Ledakan itu tidak terdengar seperti suara. Ia terasa seperti pukulan godam raksasa tepat di dada.
Gelombang kejut dari meledaknya Jantung Gunung menghantam punggung Naya dan Reza, melemparkan mereka melayang di udara lorong sempit itu seperti daun kering di tengah badai. Mereka menghantam dinding daging yang licin dengan keras, terguling-guling di atas lantai lendir yang kini berguncang hebat seolah sedang mengalami kejang epilepsi.
BLARRRRRR... KRAKKK!
Di belakang mereka, pintu besi tebal yang memisahkan "Katedral Organik" dengan dunia luar melengkung keluar, lalu jebol. Lidah api biru bercampur gas metana menyembur dari celah itu, menjilat-jilat rakus, mengejar oksigen apa pun yang tersisa di lorong.
"Lari, Za! Jangan berhenti!" teriak Naya, suaranya parau tertelan gemuruh runtuhnya bebatuan.
Reza tidak perlu disuruh dua kali. Dia merangkak bangkit, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dan memacu kakinya berlari menyusuri lorong "usus" yang kini mulai menyempit.
Dinding-dinding lorong itu bereaksi terhadap kematian induknya. Daging sintetik yang melapisi dinding mulai membusuk dengan kecepatan tinggi. Warnanya berubah dari merah muda segar menjadi abu-abu layu, lalu hitam pekat. Cairan lindi yang tadinya berfungsi sebagai pelumas kini mengering, membuat dinding itu retak dan berjatuhan dalam bongkahan-bongkahan besar.
Gunung itu tidak hanya runtuh; dia sedang mati. Dan proses kematiannya sangat mengerikan.
"Arah mana, Nay?! Lorongnya berubah!" teriak Reza panik.
Jalan yang mereka lewati saat masuk tadi—lorong yang dipandu Bu Siti—kini telah berubah bentuk. Otot-otot dinding yang kejang telah menutup beberapa persimpangan dan membuka celah-celah baru yang menganga menuju kegelapan tak berdasar.
Naya berhenti sejenak, menutup telinganya yang berdenging. Dia mencoba mengabaikan kekacauan fisik di sekitarnya dan fokus pada "peta" di dalam kepalanya. Koneksinya dengan gunung ini belum putus sepenuhnya, meski sinyalnya kini kacau balau dan penuh jeritan kesakitan.
Sakit... Panas... Kenapa kamu membakar Ibu?
Suara itu meratap di kepala Naya. Bukan lagi suara dominan yang memerintah, melainkan suara lirih, pecah, dan penuh ketakutan. Suara seorang anak kecil yang terperangkap dalam tubuh raksasa yang terbakar.
"Ke kanan!" Naya menunjuk sebuah retakan besar di dinding yang mengeluarkan asap uap panas. "Itu jalur ventilasi lama! Tembusnya ke alun-alun Sindang Lama!"
Mereka melompat masuk ke retakan itu.
Jalur itu curam dan kasar. Mereka harus memanjat bebatuan tajam dan sisa-sisa sampah yang memadat. Di bawah mereka, lindi hitam mulai naik. Banjir bandang beracun sedang mengejar. Ledakan di Jantung telah merusak waduk penyimpanan bawah tanah, dan jutaan liter limbah cair kini mencari jalan keluar.
"Cepetan, Za! Airnya naik!"
Reza memanjat sekuat tenaga, jari-jarinya berdarah mencengkeram batu. Naya berada di bawahnya, mendorong bokong Reza setiap kali temannya itu tergelincir, menggunakan kekuatan kaki bioniknya sebagai penopang hidup.
Saat mereka memanjat, suara ratapan di kepala Naya berubah menjadi memori.
Di tengah kekacauan itu, Naya melihat sekilas kilasan-kilasan gambar di benaknya. Bukan gambar kekerasan tahun 65. Bukan gambar pembantaian.
Tapi gambar... kesepian.
Dia melihat Organisme X—si Sampel X itu—saat pertama kali jatuh ke bumi ratusan tahun lalu. Sendirian di kawah meteorit yang dingin. Dia tidak punya teman. Dia tidak punya bentuk. Dia hanya sekumpulan sel yang rindu akan kehangatan.
Dia melihat bagaimana organisme itu mencoba "menyentuh" cacing tanah, akar pohon, tikus... hanya untuk merasakan koneksi. Dia tidak membunuh karena jahat. Dia membunuh karena dia tidak mengerti konsep individualitas. Baginya, menyatukan makhluk lain ke dalam dirinya adalah bentuk cinta tertinggi. Menjadi satu. Tidak lagi sendiri.
"Ya Tuhan..." gumam Naya di sela napasnya. "Dia kesepian."
"Siapa?!" teriak Reza dari atas.
