Lorong "usus" itu tidak seperti terowongan mana pun yang pernah dimasuki manusia. Dindingnya tidak terbuat dari tanah atau batu, melainkan dari lapisan sampah plastik yang telah dipadatkan dan direkatkan dengan lendir biologis yang hangat. Dinding itu berdenyut pelan, kembang kempis seirama dengan detak jantung raksasa di kedalaman sana.
Naya berjalan di belakang ibunya, Bu Siti, yang melangkah anggun dengan nampan teh di tangan, seolah sedang berjalan di lantai marmer keraton, bukan di atas lumpur lindi yang becek.
Di samping Naya, Reza berjalan dengan tubuh tegang. Tangannya mencengkeram erat jurnal kulit Dr. Suryo di satu tangan, dan korek api gas di tangan lain. Matanya liar mengawasi dinding lorong yang sesekali mengeluarkan suara kecipak basah, seolah dinding itu sedang menjilat bibir.
"Ini gila, Nay," bisik Reza, suaranya nyaris tak terdengar. "Kita jalan sukarela masuk ke lambung monster. Ini bunuh diri."
"Ini diplomasi, Za," jawab Naya datar, meski keringat dingin mengalir di punggungnya. "Kalau kita nyerang sekarang, kita mati sebelum nyampe ke intinya. Kita butuh akses ke Jantung. Dan Ibu... dia lagi ngasih kita jalan VIP."
Bu Siti berhenti di depan sebuah pintu lengkung besar yang terbuat dari jalinan kabel telepon tua dan tulang rusuk paus (atau mungkin tulang hewan raksasa lain yang entah dapat dari mana).
"Silakan masuk," kata Bu Siti, berbalik menghadap mereka. Wajahnya berseri-seri, senyumnya terlalu lebar hingga sudut bibirnya sedikit robek, tidak mengeluarkan darah, melainkan cairan bening. "Ibu Besar sudah menyiapkan hidangan. Jangan malu-malu."
Pintu lengkung itu terbuka sendiri, akar-akarnya menyibak.
Naya dan Reza melangkah masuk.
Pemandangan di dalam membuat Reza nyaris menjatuhkan jurnal di tangannya.
Mereka berada di dalam gua raksasa yang didekorasi menyerupai... ruang makan keluarga. Tapi dalam skala yang grotesk dan surealis.
Di tengah gua, terdapat meja panjang yang terbuat dari bangkai bus Transjakarta yang digepengkan. Di atas meja itu, tertata piring-piring keramik retak dan gelas-gelas kristal kusam.
Dan yang duduk mengelilingi meja itu bukan manusia hidup.
Mereka adalah mayat.
Puluhan mayat yang diawetkan sempurna, duduk kaku di kursi-kursi plastik. Pakaian mereka menunjukkan era yang berbeda-beda. Ada yang memakai kebaya tahun 60-an, seragam hansip tahun 80-an, hingga kaos partai pemilu terakhir.
Mereka semua diam, mata mereka yang telah diganti dengan bola lampu pijar kecil menatap kosong ke arah kursi kosong di ujung meja.
"Siapa mereka?" bisik Reza ngeri.
"Keluarga," jawab Bu Siti. Dia meletakkan nampan teh di meja. "Ini Pak Lurah yang menjabat tahun 65. Ini Bu Guru yang hilang tahun 98. Mereka semua menunggu kalian."
Bu Siti menunjuk ke dua kursi kosong di ujung meja.
"Duduklah."
Naya merasakan kakinya gemetar, tapi dia memaksakan diri untuk duduk. Dia harus melihat permainan ini sampai akhir. Reza duduk di sebelahnya dengan enggan.
"Minumlah," tawar Bu Siti, menyodorkan cangkir teh.
Naya melihat isi cangkir itu. Cairan hitam pekat yang berbusa. Lindi.
"Gue nggak haus," tolak Naya tegas.
"Sayang sekali," Bu Siti mendesah kecewa. "Padahal ini teh spesial. Teh memori. Kalau diminum, kalian bisa melihat apa yang kami lihat. Merasakan apa yang kami rasakan."
"Gue nggak perlu minum racun lo buat tau apa yang terjadi," Naya meletakkan tangannya di atas meja bus Transjakarta itu. Dia mengaktifkan koneksi neural di tubuhnya. Urat-urat hitam di tangannya menyala.
"Lo mau pamer sejarah? Tunjukin. Sekarang."
Bu Siti tersenyum miring. "Anak pintar. Tidak perlu lewat mulut, lewat kabel pun jadi."
Bu Siti menepuk tangannya dua kali.
PLOK. PLOK.
Lampu-lampu pijar di mata para mayat itu tiba-tiba menyala terang serentak. Cahaya mereka bukan menyinari ruangan, tapi memproyeksikan sesuatu ke dinding gua yang licin.
Proyektor bioskop organik.
Dinding gua berubah menjadi layar film. Gambar hitam putih yang bergetar muncul.
"Ini..." Reza ternganga.
Itu bukan film. Itu ingatan. Ingatan kolektif yang direkam oleh sel-sel Sampel X lima puluh tahun lalu.
