POV Raka
Raka selalu percaya bahwa mencintai seseorang tidak harus terdengar keras. Tidak perlu diumumkan. Tidak perlu dipamerkan. Baginya, cinta cukup disimpan rapi, dijaga, dan dilakukan diam diam.
Malam itu, hujan turun tanpa aba aba. Ia berdiri di depan jendela kamar kosnya yang sempit, memandangi jalanan basah dengan lampu yang berpendar samar. Di tangannya, ponsel masih menyala. Nama Alvara ada di layar, tapi percakapan mereka sudah lama berhenti.
Ia tidak tahu apakah Alvara sudah tertidur atau masih terjaga dengan pikirannya sendiri. Ia juga tidak berani menanyakan terlalu banyak. Raka belajar sejak lama bahwa Alvara akan bicara jika ia siap. Dan jika belum, ia memilih menunggu.
Menunggu bukan hal asing baginya.
Sudah bertahun tahun ia hidup dengan kata itu.
Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu duduk di tepi kasur. Kamar itu sunyi. Hanya suara hujan dan detak jam dinding yang pelan. Raka menunduk, mengusap wajahnya sendiri, lalu tersenyum tipis tanpa sadar.
“Capek juga ya,” gumamnya pelan.
Bukan capek mencintai Alvara. Bukan. Ia tidak pernah lelah soal itu. Yang melelahkan adalah dunia di sekeliling mereka. Perbedaan yang tidak pernah mereka ciptakan, tapi harus mereka tanggung.
Ia masih ingat pertama kali mengenal Alvara. Semua terasa ringan. Percakapan mereka mengalir tanpa perlu dipikirkan. Alvara tertawa dengan cara yang sederhana, tidak dibuat buat, dan selalu jujur. Raka jatuh cinta bukan karena hal besar, tapi karena hal kecil yang terus berulang.
Cara Alvara mengetik panjang lebar hanya untuk menceritakan hal sepele. Cara ia meminta maaf bahkan ketika tidak salah. Cara ia selalu mendengarkan, bahkan saat dirinya sendiri sedang lelah.
Dari semua itu, Raka tahu satu hal. Alvara adalah rumah yang ingin ia tuju, meski jalannya tidak mudah.
Ia bekerja keras sejak awal. Bukan demi terlihat hebat, tapi demi satu tujuan sederhana. Ia ingin suatu hari berdiri di depan Alvara tanpa rasa rendah diri.
Namun hidup tidak berjalan secepat harapan.
Pekerjaannya belum mapan. Gajinya cukup, tapi belum bisa disebut aman. Ia menyewa kamar kecil, naik kendaraan umum, menghitung pengeluaran dengan hati hati. Semua itu tidak pernah ia keluhkan pada Alvara.
Bukan karena gengsi, tapi karena ia tidak ingin Alvara ikut memikul bebannya.
Di sisi lain, ia tahu dunia Alvara berbeda. Keluarganya rapi, teratur, dan penuh ekspektasi. Mereka menginginkan masa depan yang bisa dihitung, bukan sekadar perasaan.
Raka mengerti itu. Ia tidak pernah menyalahkan siapa pun.
Yang sulit adalah menerima kenyataan bahwa cinta saja tidak selalu cukup di mata orang lain.
Ponselnya kembali menyala. Sebuah pesan masuk, bukan dari Alvara, tapi dari ibunya.
“Kamu sehat, Nak?”
Raka tersenyum kecil. Ibunya selalu tahu kapan ia sedang banyak pikiran.
“Iya, Bu. Lagi hujan aja,” balasnya singkat.
“Kamu jangan terlalu dipaksa. Hidup itu pelan pelan,” tulis ibunya lagi.
Raka menatap pesan itu lama. Ia ingin bilang bahwa ia baik baik saja. Bahwa ia kuat. Tapi di satu titik, ia juga ingin jujur.
“Ada yang aku jaga, Bu. Jadi enggak bisa cepat,” akhirnya ia mengetik.
Balasan itu tidak langsung datang. Mungkin ibunya sedang berpikir. Atau mungkin sedang tersenyum sendiri membaca pesan anaknya yang keras kepala ini.
Raka kembali menatap jendela. Hujan belum reda. Di kepalanya, wajah Alvara muncul jelas. Wajah yang akhir akhir ini sering terlihat lelah.
Ia tahu Alvara sedang berada di persimpangan. Dan ia tahu, mungkin suatu hari Alvara akan memilih jalan yang tidak melibatkan dirinya.
Pikiran itu selalu ada. Menyelinap pelan, lalu duduk di sudut hatinya tanpa izin.
Tapi Raka tidak pernah mencoba mengusirnya.
Jika cinta harus diuji dengan kemungkinan kehilangan, ia memilih tetap mencintai.
Ia ingat satu percakapan lama mereka. Saat Alvara bertanya setengah bercanda, setengah serius.
“Kamu enggak takut aku pergi?”
