Thriller

Protokol Pembersihan

21 January 2026

Matahari pagi yang seharusnya membawa harapan kini terasa seperti lampu sorot interogasi yang menyilaukan. Di tengah Hutan Sampah Tua, di sela-sela pohon trembesi yang tumbuh miring di atas tumpukan limbah, Naya dan Reza berdiri punggung-memunggung. Mereka dikepung.

Ratusan warga desa yang tersisa di permukaan—mereka yang tidak ikut masuk ke dalam perut gunung—kini membentuk lingkaran rapat. Penampilan mereka jauh lebih mengerikan di bawah cahaya matahari daripada di kegelapan malam. Kulit mereka belang-belang, campuran antara daging manusia yang melepuh dan tambalan plastik abu-abu yang kasar. Pakaian mereka compang-camping, dan bau tubuh mereka adalah bau sampah basah yang dijemur.

Tidak ada lagi nyanyian koor "Ibu". Tidak ada lagi gerakan serempak yang terkoordinasi. Dengan matinya Jantung Gunung di bawah sana, sinyal pengendali hive mind telah putus.

Namun, putusnya sinyal itu tidak membebaskan mereka. Justru sebaliknya. Larva-larva polimer di dalam otak mereka kini berada dalam mode default: bertahan hidup dan agresif. Mereka bukan lagi pasukan yang disiplin; mereka adalah hewan rabies yang kelaparan.

"Grrrhh..."

Seorang pria paruh baya—yang Naya kenali sebagai Pak RT—melangkah maju. Mulutnya berbusa hitam. Dia memegang sebuah sekop berkarat dengan cara yang canggung, seolah lupa cara menggunakannya sebagai alat kerja, dan hanya tahu cara menggunakannya untuk memukul.

"Reza," bisik Naya, matanya waspada memindai setiap pergerakan. "Mereka nggak kenal kita lagi. Jangan ragu."

"Gue nggak mau mukul Pak RT, Nay. Dia yang ngurus KTP gue bulan lalu," suara Reza bergetar, tangannya memegang erat besi rongsokan yang dia pungut.

"Itu bukan Pak RT lagi. Itu cangkang kosong."

Seolah merespons suara Naya, Pak RT menerjang sambil mengayunkan sekopnya.

"Awas!"

Naya mendorong Reza ke samping. Sekop itu menghantam tanah tempat Reza berdiri sedetik yang lalu.

Sebelum Pak RT sempat menarik senjatanya, Naya sudah bergerak. Dia tidak menendang untuk membunuh. Dia menyapu kaki Pak RT dengan kaki kirinya (kaki manusianya), menjatuhkannya, lalu menggunakan kaki kanannya (kaki besinya) untuk menginjak sekop itu hingga bengkok dan patah.

KREK.

Tapi serangan itu memicu yang lain. Kerumunan itu meraung serempak dan menyerbu maju. Seperti gelombang pasang yang kotor.

"Lari ke arah asap!" teriak Naya. Asap tebal dari kawah bekas pabrik adalah satu-satunya penyamaran mereka.

Pertarungan jarak dekat pecah. Naya dan Reza bertarung bukan untuk menang, tapi untuk membuka jalan. Reza memukul mundur seorang ibu-ibu yang mencoba menggigit lengannya dengan pipa besi. Naya menggunakan bahu dan sikunya untuk menabrak kerumunan, sesekali melepaskan tendangan yang mengirim penyerangnya terbang beberapa meter.

Namun, Naya merasakan sesuatu yang salah.

Kaki kanannya... terasa berat.

Energi panas yang tadi meluap-luap saat dia melawan Dr. Suryo dan Pak Karta kini meredup. Cahaya pendar di balik kulit plastiknya mati. Tanpa koneksi ke Jantung Induk, kaki bioniknya kehilangan sumber daya eksternal. Sekarang, kaki itu hanyalah sebongkah plastik padat dan logam seberat dua puluh kilogram yang menempel di pahanya.

Naya mulai menyeret kakinya. Langkahnya melambat.

"Nay! Ayo!" Reza menarik tangan Naya.

"Berat, Za... Baterainya abis..." napas Naya tersengal.

Seorang pemuda tanggung melompat ke punggung Naya, mencakar lehernya.

"Lepasin!" Reza memukul punggung pemuda itu dengan besinya. Pemuda itu jatuh.

Tapi tiga orang lagi datang. Mereka menjambak rambut Naya, menarik jaket Reza. Mereka akan dikeroyok habis. Mereka akan dicabik-cabik di sini, di bawah matahari pagi, hanya beberapa meter dari kebebasan.

NGIIIIING!

