Drama

Keputusan Berat

21 January 2026

Bab 6 : Keputusan Berat

“Var, kamu jangan tutup mata terus sama kenyataan.”

Kalimat itu keluar dari mulut ibunya suatu pagi, ketika Alvara baru saja menaruh cangkir teh di meja. Nada suaranya tidak tinggi. Tidak marah. Justru terlalu tenang untuk sesuatu yang menyakitkan.

Alvara berhenti bergerak. Tangannya masih menggenggam gagang cangkir.

“Kenyataan yang mana, Bu?” tanyanya pelan.

Ibunya duduk berhadapan dengannya, merapikan lengan baju seolah sedang mempersiapkan diri untuk percakapan panjang. Ayahnya duduk di ujung meja, membaca koran, tapi jelas telinganya tidak benar benar sibuk dengan berita.

“Kenyataan bahwa kamu sudah besar,” lanjut ibunya. “Dan hidup itu enggak cukup cuma pakai perasaan.”

Alvara menghela napas pelan. Kalimat seperti ini bukan hal baru. Tapi entah kenapa, hari itu rasanya lebih berat.

“Aku enggak pernah bilang hidup cuma pakai perasaan,” jawabnya. “Aku cuma pengin diberi waktu.”

Ibunya tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.

“Kamu sudah diberi waktu,” katanya. “Tujuh tahun itu bukan sebentar, Var.”

Tujuh tahun.

Angka itu kembali menghantam kepalanya.

Ayahnya akhirnya menurunkan koran. “Kami bukan mau jahat,” katanya. “Kami cuma enggak mau kamu salah pilih.”

Alvara menatap ayahnya. “Salah menurut siapa, Yah?”

Ayahnya terdiam sejenak. “Menurut kehidupan.”

Jawaban itu membuat dada Alvara terasa kosong. Seolah semua yang ia jaga selama ini bisa dipadatkan menjadi satu kata sederhana yang tidak bisa ia bantah.

Ia berdiri, membawa cangkirnya ke wastafel, meski tehnya belum habis. Ia butuh alasan untuk menjauh sejenak.

Di kamar, Alvara duduk di lantai, bersandar pada ranjang. Ponselnya tergeletak di sampingnya. Ada pesan dari Raka yang belum ia buka sejak tadi malam.

“Aku selalu ada kalau kamu mau cerita.”

Kalimat itu seperti tali yang menahannya agar tidak jatuh sepenuhnya. Tapi di saat yang sama, membuatnya merasa bersalah.

“Aku capek bikin kamu nunggu,” bisiknya.

Hari hari berikutnya terasa berjalan terlalu cepat. Nama Arga semakin sering disebut di rumah. Undangan makan malam. Pertemuan keluarga. Rencana yang dibicarakan seolah sudah pasti.

Arga sendiri tidak pernah bersikap memaksa. Justru itu yang membuatnya semakin sulit dibenci.

“Kamu kelihatan capek,” kata Arga suatu sore saat mereka duduk di kafe yang sama seperti pertemuan pertama.

“Sedikit,” jawab Alvara jujur.

“Kalau kamu merasa enggak nyaman, kamu bisa bilang,” kata Arga. “Aku enggak mau jadi beban.”

Kalimat itu membuat Alvara terdiam. Ia menatap wajah Arga yang tenang. Tidak ada tuntutan. Tidak ada drama. Semua terasa rapi.

“Terima kasih,” katanya akhirnya. “Kamu baik.”

Arga tersenyum kecil. “Aku cuma pengin jujur dari awal.”

Kata jujur itu menusuk pelan. Karena Alvara tahu, ia sendiri belum sepenuhnya jujur. Pada Arga. Pada orang tuanya. Bahkan pada dirinya sendiri.

Malam itu, Alvara akhirnya menghubungi Raka.

Mereka tidak langsung bicara tentang Arga. Seperti biasa, Raka membiarkan percakapan mengalir pelan. Tentang hari Alvara. Tentang hal hal kecil.

Sampai akhirnya Alvara berkata, “Orang tuaku makin serius.”

Raka terdiam sejenak di seberang sana. “Serius ke arah mana?”

“Arah yang mereka mau,” jawab Alvara.

“Arah yang kamu mau?” tanya Raka pelan.

Pertanyaan itu membuat tenggorokan Alvara tercekat. Ia memejamkan mata.

“Aku enggak tahu,” katanya jujur. “Aku cuma capek.”

