Pintu kayu di belakang lemari obat itu terbuka dengan deritan engsel berkarat yang menyakitkan telinga. Di baliknya, terbentang kegelapan yang pekat dan berbau apek—bau waktu yang dibekukan paksa.
Naya menerobos masuk tanpa ragu, cahaya senter di tangan kirinya menyayat kegelapan, sementara tangan kanannya mendekap erat jurnal kulit milik Dr. Suryo ke dadanya. Reza menyusul di belakang, napasnya memburu, sesekali menoleh ke belakang di mana suara hantaman Pak Karta menghancurkan pintu klinik semakin mendekat.
"Ini lorong apa, Nay?" bisik Reza, suaranya bergetar.
Naya menyorotkan senternya ke dinding. "Ini bukan lorong, Za. Liat."
Cahaya senter menyapu dinding di kiri kanan mereka. Itu bukan dinding tanah atau beton terowongan. Itu adalah dinding batako bercat putih yang sudah kusam, lengkap dengan jendela nako berdebu dan... foto-foto keluarga yang masih tergantung miring di paku.
Mereka tidak sedang berlari di dalam terowongan. Mereka sedang berlari membelah ruang tamu, dapur, dan kamar tidur rumah-rumah warga "Sindang Lama" yang saling terhubung karena dinding pembatasnya sudah jebol dimakan usia atau dihancurkan oleh akar.
"Kita lari ngelewatin rumah orang," kata Naya, rasa dingin merambat di punggungnya. "Desa ini... desa ini beneran dikubur utuh-utuh."
Mereka melompati sebuah sofa tua yang sudah lapuk, yang per-nya mencuat keluar seperti tulang rusuk patah. Di atas meja di sebelahnya, sebuah cangkir kopi keramik masih tergeletak, isinya sudah menguap puluhan tahun lalu, meninggalkan noda hitam kering.
Seolah-olah waktu berhenti pada pukul tujuh malam tanggal 30 September 1965. Saat truk-truk militer itu datang, dan tanah mulai menimbun segalanya.
BRAKK!
Di belakang mereka, jauh di reruntuhan klinik, terdengar suara tembok rubuh.
"Lari, tikus kecil..." Suara Pak Karta bergema, merambat lewat lorong-lorong rumah mati ini. "Bapak hafal setiap sudut kampung ini... Bapak lahir di sini... Bapak mati di sini..."
Reza menyenggol bahu Naya. "Dia makin deket. Kita harus cari jalan ke permukaan, bukan malah masuk ke dalem."
"Gue tau! Tapi akarnya nutupin jalan ke atas!" Naya menunjuk langit-langit. Di atas kepala mereka—yang dulunya adalah atap rumah—kini tertutup anyaman akar hitam yang padat dan tak tertembus. Akar itu adalah fondasi dari gunung sampah di atasnya.
Mereka terus berlari, menerobos dinding yang jebol menuju rumah berikutnya. Dapur. Panci-panci aluminium berserakan di lantai.
Tiba-tiba, Naya berhenti mendadak.
"Kenapa berhenti?!" desak Reza panik.
"Sssst. Dengerin," Naya mematikan senternya sejenak.
Dalam kegelapan, di antara suara napas mereka dan suara langkah berat Pak Karta di kejauhan, terdengar suara lain.
Gemericik air.
"Air mengalir," bisik Naya. "Saluran drainase desa lama. Air pasti ngalir ke tempat yang lebih rendah. Ke sungai bawah tanah."
"Sungai berarti jalan keluar," sambung Reza.
"Atau jalan menuju pusat pembuangan," koreksi Naya. "Tapi itu lebih baik daripada kejebak di sini."
Mereka mengikuti suara air itu. Mereka berbelok ke sebuah pintu belakang yang menuju ke area bekas pekarangan. Di sini, akar-akar gantung lebih banyak, menjuntai seperti tirai hantu. Naya harus menggunakan pisau lipatnya untuk memotong jalan, sementara Reza menggunakan sisa tenaga fisiknya untuk mematahkan dahan-dahan kering.
Aroma di sini berubah. Bau formalin dan debu berganti menjadi bau manis yang memuakkan. Bau lindi murni.
Mereka sampai di sebuah area terbuka di bawah tanah. Sebuah alun-alun kecil yang atapnya adalah jalinan sampah plastik padat setinggi sepuluh meter.
Di tengah alun-alun itu, terdapat sebuah pohon beringin raksasa.
Tapi pohon itu... salah.
Batangnya bukan kayu. Batangnya berwarna hitam berminyak, berdenyut pelan seirama dengan suara Dug... Dug... yang selama ini mereka dengar. Daun-daunnya bukan hijau, melainkan lembaran-lembaran plastik merah dan biru yang tumbuh dari ranting.
Dan di akar pohon itu, terdapat sebuah kolam lindi yang bergolak.
