Bab 9 : Kedekatan Awal
Raka tidak pernah benar benar mempersiapkan dirinya untuk pertemuan itu.
Ia sudah membayangkan berbagai kemungkinan selama bertahun tahun. Membayangkan Alvara bahagia dengan hidup barunya. Membayangkan ia sudah melupakannya sepenuhnya. Membayangkan dirinya hanya menjadi nama lama yang sesekali terlintas di kepala Alvara, lalu hilang.
Tapi tidak pernah sekalipun ia membayangkan akan melihat Alvara berdiri di depannya sambil menggenggam tangan seorang anak kecil.
Malam setelah pertemuan itu, Raka duduk sendirian di apartemennya. Lampu ruang tamu redup. Ponselnya tergeletak di meja, masih menampilkan chat terakhir yang belum dibalas.
Ia tidak merasa marah. Tidak juga kecewa.
Perasaannya lebih mirip sesuatu yang lama tertahan, lalu dilepaskan perlahan.
“Jadi ini hidup kamu sekarang,” gumamnya pelan.
Ia mengingat cara Alvara berdiri tadi sore. Tidak lagi rapuh seperti dulu, tapi juga tidak sepenuhnya kuat. Ada kehati hatian di matanya, seperti seseorang yang sudah terlalu sering jatuh dan belajar berdiri sambil menahan sakit.
Dan anak itu.
Raka menutup mata sejenak.
Bocah kecil itu menatapnya tanpa takut. Tanpa cemburu. Tanpa beban apa pun. Hanya rasa ingin tahu yang polos.
Entah kenapa, itu justru yang paling membuat dadanya terasa penuh.
Keesokan harinya, Raka sengaja mengambil jalan memutar saat pulang kerja. Bukan untuk bertemu Alvara. Ia tidak berani berharap sejauh itu. Ia hanya ingin memastikan dirinya tidak melanggar batas yang belum pernah mereka bicarakan.
Tapi nasib seolah tidak peduli dengan niat baik.
Ia melihat Alvara lagi.
Kali ini di taman kecil dekat kompleks rumahnya. Alvara duduk di bangku, memperhatikan anaknya yang sedang berlari kecil mengejar burung merpati. Wajahnya terlihat lebih santai dibandingkan kemarin.
Raka berhenti beberapa langkah dari sana. Ia ragu. Tapi sebelum sempat berbalik, anak itu melihatnya lebih dulu.
“Om!” panggil bocah itu dengan suara nyaring.
Alvara menoleh. Ekspresinya berubah sesaat. Terkejut, lalu pasrah.
“Halo,” sapa Raka, mendekat pelan.
“Halo,” jawab Alvara. Nada suaranya netral, tapi tidak dingin.
Anak itu menghampiri Raka. “Om kemarin itu ya.”
“Iya,” kata Raka sambil jongkok agar sejajar. “Kamu siapa namanya?”
“Raka,” jawab bocah itu bangga.
Raka terdiam sesaat. Alvara cepat cepat menimpali.
“Namanya Rafa,” katanya. “Dia suka asal jawab.”
Raka tersenyum kecil. “Halo, Rafa.”
Rafa tersenyum lebar. “Om tinggal sini juga?”
“Iya,” jawab Raka. “Enggak jauh.”
Alvara mengawasi mereka dengan hati hati. Ada kecemasan kecil di wajahnya, seolah takut sesuatu yang terlalu cepat tumbuh.
“Aku enggak mau ganggu,” kata Raka akhirnya sambil berdiri. “Cuma kebetulan lewat.”
“Enggak apa apa,” jawab Alvara. “Kami juga sebentar lagi pulang.”
Raka mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh. Tidak menyinggung masa lalu. Tidak menanyakan status. Ia tahu, itu bukan tempatnya sekarang.
Beberapa hari setelah itu, pertemuan kecil mulai terasa wajar.
Kadang di minimarket. Kadang di taman. Selalu singkat. Selalu ringan.
Raka menjaga jarak. Ia tidak pernah mengajak pergi berdua. Tidak pernah mengirim pesan panjang. Pesannya singkat, sopan, dan tidak menuntut.
“Hari ini hujan. Hati hati pulang.”
Atau,
“Rafa kelihatannya aktif sekali.”
Kalimat kalimat sederhana. Tapi cukup untuk membuat hari Alvara terasa sedikit berbeda.
Bagi Raka, setiap balasan dari Alvara adalah sesuatu yang ia syukuri tanpa berlebihan.
Ia belajar lagi menunggu, tapi kali ini dengan cara yang lebih dewasa.
Suatu sore, Raka bertemu mereka lagi di taman. Rafa sedang bermain ayunan. Alvara duduk sambil memperhatikan.
“Kamu enggak capek?” tanya Raka.
“Capek,” jawab Alvara jujur. “Tapi sudah biasa.”
Raka mengangguk. “Kamu kelihatan hebat.”
Alvara tersenyum kecil. “Aku cuma enggak punya pilihan lain.”
