Drama

Janda dan Masa Lalu

21 January 2026

Bab 8 : Janda dan Masa Lalu

Alvara selalu mengira sunyi akan terasa lebih ringan setelah waktu berlalu.

Nyatanya, sunyi hanya berubah bentuk.

Pagi itu, ia terbangun oleh suara tangisan kecil dari kamar sebelah. Tangisan yang tidak lagi membuat panik, melainkan sudah menjadi bagian dari ritme hidupnya. Ia bangkit dari ranjang, merapikan rambut seadanya, lalu melangkah ke kamar anaknya.

“Iya, iya,” gumamnya lembut sambil menggendong tubuh kecil itu. “Mama di sini.”

Anaknya, seorang bocah laki laki berusia hampir empat tahun, langsung menyandarkan kepala di bahunya. Tangisnya mereda pelan, digantikan dengusan kecil yang hangat di leher Alvara.

Hari hari Alvara sekarang diisi dengan hal hal sederhana. Bangun pagi. Menyiapkan sarapan. Mengantar anak ke sekolah. Bekerja. Pulang sebelum sore. Hidup yang tampak rapi dari luar.

Ia sudah resmi menyandang status janda hampir setahun.

Perceraian itu tidak terjadi dengan teriakan atau drama besar. Tidak ada perebutan hak atau pertengkaran panjang. Hanya kebenaran yang terlalu telanjang untuk disangkal, lalu keputusan yang akhirnya diambil dengan kepala dingin dan hati yang sudah terlalu lelah.

Orang tuanya sempat menolak. Meminta ia bertahan. Demi anak. Demi nama baik.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Alvara berkata tidak.

Dan sejak hari itu, ia belajar hidup dengan pilihan yang benar benar miliknya.

Di dapur kecil rumahnya, Alvara menyiapkan sarapan sambil sesekali melirik jam. Anaknya duduk di kursi makan, memainkan sendok sambil bersenandung kecil.

“Mama,” panggil anak itu.

“Iya?”

“Kita hari ini pulang cepat?”

Alvara tersenyum. “Iya. Mama janji.”

Anaknya mengangguk puas, lalu kembali sibuk dengan makanannya.

Setelah mengantar anak ke sekolah, Alvara duduk sebentar di dalam mobil. Ia tidak langsung menyalakan mesin. Tangannya bertumpu di setir, matanya menatap kosong ke depan.

Di momen momen seperti ini, ingatan lama kadang muncul tanpa diundang.

Tentang dirinya yang dulu. Tentang cinta yang pernah ia jaga begitu lama.

Tentang Raka.

Ia jarang menyebut nama itu dalam pikirannya. Bukan karena sudah lupa, tapi karena nama itu masih punya kuasa untuk membuat dadanya sesak.

Ia mengira waktu akan menyembuhkan semuanya.

Ternyata, waktu hanya mengajarinya cara hidup berdampingan dengan luka.

Siang itu, Alvara pulang lebih awal. Setelah menjemput anaknya, ia memutuskan berhenti sebentar di minimarket dekat rumah. Anak itu merengek minta es krim.

“Sedikit aja,” kata Alvara sambil tertawa kecil.

Saat mereka keluar, mata Alvara tanpa sengaja menangkap sosok laki laki yang berdiri di seberang jalan. Tinggi. Posturnya familiar. Cara berdirinya tenang, seperti tidak sedang terburu buru ke mana pun.

Alvara berhenti melangkah.

Dadanya berdegup cepat, bukan karena yakin, tapi karena takut.

“Ma?” anaknya menarik ujung bajunya.

“Iya?” Alvara berusaha tetap tenang.

Laki laki itu menoleh.

Dan dunia Alvara seperti berhenti bergerak.

Raka.

Tidak banyak berubah. Rambutnya sedikit lebih pendek. Wajahnya lebih matang. Tapi tatapan itu, Alvara mengenalinya bahkan dari jarak sejauh itu.

Mata mereka bertemu.

Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Hanya hening yang terasa terlalu keras di telinga Alvara.

Raka melangkah mendekat, pelan, seolah memberi waktu jika Alvara ingin pergi.

Alvara tidak bergerak.

“Var,” sapa Raka akhirnya.

Satu kata. Satu suara. Tapi cukup untuk membuat tenggorokan Alvara tercekat.

“Halo,” jawabnya pelan.

Raka menatap anak kecil di samping Alvara. Tatapannya tidak berubah, tapi Alvara bisa melihat sesuatu yang bergerak pelan di matanya.

“Anak kamu?” tanya Raka.

