Bau daging terbakar memenuhi alun-alun bawah tanah Sindang Lama, namun bukan daging manusia. Itu adalah bau serat tanaman purba dan polimer sintetis yang hangus.
Naya masih mencengkeram tangan akar Pak Karta. Panas yang memancar dari telapak tangan Naya begitu intens hingga udara di sekitar mereka berdistorsi. Akar-akar hitam yang membentuk lengan kiri Pak Karta mendesis, menggeliat kesakitan, dan perlahan berubah menjadi abu.
"Sakit?" tanya Naya. Suaranya bergema ganda—satu suara manusianya yang serak, satu lagi suara digital yang dingin. "Sistem saraf lo terhubung langsung ke akar ini, kan? Jadi lo ngerasain setiap sel yang gue bakar."
Pak Karta meraung. Bukan raungan marah, tapi raungan kaget. Selama lima puluh tahun, dia adalah predator puncak di ekosistem ini. Dia adalah Tuan Tanah. Dia tidak terbiasa disakiti.
"Lepaskan! Kamu merusak aset!" teriak Pak Karta. Kotak hitam di dadanya berkedip merah panik, mengeluarkan bunyi beep peringatan yang nyaring.
Dia mengayunkan tangan kanannya—tangan manusianya yang memegang pisau tulang—ke arah leher Naya.
Naya tidak menghindar. Dia hanya menoleh, menatap pisau itu dengan mata hitam legamnya.
BERHENTI.
Perintah itu tidak terucap lewat mulut. Perintah itu dikirim langsung melalui jaringan saraf tak kasat mata yang menghubungkan mereka berdua. Gelombang otoritas yang absolut.
Tangan Pak Karta berhenti di udara, bergetar hebat. Otot-ototnya melawan otaknya sendiri.
"Bagaimana..." Pak Karta tergagap. "Bagaimana kamu punya akses Root?"
"Karena gue bukan parasit kayak lo," desis Naya. Dia meremas tangan akar Pak Karta lebih kuat hingga terdengar bunyi krak. "Lo itu cuma user lama yang lupa logout. Gue... gue adalah upgrade-nya."
Naya menghentakkan tangannya, melepaskan gelombang kejut panas.
BOOM!
Tubuh Pak Karta terlempar ke belakang, menabrak batang pohon beringin hitam. Benturan itu begitu keras hingga beberapa kerangka tulang yang tertanam di batang pohon rontok berjatuhan.
Naya berdiri tegak, napasnya memburu. Rasanya memabukkan. Kekuatan ini... rasa terhubung ini... dia bisa merasakan setiap tikus di dalam tanah, setiap tetes lindi yang mengalir. Dia merasa seperti Tuhan.
Namun, sedetik kemudian, rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya.
Naya jatuh berlutut, memegangi kepalanya. Hidungnya mimisan, darah hitam kental menetes ke lantai.
Peringatan: Overheat. Integritas Neural Menurun.
Suara di kepalanya memperingatkan. Tubuh manusianya belum siap menampung energi sebesar ini. Jika dia terus memakainya, otaknya akan meleleh. Dia akan kehilangan "Naya" dan sepenuhnya menjadi mesin pembunuh milik Gunung.
"Naya..." Pak Karta mulai bangkit dari reruntuhan akar, wajah logamnya penyok tapi matanya menyala penuh dendam. "Kamu belum matang, Nak. Bateraimu bocor."
Naya sadar dia tidak bisa menang dalam pertarungan panjang. Dia butuh waktu untuk memahami tubuh barunya. Dan yang lebih penting, dia harus memastikan Reza selamat.
Naya menatap pipa pembuangan di seberang kolam. Reza ada di sana.
"Kita lanjutin nanti, Tua Bangka," geram Naya.
Dia berlari, melompat melewati kolam lindi, dan menjatuhkan dirinya ke dalam mulut pipa beton yang gelap itu, meluncur turun menyusul temannya.
Sementara itu, ratusan meter di bawah.
Reza terbatuk-batuk, memuntahkan air keruh. Dia terdampar di sebuah gua bawah tanah yang luas dan lembap. Pipa beton itu berakhir di sini, memuntahkan isinya ke sebuah danau dangkal yang airnya jernih—mungkin satu-satunya air bersih yang tersisa di dalam tanah ini, tersaring oleh lapisan bebatuan kapur alami.
"Nay?" panggil Reza, suaranya memantul di dinding gua yang dipenuhi stalaktit.
Hening. Tidak ada jawaban.
Reza merangkak ke tepian yang kering berbatu. Dia meraba tas selempangnya. Jurnal Dr. Suryo masih aman di dalam, terbungkus plastik ziplock yang sempat dia pasang sebelum terjun (kebiasaan anak teknik: selalu sedia plastik pelindung gadget).
