya.
Naya mengambil ancang-ancang. Dia mundur beberapa langkah, menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara beracun itu mengisi paru-parunya. Dia menyalurkan seluruh energi dari infeksi di tubuhnya ke otot-otot kaki kanannya.
Tekan. Mampatkan. Lepaskan.
Naya berlari. Satu, dua, tiga langkah.
Tepat di bibir atap yang mulai runtuh, Naya menghentakkan kaki kanannya.
BLAM!
Beton di pijakan terakhirnya hancur berkeping-keping karena kekuatan tolakannya.
Mereka melayang.
Untuk sedetik yang terasa selamanya, mereka berada di udara, melintasi jurang kematian antara pabrik dan hutan. Reza memejamkan mata, merasakan angin menampar wajahnya.
Mereka melewati tajuk pohon-pohon. Naya mengincar dahan pohon trembesi raksasa yang dahan-dahannya dipenuhi tanaman parasit.
KRAAAK!
Mereka menabrak dedaunan dan ranting. Dahan pertama patah karena bobot mereka. Naya memeluk Reza dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencoba meraih apa saja.
Mereka jatuh berguling-guling, menembus kanopi hutan, menghantam dahan demi dahan yang memperlambat jatuhnya mereka, sebelum akhirnya mendarat dengan keras di atas permukaan tanah yang empuk.
BUGH.
Hening.
Hanya suara napas mereka yang memburu dan suara reruntuhan pabrik di kejauhan yang terdengar seperti guntur.
"Aduh..." Reza mengerang, berguling dari punggung Naya. Dia memeriksa badannya. Lecet-lecet, memar, jaket kulitnya hancur total, tapi tulangnya aman. "Kita... kita hidup?"
Naya duduk, membersihkan daun kering dari rambutnya. Dia menatap kaki kanannya. Tidak ada goresan. Kaki itu justru terlihat semakin mengilap setelah "olahraga" ekstrem tadi.
"Kita hidup," jawab Naya datar. Dia melihat ke arah pabrik. Bangunan itu kini tinggal kerangka, sebagian besar sudah amblas ditelan bumi. Marni, Asep, Pak Bejo... kuburan mereka sudah tertutup sempurna.
"Makasih, Nay," kata Reza tulus, menatap Naya dengan pandangan baru. Rasa takut bercampur kagum.
"Jangan makasih dulu," Naya berdiri, lalu mengernyit. "Lo ngerasa nggak?"
"Ngerasa apa?"
"Tanahnya."
Mereka berdiri di atas lantai hutan yang tertutup serasah daun tebal. Tapi saat Naya menghentakkan kakinya, bunyinya bukan bug-bug (suara tanah padat), melainkan duk-duk (suara rongga).
Reza, insting sipilnya langsung jalan, berlutut dan menyingkirkan tumpukan daun kering itu.
Di bawah lapisan humus setebal lima senti, dia menemukan sesuatu yang keras dan berwarna oranye kusam.
Bukan tanah liat.
"Genteng?" gumam Reza bingung. Dia mengorek lebih lebar. Benar. Itu adalah susunan genteng tanah liat kuno. "Nay, kita bukan berdiri di tanah. Kita berdiri di atas atap rumah."
Naya mendekat. "Atap rumah? Di tengah hutan sampah?"
"Bukan di tengah," Reza berdiri, melihat sekeliling dengan pandangan analitis. Dia melihat kontur tanah di sekitar mereka. Gundukan-gundukan di hutan ini... polanya teratur. Memanjang dan berkotak-kotak.
"Ini bukan bukit alami," kata Reza, wajahnya memucat. "Gundukan-gundukan ini... ini atap rumah semua. Ini satu kampung yang tertimbun."
Naya terdiam. Dia teringat cerita kakeknya dulu, sebelum pikun. Cerita tentang "Sindang Lama". Desa asli yang katanya pindah karena banjir besar tahun 60-an. Tapi kakek tidak pernah bilang desanya tertimbun.
"Gunung sampah ini..." Naya menelan ludah. "TPA ini dibangun di atas desa lama?"
"Sepertinya begitu. Dan ledakan di pabrik tadi bikin struktur tanah di sini geser. Tanahnya turun, jadi atap-atap ini nyembul lagi."
Tiba-tiba, tanah (atau atap) di bawah kaki Reza retak. Genteng-genteng tua yang sudah rapuh itu tidak kuat menahan beban manusia dewasa setelah strukturnya goyah.
"Za! Awas!"
KRAAAK!
Reza terperosok. Kakinya menjebol atap. Dia jatuh pinggang ke bawah, tersangkut di rangka kayu yang sudah lapuk.
"Tolong! Tarik gue!" teriak Reza panik. Kakinya menggantung di ruang kosong di bawah sana.
Naya segera menyambar tangan Reza. "Gue pegang! Tenang!"
Tapi saat Naya mencoba menarik, Reza justru berteriak kesakitan.
"Jangan ditarik! Kaki gue nyangkut kabel!"
"Kabel apa?!"
Reza menyalakan senter ponselnya, mengarahkannya ke lubang di antara selangkangannya, ke dalam ruangan gelap di bawah atap itu.
"Bukan kabel..." suara Reza bergetar. "Akar. Akar pohon beringin masuk ke dalem rumah, ngebelit kaki gue."
Naya melihat ke dalam lubang. Cahaya senter Reza menerangi interior bangunan yang terkubur itu.
Itu bukan rumah biasa. Dindingnya masih utuh, bercat putih kusam yang mengelupas. Ada lemari-lemari kaca yang pecah. Dan di lantai yang penuh debu tebal, berserakan kertas-kertas dan botol-botol kaca kecil.
"Itu klinik," bisik Naya. "Atau puskesmas jaman dulu."
