Bab 5 : Pertemuan dengan Arga
“Ayah mau kamu ketemu seseorang besok.”
Kalimat itu terdengar biasa saja. Diucapkan sambil lalu, di sela suara sendok yang beradu dengan piring saat makan malam. Tapi entah kenapa, dada Alvara langsung terasa sempit.
Ia menatap ayahnya pelan. Lalu ke ibunya, yang sejak tadi terlalu sibuk merapikan nasi di piring, seolah itu hal terpenting di dunia.
“Ketemu siapa?” tanya Alvara, berusaha terdengar santai.
Ibunya tersenyum kecil. Senyum yang terlalu rapi untuk sesuatu yang katanya tidak penting.
“Teman ayah. Anaknya juga sudah kerja. Baik, sopan, mapan.”
Mapan.
Kata itu jatuh di meja makan seperti benda berat. Tidak berbunyi keras, tapi cukup untuk membuat Alvara kehilangan selera.
“Oh,” jawabnya singkat.
Ayahnya meneguk air putih, lalu menatap Alvara dengan ekspresi yang tidak asing. Ekspresi orang tua yang merasa sudah cukup lama bersabar.
“Kamu kan sudah bukan anak kecil, Var,” katanya. “Sudah waktunya mikir serius.”
Alvara menunduk. Nasi di piringnya masih utuh. Ia tahu, pembicaraan ini tidak akan berhenti di satu kalimat.
“Iya, Yah,” katanya akhirnya. “Aku cuma ketemu aja, kan?”
Ibunya mengangguk cepat. “Iya. Ketemu aja dulu. Ngobrol. Enggak ada yang maksa.”
Kalimat itu terdengar menenangkan. Tapi Alvara tahu, di balik kata kata lembut itu ada harapan besar yang diam diam digantungkan di pundaknya.
Malam itu, di kamar, Alvara duduk di tepi ranjang sambil memandangi ponselnya. Nama Raka ada di layar, tapi jarinya tidak bergerak.
Ia ingin cerita. Ia ingin mengeluh. Ia ingin bilang kalau ia takut.
Tapi ada perasaan bersalah yang menahannya. Seolah dengan menceritakan ini saja, ia sudah mengkhianati sesuatu.
“Aku cuma ketemu,” katanya pelan pada dirinya sendiri. “Aku enggak janji apa apa.”
Pesan dari Raka masuk beberapa menit kemudian.
“Kamu lagi sibuk ya?”
Alvara menutup mata sejenak sebelum membalas.
“Iya. Agak capek.”
Jawaban Raka datang tidak lama.
“Kalau butuh apa apa, bilang.”
Kalimat sederhana itu membuat tenggorokan Alvara tercekat. Ia mengetik, menghapus, lalu akhirnya hanya membalas dengan emoji senyum kecil.
Besoknya, Alvara duduk di sebuah kafe yang terlalu terang untuk hatinya yang sedang tidak tenang. Ibunya duduk di sampingnya, tampak rapi dan bersemangat. Ayahnya duduk berhadapan, wajahnya tenang, seolah ini hanya pertemuan biasa.
Laki laki itu datang tepat waktu.
Arga.
Begitu ayahnya menyebut nama itu, Alvara langsung tahu ini bukan pertemuan sembarangan.
Arga berpakaian rapi, kemeja bersih, jam tangan mahal di pergelangan. Senyumnya sopan, tidak berlebihan. Cara duduknya tegak, cara bicaranya teratur.
“Selamat sore, Om, Tante,” sapa Arga. “Maaf kalau saya terlambat sedikit.”
“Enggak apa apa,” jawab ibunya cepat. “Silakan duduk.”
Arga lalu menoleh ke Alvara. Tatapannya hangat, tapi tidak mengganggu.
“Halo, Alvara,” katanya. “Senang akhirnya bisa ketemu.”
Alvara membalas senyum itu dengan sopan. “Halo.”
Mereka mengobrol. Tentang pekerjaan Arga. Tentang keluarga. Tentang hal hal ringan yang aman dibicarakan. Arga menjawab semua pertanyaan dengan tenang, percaya diri, tanpa terlihat ingin pamer.
Ia mapan. Itu tidak bisa disangkal.
Dan justru itu yang membuat Alvara merasa semakin asing.
Di sela obrolan, Alvara memperhatikan ibunya yang tampak puas. Ayahnya sesekali mengangguk, seperti sedang menilai dan memberi nilai baik di kepalanya.
Sementara Alvara sendiri merasa seperti penonton dalam hidupnya sendiri.
“Alvara kerja di bidang kreatif, ya?” tanya Arga padanya.