Di layar dinding itu, Naya melihat Desa Sindang yang dulu. Asri, hijau, penuh sawah. Bukan gurun sampah seperti sekarang.
Lalu, truk-truk itu datang. Truk militer Fargo tahun 60-an.
Adegan berganti cepat. Orang-orang digiring ke lapangan. Teriakan tanpa suara. Wajah-wajah ketakutan.
Naya melihat seorang pria muda di layar. Wajahnya mirip Pak Karta, tapi masih muda dan manusiawi. Dia sedang berlutut di tanah, tangannya diikat. Di sebelahnya, Dr. Suryo berdiri dengan jas putih, berbicara dengan seorang perwira tentara.
Dr. Suryo menyerahkan sebuah tabung kaca berisi cairan perak kepada perwira itu.
"Ini akan membersihkan semuanya," suara Dr. Suryo bergema di dalam kepala Naya, jernih seolah dia ada di sana. "Suntikkan ke mereka setelah dieksekusi. Tanah ini akan membusukkan mereka dalam semalam."
Tapi Naya tahu itu bohong.
Di layar, eksekusi dimulai. Suara tembakan meletus, tapi yang terdengar di kepala Naya bukan suara dor, melainkan rasa sakit fisik.
Naya memegang dadanya, terkesiap. Dia merasakan peluru itu menembus dadanya. Dia merasakan panasnya timah panas merobek paru-paru.
"Nay! Lo kenapa?!" Reza mengguncang bahu Naya.
"Gue... gue ngerasain mereka, Za," rintih Naya. "Mereka nggak mati langsung. Mereka dikubur setengah hidup."
Adegan di dinding berubah lagi. Lubang galian massal. Mayat-mayat ditumpuk. Lalu cairan perak itu disiramkan.
Bukannya membusuk, tubuh-tubuh itu mulai bergerak. Cairan perak itu—Organisme X—menjahit luka mereka. Menghubungkan saraf mereka yang putus.
Mereka sadar kembali di dalam tumpukan mayat yang gelap dan sesak. Ratusan orang. Terjebak dalam satu lubang, tidak bisa bergerak, tidak bisa berteriak karena tanah sudah menimbun mereka.
Rasa klaustrofobia yang dirasakan Naya begitu hebat sampai dia merasa tercekik. Dia mencengkeram lehernya sendiri.
"Hentikan!" teriak Reza pada Bu Siti. "Lo nyakitin dia!"
Bu Siti hanya tertawa kecil. "Sakit? Itu baru permulaan. Bayangkan rasa sakit itu dipelihara selama lima puluh tahun. Dipupuk dengan sampah kalian. Plastik kalian. Racun kalian."
Di layar, waktu berputar cepat. Lapisan tanah bertambah tinggi. Truk sampah mulai datang tahun 80-an. Sampah menumpuk di atas kuburan itu.
Dan di bawah sana, di kegelapan abadi, massa daging itu tumbuh. Mereka belajar. Mereka menyatu. Kesadaran individu hilang, melebur menjadi satu entitas yang marah: IBU.
"Mereka bukan monster karena pilihan," bisik Naya, air mata hitam menetes dari matanya. "Kita yang bikin mereka jadi monster. Kita buang sampah ke wajah mereka setiap hari. Kita racuni mereka."
Gambar di dinding meredup, lalu mati.
Bu Siti menatap Naya dengan tatapan yang tiba-tiba berubah tajam dan waras. Untuk sedetik, Naya melihat ibunya yang asli di sana.
"Naya..." suara Bu Siti bergetar. "Bebaskan kami... Tolong..."
Tapi sedetik kemudian, wajah itu kembali datar dan dingin.
"Sudah nontonnya?" tanya Bu Siti. "Sekarang, ke hidangan utama."
Meja panjang itu bergetar. Bagian tengah meja terbelah. Dari celah itu, muncul sebuah podium batu.
Dan di atas podium itu, tergeletak sebuah benda.
Bukan makanan.
Itu adalah Tabung Oksigen. Tabung gas medis berwarna putih yang sudah berkarat.
Naya mengenalinya. Itu tabung oksigen Bapaknya. Tabung yang dipakai Bapak saat sakit paru-paru parah sebelum meninggal dua tahun lalu. Bapak meninggal karena TBC akibat debu TPA.
"Kenapa..." Naya berdiri, emosinya campur aduk. "Kenapa ada barang Bapak di sini?"
"Karena Bapakmu ada di sini," kata Bu Siti. Dia menunjuk ke salah satu mayat yang duduk di meja makan. Mayat yang memakai batik kusam.
Naya menoleh. Dia tidak mengenalinya tadi karena wajahnya tertutup jamur.
"Bapak?"
Mayat itu tidak bergerak. Tapi di dadanya, tertanam selang yang terhubung ke tabung oksigen di podium.
"Bapakmu tidak kami makan," kata Bu Siti. "Dia kami simpan. Dia adalah penjaga gerbang."
Bu Siti mengambil pisau makan yang tajam dari meja. Dia menyodorkannya ke Naya.
"Jantung yang kamu cari ada di balik pintu di belakang Bapakmu," kata Bu Siti. "Tapi pintu itu terkunci. Kuncinya adalah 'pengorbanan darah'."
