Thriller

Dokter Keabadian

21 January 2026

Udara di dalam "Katedral Organik" itu terasa berat, seolah gravitasi bekerja dua kali lebih kuat di sini. Bukan hanya karena tekanan atmosfer di kedalaman tanah, melainkan karena aura keberadaan benda raksasa yang menggantung di tengah ruangan.

Jantung Gunung.

Benda itu berukuran sebesar rumah dua lantai, tergantung dari langit-langit gua dengan anyaman pembuluh darah hitam setebal batang pohon kelapa. Permukaannya basah, berlendir, dan berwarna merah tua kehitaman—warna darah yang telah mengering dan membusuk. Ia berdenyut dengan irama lambat yang menggetarkan lantai: DUM... ... ... DUM...

Setiap denyutan memancarkan gelombang panas yang membuat kulit Reza melepuh, namun bagi Naya, panas itu terasa seperti pelukan selamat datang.

Dan di bawah organ raksasa itu, berdiri Dr. Suryo.

Naya dan Reza terpaku. Sosok di depan mereka ini seharusnya sudah menjadi debu lima puluh tahun lalu. Namun, dia berdiri di sana, tampak segar bugar seperti foto di buku sejarah yang dihidupkan kembali.

"Kalian terlihat berantakan," kata Dr. Suryo, suaranya tenang dan berwibawa, gema suara seorang akademisi yang terbiasa memberi kuliah. "Perjalanan ke bawah memang melelahkan. Tapi di sini, kalian bisa istirahat selamanya."

Naya melangkah maju, menempatkan dirinya di antara Reza dan dokter itu. Mata hitam Naya memindai sosok Dr. Suryo dengan pandangan inframerah barunya.

"Lo bukan manusia," desis Naya. "Lo... lo cuma boneka lilin."

Di balik penglihatan Naya, dia bisa melihat kebenaran yang mengerikan. Jas putih dokter itu bukanlah kain. Itu adalah lapisan kulit yang dimodifikasi menyerupai tekstil. Stetoskop di lehernya telah menyatu dengan daging, menjadi organ sensorik eksternal. Dan punggung Dr. Suryo tidak memiliki tulang belakang; melainkan terhubung dengan selang-selang transparan yang menyambung langsung ke Jantung raksasa di atasnya.

Dia bukan individu. Dia adalah ekstensi dari Jantung itu.

Dr. Suryo tersenyum, senyum yang terlalu simetris. "Manusia adalah konsep yang usang, Naya. Kita adalah karbon. Kita rapuh. Kita sakit. Saya hanya... memperbaiki desainnya."

"Memperbaiki?" Reza berteriak dari belakang Naya, masih memeluk tabung gas metana erat-erat. "Lo sebut ini perbaikan? Satu desa jadi zombi plastik? Orang-orang saling makan? Itu neraka, Dok!"

Dr. Suryo menatap Reza dengan pandangan meremehkan, seolah melihat bakteri yang bising.

"Itu adalah proses transisi, Nak. Evolusi selalu berantakan di awal. Ikan yang pertama kali naik ke darat pasti kesulitan bernapas sebelum paru-parunya tumbuh sempurna. Warga desa ini... mereka sedang tumbuh. Mereka belajar menjadi satu kesatuan yang abadi."

Dr. Suryo merentangkan tangannya ke arah Jantung raksasa itu.

"Lihatlah Ibu. Dia menampung ribuan jiwa. Ingatan mereka, rasa sakit mereka, cinta mereka... tidak ada yang hilang. Semuanya tersimpan di cloud biologis ini. Di dunia atas sana, orang mati dilupakan dalam dua generasi. Di sini? Mereka hidup selamanya."

"Itu bukan hidup," potong Naya. "Itu penjara. Lo nggak ngasih mereka keabadian, Dok. Lo ngasih mereka looping mimpi buruk tanpa tombol stop."

Naya mengepalkan tangannya. Panas di tubuhnya meningkat.

"Dan gue dateng buat mencet tombol stop-nya."

Wajah tenang Dr. Suryo berubah dingin. "Kamu mengingatkan saya pada Karta muda. Ambisius. Tapi naif. Kamu pikir kamu punya kekuatan? Kekuatanmu itu pinjaman dari saya."

Dr. Suryo menjentikkan jarinya.

Lantai di bawah kaki Naya dan Reza tiba-tiba berubah sifat. Dari padat menjadi cair.

Lumpur lindi di lantai itu mendidih dan naik, membentuk dinding kurungan di sekeliling Reza.

"Reza!" teriak Naya.

"Gue oke! Gue masih pegang bomnya!" sahut Reza dari balik dinding lumpur yang meninggi.