Naya melihat lebih teliti. Di dinding yang miring, tergantung sebuah papan nama kayu yang sudah dimakan rayap namun tulisannya masih terbaca samar:
BALAI PENGOBATAN RAKYAT
DESA SINDANG - 1964
Kepala: Dr. Suryo
"Dr. Suryo..." Naya mengulang nama itu. Rasanya familiar. Dia pernah melihat nama itu di mana?
Ah, di buku sejarah lokal yang dia baca di perpustakaan kampus saat riset skripsi. Dr. Suryo adalah dokter dermawan yang hilang misterius saat peristiwa G30S/PKI. Katanya diculik.
Ternyata dia di sini. Di bawah sampah.
"Nay, gue nggak bisa naik. Akarnya kenceng banget," keluh Reza. "Gue harus turun ke dalem buat lepasin belitannya."
Naya menimbang situasi. Di atas sini tidak aman. Hutan ini terlalu terbuka. Dan naluri penelitinya berteriak bahwa jawaban dari semua kegilaan ini ada di bawah sana.
"Kita turun," putus Naya. "Gue bakal perlebar lubangnya."
Dengan hati-hati, Naya menggunakan kaki besinya untuk menghancurkan genteng dan reng kayu di sekitar Reza, membuat lubang yang cukup besar untuk masuk.
Reza menjatuhkan dirinya ke lantai bangunan itu dengan bunyi gedebuk berdebu, diikuti Naya yang mendarat dengan anggun seperti kucing.
Mereka berada di dalam kapsul waktu yang mengerikan.
Udara di dalam sini apek, berbau kertas tua dan formalin yang menguap. Cahaya senter mereka menyapu ruangan itu.
Meja periksa besi yang berkarat. Kursi roda tua. Poster anatomi tubuh manusia di dinding yang warnanya sudah pudar.
Dan di sudut ruangan, duduk di kursi kerjanya di balik meja kayu besar, ada sesosok tubuh.
Atau apa yang tersisa darinya.
Itu adalah kerangka manusia yang masih mengenakan jas dokter putih yang kini berwarna cokelat. Tapi anehnya, kerangka itu tidak hancur menjadi debu. Tulang-belulangnya tampak... menyatu.
Tanaman merambat—atau mungkin jaringan polimer purba—telah tumbuh menjalar menutupi tulang-tulang itu, merekatkannya ke kursi, menjadikannya bagian dari furnitur.
Tangan kerangka itu terletak di atas meja, memegang sebuah pena yang sudah karatan. Dan di bawah pena itu, ada sebuah buku tebal bersampul kulit.
"Itu Dr. Suryo?" bisik Reza, tidak berani mendekat.
Naya mendekat perlahan. Dia tidak takut pada mayat. Dia takut pada apa yang mayat itu ketahui.
Dia melihat buku itu.
CATATAN MEDIS & JURNAL PENELITIAN
SAMPEL 'X' - PROYEK REKLAMASI
Naya menyentuh buku itu. Kertasnya rapuh, tapi tintanya masih hitam jelas. Dia membuka halaman terakhir yang ditulis. Tanggalnya 30 September 1965.
Naya membaca paragraf terakhir dengan suara bergetar:
"Mereka akan datang malam ini. Truk-truk militer itu. Mereka bilang ini untuk pembersihan ideologi, tapi saya tahu kebenarannya. Mereka butuh tempat untuk membuang mayat-mayat itu. Dan mereka butuh Sampel X untuk menghilangkannya."
"Saya melakukan kesalahan. Bakteri yang saya temukan di kawah meteorit itu... dia tidak membusukkan daging. Dia mengawetkannya. Dia mengubahnya. Tuhan ampuni saya, saya telah menciptakan keabadian yang salah."
Naya menutup mulutnya.
"Meteorit?" tanya Reza bingung.
"Ini bukan sampah, Za," kata Naya, menatap kerangka Dr. Suryo. "Awalnya bukan sampah. Awalnya adalah organisme asing. Sampel X. Dan Dr. Suryo menyuntikkannya ke mayat-mayat korban pembantaian 65."
"Jadi monster-monster di luar sana..."
"Mereka adalah hantu masa lalu yang dikasih tubuh plastik," potong Naya. "Sampah TPA yang ditumpuk di atasnya selama 50 tahun ini... itu cuma makanan. Makanan buat melihara Sampel X biar tetep hidup."
BRAKK!
Pintu ruangan itu—yang tertimbun tanah dari luar—tiba-tiba bergetar. Ada yang mencoba mendobrak masuk dari sisi lain reruntuhan.
Bukan dari atas. Tapi dari lorong bawah tanah yang menyambung ke ruangan ini.
"Baunya di sini..." suara berat dan serak terdengar dari balik pintu. "Anak nakal masuk ke kamar Bapak..."
Naya dan Reza saling pandang. Itu suara Pak Karta.
Tapi Pak Karta ada di permukaan tadi. Bagaimana dia bisa ada di sini?
Kecuali... Pak Karta punya akses ke jaringan terowongan kuno ini. Kecuali Pak Karta sudah menjaga tempat ini sejak hari di mana jurnal ini berhenti ditulis.
Pintu kayu tua itu mulai retak. Cakar-cakar besi menembus panel pintu.
"Cari jalan lain!" desis Naya.
Reza menyorotkan senter ke sekeliling. "Ada pintu kecil di belakang lemari obat! Mungkin gudang atau jalan tikus!"
Naya menyambar buku jurnal Dr. Suryo dan memasukkannya ke dalam tasnya. "Ayo!"
Mereka berlari menuju pintu belakang, masuk lebih dalam ke perut sejarah Sindang Lama, sementara di belakang mereka, sang Penjaga Abadi baru saja berhasil menjebol pintu masuk.
(Bersambung ke Bab 15)