"Maksud lo?"
"Potong selang oksigen itu," perintah Bu Siti. "Matikan Bapakmu untuk kedua kalinya. Dan pintu akan terbuka."
Naya menatap pisau itu, lalu menatap mayat Bapaknya. Ini permainan psikologis yang kejam. Gunung ini tahu kelemahan terbesarnya. Rasa bersalah.
"Lo gila," kata Reza. Dia maju, menarik tangan Naya. "Jangan dengerin dia, Nay. Kita cari jalan lain."
"Tidak ada jalan lain," suara Bu Siti berubah menjadi geraman rendah. Para mayat di meja makan mulai berdiri serentak. Kursi-kursi berdecit. "Pilih, Naya. Jadi Ratu dan selamatkan temanmu, atau mati di sini jadi pupuk bersama Bapakmu."
Naya mengambil pisau itu. Tangannya dingin.
Dia berjalan mendekati mayat Bapaknya. Dia melihat wajah Bapak yang tenang. Dia ingat bagaimana Bapak batuk darah setiap malam, bagaimana Bapak memintanya untuk kuliah tinggi agar bisa pergi dari desa busuk ini.
"Bapak udah meninggal," bisik Naya. "Yang di sini cuma cangkang."
Naya mengangkat pisau.
Bu Siti tersenyum lebar. "Bagus. Lakukan."
Naya mengayunkan pisau itu.
SREEET!
Tapi bukan selang oksigen yang dia potong.
Naya berputar cepat dan melemparkan pisau itu ke arah Bu Siti.
Pisau itu menancap tepat di dahi Bu Siti.
Cairan hitam menyembur. Bu Siti terhuyung ke belakang, matanya melotot kaget.
"Gue nggak main sesuai aturan lo," desis Naya.
"SERANG!" teriak Bu Siti (atau benda yang mengendalikannya) sebelum ambruk ke lantai.
Para mayat di meja makan itu menerjang. Mereka melompati meja, gelas dan piring pecah berantakan. Mereka menyerbu Naya dan Reza dengan kuku-kuku mereka yang tajam.
"Za! Tabung itu!" teriak Naya sambil menendang mayat Pak Lurah yang mencoba menggigitnya. "Itu bukan oksigen! Itu metana murni yang dipadatkan! Itu bomnya!"
Reza mengerti seketika. Tabung oksigen Bapak Naya telah diubah fungsi menjadi tangki penyimpanan gas metana tekanan tinggi.
"Gue ambil!" Reza melompat ke podium, menyambar tabung berat itu, dan memutus selangnya dengan paksa. Gas mendesis keluar.
"Bawa lari ke pintu belakang!" komando Naya.
Dia berdiri di depan Reza, menjadi tameng hidup. Kaki dan tangan Naya bergerak secepat kilat, menghajar setiap mayat yang mendekat. Dia mematahkan tulang, merobek daging awetan, bertarung seperti iblis untuk melindungi satu-satunya manusia yang tersisa.
Di belakang kursi Bapaknya, ada sebuah pintu logam berat. Pintu brankas raksasa.
"Pintunya dikunci elektronik!" teriak Reza panik sambil memanggul tabung gas.
Naya melihat panel kunci di pintu itu. Dia tidak butuh password.
Dia menempelkan telapak tangannya yang bersinar panas ke panel itu.
OVERRIDE.
Sistem pintu itu menjerit, lalu KLIK. Pintu terbuka.
"Masuk!" Naya mendorong Reza masuk, lalu dia melompat menyusul, menutup pintu besi itu tepat saat tangan-tangan mayat mencoba meraih mereka.
BAM!
Mereka terkunci di dalam.
Suara gedoran di luar terdengar beringas. Tapi Naya tidak peduli.
Dia berbalik, menatap ruangan tempat mereka berada sekarang.
Napas Naya dan Reza tercekat bersamaan.
Mereka sudah sampai.
Ini bukan gua. Ini adalah sebuah katedral organik. Ruangannya luas, berkubah tinggi, dan dindingnya berdenyut merah menyala.
Dan di tengah ruangan itu, tergantung benda itu.
Jantung Gunung.
Sebuah massa organ raksasa sebesar rumah, yang terdiri dari ribuan tubuh manusia yang meleleh menjadi satu bola daging, berdenyut lambat, memancarkan panas yang luar biasa.
Dan di bawah Jantung itu, berdiri seseorang yang menunggu mereka.
Bukan Bu Siti. Bukan Pak Karta.
Sosok itu mengenakan jas laboratorium putih yang bersih, kontras dengan kengerian di sekitarnya. Dia memegang stetoskop, tersenyum ramah seperti dokter yang menyambut pasien.
"Selamat datang, Nak," sapa sosok itu. Wajahnya awet muda, meski matanya tua dan penuh dosa. "Sudah lama saya tidak menerima mahasiswa magang."
Itu Dr. Suryo.
Tapi dia tidak mati. Dia telah menjadi bagian dari otak induk. Dia adalah arsitek dari semua kegilaan ini.
(Bersambung ke Bab 18)