Cahaya layar ponsel itu berkedip lemah di kegelapan gua yang lembap, menampilkan pesan singkat yang terasa lebih berat daripada reruntuhan beton di atas mereka.
"Jangan diledakin, Nay. Gue ada di dalem."
Reza menatap Naya dengan wajah tegang. Keringat membasahi pelipisnya, bercampur dengan debu abu-abu. Tangan kanannya masih mencengkeram leher tabung gas metana yang berat, sementara tangan kirinya gemetar.
"Nay, dengerin gue," suara Reza serak, berusaha menembus kabut keraguan di mata temannya. "Itu bukan Ipul. Ipul nggak bawa HP. Ipul nggak punya jari buat ngetik. Itu firewall. Itu sistem pertahanan terakhir gunung ini buat manipulasi lo."
Naya tidak menjawab. Matanya terpaku pada Jantung raksasa yang berdenyut di atas mereka. Lubang menganga bekas koneksi Dr. Suryo tampak seperti mulut yang mengajak bicara. Dari dalam sana, Naya bisa merasakan tarikan itu. Tarikan magnetis yang bukan bersifat fisik, melainkan psikis.
"Gue tau itu mungkin jebakan," bisik Naya. "Tapi gue ngerasain dia, Za. Sinyalnya beda sama suara 'Ibu' yang lain. Sinyal ini... kecil. Lemah. Dan ketakutan."
"Terus lo mau apa? Masuk ke sana, ngeteh bareng mayat lagi?" Reza frustrasi. "Kita nggak punya waktu! Liat itu!"
Reza menunjuk ke arah pintu besi tempat mereka masuk tadi. Pintu itu mulai penyok. Suara cakar beradu dengan logam terdengar beringas. Pasukan mayat di ruang makan sedang mencoba mendobrak masuk.
"Gue harus mastiin," kata Naya tegas. Dia menatap Reza dengan mata hitamnya yang kini terlihat basah. "Gue nggak bisa idup dengan rasa bersalah kalau ternyata gue ngebom jiwa sahabat gue sendiri yang masih sadar. Gue harus masuk ke server-nya. Langsung."
"Caranya?"
"Lewat fisik. Gue harus nyentuh intinya."
Naya berbalik dan mulai memanjat anyaman pembuluh darah yang licin dan hangat itu. Dia bergerak cepat, menggunakan kekuatan kaki dan tangan mutannya untuk mencengkeram daging ulet itu.
"Tunggu! Sialan!" Reza mengumpat, lalu dengan susah payah memanggul kembali tabung gas itu dan ikut memanjat menyusul Naya. "Kalau lo mati di dalem, gue nggak mau gali kuburan lo!"
Mereka merangkak masuk melalui lubang robekan di dinding Jantung.
Sensasi masuk ke dalam organ itu sungguh menjijikkan. Dinding bagian dalamnya dilapisi lendir bening yang sangat kental. Udaranya panas dan berbau amis yang tajam—bau ozon bercampur darah. Suara di dalam sini bukan lagi detak jantung, tapi dengungan listrik statis yang memekakkan telinga: NGIIIIIING....
Mereka berada di dalam rongga ventrikel. Ruangan itu sempit, dindingnya bergerak-gerak menekan. Dan di pusat ruangan itu, tertanam benda yang menjadi inti dari segala kegilaan ini.
Sebuah truk militer Fargo tahun 1960-an.
Truk itu tergantung di tengah rongga, dililit oleh ribuan kabel saraf yang tumbuh menembus bodinya yang berkarat. Ban karetnya sudah meleleh menyatu dengan daging. Kaca depannya pecah.
Di dalam kabin truk itu, terlihat siluet tubuh manusia yang sudah menyatu dengan kursi pengemudi.
"Itu nukleusnya," kata Naya. Dia melompat turun ke atas kap mesin truk itu. Kap mesin itu terasa panas membakar, tapi kulit tangan Naya yang sudah menebal tidak melepuh.
Reza mendarat di sebelahnya, napasnya memburu. "Oke, kita pasang bomnya di sini?"
"Tunggu bentar," Naya mengangkat tangannya.
Dia merangkak mendekati kaca depan truk yang pecah. Dia melihat ke dalam kabin.
Sosok di kursi pengemudi itu bukan Ipul. Itu adalah mayat yang sudah sangat tua, mungkin mayat asli supir truk tahun 65. Wajahnya sudah tidak berbentuk, tertutup jamur hitam.
Tapi Naya tidak mencari fisik. Dia mencari data.
Naya menempelkan telapak tangannya ke dasbor truk yang berkarat. Dia memejamkan mata. Dia membiarkan urat-urat hitam di lengannya memanjang, keluar dari pori-pori kulitnya, dan menusuk masuk ke dalam logam truk itu.
Neural Handshake Initiated.
Dunia fisik di sekitar Naya runtuh.
Naya membuka mata.
Dia tidak lagi berada di dalam gua daging yang bau.
