Bab 7 : Perpisahan
Alvara tahu hari itu akan datang sejak ia menekan tombol kirim semalam. Dua kata yang terasa terlalu kecil untuk sesuatu yang begitu besar.
“Aku minta maaf.”
Sejak pesan itu terkirim, tidak ada balasan. Tidak ada telepon. Tidak ada tanda bahwa Raka sedang marah atau kecewa. Dan justru itu yang membuat dada Alvara terasa lebih sakit.
Pagi itu, ia bangun lebih awal dari biasanya. Rumah masih sepi. Ibunya belum ke dapur. Ayahnya belum berangkat kerja. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan di langit langit.
Alvara duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri.
“Ini benar,” katanya pada dirinya sendiri. “Aku harus melakukannya.”
Tapi tubuhnya tidak sepenuhnya setuju.
Tangannya gemetar saat ia mengambil ponsel. Ia membuka chat Raka lagi. Pesan terakhir darinya masih sama, tidak berubah.
“Aku ngerti.”
Ia menarik napas panjang, lalu mengetik.
“Kita bisa ketemu hari ini?”
Beberapa menit berlalu tanpa jawaban. Alvara menatap layar seperti menunggu tanda hidup. Jantungnya berdegup terlalu keras untuk pagi yang tenang.
Akhirnya, balasan itu datang.
“Bisa. Sore ini.”
Tidak ada emotikon. Tidak ada tambahan.
Alvara menutup mata. Dadanya terasa makin sempit, tapi ia tahu, ia sendiri yang meminta ini.
Sore itu, mereka bertemu di tempat yang paling sering mereka datangi dulu. Kedai kopi kecil dekat taman, dengan kursi kayu yang sudah sedikit usang dan jendela besar menghadap jalan.
Tempat yang terlalu penuh kenangan.
Raka sudah duduk lebih dulu ketika Alvara datang. Ia mengenakan kemeja sederhana, seperti biasa. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya tidak sepenuhnya menyembunyikan lelah.
“Hai,” sapa Alvara pelan.
“Hai,” jawab Raka, berdiri sebentar sebelum duduk kembali.
Mereka duduk berhadapan. Ada jarak kecil di antara mereka yang dulu tidak pernah terasa.
“Pesan apa?” tanya Raka.
“Terserah kamu,” jawab Alvara.
Raka mengangguk, lalu memesan kopi hitam untuk dirinya dan teh hangat untuk Alvara. Ia masih ingat kebiasaan kecil itu. Dan Alvara hampir menangis karenanya.
Mereka diam cukup lama. Tidak canggung, tapi berat.
“Aku baca pesan kamu,” kata Raka akhirnya.
“Iya,” jawab Alvara. “Aku tahu itu enggak cukup.”
“Enggak apa apa,” kata Raka. “Kadang dua kata lebih jujur dari seribu penjelasan.”
Alvara menggigit bibirnya. “Aku enggak tahu harus mulai dari mana.”
“Kamu bisa mulai dari jujur,” jawab Raka lembut.
Alvara mengangguk. Tangannya saling menggenggam di atas meja.
“Aku capek,” katanya. “Aku capek jadi orang yang harus kuat terus. Aku capek melawan.”
Raka menatapnya, tidak menyela.
“Orang tuaku makin menekan,” lanjut Alvara. “Mereka mau aku aman. Mereka mau masa depan yang jelas. Dan aku… aku mulai merasa sendirian.”
“Kamu enggak sendirian,” kata Raka cepat.
Alvara tersenyum kecil, getir. “Aku tahu kamu ada. Tapi dunia mereka enggak menganggap itu cukup.”
Raka terdiam. Tangannya mengepal pelan di pangkuan.
“Aku sudah berusaha,” katanya pelan. “Aku masih berusaha.”
“Aku tahu,” suara Alvara bergetar. “Dan justru itu yang bikin aku sakit.”
Ia menunduk. Air mata jatuh ke meja, cepat cepat ia hapus.
“Aku enggak pergi karena aku enggak cinta,” katanya lirih. “Aku pergi karena aku sudah terlalu lelah.”
Sunyi turun di antara mereka. Suara mesin kopi di dalam kedai terdengar samar.
Raka menarik napas panjang. Ketika ia bicara lagi, suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang retak di dalamnya.
“Jadi ini akhirnya?”
Alvara mengangguk pelan.
“Iya.”
Satu kata. Tapi cukup untuk meruntuhkan tujuh tahun.
Raka tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Kalau ini yang kamu pilih,” katanya, “aku enggak akan nahan.”
Alvara mendongak. “Kamu enggak marah?”
Raka menggeleng. “Marah enggak akan bikin kamu kembali.”
Air mata Alvara jatuh lagi. “Aku benci kamu karena selalu sebaik ini.”