Suara sirine yang memekakkan telinga tiba-tiba membelah udara. Suara itu bukan dari mobil polisi biasa. Itu suara sirine militer.

Lalu terdengar suara baling-baling memotong angin.

WHUP-WHUP-WHUP-WHUP.

Sebuah helikopter hitam tanpa penanda muncul dari balik asap kawah, terbang rendah tepat di atas hutan sampah. Angin dari baling-balingnya menerbangkan debu, daun kering, dan sampah plastik, menciptakan badai kecil yang membuat warga desa mundur ketakutan.

Dari pengeras suara helikopter, terdengar suara pria yang tegas dan dingin:

"PERHATIAN. INI ADALAH ZONA KARANTINA LEVEL 4. LETAKKAN SENJATA DAN TIERAP DI TANAH. SAYAULANGI, TIERAP DI TANAH ATAU KAMI AKAN MENGGUNAKAN KEKERASAN."

Warga desa yang sudah kehilangan akal sehat itu tidak mengerti perintah. Mereka justru meraung marah ke arah "burung besi" yang brisik itu. Beberapa dari mereka melemparkan batu dan kayu ke arah helikopter.

Itu adalah kesalahan fatal.

Dari arah jalan raya yang berbatasan dengan hutan, muncul barisan truk taktis berwarna hijau tua. Pasukan berseragam hitam lengkap dengan masker gas dan senjata laras panjang melompat turun. Mereka bukan polisi lokal. Mereka adalah unit Hazmat (Hazardous Materials) bersenjata.

"Tembak di tempat," perintah suara di radio yang entah bagaimana terdengar jelas di tengah kekacauan.

DOR! DOR! DOR!

Bukan peluru tajam. Suaranya lebih pelan. Itu peluru karet dan gas air mata.

Tabung-tabung gas dilemparkan ke tengah kerumunan. Asap putih mengepul, bercampur dengan asap hitam kebakaran. Warga desa mulai batuk-batuk, mata mereka perih, membuyarkan konsentrasi serangan mereka.

"Reza! Tiarap!" Naya menarik Reza jatuh ke tanah, bersembunyi di balik batang pohon trembesi yang tumbang.

Di depan mereka, pembantaian satu arah terjadi. Warga desa yang mencoba menyerang pasukan itu ditembak jatuh dengan peluru karet jarak dekat yang mematahkan tulang rusuk. Mereka yang masih melawan dilumpuhkan dengan taser listrik tegangan tinggi.

Tubuh-tubuh kaku berjatuhan. Pasukan berseragam hitam itu bergerak efisien, tanpa emosi, seperti mesin pembersih.

"Mereka bukan nyelamatin kita," bisik Reza, mengintip dari balik kayu. "Mereka lagi 'bersih-bersih'."

"Kita harus nyerah," kata Naya. "Kita nggak bisa ngelawan tentara."

"Tapi kaki lo, Nay!" Reza menunjuk kaki kanan Naya yang telanjang karena celananya sudah hancur total. Kaki itu jelas-jelas bukan kaki manusia. Warnanya abu-abu metalik, dengan urat-urat hitam yang menonjol. "Kalau mereka liat itu... lo bakal dibawa ke lab. Lo bakal jadi tikus percobaan kayak Dr. Suryo lakuin ke orang-orang."

Naya memucat. Benar. Jika dia ditangkap dengan kondisi begini, dia tidak akan pernah pulang. Dia akan menjadi 'Sampel Y'.

"Tutupin," desis Naya.

Dia melihat sekeliling. Ada selembar terpal biru kotor bekas tenda darurat yang tersangkut di semak-semak. Naya menyambarnya, melilitkannya ke pinggang dan kakinya seperti sarung yang berantakan, lalu mengikatnya kuat-kuat dengan sisa kain bajunya yang robek.

"Bilang gue luka bakar parah," instruksi Naya cepat. "Bilang gue nggak bisa jalan karena ketimpa reruntuhan. Jangan biarin mereka buka sarung ini."

"Oke. Gue yang ngomong," Reza mengangguk. Dia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "TOLONG! KAMI PENYINTAS! KAMI MANUSIA!"

Seorang tentara di barisan depan melihat mereka. Dia mengarahkan senjatanya. Laser merah membidik dahi Reza.

"JANGAN TEMBAK! KAMI MAHASISWA!" teriak Reza lagi.

Tentara itu memberi isyarat tangan. Dua orang rekannya maju, senjata tetap terarah.

"Identitas!" bentak salah satu tentara, suaranya teredam masker gas.

"Reza! Mahasiswa Teknik! Ini Naya, temen saya! Dia luka parah!"

Tentara itu mendekat, memeriksa mata Reza dengan senter. "Pupil normal. Responsif." Lalu dia memeriksa Naya.