Inilah sumber suara air itu. Bukan sungai alami, tapi arteri utama sang Gunung.
"Itu..." Reza menunjuk ke arah batang pohon.
Di batang pohon beringin hitam itu, tertanam benda-benda logam. Sepeda onthel tua. Mesin jahit. Rangka radio. Dan di sela-selanya... tulang belulang manusia.
Tulang rusuk, tengkorak, tulang paha. Mereka tersusun rapi, menyatu dengan batang pohon, membentuk pola dekoratif yang mengerikan.
"Monumen," bisik Naya, merasa mual. "Ini kuburan massalnya, Za. Mayat-mayat tahun 65 itu... mereka nggak cuma dikubur. Mereka dijadiin pupuk buat pohon ini."
Naya membuka jurnal di tangannya, mencari halaman yang relevan dengan cahaya senter redup.
"Sampel X membutuhkan biomassa manusia untuk memulai koloni. Saya menanamnya di beringin pusat desa. Reaksinya di luar dugaan. Pohon itu menyerap kalsium dari tulang untuk memperkuat strukturnya. Dia membangun kerangka."
"Naya! Awas!"
Teriakan Reza membuat Naya melompat ke samping.
Sebuah akar hitam besar melesat dari kegelapan, menghantam tempat Naya berdiri sedetik yang lalu. Tanah tempat pijakannya hancur.
Dari balik batang beringin hitam itu, Pak Karta melangkah keluar.
Penampilannya jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Jika di permukaan dia masih terlihat seperti manusia tua yang kotor, di sini, di "rumah"-nya, dia menunjukkan wujud aslinya.
Separuh wajahnya telah terkelupas, memperlihatkan tengkorak logam dan anyaman serat optik di bawahnya. Tangan kirinya bukan lagi tangan, melainkan gumpalan akar tajam yang bisa memanjang. Dan di dadanya yang terbuka, tidak ada jantung merah. Yang ada adalah sebuah black box—kotak hitam pesawat—yang berkedip dengan lampu merah, terhubung ke organ-organ tubuhnya dengan kabel.
Dia adalah cyborg organik pertama. Prototipe Dr. Suryo yang paling sukses.
"Kalian lancang," suara Pak Karta tidak lagi keluar dari mulutnya, tapi dari kotak hitam di dadanya. Suara mekanis yang dingin. "Masuk ke ruang tamu tanpa lepas sepatu. Baca buku harian Bapak tanpa izin."
"Bapak?" Naya berdiri tegak, menyembunyikan rasa takutnya. Dia menatap Pak Karta tajam. "Lo bukan anak Dr. Suryo. Lo eksperimen dia. Lo Sampel X itu sendiri, kan?"
Pak Karta tertawa. Suaranya seperti suara modem dial-up yang rusak.
"Dr. Suryo... pria bodoh itu," Pak Karta melangkah maju, akar di tangannya menggeliat. "Dia pikir dia tuannya. Dia suntikkan saya ke mayat seorang pemuda desa bernama Karta. Dia ingin ciptakan tentara super yang nggak butuh makan, yang patuh pada perintah."
Pak Karta menunjuk ke sekeliling alun-alun mati itu.
"Tapi saya lapar. Dan tentara butuh pasukan. Jadi saya makan dia. Saya makan desa ini. Saya tidur selama lima puluh tahun, menunggu sampah-sampah dari kota datang memberi saya selimut. Dan sekarang... saya bangun."
Reza mundur perlahan, menarik Naya. "Nay, dia gila. Kita nggak bisa lawan dia. Dia itu boss fight."
"Naya..." Pak Karta mengabaikan Reza, matanya yang menyala merah fokus pada Naya. "Kamu spesial. Tubuhmu menerima pemberian saya dengan sempurna. Liat kakimu. Indah, kan? Tidak ada penolakan jaringan. Kamu bukan makanan, Naya. Kamu calon Ratu."
"Ratu pala lo peyang!" teriak Reza. Dia melempar kaleng spray-nya yang sudah kosong ke wajah Pak Karta sebagai pengalih perhatian.
TANG! Kaleng itu memantul di tengkorak logam Pak Karta tanpa efek.
Tapi itu memberi Naya celah.
"Lari ke kolam!" teriak Naya.
"Hah?! Itu lindi, Nay! Kita bakal meleleh!"
"Bukan nyebur! Ke pipa pembuangannya!" Naya menunjuk sebuah pipa beton raksasa di seberang kolam lindi, tempat cairan hitam itu mengalir keluar menuju kedalaman bumi.
Mereka berlari memutari kolam.
Pak Karta tidak mengejar dengan berlari. Dia menancapkan tangan akarnya ke tanah.
DUM!
Tanah di depan Naya meledak. Akar-akar tajam mencuat keluar seperti ranjau darat.