Naya hendak menolong Reza, tapi Dr. Suryo sudah bergerak. Dia tidak berjalan. Selang-selang di punggungnya mengangkat tubuhnya melayang di udara, lalu meluncur cepat ke arah Naya seperti wayang yang digerakkan tali.

Dari ujung jari-jari Dr. Suryo, keluar jarum-jarum suntik tulang yang tajam.

SREK!

Naya menangkis serangan itu dengan lengan kanannya yang sudah mengeras. Jarum tulang itu patah saat menghantam kulit polimer Naya.

"Komposisi tubuhmu menarik," gumam Dr. Suryo, matanya menganalisis. "Polimerisasi 90% di ekstremitas bawah. Integrasi saraf 70%. Kamu bukan sekadar Ratu... kamu adalah Senjata."

Naya membalas dengan tendangan memutar. Kaki besinya menghantam sisi tubuh Dr. Suryo.

BUKK!

Rasanya seperti menendang karung pasir yang basah. Tubuh dokter itu terlempar, menabrak dinding gua. Tapi dia tidak kesakitan. Tubuhnya yang elastis menyerap benturan itu.

"Sakit fisik tidak relevan di sini," kata Dr. Suryo, bangkit kembali tanpa luka.

Dia mengangkat tangannya ke arah Jantung. "Antibodi! Bersihkan patogen!"

Jantung raksasa itu berdenyut kencang. Dari pori-pori permukaan organ itu, keluar makhluk-makhluk kecil berwarna putih pucat.

Mereka seukuran kucing, tapi bentuknya abstrak. Seperti tetesan lilin putih yang memiliki gigi dan cakar. Mereka adalah White Blood Cells—sel darah putih makroskopis—penjaga sistem imun Gunung.

Puluhan makhluk putih itu jatuh ke lantai, mendesis, dan berlari menyerbu Naya.

"Sialan," umpat Naya.

Dia bertarung dikeroyok. Kaki dan tangannya bergerak liar, menghancurkan tubuh-tubuh lunak makhluk putih itu. Setiap kali dia memukul, makhluk itu meletus mengeluarkan cairan asam yang membakar baju Naya.

"Naya! Gue kejebak!" teriak Reza panik. Dinding lumpur di sekitarnya semakin sempit, hendak menelannya bulat-bulat.

Naya sadar dia tidak bisa menang melawan pasukan yang tak habis-habis ini. Dia harus mengincar kepalanya.

Dia menatap Dr. Suryo yang melayang santai di udara, mengamati pertarungan seperti ilmuwan mengamati labirin tikus.

"Za! Lempar tabungnya!" teriak Naya.

"Hah?! Ke mana?!"

"Ke atas! Ke gue!"

Reza tidak bertanya lagi. Dengan sisa tenaga di ruang sempitnya, dia mengayunkan tabung gas metana seberat 15 kilogram itu, melemparkannya melewati dinding lumpur.

Tabung putih berkarat itu melayang di udara.

Naya melompat. Dia mengabaikan gigitan makhluk-makhluk putih di kakinya. Dia menggunakan daya pegas kaki bioniknya untuk melompat setinggi lima meter.

Dia menangkap tabung itu di udara.

Dan dengan momentum gravitasi, dia tidak mendarat ke tanah. Dia mengarahkan dirinya lurus ke arah Dr. Suryo.

"Makan nih resep dokter!" teriak Naya.

Dr. Suryo membelalak. Dia mencoba menghindar, tapi Naya terlalu cepat.

Naya menghantamkan tabung gas itu tepat ke dada Dr. Suryo.

KRAK!

Benturan itu menghancurkan rusuk palsu sang dokter. Tubuh mereka berdua terpental, menabrak selang-selang penghubung di punggung dokter itu.

Naya mencengkeram jas dokter itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang tabung gas. Mereka berdua jatuh berguling di lantai gua.

"Kamu merusak sistem!" jerit Dr. Suryo, suaranya berubah menjadi distorsi elektronik. Wajahnya yang 'sempurna' kini robek, memperlihatkan jaringan kabel di bawah kulit wajahnya.

Naya tidak memberi ampun. Dia menindih tubuh dokter itu, lalu menempelkan nozzle tabung gas yang sudah patah tepat ke mulut Dr. Suryo yang robek.

"Lo bilang lo mau nyatuin semuanya, kan?" napas Naya memburu, mata hitamnya menyala gila. "Kalau gitu, satuin ini sama paru-paru lo!"

Naya memutar katup tabung sisa yang masih menempel.

WUSHHH!

Gas metana tekanan tinggi menyembur masuk ke dalam tubuh Dr. Suryo. Tubuh dokter itu menggelembung seketika seperti balon yang dipompa paksa. Kulit sintetiknya meregang maksimal.

"Tidaaak! Analisis error! Tekanan berlebih!"

Dr. Suryo mencoba mencakar wajah Naya, tapi Naya menahannya.