"Gunung ini!" Naya mencengkeram batu yang panas. "Semua ini... tumpukan sampah ini, mayat-mayat ini... dia cuma ngumpulin 'teman'. Dia bikin koloni karena dia takut sendirian di gelap!"
"Simpen simpatinya buat nanti, Nay! 'Teman-teman' dia lagi nyoba nenggelemin kita!"
Reza benar. Lindi hitam itu naik dengan cepat, mendesis saat menyentuh bebatuan panas. Baunya membuat mata perih.
Mereka akhirnya mencapai ujung retakan itu. Sebuah lubang yang menembus lantai ubin pecah.
Mereka merangkak keluar, kembali ke Alun-Alun Sindang Lama. Tempat di mana Naya tadi bertarung melawan Pak Karta.
Tapi tempat itu sudah tidak bisa dikenali.
Pohon beringin hitam raksasa di tengah alun-alun itu sedang terbakar hebat. Apinya bukan oranye, melainkan ungu—hasil pembakaran gas metana dan zat kimia misterius di dalam tubuh pohon. Ranting-ranting plastiknya meleleh, meneteskan hujan api cair ke kolam di bawahnya.
Dan kerangka-kerangka manusia yang tertanam di batang pohon itu... mereka menjerit.
Mulut tulang mereka terbuka lebar, mengeluarkan suara uap bertekanan tinggi yang terdengar seperti jeritan manusia.
KIIIIIIK....
"Kita harus manjat pohon itu!" Naya menunjuk ke atas. "Batangnya nembus ke permukaan! Itu satu-satunya lift kita!"
"Manjat pohon yang lagi kebakar?!" Reza menatap Naya tak percaya. "Lo mau kita jadi sate?"
"Apinya cuma di ranting luar! Batang intinya masih basah sama lindi! Ayo!"
Naya tidak menunggu persetujuan. Dia berlari menerobos hujan abu, melompati retakan tanah yang mulai menganga lebar. Reza mengumpat panjang pendek, lalu berlari menyusul sambil menutupi kepalanya dengan sisa tas selempangnya.
Mereka mencapai kaki pohon beringin itu. Panasnya luar biasa. Bulu tangan Reza langsung hangus.
"Naik di sisi utara! Yang itu belum kena api!" komando Naya.
Mereka mulai memanjat. Batang pohon itu licin dan berdenyut, seperti memanjat otot raksasa. Naya menggunakan tangan besinya untuk menancap ke dalam batang, membuat pijakan bagi Reza.
Setiap kali Naya menancapkan jarinya, pohon itu bergetar dan mengerang.
Saat mereka mencapai ketinggian sepuluh meter—setengah jalan menuju atap gua—sesuatu menahan kaki Naya.
Bukan akar.
Sebuah tangan. Tangan manusia yang masih utuh, mengenakan daster bunga-bunga.
Naya menoleh ke bawah.
Ibunya.
Bu Siti sedang memanjat di belakang mereka. Tapi dia tidak sendirian. Di belakang Bu Siti, puluhan "tamu makan malam" dari gua sebelah ikut memanjat. Mereka saling menindih, saling injak, membentuk gundukan manusia (atau mayat hidup) yang merayap naik seperti semut api.
Tubuh Bu Siti sudah setengah hancur. Kulit wajahnya meleleh, memperlihatkan plastik abu-abu di bawahnya. Tapi cengkeramannya kuat.
"Jangan pergi, Naya..." rintih Bu Siti. "Di atas dingin... Di sini hangat... Ibu takut..."
Itu adalah momen terberat dalam hidup Naya. Melihat wajah ibunya yang memelas, ketakutan, memohon perlindungan.
Insting anaknya ingin berhenti. Ingin memeluk ibunya. Ingin bilang "Nggak apa-apa, Bu".
Tapi Naya melihat mata ibunya. Mata itu bukan mata Bu Siti. Itu mata ribuan jiwa yang terjebak, mata sang Monster Kesepian yang sedang mencari teman mati untuk menemaninya ke neraka.
"Maafin Naya, Bu," bisik Naya, air matanya menguap karena panas api. "Ibu udah lama pergi. Naya harus relain Ibu."
Naya mengangkat kaki bioniknya.
"Tidur yang nyenyak."
Naya menendang wajah ibunya.
KRAK.
Pegangan Bu Siti terlepas. Tubuhnya terlempar ke belakang, menabrak kerumunan mayat di bawahnya. Mereka semua jatuh berguling-guling, kembali ke dalam kolam lindi yang kini mulai mendidih dan terbakar.
Naya tidak melihat ke bawah lagi. Dia memanjat dengan kesetanan.
"Ayo, Za! Jangan liat bawah! Terus!"
Reza, yang melihat kejadian itu dengan horor, memacu dirinya. Dia tahu betapa hancurnya hati Naya saat ini, dan dia berjanji pada dirinya sendiri: Kalau kita selamat, gue bakal traktir anak ini makan enak seumur hidup.