Raka tidak langsung menjawab. Ketika suaranya terdengar lagi, nadanya lebih pelan dari biasanya.

“Kalau kamu butuh pergi, aku enggak akan nahan,” katanya. “Aku cuma pengin kamu bahagia.”

Kalimat itu bukan membebaskan. Justru sebaliknya. Itu seperti pisau yang memotong perlahan.

“Kenapa kamu selalu begitu?” suara Alvara bergetar. “Kenapa kamu enggak marah aja?”

Raka tertawa kecil. Tawa yang terdengar pahit.

“Karena aku cinta kamu,” jawabnya. “Dan cinta itu bukan soal menang.”

Air mata Alvara jatuh. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak yang tidak ingin ia dengarkan sendiri.

Setelah panggilan itu berakhir, Alvara duduk lama dalam gelap. Tidak ada pesan lanjutan. Tidak ada janji. Hanya sunyi yang menempel di kulitnya.

Beberapa hari kemudian, ibunya datang ke kamar Alvara membawa kotak kecil.

“Apa ini?” tanya Alvara.

“Cincin,” jawab ibunya pelan. “Bukan lamaran. Cuma tanda keseriusan.”

Alvara menatap kotak itu tanpa membukanya.

“Bu,” katanya lirih, “kalau aku bilang aku belum siap?”

Ibunya duduk di tepi ranjang. Menggenggam tangan Alvara.

“Kamu siap atau tidak, hidup akan tetap jalan,” katanya lembut. “Ibu cuma enggak mau kamu sendirian nanti.”

Kalimat itu menghancurkan pertahanan terakhir Alvara.

Ia membayangkan masa depan yang orang tuanya tawarkan. Aman. Stabil. Tidak perlu khawatir soal uang atau status. Hidup yang rapi.

Lalu ia membayangkan Raka. Perjuangan yang belum jelas ujungnya. Cinta yang hangat, tapi penuh ketidakpastian.

Untuk pertama kalinya, Alvara merasa benar benar sendirian dalam memilih.

Malam itu, ia menulis pesan panjang untuk Raka. Ia mengetik dengan tangan gemetar, berhenti berkali kali, menghapus, menulis lagi.

“Aku capek berjuang sendirian. Aku capek jadi kuat terus. Aku enggak tahu apakah aku sanggup melawan semuanya lebih lama.”

Ia menatap layar lama sebelum akhirnya menekan kirim.

Balasan Raka datang tidak lama.

“Aku ngerti.”

Dua kata itu membuat Alvara menangis lebih keras dari sebelumnya.

Keesokan harinya, Alvara mengangguk ketika ayahnya bertanya, “Kamu sudah pikirkan?”

“Iya,” jawabnya pelan.

Ibunya memeluknya. Ayahnya menghela napas lega.

Tidak ada sorak sorai. Tidak ada rasa menang.

Hanya kekosongan yang menyebar pelan di dada Alvara.

Malam itu, ia berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri.

“Aku menyerah,” katanya pelan. “Bukan karena aku enggak cinta. Tapi karena aku sudah terlalu lelah.”

Dan di luar kamarnya, dunia tetap berjalan seperti biasa.

Tanpa tahu bahwa satu hati telah memilih jalan yang tidak pernah benar benar ia inginkan.

Malam semakin larut ketika Alvara akhirnya memberanikan diri membuka ponselnya lagi. Tidak ada pesan baru dari Raka. Nama itu hanya diam di daftar chat, seperti sesuatu yang masih ada tapi tidak lagi disentuh.

Ia menatap layar lama, lalu mengetik satu kalimat pendek.

“Aku minta maaf.”

Pesan itu terkirim. Tidak ada tambahan. Tidak ada penjelasan.

Alvara meletakkan ponsel di atas meja, lalu menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak, tapi anehnya, juga hampa. Seolah setelah berhari hari bertarung, ia akhirnya menjatuhkan senjata.

Di luar kamar, suara televisi terdengar pelan. Ibunya tertawa kecil pada sesuatu yang tidak Alvara dengar. Hidup di rumah itu berjalan normal, seolah tidak ada apa apa yang baru saja ia korbankan.

Ia berbaring, memejamkan mata, berusaha tidur.

Namun satu kalimat terus berputar di kepalanya.

“Aku sudah memilih.”

Dan untuk pertama kalinya, kalimat itu terdengar seperti perpisahan.