Naya menyipitkan mata, berpura-pura kesakitan.

"Matanya normal," lapor tentara itu lewat radio. "Dua subjek kelas A ditemukan. Non-hostile."

"Bawa ke Tenda Dekontaminasi. Segera," perintah suara di radio.

Dua tentara itu memapah Reza dan Naya berdiri. Naya benar-benar tidak bisa berjalan sekarang. Kaki kanannya mati rasa dan berat sekali. Dia harus diseret.

"Kakinya kenapa?" tanya tentara itu curiga, melihat lilitan terpal kotor.

"Luka bakar kimia!" sambar Reza cepat. "Kena tumpahan lindi panas! Kulitnya melepuh parah, nempel sama kain! Jangan dibuka, Pak, nanti dagingnya ikut keangkat! Sakit banget!"

Akting Reza meyakinkan. Atau mungkin tentara itu memang tidak ingin melihat luka menjijikkan.

"Oke, jalan! Cepat!"

Mereka digiring keluar dari hutan, menuju jalan raya.

Pemandangan di jalan raya membuat Naya ingin menangis.

Puluhan tenda oranye besar telah didirikan. Truk-truk militer berjejer. Dan di sekeliling area TPA, pagar kawat berduri sedang dipasang dengan cepat. Mereka mengisolasi seluruh kawasan.

Naya melihat beberapa warga desa yang berhasil ditangkap sedang disemprot dengan cairan disinfektan bertekanan tinggi oleh petugas berbaju hazmat putih. Mereka menjerit-jerit, tapi suara mereka diredam oleh masker yang dipasangkan paksa ke wajah mereka.

"Mereka mau nutupin ini semua," bisik Naya pada Reza. "Nggak bakal ada berita soal monster. Beritanya pasti soal 'Bocoran Gas Beracun' atau 'Wabah Kolera'."

"Yang penting kita idup dulu, Nay," bisik Reza balik.

Mereka dibawa ke sebuah tenda medis di ujung barisan. Di dalamnya lebih tenang, ber-AC, dan berbau antiseptik yang menyengat.

Seorang dokter militer—manusia asli, bukan Dr. Suryo—mendatangi mereka.

"Letakkan di brankar," perintah dokter itu.

Naya dibaringkan di atas kasur lipat. Dokter itu mengambil gunting medis. Dia hendak menggunting lilitan terpal di kaki Naya.

Jantung Naya berhenti berdetak.

"Jangan, Dok!" Naya menahan tangan dokter itu. "Sakit! Tolong bius dulu! Saya nggak kuat!"

"Saya harus liat lukanya, Mbak, biar nggak infeksi," kata dokter itu tegas tapi sabar.

"Dok, tolong," Reza menimpali. "Dia trauma berat. Tadi dia liat ibunya mati kebakar. Kasih dia obat penenang dulu, Dok. Biar dia tidur. Baru Dokter periksa."

Dokter itu menatap Naya, melihat wajahnya yang kotor penuh air mata dan ketakutan. Sisi kemanusiaannya tersentuh.

"Baik. Saya kasih sedatif ringan."

Dokter itu menyuntikkan cairan bening ke infus yang baru dipasang di tangan Naya.

Naya merasakan matanya berat seketika.

Sebelum kesadarannya hilang, dia menarik kerah baju Reza.

"Za..." bisiknya lemah. "Jangan biarin mereka liat... Bawa gue kabur... kalau mereka tau... gue bakal dibunuh..."

Reza menggenggam tangan Naya erat. "Gue janji, Nay. Gue bakal jagain lo. Tidur aja."

Mata Naya tertutup. Kegelapan menyelimutinya. Tapi kali ini, tidak ada mimpi buruk. Tidak ada suara Ibu. Tidak ada Ipul. Hanya kehampaan yang damai.

Di luar tenda, suara ledakan terdengar lagi.

DUM!

Bukan ledakan gunung.

Itu suara pasukan cleanup yang sedang meledakkan pintu masuk gua-gua di sekitar TPA. Mereka menutup semua akses ke bawah tanah. Mengubur Dr. Suryo, mengubur Jantung yang hancur, dan mengubur sejarah kelam Sindang Lama di bawah ton-ton beton dan tanah baru.

Reza duduk di samping Naya yang tertidur, menatap kaki terpal temannya itu dengan cemas. Dia tahu, pertempuran melawan monster sudah selesai. Tapi perang untuk menyembunyikan kebenaran baru saja dimulai.

Dan dia harus memikirkan cara untuk menyelundupkan seorang gadis setengah cyborg keluar dari kamp militer dengan penjagaan ketat.

(Bersambung ke Bab 22)