Dia berdiri di tengah jalan aspal yang mulus. Langit di atasnya berwarna abu-abu statis, seperti layar TV yang kehilangan sinyal (noise). Di kiri-kanan jalan, berdiri rumah-rumah penduduk Desa Sindang. Tapi rumah-rumah itu tampak glitchy. Kadang utuh, kadang hancur, kadang berkedip hilang.
Ini adalah Alam Bawah Sadar Gunung. The Cloud.
"Ipul?" panggil Naya. Suaranya tidak bergema.
Di kejauhan, dia melihat seseorang duduk di pos ronda. Sosok itu memakai topi merah Raja Sampah.
Naya berlari menghampirinya. "Pul!"
Sosok itu menoleh. Itu Ipul. Tapi bukan Ipul yang tampan dan bersih seperti di mimpi sebelumnya. Ini Ipul yang asli. Wajahnya kotor, ada luka di pelipisnya, dan matanya... matanya terlihat sangat lelah dan tua.
"Naya?" Ipul terkejut. Dia melompat turun dari pos ronda, tapi kakinya goyah. Tubuhnya tampak transparan di beberapa bagian, seolah datanya mulai korup (corrupted).
"Lo beneran di sini?" Naya memegang lengan Ipul. Terasa dingin dan statis.
"Ngapain lo masuk ke sini, bego?!" Ipul malah membentak, mendorong Naya menjauh. "Gue SMS lo biar lo kabur! Bukan malah masuk ke chatroom setan ini!"
"Gue nggak bisa ninggalin lo," kata Naya. "Lo bilang jangan ledakin. Lo mau diselamatin kan? Kita bisa cari cara buat mindahin kesadaran lo..."
Ipul tertawa pahit. Tawa yang terdengar seperti rekaman rusak.
"Selamatin? Nay, liat sekeliling lo."
Ipul menunjuk ke arah rumah-rumah desa.
Naya melihat lebih jelas. Di teras-teras rumah itu, ada orang-orang. Bu Siti sedang menyapu, tapi gerakannya berulang-ulang setiap dua detik. Maju-mundur-maju-mundur. Seperti GIF yang rusak.
Pak Ujang sedang minum kopi, tapi kopinya tumpah terus menerus dan dia tidak sadar.
"Ini bukan idup, Nay," kata Ipul lirih. "Ini looping. Kita kejebak di memori terakhir kita sebelum mati. Gunung ini... dia nggak nyimpen jiwa kita. Dia cuma nyimpen file kita. Dia muter ulang rasa sakit kita, rasa takut kita, buat jadi energi dia."
Ipul menatap tangannya sendiri yang mulai memudar menjadi piksel-piksel debu.
"Gue sadar karena gue baru masuk. Gue masih 'segar'. Tapi lama-lama, gue bakal jadi kayak Nyokap lo. Cuma rekaman kosong yang diulang-ulang."
Tiba-tiba, langit abu-abu itu robek.
Wajah raksasa muncul di langit. Wajah Dr. Suryo yang tersenyum jahat.
"Anomali terdeteksi. Virus Naya mencoba mengancam integritas sistem. Isolasi."
Tanah aspal di bawah kaki Naya retak. Tangan-tangan hitam muncul dari retakan, mencoba menarik kakinya.
"Mereka tau lo di sini!" Ipul menarik tangan Naya. "Lo harus keluar, Nay! Putusin koneksinya!"
"Tapi pesannya..." Naya bingung. "Lo bilang jangan ledakin..."
Ipul menatap Naya tajam, air mata mengalir di wajah hantunya.
"Itu bukan gue yang kirim," kata Ipul. "Gunung itu yang kirim pake memori gue tentang nomor HP lo. Dia tau lo nggak tega. Dia manfaatin cinta lo buat nahan lo."
Hati Naya hancur berkeping-keping. Jebakan itu bukan fisik. Jebakan itu adalah harapan palsu.
"Gue asli cuma bisa ngomong ini sekarang," Ipul mencengkeram bahu Naya kuat-kuat. "Bunuh kita, Nay. Tolong. Di sini dingin. Di sini sepi. Gue nggak mau jadi baterai. Gue mau tidur."
Ipul menunjuk ke dada Naya.
"Lo Ratu-nya sekarang, kan? Lo punya kuncinya. Ledakin tempat ini. Biar kita semua bebas."
Tanah berguncang hebat. Rumah-rumah glitchy di sekitar mereka mulai runtuh menjadi kode biner dan lendir.
"Pergi, Naya!" Ipul mendorong Naya sekuat tenaga ke arah cahaya putih yang menjadi pintu keluar. "Dan bilang ke Emak gue... maaf gue nggak bawa duit pulang."
"Ipul!" Naya mencoba menggapainya.
Tapi Ipul tersenyum. Senyum kuning giginya yang khas, untuk terakhir kalinya.
"Dah, Bu Sarjana."
Ipul membiarkan dirinya ditelan oleh retakan tanah digital.
"NAYA! WOY!"
Tamparan keras di pipi menyadarkan Naya.