Alvara mengangguk. “Iya.”

Anaknya menatap Raka dengan rasa ingin tahu. “Om siapa?”

Raka tersenyum kecil. Senyum yang terasa canggung tapi tulus. “Om teman lama mama.”

“Oh,” jawab anak itu polos, lalu kembali menjilat es krimnya.

Tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Semua kalimat terasa terlalu kecil.

“Aku enggak nyangka ketemu kamu di sini,” kata Alvara akhirnya.

“Aku juga,” jawab Raka. “Aku baru pindah ke sekitar sini.”

Kata pindah membuat jantung Alvara berdegup lebih cepat. “Oh.”

Hening lagi.

“Aku cuma mau bilang,” Raka menarik napas, “kamu kelihatan baik baik saja.”

Alvara tersenyum tipis. “Aku berusaha.”

Raka mengangguk. “Aku senang dengarnya.”

Ia melirik jam di pergelangan tangannya. “Aku enggak mau ganggu. Mungkin lain kali kita bisa ngobrol.”

Alvara ingin berkata tidak. Tapi lidahnya terasa berat.

“Iya,” jawabnya akhirnya.

Raka menatapnya sejenak lagi. Tatapan yang terlalu dalam untuk pertemuan singkat.

“Sampai ketemu, Var.”

“Raka,” panggil Alvara tanpa sadar.

Raka berhenti.

“Terima kasih,” kata Alvara lirih.

Raka tersenyum kecil. “Sama sama.”

Ia pergi.

Alvara berdiri terpaku beberapa detik setelahnya. Anaknya kembali menarik tangannya.

“Mama kenal om tadi?”

Alvara mengangguk pelan. “Iya. Dulu.”

Di rumah, Alvara menidurkan anaknya lebih awal. Setelah itu, ia duduk sendirian di ruang tamu. Lampu tidak terlalu terang. Ponselnya tergeletak di meja.

Pesan masuk.

Dari nomor yang sudah lama tidak muncul di layar.

“Aku senang bisa lihat kamu lagi hari ini.”

Alvara menutup mata. Napasnya tertahan.

Ia tidak langsung membalas.

Di dalam dirinya, ada sesuatu yang bergerak pelan. Sesuatu yang ia kira sudah mati, tapi ternyata hanya tertidur.

Malam itu, Alvara menyadari satu hal.

Masa lalunya tidak pernah benar benar pergi.

Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali mengetuk.

Dan ketukan itu baru saja terdengar di depan pintu hidupnya.

Alvara akhirnya mengambil ponselnya.

Pesan dari Raka masih terbuka di layar, satu baris kalimat yang terlihat sederhana tapi terasa berat.

“Aku senang bisa lihat kamu lagi hari ini.”

Ia mengetik balasan, berhenti, lalu menghapusnya. Jarinya kembali bergerak, ragu.

“Aku juga,” tulisnya, lalu menghapus lagi.

Alvara menghela napas panjang. Ia mematikan layar ponsel dan meletakkannya terbalik di meja, seolah dengan begitu ia bisa menghentikan pikirannya sendiri.

Tapi malam tidak pernah sebaik itu.

Saat berbaring, matanya menatap langit langit tanpa benar benar melihat apa pun. Wajah Raka muncul bergantian dengan wajah anaknya. Dua dunia yang tidak pernah ia bayangkan akan saling bersinggungan.

“Aku enggak boleh berharap,” bisiknya pelan. “Aku sudah terlalu jauh.”

Dari kamar sebelah, terdengar napas kecil anaknya yang teratur. Suara itu biasanya membuat Alvara tenang. Tapi malam ini, suara itu justru mengingatkannya pada tanggung jawab yang kini selalu ia bawa ke mana pun.

Ia bukan hanya Alvara lagi.

Ia seorang ibu. Seorang janda. Seorang perempuan dengan masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

Di tempat lain, Raka duduk di ruang tamu apartemennya yang sepi. Ia menatap ponselnya, menunggu sesuatu yang tidak ia tahu akan datang atau tidak. Pesannya belum dibalas, tapi ia tidak merasa kecewa.

“Enggak apa apa,” katanya pada dirinya sendiri. “Aku enggak datang untuk mengganggu.”

Ia berdiri, menatap keluar jendela. Lampu kota berpendar pelan, seperti hidup yang terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.

Namun malam itu, baik Alvara maupun Raka tahu satu hal.

Pertemuan singkat tadi siang bukan kebetulan.

Dan sejak hari itu, langkah mereka tidak lagi sepenuhnya sendiri.