"Reza! Korek!" teriak Naya tanpa menoleh.

Reza yang dinding lumpurnya sudah runtuh karena konsentrasi Dr. Suryo terpecah, segera berlari mendekat. Dia menyalakan korek api gas di tangannya.

"Minggir, Nay!"

Naya melompat menjauh dari tubuh Dr. Suryo yang menggelembung.

Reza melemparkan korek api menyala itu ke arah semburan gas yang keluar dari celah-celah tubuh dokter itu.

BLARR!

Ledakan api biru menyambar. Tubuh Dr. Suryo meledak.

Bukan ledakan besar, tapi cukup untuk menghancurkan avatar sang dokter menjadi serpihan daging hangus dan plastik meleleh. Selang-selang di punggungnya putus, menyemburkan cairan lindi ke mana-mana.

Hening sejenak. Hanya suara api yang menjilat-jilat sisa tubuh sang arsitek kiamat.

Naya berdiri, terengah-engah. Infeksi di tubuhnya berdenyut sakit. Membunuh "induk" semang sementaranya memberikan dampak balik pada sistem sarafnya.

"Gila..." Reza menatap onggokan daging hangus itu. "Lo beneran ngebunuh dia."

"Itu cuma terminalnya, Za," kata Naya, menatap ke atas.

Jantung raksasa itu.

Jantung itu tidak berhenti berdetak saat Dr. Suryo mati. Justru sebaliknya. Detaknya semakin kencang. Semakin marah.

Warna merah tua di permukaan Jantung itu berubah menjadi ungu lebam. Pembuluh-pembuluh darah di sekitarnya menegang.

DUM-DUM-DUM-DUM!

Gua itu berguncang hebat. Stalaktit berjatuhan.

Suara di kepala Naya kembali. Kali ini bukan suara Dr. Suryo yang tenang, bukan suara Pak Karta yang serak.

Itu suara IBU.

Suara jutaan orang yang berteriak bersamaan dalam frekuensi tinggi yang memecahkan gendang telinga.

"ANAK DURHAKA! SAKIT! SAKIT!"

"Kita bikin dia marah besar," kata Reza, menutup telinganya.

"Bagus," Naya menyeka darah hitam dari hidungnya. Dia memungut sisa tabung gas yang penyok tapi masih utuh separuh isinya. "Sekarang pertahanan imunnya udah mati. Kita punya jalan bebas ke intinya."

Naya menunjuk ke sebuah robekan besar di dinding Jantung raksasa itu—bekas tempat selang-selang Dr. Suryo tadi terhubung. Itu adalah luka terbuka. Jalan masuk langsung ke dalam ventrikel jantung.

"Kita harus masuk ke dalem sana?" Reza menatap lubang daging yang menganga dan berlendir itu dengan jijik.

"Lo mau pulang atau mau jadi pupuk?" tantang Naya.

Reza menghela napas pasrah. "Gue benci banget sama jurusan gue sekarang. Harusnya gue ambil Sastra."

"Ayo, Za. Kita kasih Ibu obat maag paling keras sedunia."

Mereka berdua berjalan menuju organ raksasa yang berdenyut itu, siap untuk ditelan, siap untuk mengakhiri mimpi buruk ini dari dalam perut monster itu sendiri.

Namun, saat mereka mulai memanjat anyaman pembuluh darah untuk mencapai lubang itu, Naya merasakan sesuatu yang lain.

Getaran dari sakunya. Ponselnya.

Aneh. Tidak mungkin ada sinyal di sini.

Naya mengeluarkan ponselnya. Layarnya menyala, menampilkan satu pesan masuk.

Bukan dari operator. Bukan dari manusia.

Pengirim: IPUL.

Isinya:

"Jangan diledakin, Nay. Gue ada di dalem."

Naya membeku. Tangannya yang memegang pembuluh darah licin itu gemetar.

"Za... berhenti," bisik Naya.

"Kenapa? Ada monster lagi?"

Naya menunjukkan layar ponselnya ke Reza.

Reza membaca pesan itu. Wajahnya pucat. "Itu... itu pasti trik. Ipul udah mati, Nay. Lo sendiri yang bilang."

"Tapi gimana kalau kesadarannya masih ada di sana?" Naya menatap Jantung raksasa itu dengan pandangan baru. Pandangan ngeri. "Kalau kita ledakin ini... kita beneran bunuh jiwa mereka. Bukan cuma badan mereka."

Naya bimbang. Di hadapannya adalah monster yang harus dimusnahkan. Tapi di dalamnya, mungkin ada sisa-sisa sahabatnya, ibunya, dan bapaknya yang terperangkap.

Apakah dia sanggup menjadi eksekutor bagi orang-orang yang dia cintai?

(Bersambung ke Bab 19)