Rafa berteriak minta didorong lebih tinggi. Raka tanpa diminta berdiri dan membantu mendorong ayunan itu perlahan.
“Pelan pelan,” katanya. “Pegangan yang kuat.”
Rafa tertawa senang.
Alvara memperhatikan dari bangku. Ada sesuatu yang menghangatkan dadanya, tapi juga membuatnya waspada.
Setelah Rafa turun, Alvara berdiri. “Kami pulang dulu.”
“Iya,” jawab Raka. “Hati hati.”
Rafa melambaikan tangan. “Dadah, Om.”
Raka membalas lambaian itu. Dadanya terasa penuh dengan perasaan yang tidak ia beri nama.
Saat mereka pergi, Raka duduk kembali di bangku taman. Ia menatap langit sore yang mulai gelap.
“Aku enggak datang untuk merebut,” katanya pelan pada dirinya sendiri. “Aku cuma ingin ada.”
Malam itu, pesan dari Alvara masuk lebih dulu.
“Terima kasih sudah nemenin Rafa sore tadi.”
Raka menatap layar lama sebelum membalas.
“Sama sama. Dia anak yang baik.”
Balasan Alvara datang setelah beberapa menit.
“Iya.”
Satu kata.
Tapi cukup untuk membuat Raka tersenyum kecil.
Namun senyum itu perlahan memudar ketika satu pertanyaan muncul di kepalanya.
Apakah Alvara hanya merasa nyaman, atau hatinya mulai kembali bergerak?
Dan lebih penting lagi.
Apakah ia siap menerima jawaban apa pun yang akan datang nanti?
Raka mematikan layar ponselnya, lalu meletakkannya di meja dengan hati hati, seolah takut suara kecil saja bisa mengusik sesuatu yang rapuh di dadanya.
Ia berdiri di dekat jendela. Lampu kota terlihat berpendar samar, hujan tipis mulai turun. Pemandangan yang biasanya tidak berarti apa apa, malam ini terasa berbeda.
“Aku enggak boleh salah paham,” gumamnya pelan.
Ia tahu betul bagaimana dirinya dulu. Terlalu mudah berharap. Terlalu cepat memberi makna pada hal hal kecil. Kali ini ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Alvara adalah ibu sekarang. Hidupnya tidak lagi sederhana.
Dan Raka tidak punya hak apa pun.
Keesokan paginya, ia bertemu Alvara lagi secara tidak sengaja. Kali ini di depan sekolah kecil tempat Rafa dititipkan.
Raka berhenti di sisi trotoar. Ia hampir melanjutkan langkah, tapi Alvara sudah lebih dulu melihatnya.
“Kamu ke sini?” tanya Alvara.
“Iya,” jawab Raka. “Ada proyek dekat sini.”
Rafa berlari kecil ke arahnya. “Om!”
Raka tersenyum. “Mau sekolah ya?”
Rafa mengangguk semangat.
Alvara berdiri di samping mereka. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya hangat. Raka menangkap sesuatu yang berbeda hari ini. Alvara terlihat lebih terbuka, meski tetap berhati hati.
“Aku telat enggak apa apa?” tanya Alvara pada Rafa.
“Enggak,” jawab Rafa cepat.
Raka melirik jam tangannya. “Masih aman.”
Alvara menghela napas kecil. “Syukurlah.”
Beberapa detik mereka berdiri dalam diam. Tidak canggung, tapi juga belum sepenuhnya nyaman.
“Aku harus masuk,” kata Alvara akhirnya.
“Iya,” jawab Raka. “Semoga harimu lancar.”
Alvara menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis. “Kamu juga.”
Saat mereka pergi, Raka berdiri cukup lama di tempat itu. Ada perasaan asing yang menyelinap. Bukan rindu yang menyakitkan, tapi sesuatu yang lebih tenang, lebih dewasa.
Ia mulai sadar, kedekatan ini tidak datang dengan ledakan emosi. Tidak ada janji. Tidak ada tuntutan.
Hanya kehadiran.
Dan justru itu yang membuatnya berbahaya.
Sore harinya, Raka menerima pesan singkat dari nomor yang sudah ia simpan sejak lama.
“Aku kepikiran sesuatu.”
Raka membaca kalimat itu berulang kali. Jarinya berhenti di atas layar.
“Apa?” balasnya akhirnya.
Balasan Alvara tidak langsung datang. Lima menit. Sepuluh menit.
Saat akhirnya muncul, dadanya mengencang.
“Kita perlu ngobrol. Tapi enggak sekarang.”
Raka menelan ludah.
“Iya,” ketiknya. “Kapan pun kamu siap.”
Ia menatap pesan itu lama setelah terkirim. Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, Raka merasa bukan hanya dirinya yang sedang menimbang.
Dan di situlah ia sadar.
Kedekatan ini sudah melangkah satu tingkat lebih dalam, tanpa ada yang benar benar menyadarinya.
Dan mungkin, setelah percakapan itu nanti, tidak akan ada jalan kembali seperti sebelumnya.