Reza menyalakan senter ponselnya. Baterai tinggal 15%.
"Gue harus baca ini," gumam Reza. "Gue harus tau kita ngelawan apa sebenernya."
Dia duduk bersandar di batu, membuka buku kulit tebal yang berbau apek itu. Halaman-halaman awalnya berisi catatan medis biasa tentang pasien desa tahun 60-an: flu, diare, melahirkan.
Namun, mulai pertengahan tahun 1965, nada tulisan Dr. Suryo berubah. Tulisannya menjadi lebih miring, ditekan kuat, dan penuh coretan panik.
Reza mulai membaca.
15 September 1965
Saya menemukannya di Kawah Citarum Purba. Awalnya saya kira jamur lendir (slime mold). Tapi benda ini bereaksi terhadap listrik. Ketika saya dekatkan dengan baterai senter, dia bergerak. Dia menyerapnya. Saya menamainya 'Organisme X'. Hipotesis awal: Ini bukan berasal dari Bumi. Mungkin terbawa meteorit yang jatuh ratusan tahun lalu.
28 September 1965
Eksperimen pada tikus menunjukkan hasil yang menakutkan. Tikus yang mati, jika disuntik Organisme X, akan hidup kembali. Tapi bukan hidup seperti semula. Fungsi motoriknya kembali, tapi kesadarannya... kolektif. Tikus-tikus itu bergerak serempak. Mereka membangun sarang dengan pola geometris yang mustahil.
Reza membalik halaman dengan cepat. Tanggalnya mendekati peristiwa berdarah itu.
1 Oktober 1965 - Dini Hari
Berita dari Jakarta mengerikan. Kup. Jenderal-jenderal dibunuh. Dan di sini, di desa ini, truk-truk militer mulai berdatangan. Mereka bukan tentara resmi. Mereka milisi. Mereka membawa daftar nama. Mereka bilang akan ada 'pembersihan'.
Kapten Suroso datang menemui saya. Dia tahu penelitian saya. Dia tidak ingin saya menyembuhkan orang. Dia ingin saya 'menghilangkan' mayat. "Dokter," katanya, "Tanah ini terlalu penuh. Kami butuh cara agar mereka tidak membusuk dan menyebarkan penyakit, tapi juga tidak bisa ditemukan."
2 Oktober 1965
Mereka mulai mengeksekusi. Di alun-alun. Di pinggir kali. Ratusan orang. Tetangga saya. Pasien saya. Mereka menuduh siapa saja sebagai simpatisan. Saya dipaksa melihat.
Saya membuat perjanjian dengan setan. Saya berjanji akan menggunakan Organisme X untuk menguraikan mayat-mayat itu dengan cepat, asalkan mereka tidak membunuh Karta, asisten saya yang setia. Kapten setuju.
Saya menyuntikkan Organisme X ke tumpukan mayat di lubang buaya desa. Saya berharap mereka hancur menjadi debu.
Saya salah. Tuhan, saya salah.
Mereka tidak hancur. Mereka menyatu. Daging mereka meleleh dan bergabung menjadi satu massa biomass raksasa. Organisme X tidak memakan mereka; dia mengasimilasi mereka. Dia menyimpan ingatan mereka. Saya mendengar suara jeritan dari dalam lubang itu... padahal mereka sudah mati.
5 Oktober 1965
Karta berkhianat. Atau mungkin dia lebih pintar dari saya. Dia melihat potensi keabadian. Dia melompat ke dalam lubang itu dengan sukarela. Dia membiarkan dirinya dimakan.
Sekarang dia bangkit kembali. Dia bicara padaku. Tapi bukan suara Karta. Itu suara ribuan orang mati yang marah. Mereka menyebut diri mereka 'Ibu'. Karena mereka melahirkan dendam.
Saya akan menutup klinik. Saya akan mengubur tempat ini. Saya berharap sejarah melupakan kami.
Reza menutup buku itu. Tangannya gemetar hebat.
"Jadi ini..." bisik Reza. "Gunung sampah ini... sebenernya sarkofagus. Kuburan massal yang gagal mati."
TPA Sindang bukan sekadar tempat pembuangan sampah. Itu adalah cover up terbesar dalam sejarah. Lapisan sampah di atasnya sengaja ditumpuk selama puluhan tahun untuk menekan dan menyembunyikan organisme mengerikan yang tumbuh di bawahnya.
Pemerintah—atau siapa pun yang tahu rahasia ini—memberi makan monster itu dengan sampah agar dia tetap kenyang dan tidur. Tapi sekarang, monster itu bangun. Dan dia tidak mau makan sampah lagi.
BYUR!
Suara benda berat jatuh ke air membuyarkan lamunan Reza.
Reza menyorotkan senternya ke danau.