“Iya,” jawab Alvara. “Lebih ke sana.”
“Menarik,” kata Arga tulus. “Aku selalu kagum sama orang yang bisa kerja pakai perasaan.”
Kalimat itu seharusnya terdengar manis. Tapi entah kenapa, Alvara justru teringat Raka. Tentang caranya mendengarkan. Tentang caranya memahami tanpa banyak bicara.
Ia tersenyum kecil. “Terima kasih.”
Setelah hampir satu jam, pertemuan itu berakhir. Di mobil, ibunya tampak jauh lebih cerah dari biasanya.
“Gimana?” tanyanya, pura pura santai.
Alvara menatap keluar jendela. Jalanan sore terlihat biasa saja, tapi hatinya terasa penuh.
“Dia baik,” jawabnya jujur.
Ibunya tersenyum lebar. “Iya, kan? Ayah sama Ibu juga suka.”
Alvara tidak menimpali. Kata baik terasa terlalu ringan untuk menimbang sesuatu yang begitu besar.
Malamnya, Alvara duduk sendirian di kamar. Ponselnya kembali ada di tangannya. Kali ini, ia membuka chat Raka.
Ia mengetik pelan.
“Aku hari ini ketemu seseorang.”
Pesan itu terkirim. Detik demi detik terasa panjang.
Balasan Raka datang setelah beberapa saat.
“Oh ya? Gimana orangnya?”
Pertanyaan itu sederhana. Tidak ada nada curiga. Tidak ada tuntutan. Justru itu yang membuat dada Alvara semakin sesak.
“Baik,” balasnya. “Keluargaku suka.”
Titik tiga muncul lama di layar sebelum akhirnya menghilang. Lalu pesan Raka masuk.
“Kalau kamu gimana?”
Alvara memandangi pertanyaan itu lama. Ia ingin jujur. Ia ingin bilang kalau hatinya kacau. Tapi ia juga takut, kejujuran itu akan melukai.
“Aku belum tahu,” akhirnya ia menulis. “Aku cuma lagi capek mikir.”
Raka membalas tidak lama.
“Istirahat ya. Jangan paksa diri kamu.”
Kalimat itu membuat air mata Alvara jatuh tanpa suara. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan tangis kecil itu keluar.
“Kenapa kamu selalu bikin aku susah pergi,” bisiknya.
Malam itu, Alvara menyadari sesuatu yang membuatnya takut.
Arga adalah pilihan yang masuk akal. Aman. Diterima.
Tapi Raka adalah rumah yang selama ini ia tinggali dengan perasaan.
Dan untuk pertama kalinya, Alvara benar benar merasa, hatinya mulai retak di tengah.
Ia menatap ponsel sekali lagi, lalu mengetik satu kalimat yang tidak ia kirimkan.
“Aku enggak tahu harus milih siapa.”
Alvara akhirnya menghapus kalimat itu.
Layar ponselnya kembali kosong, sebersih wajahnya di cermin yang sama sekali tidak mencerminkan apa yang sedang berkecamuk di dalam dada. Ia meletakkan ponsel di samping bantal, lalu berbaring telentang, menatap langit langit kamar yang gelap.
“Kenapa semuanya harus sesulit ini,” gumamnya pelan.
Di luar kamar, ia bisa mendengar suara ibunya berbicara dengan ayahnya. Tidak jelas apa yang dibicarakan, tapi sesekali terdengar tawa kecil yang membuat jantung Alvara berdegup tidak nyaman. Tawa orang tua yang merasa satu langkah lebih dekat pada rencana besar mereka.
Ia menarik selimut sampai ke dada. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak ikut diam.
Wajah Arga muncul, dengan senyum sopan dan hidup yang rapi. Lalu berganti dengan wajah Raka, dengan tatapan yang selalu membuatnya merasa aman tanpa perlu menjelaskan apa pun.
“Aku capek,” bisiknya lagi. “Aku cuma mau tenang.”
Tapi bahkan kalimat itu terasa seperti permintaan yang terlalu besar.
Di sisi lain kota, tanpa Alvara tahu, Raka duduk sendirian di kamar sempitnya, menatap layar ponsel yang sama. Pesan terakhir Alvara masih terbuka. Ia membaca ulang kalimat pendek itu, mencoba tidak menarik kesimpulan apa apa.
Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan ponsel terbalik di meja.
“Kalau ini jalannya,” katanya pada dirinya sendiri, “aku harus kuat.”
Sementara itu, Alvara memejamkan mata, tanpa tahu bahwa sejak malam itu, langkah hidupnya mulai benar benar berubah arah.
Dan ia belum siap untuk apa yang akan ia korbankan selanjutnya.