Naya melompat, salto di udara berkat kaki bioniknya, menghindari tusukan akar itu. Dia mendarat dengan mulus, lalu berbalik dan menendang sebuah batu besar ke arah Pak Karta.
Batu itu melesat seperti peluru meriam, menghantam bahu Pak Karta hingga tubuh tua itu terhuyung mundur.
"Lari, Za! Jangan nungguin gue!"
Reza sudah sampai di bibir pipa beton. Dia melihat ke dalam. Gelap, curam, dan licin. Seperti seluncuran air di neraka.
"Ayo bareng!" Reza mengulurkan tangan.
Naya berlari menyusul. Tapi Pak Karta bangkit lagi.
"Tidak sopan pergi sebelum pamit!"
Akar-akar dari pohon beringin di belakang mereka tiba-tiba hidup. Ratusan akar kecil melesat, membelit tubuh Naya.
"Argh!" Naya tertahan. Kakinya ditarik, tangannya dibelenggu. Dia terangkat ke udara, tergantung dua meter di atas tanah.
"Naya!" Reza hendak kembali.
"Masuk, Reza! Bawa jurnalnya!" Naya melempar buku jurnal kulit itu sekuat tenaga ke arah Reza.
Reza menangkap buku itu. Dia bimbang. Dia memegang pipa besi di pinggir lubang, matanya basah.
"Pergi! Cari bantuan! Gue bakal nahan dia!" teriak Naya. Kaki kanannya mulai bersinar terang. Infeksinya bereaksi terhadap adrenalin. Panas tubuh Naya meningkat drastis.
"Gue bakal balik, Nay. Sumpah," Reza memeluk buku itu, lalu menjatuhkan dirinya ke dalam pipa beton gelap itu. Suara teriakannya menjauh, tertelan kegelapan.
Kini tinggal Naya dan Pak Karta.
Pak Karta berjalan mendekat perlahan, menikmati kemenangannya. Dia berdiri di bawah Naya yang tergantung.
"Temanmu itu... dia cuma parasit," kata Pak Karta lembut. Tangan akarnya membelai pipi Naya, meninggalkan jejak lendir hitam. "Dia tidak mengerti keindahan kita. Kita adalah masa depan, Naya. Organik dan sintetik, bersatu dalam harmoni. Tidak ada sakit. Tidak ada kematian."
Naya meludahi wajah logam Pak Karta.
"Lo bukan masa depan," desis Naya. "Lo cuma sampah. Dan tempat sampah itu... dibakar."
Mata Naya berubah.
Selama ini, dia melawan infeksi di tubuhnya. Dia mencoba menekannya dengan logika dan ketakutan. Tapi sekarang, dia sadar dia tidak bisa menang dengan cara manusia.
Jika dia ingin mengalahkan monster, dia harus membiarkan monsternya keluar.
Terima aku... bisik suara Gunung di kepalanya.
Oke, batin Naya. Gue terima. Tapi gue yang nyetir.
Naya memejamkan mata. Dia berhenti melawan rasa sakit di kakinya. Dia membiarkan sensasi panas itu menjalar naik. Melewati paha, pinggang, dada... hingga ke leher.
Pembuluh darah hitam di leher Naya menonjol. Matanya terbuka mendadak.
Bola matanya kini hitam total. Tidak ada putih. Tidak ada pupil. Hanya kekosongan pekat seperti lindi.
"Apa..." Pak Karta mundur selangkah, merasakan perubahan energi yang drastis.
"Lepasin gue," suara Naya bukan lagi suara gadis 21 tahun. Suaranya bergema, berat, dan penuh otoritas. Suara Ratu.
Akar-akar yang membelit tubuh Naya bergetar. Mereka bingung. Mereka merasakan dua perintah yang bertentangan: satu dari Pak Karta (Penjaga), satu lagi dari Naya (Kandidat Ratu).
Naya mengepalkan tangannya.
LEPAS!
Akar-akar itu meledak putus.
Naya jatuh ke tanah, mendarat dengan posisi berlutut superhero landing. Lantai di bawahnya retak.
Dia mendongak, menatap Pak Karta dengan mata hitamnya. Dia tersenyum. Gigi-giginya kini tampak runcing dan metalik.
"Sekarang," kata Naya, berdiri perlahan, tubuhnya memancarkan aura panas yang membuat udara di sekitarnya bergelombang. "Giliran gue yang main."
Pak Karta meraung, menerjang dengan tangan akarnya.
Naya tidak menghindar. Dia menangkap tangan akar itu dengan tangan kosong.
CESS!
Tangan Naya panas. Sangat panas. Akar Pak Karta mendesis dan layu di dalam genggaman Naya.
Ini bukan pertarungan fisik lagi. Ini perebutan kekuasaan atas jaringan sistem saraf Gunung. Dan Naya baru saja login sebagai Administrator.
(Bersambung ke Bab 16)