Dia tersentak kembali ke dunia fisik. Dia masih berdiri di atas kap mesin truk, tangannya menempel di dasbor. Reza sedang mengguncang bahunya dengan panik.
"Sadar, woy! Itu antibody putih udah mulai masuk lewat dinding!"
Naya melihat sekeliling. Dinding ventrikel mulai sobek. Makhluk-makhluk putih penjaga imun itu mulai merembes masuk, mendesis lapar.
Naya menatap Reza. Wajahnya basah oleh air mata, tapi matanya tidak lagi ragu.
"Itu jebakan," kata Naya dingin. "Dia manfaatin Ipul."
Reza menghela napas lega sekaligus prihatin. "Jadi?"
"Jadi kita kirim mereka tidur," Naya menyambar tabung gas metana dari tangan Reza.
Dia tidak memasangnya sembarangan. Dia membuka paksa kap mesin truk itu dengan tangan besinya. Di dalamnya, mesin truk itu masih ada, tapi sudah berkarat dan dililit daging.
"Ini jantung dari Jantung," kata Naya. "Kalau ini meledak, seluruh struktur saraf gunung bakal collapse."
Naya meletakkan tabung gas itu tepat di atas blok mesin. Dia membuka katup gasnya full. Gas metana mendesis keluar dengan suara nyaring, memenuhi ruangan sempit itu dengan bau telur busuk yang mematikan.
"Kita butuh timer," kata Reza. "Kita nggak bisa ledakin manual, kita bakal mati bareng."
"Nggak perlu timer," Naya mengambil botol sampel terakhir dari sakunya. Botol berisi 'Virus' (campuran lindi, darah kabel, dan kaporit) yang tadi dia pakai di pabrik tekstil. Masih ada sisa sedikit.
Naya menaruh botol itu di atas mesin yang bergetar karena putaran dinamo organik.
"Getaran mesin ini makin kenceng karena dia panik," jelas Naya. "Dalam waktu kurang dari dua menit, botol ini bakal jatoh, pecah, dan nyampur sama gas metana di ruangan tertutup ini."
Reza menatap botol yang bergetar itu. Bom waktu analog. Sederhana, tapi mematikan.
"Dua menit buat lari dari perut bumi," gumam Reza. "Kedengeran kayak rencana liburan yang buruk."
"Ayo!"
Naya menarik Reza. Mereka melompat turun dari truk, berlari menuju lubang robekan tempat mereka masuk.
Tapi lubang itu... sudah menutup.
Daging dinding Jantung itu telah beregenerasi, menutup celah keluar. Mereka terperangkap di dalam.
"Sialan! Pintunya ilang!" teriak Reza, memukul dinding lendir itu.
Di belakang mereka, makhluk-makhluk antibodi putih mulai berjatuhan dari langit-langit, mengepung mereka di sekitar truk.
Botol kaca di atas mesin bergetar semakin kencang, bergeser inci demi inci menuju tepian.
"Minggir," Naya memundurkan Reza.
Dia menatap dinding daging itu. Dia mengangkat tangan kanannya. Bukan untuk memukul.
Naya memejamkan mata. Dia mengakses kembali koneksi 'Ratu'-nya. Meskipun menyakitkan, meskipun otaknya rasanya mau meledak.
BUKA.
Dinding itu tidak bergeming. Gunung itu melawan perintahnya.
BUKA ATAU GUE BAKAR OTAK LO DARI DALEM! Naya menjerit dalam pikirannya, menyalurkan seluruh rasa sakit, kemarahan, dan duka ke dalam satu perintah mental yang brutal.
Dia membayangkan dinding itu robek. Dia memaksakan kehendaknya.
KROAAK!
Dinding daging itu robek paksa dari dalam, mencipratkan darah hitam. Bukan terbuka karena otot, tapi meledak karena perintah saraf yang berlebihan.
Lubang terbuka. Cahaya dari Katedral Organik terlihat di luar.
"Lari!"
Naya dan Reza melompat keluar dari Jantung, jatuh berguling di lantai gua Katedral.
Di dalam Jantung, botol kaca itu mencapai tepian mesin.
Ting.
Botol itu jatuh.
Naya dan Reza baru saja menyentuh pintu keluar Katedral—pintu besi di belakang mayat Bapak Naya—ketika gelombang kejut pertama menghantam.
BLARRRRRRRRRRRR!!!
Jantung raksasa di belakang mereka meledak dari dalam. Bukan ledakan api biasa, melainkan ledakan tekanan gas yang menghancurkan segalanya. Daging, besi, tulang, semuanya terhempas menjadi serpihan proyektil mematikan.
Gua bawah tanah itu runtuh. Langit-langit katedral ambruk.
Naya dan Reza terlempar ke dalam lorong gelap, dikejar oleh lidah api biru dan reruntuhan sejarah yang ingin mengubur mereka selamanya.
Misi selesai. Sekarang tinggal bagian yang paling sulit:
Bertahan hidup dari kiamat yang baru saja mereka mulai.
(Bersambung ke Bab 20)