Mereka terus memanjat. Asap makin tebal, membuat mereka batuk-batuk hebat. Oksigen menipis.
Lima meter lagi. Tiga meter.
Di atas mereka, atap gua yang terbuat dari jalinan sampah padat mulai retak. Cahaya matahari pagi—cahaya asli, bukan lampu LED—menembus masuk lewat celah-celah sampah.
"Cahaya!" teriak Reza.
Tapi batang pohon tempat mereka berpijak mulai miring. Fondasinya di bawah sudah hancur. Pohon beringin raksasa itu akan tumbang, membawa mereka jatuh kembali ke dalam kawah api.
"Lompat, Za!" teriak Naya. "Raih akar gantung di atap gua!"
Ada akar pohon beringin asli dari permukaan yang menembus lapisan sampah.
Reza melompat. Tangannya berhasil meraih akar itu. Dia bergelantungan di udara.
Naya melompat menyusul. Tapi dia lebih berat karena kaki besinya. Akar yang dia pegang putus.
"NAYA!" Reza mengulurkan tangannya.
Naya sempat meraih pergelangan tangan Reza.
BUGH.
Sentakan itu nyaris mencopot bahu Reza. Dia mengerang kesakitan, menahan bobot tubuh Naya dan dirinya sendiri hanya dengan satu tangan yang mencengkeram akar licin.
Naya bergelantungan di bawah Reza. Di bawah kakinya, pohon beringin hitam itu tumbang dengan suara gemuruh dahsyat, jatuh ke dalam lautan api ungu. Ledakan panas menyembur ke atas, menjilat sol sepatu Naya.
"Lepasin gue, Za," kata Naya, melihat wajah Reza yang memerah menahan sakit. "Lo nggak kuat."
"Diem lo!" Reza mengertakkan gigi, urat lehernya menonjol. "Gue lulusan Teknik Sipil! Gue ngerti soal beban struktur! Dan struktur tangan gue... masih... kuat!"
Dengan teriakan primal, Reza menarik Naya ke atas, inci demi inci. Naya membantu dengan menancapkan tangan besinya ke dinding tanah di samping mereka.
Mereka merayap naik melalui lubang sempit itu, menerobos lapisan tanah, sampah plastik, dan akar-akar liar.
Sampai akhirnya... tangan mereka menyentuh rumput.
Rumput hijau yang layu, tapi asli.
Mereka menarik tubuh mereka keluar dari lubang itu, berguling di atas tanah yang padat dan dingin.
Angin pagi yang segar—meski masih berbau asap—menerpa wajah mereka.
Mereka berhasil keluar.
Mereka terbaring telentang di tengah-tengah area Hutan Sampah Tua, di belakang reruntuhan pabrik tekstil yang kini sudah amblas sepenuhnya menjadi kawah raksasa.
Naya menatap langit. Matahari baru saja terbit, sinarnya oranye kemerahan menembus kabut debu.
"Kita... keluar..." desah Reza, suaranya pecah antara tawa dan tangis.
Naya tidak menjawab. Dia hanya menatap asap hitam yang membumbung tinggi dari kawah di depan mereka. Gunung itu sedang runtuh ke dalam dirinya sendiri (imploding).
Tapi Naya tahu ini belum berakhir.
Tanah di sekitar mereka bergetar pelan. Bukan getaran runtuh.
Naya bangkit duduk, waspada. Dia melihat ke sekeliling hutan.
Dari balik pepohonan, muncul sosok-sosok berjalan.
Bukan mayat. Bukan zombi.
Itu adalah warga desa yang tersisa di permukaan. Mereka yang belum sempat masuk ke dalam gunung. Mereka berdiri mengelilingi Naya dan Reza dengan tatapan kosong.
Koneksi induk memang sudah putus. Dr. Suryo sudah mati. Jantung sudah meledak.
Tapi larva plastik di tubuh mereka masih ada. Dan tanpa pemimpin pusat, larva-larva itu sekarang berada dalam mode survival murni.
Mode: Kill all threats.
Ratusan pasang mata putih menatap Naya dan Reza.
Reza perlahan bangkit, mengambil sebatang besi rongsokan dari tanah. "Kayaknya pesta perpisahannya belum selesai, Nay."
Naya berdiri. Kaki kanannya masih bersinar redup, sisa-sisa energi terakhir.
"Nggak," kata Naya. "Ini bukan pesta perpisahan. Ini pembersihan."
Di kejauhan, sirine mobil polisi sayup-sayup terdengar mendekat dari jalan raya. Dunia luar akhirnya datang. Tapi pertanyaan besarnya: apakah mereka datang untuk menyelamatkan, atau untuk mengkarantina?
(Bersambung ke Bab 21)