Raka menjawab tanpa berpikir lama.
“Takut. Tapi kalau kamu bahagia, aku enggak akan narik kamu kembali.”
Saat itu Alvara terdiam lama. Lalu tertawa kecil, tapi matanya terlihat berkaca kaca.
Malam ini, Raka kembali memikirkan jawaban itu. Ia sadar, kata kata itu bukan janji yang mudah dipegang. Tapi itu satu satunya cara ia bisa mencintai tanpa menyakiti.
Ia mengambil jaket, lalu keluar kamar sebentar. Hujan masih turun, tapi ia tidak peduli. Ia berdiri di bawah atap kos, menghirup udara dingin, membiarkan pikirannya sedikit reda.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar lagi.
Nama Alvara.
Dadanya berdebar tanpa ia sadari.
“Kamu belum tidur?” pesan itu singkat.
“Belum. Kamu juga?” balas Raka cepat.
“Aku susah merem,” jawab Alvara.
Raka tersenyum. Ia bisa membayangkan Alvara sedang memeluk bantal, menatap langit langit, dengan pikiran yang berlarian.
“Kamu mau cerita?” tanyanya hati hati.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada balasan. Raka tidak mendesak. Ia menunggu, seperti biasa.
“Aku takut capek,” akhirnya pesan itu masuk.
Raka menarik napas panjang. Ia memilih kata katanya dengan pelan, seolah menuliskannya langsung ke hati Alvara.
“Kalau capek, istirahat. Aku enggak ke mana mana.”
Tidak ada janji besar. Tidak ada rayuan. Hanya satu kalimat jujur.
Ia tahu Alvara membaca itu. Ia tahu juga, mungkin itu tidak langsung menghapus semua beban. Tapi setidaknya, Alvara tahu ada seseorang yang tidak pergi.
Malam semakin larut. Hujan mulai mereda. Raka kembali ke kamarnya, merebahkan diri di kasur sempit, menatap langit langit dengan pikiran yang masih penuh.
Ia tidak tahu bagaimana akhir cerita mereka. Ia tidak tahu apakah suatu hari ia akan menjadi pilihan, atau hanya bagian dari masa lalu yang dikenang dengan senyum pahit.
Namun satu hal yang ia tahu pasti.
Selama Alvara belum benar benar pergi, ia akan tetap berdiri di tempatnya.
Menunggu, bukan karena lemah.
Tapi karena cintanya tidak pernah setengah setengah.
Dan di sudut hatinya, ada doa yang selalu sama setiap malam.
Semoga apa pun yang Alvara pilih nanti, ia tidak merasa sendirian.
Karena Raka, sejak awal, tidak pernah benar benar meninggalkannya.
Raka memejamkan mata, tapi tidurnya tidak pernah benar benar datang. Ada jeda panjang antara sadar dan lelap, ruang kosong tempat pikirannya terus berputar.
Ia membayangkan hari ketika Alvara mungkin akan duduk berhadapan dengan orang tuanya, mendengarkan kalimat kalimat yang rapi dan meyakinkan tentang masa depan. Tentang laki laki yang aman. Tentang hidup yang tidak perlu menunggu.
Ia membayangkan Alvara tersenyum sopan, mengangguk pelan, sambil menyimpan ragu di dadanya.
Raka tidak ada di sana.
Ia hanya bisa berada di sini, di kamar kecil dengan lampu redup, mencintai dari jauh tanpa suara.
Ada bagian dari dirinya yang ingin marah pada keadaan. Ingin bertanya kenapa cinta harus selalu diuji dengan hitungan logis. Tapi semakin dewasa, Raka semakin paham bahwa hidup jarang memberi pilihan yang benar benar adil.
Ia bangkit, duduk di tepi kasur, lalu mengambil dompet usang dari laci. Di dalamnya, ada foto lama yang sudah mulai pudar. Foto dirinya dan Alvara bertahun tahun lalu, di sebuah tempat sederhana, dengan senyum yang masih polos.
Raka mengusap foto itu dengan ibu jarinya.
“Aku masih di sini,” bisiknya pelan, entah pada siapa.
Ia tidak tahu apakah kesetiaannya akan dibalas dengan akhir yang bahagia. Ia hanya tahu, jika suatu hari Alvara menoleh ke belakang, ia ingin tetap ada. Bukan sebagai tuntutan, tapi sebagai bukti bahwa cinta pernah dijaga dengan sungguh sungguh.
Ponselnya kembali menyala. Kali ini hanya satu pesan singkat dari Alvara.
“Terima kasih sudah nunggu.”
Raka menatap layar itu lama. Dadanya terasa hangat sekaligus perih.
Ia membalas pelan.
“Aku enggak keberatan.”
Dan setelah itu, ia mematikan ponsel, membiarkan sunyi kembali mengisi ruang. Karena di lubuk hatinya, Raka tahu, penantian ini belum selesai.
Bahkan mungkin, baru saja dimulai.