Raka tertawa kecil, pahit. “Aku juga benci diri aku sendiri karena masih cinta.”
Mereka terdiam lagi.
Di dalam hati Raka, ada ribuan kalimat yang ingin ia ucapkan. Tentang takut. Tentang cemburu. Tentang betapa tidak adil rasanya kalah dari sesuatu yang tidak bisa ia lawan.
Tapi semua itu ia telan sendiri.
Ia menatap Alvara lama. Perempuan yang ia cintai sejak masih belajar dewasa. Perempuan yang pesonanya tidak pernah memudar, bahkan saat menangis.
“Aku cuma mau bilang satu hal,” kata Raka akhirnya.
Alvara mengangkat wajahnya. “Apa?”
Raka menelan ludah. Kata kata itu sudah lama ada di kepalanya, tapi baru sekarang menemukan jalan keluar.
“Kalau suatu hari kamu jadi janda,” katanya pelan, “aku akan tetap menunggumu.”
Kalimat itu jatuh pelan, tanpa nada marah, tanpa ancaman. Lebih seperti doa yang salah tempat.
Alvara membeku.
“Apa?” bisiknya.
Raka tersenyum kecil, getir. “Aku enggak berharap itu terjadi. Aku cuma mau kamu tahu, perasaanku enggak berubah.”
Kata kata itu menghantam Alvara lebih keras dari apa pun yang ia bayangkan. Dadanya terasa sesak.
“Itu enggak adil,” katanya, suaranya pecah.
“Aku tahu,” jawab Raka jujur. “Makanya aku enggak minta kamu nunggu. Aku yang nunggu.”
Alvara berdiri mendadak. Kursinya bergeser sedikit, menarik perhatian beberapa orang.
“Jangan bilang gitu,” katanya, hampir memohon. “Tolong jangan bikin ini lebih susah.”
Raka ikut berdiri. “Aku cuma jujur.”
Alvara menatapnya lama. Wajah yang ia kenal luar dalam. Suara yang selalu jadi tempat pulang.
“Aku berharap,” katanya lirih, “kita enggak perlu sejauh ini.”
Raka mengangguk. “Aku juga.”
Mereka berdiri berhadapan tanpa menyentuh. Tidak ada pelukan. Tidak ada pegangan tangan terakhir.
Karena jika itu terjadi, mereka tahu, perpisahan ini tidak akan selesai hari ini.
“Aku harus pergi,” kata Alvara.
“Iya,” jawab Raka.
Alvara melangkah pergi lebih dulu. Setiap langkah terasa berat. Ia tidak menoleh, karena ia tahu, sekali saja ia menoleh, ia tidak akan sanggup pergi.
Di belakangnya, Raka berdiri diam, menatap punggung Alvara sampai sosok itu menghilang di balik pintu kedai.
Ia duduk kembali. Menatap cangkir kopi yang sudah dingin.
“Aku akan menunggumu,” bisiknya pada ruang kosong.
Sementara itu, di luar, Alvara berjalan tanpa tujuan jelas. Air mata mengalir bebas di pipinya. Ia tahu, setelah hari ini, hidupnya tidak akan sama lagi.
Tujuh tahun berakhir bukan dengan kebencian.
Melainkan dengan luka yang terlalu sunyi untuk dijelaskan.
Malam itu, Alvara tidak langsung pulang.
Ia duduk di bangku taman yang sama, beberapa meter dari kedai tadi. Lampu jalan menyala satu per satu, cahayanya jatuh pucat di atas aspal. Udara terasa dingin, atau mungkin dadanya yang terlalu kosong.
Tangannya masih gemetar.
Kalimat Raka terus berputar di kepalanya, menempel seperti gema yang tidak mau pergi.
“Kalau suatu hari kamu jadi janda, aku akan tetap menunggumu.”
“Aku benci kamu,” bisiknya pelan, entah pada siapa. “Kenapa kamu harus mencintai aku sejujur itu.”
Ia menunduk, memeluk tasnya sendiri, seperti sedang memeluk sesuatu yang sudah tidak ada. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu tujuh tahun lalu, Alvara benar benar merasa sendirian.
Di sisi lain kota, Raka berdiri di depan jendela kamarnya. Lampu dimatikan. Ponselnya tergeletak di meja, tidak lagi ia sentuh. Ia menatap keluar, ke arah jalan yang tidak lagi dilalui siapa pun.
“Ini pilihannya,” katanya pada dirinya sendiri. “Dan aku harus terima.”
Ia menutup mata, menelan perasaan yang terlalu besar untuk dibagi.
Malam itu, dua orang yang saling mencintai tidur di tempat berbeda, dengan luka yang sama.
Dan tanpa mereka sadari, hari itu bukan hanya akhir dari sebuah hubungan.
Itu adalah awal dari penantian yang panjang.