Naya muncul dari dalam air. Dia berjalan ke tepian dengan langkah gontai. Pakaiannya hancur, rambutnya basah menutupi wajah.
"Nay!" Reza berlari menghampirinya.
Naya mendongak. Mata hitamnya sudah kembali normal, tapi ada lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Dia terlihat sangat lelah, seperti orang yang tidak tidur sebulan.
"Lo baca?" tanya Naya serak, melihat buku di tangan Reza.
"Gue baca," Reza mengangguk. Dia memapah Naya duduk di batu. "Ini bukan bencana alam, Nay. Ini kejahatan perang yang jadi monster sci-fi."
Naya tertawa lemah. "Deskripsi yang bagus."
"Lo... lo gimana? Tadi mata lo..." Reza ragu-ragu.
"Gue nge-hack sistemnya, Za," Naya menatap tangannya sendiri. Urat-urat hitam di lengannya kini terlihat samar, tidur di bawah kulit. "Gue paksa masuk ke jaringan saraf Pak Karta. Gue ambil alih hak aksesnya sebentar."
"Itu bahaya, kan?"
"Banget. Rasanya kayak otak gue disetrum. Dan ada suara-suara itu... mereka nyoba narik gue buat tinggal di sana selamanya."
Naya menatap Reza serius.
"Jurnal itu kuncinya, Za. Di halaman terakhir... gue inget sekilas pas baca di klinik. Dr. Suryo nulis soal 'Kill Switch'. Cara matiin organisme itu kalau dia lepas kendali."
Reza buru-buru membuka halaman terakhir jurnal. Kertasnya sobek separuh, dan tintanya luntur terkena air atau darah.
...satu-satunya cara adalah panas ekstrem. Bukan api biasa. Inti sel Organisme X terbuat dari silikon biologis. Dia tahan api sampai 1000 derajat. Tapi dia rentan terhadap ledakan tekanan...
...Jantung inang (truk militer yang menjadi nukleus) dikelilingi kantong gas metana murni. Jika dipicu reaksi kimia eksotermik di dalam kantong itu... tekanannya akan menghancurkan struktur seluler...
...Rumus pemicunya adalah: Lindi Konsentrat + [Tinta Luntur] + Oksidator Kuat.
"Tulisannya luntur," desah Reza kecewa. "Campuran tengahnya ilang."
Naya memejamkan mata, mengingat-ingat pelajaran kimianya dan apa yang dia lihat di mikroskop.
"Lindi konsentrat itu basa kuat," gumam Naya. "Oksidator kuat bisa dari pupuk amonium nitrat atau kaporit. Campuran tengahnya... harus sesuatu yang memicu reaksi berantai."
Mata Naya terbuka. Dia ingat sesuatu yang dikatakan Pak Karta. 'Darah kabel adalah bensinnya.'
"Darah kabel," kata Naya. "Hemoglobin sintetis. Itu katalisnya."
"Kita punya bahannya?"
"Kita punya lindi di mana-mana. Darah kabel bisa gue ambil dari tikus atau kabel hidup. Oksidator..." Naya berpikir. "Di gudang pabrik tekstil tadi, gue liat drum kaporit buat pemutih kain. Masih ada sisa-sisanya."
"Jadi rencananya?"
"Kita masuk ke Jantung Gunung," kata Naya. "Kita bikin bom kimia. Kita ledakin intinya. Kita bunuh Ibu."
Reza menelan ludah. "Masuk ke Jantung? Maksud lo, ke tempat paling dalem?"
"Iya. Di bawah gua ini," Naya menunjuk ke sebuah lorong gelap di ujung gua yang mengeluarkan hawa panas. "Jalur usus."
Reza menatap lorong itu, lalu menatap Naya. Dia takut. Sangat takut. Tapi dia melihat tekad di mata Naya yang setengah monster itu.
"Oke," kata Reza, menutup jurnal itu. "Ayo kita bunuh Ibu."
Tapi sebelum mereka bergerak, tanah bergetar lagi.
Dari lorong "usus" itu, terdengar suara langkah kaki banyak orang.
Bukan Pak Karta. Tapi warga desa.
Mereka muncul dari kegelapan, membawa obor. Wajah mereka datar. Mereka tidak menyerang. Mereka hanya berdiri berbaris, membuka jalan.
Dan di tengah barisan itu, berjalan sosok wanita dengan daster bunga-bunga.
"Ibu..." bisik Naya.
Bu Siti tersenyum manis. Di tangannya, dia membawa nampan berisi dua gelas teh hangat.
"Tamu sudah datang," kata Bu Siti lembut. "Mari masuk. Ibu Besar sudah menunggu di ruang makan."
Ini bukan penyergapan. Ini undangan.
Sang Ratu mengundang mereka masuk ke dalam perutnya.
(Bersambung ke Bab 17)